Selasa, 14 September 2010

Ross..

Cerahnya langit biru siang itu tak menggambarkan suasana bumi yang dinaunginya. Sinar terik matahari hanya menjadi penghias saja bagi sekelompok orang di suatu tempat yang dipenuhi beberapa batu bertulis. Batu bertulis yang ada di tempat itu tak sekedar suatu prasasti, tapi juga suatu penanda akan bersemayamnya jasad seorang manusia yang sudah menghadap Sang Pemilik Jiwa.
            Hari itu, sekelompok orang baru saja menyelesaikan suatu ritual pemakaman. Ritual itu juga bukan ritual biasa, tapi ritual yang didalamnya terkandung keinginan akan diterimanya do’a-do’a terhadap Rabb. Suatu ritual suci yang diiringi niat tulus para pendo’a.
            Di antara pendo’a dalam kelompok itu, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam hanya terdiam. Tak terdengar isak atau sedu sedan seperti pendo’a lainnya lakukan. Matanya sayu dan ia hanya berdiri agak jauh dari pemakaman. Sungguh, orang-orang tak begitu menyadari diamnya. Pemandangan yang sangat aneh itu seolah tak digubris siapapun di dalam kelompok itu. Seorang pria terisak seperti anak kecil yang permennya diambil paksa. Pria berwajah tirus itu memegangi batu bertuliskan nama anaknya. Beberapa orang yang didekatnya hanya melakukan seperti yang biasa orang banyak lakukan: menenangkannya.
            “Ross...”panggil lelaki itu. Kulit legamnya tertetesi air. Kali ini bukan tetesan peluh karena kerja kasarnya, tapi tetesan air mata yang sangat jarang ia keluarkan.
***
            PRAANG!! Suara barang pecah belah terjatuh. Sepasang tangan mungil gemetar sementara kedua kakinya bergetar. Tubuh gadis berusia sekitar 5 tahun itu mengeluarkan tetes air dingin. Ya, ia berkeringat dingin, takut melihat piring yang ia pegang pecah saat ia mengelap piring itu.
            “ROOSS!!”panggil seseorang dengan suara sangat tinggi. Nada kemarahan sudah dapat ditangkap ruang dengar gadis kecil bernama Ross itu. Meski masih gemetar, kaget, bercampur takut, Ross bergegas menghampiri arah suara. Suara perempuan yang telah melahirkannya. Suara perempuan yang selalu dihormatinya karena menurut pelajaran yang ia dapati dari guru ngajinya, surga ada di telapak kaki ibu.
            “Kamu pecahin lagi, ya, piring kita!? Ross, udah berapa kali ibu bilang kalau piring itu mahal!!”hardik sang perempuan yang dipanggil ibu. Sejenak kemudian tangannya sudah mendarat di pipi kiri si kecil Ross. Tak hanya itu, dengan menahan sakit karena darah keluar dari mulutnya, Ross masih harus menerima pukulan gagang sapu dari sang ibu. Punggungnya yang masih kecil itu berusaha kuat menahan sakit, seperti biasa terjadi di rumah petak yang mereka diami. Ross tak lagi mengeluarkan erang kesakitan dan ucapan ampun yang mengiringi tangisnya.
            Puas memukuli gadis kecil Ross, sang perempuan terduduk lemah di lantai semen. Ross segera mendekati sang ibu, perlahan. Tak dihiraunya darah asin di mulutnya dan sakit menggigit di punggung. Dihampirinya perempuan yang sedang menangis itu.
            “Ross..maafin ibu. Ibu keras lagi. Tapi, Ross...”ucap sang ibu terbata. Ross berjongkok di depan sang ibu. Ditatapnya mata yang mulai diisi bening air mata.
            “Bu, makan,ya,”sahut Ross.  Tak terlihat wajah sedih maupun kesakitan yang didapati sang ibu kala matanya menangkap wajah anaknya, berbayang. Keduanya bergegas menuju dapur—sebuah ruang berukuran 3x2,5 meter yang masih tersambung dengan ruang petak tempat Ross dipukul—untuk makan. Saat sang ibu melihat pecahan piring, segera ia bantu Ross membereskan pecahan yang berserak, yang belum sempat Ross bereskan.
            Di tengah ritual makan itu, sang ibu tak hentinya menasehati Ross agar menjadi anak yang menghargai kerja keras orangtua. Ross hanya mengangguk sambil sesekali menjawab,”iya, Bu.”
***
            Sore itu, Ross baru saja pulang dari pengajian. Bersama Rita, anak tetangganya yang seumuran, Ross naik sepeda, membonceng di belakang. Saat itu keduanya asyik bercerita sehingga tak begitu memerhatikan jalan. Rita mencoba untuk mengebut agar tidak kalah dengan Rudi, teman sebaya di pengajian. Ross segera memberitahu Rita kala ia melihat gundukan tanah yang keras. Tapi terlambat dan percuma, Rita saat itu sedang menikmati kebutannya sehingga tak menggubris ucapan Ross. Hasilnya dapat ditebak, Keduanya tersungkur, tepat di depan rumah Rita. Segera gadis kecil yang bernama Rita itu menangis, tak dapat menahan perih yang ia rasakan ketika mereka jatuh dari sepeda. Ross hanya berusaha berdiri sendiri dan menghampiri Rita yang pakaiannya kotor, sama sepertinya, karena jatuh. Tepat saat Ross menghampiri Rita, ibu Ross keluar dari rumah, membawa pengki dan sapu ijuk. Kelihatannya ia sedang menyapu.
            “ROOS!”panggil sang ibu. Baik Ross maupun Rita menoleh ke arah suara. Rita dibantu Ross saat itu sedang memegangi sepeda Rita agar berdiri lagi. “Sini, Ros!”lanjut sang ibu. Setelah Ross berbicara sebentar dengan Rita, ia menghampiri sang ibu. Rita melihat Ross ditarik sang ibu ke dalam rumah. Ia juga melihat pintu rumah di depan matanya ditutup dengan paksa.
            “Kamu tau itu sepeda harganya berapa!? Kalau rusak, ibu dan bapakmu nggak bisa ngganti, Ros! Kamu itu..”hardik sang ibu ketika keduanya sudah ada di dalam rumah. Sapu ijuk yang masih dipegangnya segera ia layangkan ke tubuh kecil Ross. Alur yang sama, Ross dipukuli dengan gagang sapu ijuk. Jilbab mungil yang dipakainya masih berkibar seiring hentakan punggungnya. Omelan-omelan itu terdengar oleh para tetangga. Mereka tak menggubris keadaan itu. Bukan tak menggubris, tapi tak mampu menggubris karena himpitan ekonomi keluarga lebih menarik perhatian mereka. Mendengar teriakan itu, para tetangga hanya mengelus dada dan melanjutkan pekerjaan mereka sehari-hari, usaha rumah tangga.
            Menjelang maghrib, Ross sempat melihat matahari yang selama ini digambarnya tidak lagi berwarna putih, tapi warna yang mendekati merah. Ross tak tahu warna apa itu, ia hanya menatap beburung yang terbang di sekitar matahari berwarna aneh itu. Padahal, setiap hari ia melihat hal itu. Namun, kali ini perasaannya berkata lain. Ada yang beda dengan matahari itu, pikirnya. Ross segera menuang teh ke dalam gelas untuk bapaknya. Bapak lagi di luar, sama ibu. Ucap Ross dalam hati. Selesai rangkaian pembuatan teh, Ross membawakan teh itu ke ruang depan. Tiba-tiba saja tangannya memerah, sakit. Ia baru sadar bahwa teh panas yang ia bawa telah menyiram tangannya. Bapak dan ibu kali ini tidak marah padanya. Malahan keduanya mengajak Ross bersiap untuk sholat maghrib karena azan sudah terdengar. Ross merasa lain sore ini. Tapi ia tersenyum senang, seperti biasa.
***
            Dua malam kemudian, Ross di rumah hanya berdua. Bapak kerja lembur. Sebagai kuli bangunan, malam ini ia bertugas menjaga calon rumah yang ia ikut membangunnya. Ditemani kopi hitam dan dua orang teman, ia berjaga.
            Sementara itu di rumah, Ross memijati ibunya yang kelelahan seharian bekerja di rumah. Sambil memijati ibunya, Ross bertanya tentang sekolah.
            “Bu, Mba Maya kelas berapa?”tanya Ross.
            “Buat apa kamu nanya-nanya begituan segala, Ross,”jawab sang ibu cuek. Sesekali suaranya mengarahkan Ross memijat.
            “Ross juga mau sekolah, Bu,”jawab Ross polos.
            “hah, kamu itu. Ngapain sekolah, Ross. Nanti kamu juga Cuma di dapur terus. Udah, nggak usah ngimpi buat sekolah. Lha wong bisa makan aja udah sukur,”sang ibu menolak.
            “Tapi, Bu. Kata Pak Syamsul, menuntut ilmu wajib hukumnya,”ujar Ross.
            “Kamu masih kecil udah sok ngajarin orangtua,ya. Sekolah itu mahal, Ross!! Berapa kali ibu bilang, kita nggak butuh sekolah, kita butuh duit,”sang ibu menjawab keras. Ia bangkit dari duduknya, menoleh ke arah Ross.
            “Kamu mulai berani sama orangtua, ya!?di pengajian kamu diajarin apa, sih, Ross!?”hardik sang ibu sambil melayangkan tangannya pada pipi mungil Ross. Tak segan ia lanjutkan dengan memukul kedua kaki Ross. “Mulai sekarang kamu nggak boleh ngaji lagi! Kamu jadi durhaka!”maki sang ibu di tengah pemukulannya pada Ross. Dan seperti biasa, Ross tak menangis, atau berteriak kesakitan dan memohon ampun. Hanya satu yang ia rasa, badannya tak kuat seperti biasa. Malam ini tubuh kecilnya lemah menerima kekasaran sang ibu. Ketika bibirnya ditampar sang ibu, ia hanya dapat merasakan cairan asin keluar dari mulutnya. Ia rasakan sakit di kepalanya diiringi pandangan matanya yang semakin memudar, menggelap, dan hilang sama sekali. Saat kesadarannya hilang, sang ibu masih memukulinya.
            “Heh! Kamu jangan pura-pura, Ross! Ibu masih marah sama kamu. Ross! Ross!“ panggil sang ibu. Diraihnya wajah Ross dengan tangan kirinya. Ditunggunya agak lama. Tapi ia tak mendapati Ross bangun. Tiba-tiba ia terduduk menyadari tubuh anaknya tak bergerak.
            “Ross. Kamu nggak apa-apa, nak?”panggil sang ibu. Suaranya melembut kini. Ia merasakan denyut jantungnya berdetak lebih kencang setelah melihat mata anaknya tertutup. Ditaruh kedua jarinya di depan hidung Ross. Masih terasa angin berhembus. Raut wajah perempuan paruh baya itu mulai mencerah. Segera digendongnya Ross menuju kasur. Ia tidur pulas di samping anaknya.
***
            Pagi ini Ross tak bermain dengan Rita. Ia terus berbaring di kasur. Sang ibu membiarkannya dan mengerjakan tugas rumah tangga yang biasanya Ross kerjakan. Ross masih merasakan sakit di kaki, tangan, dan punggungnya. Juga bibirnya yang agak robek kini. Ross hanya diam, tak berusaha mengeluhkan kondisinya pada siapapun. Rita dan teman-temannya yang datang hanya disambut dengan senyum manis. Ross hanya dapat memandangi Rita saat menyuapinya kue dari warung Bude Ratih. Perlahan Rita menyuapi Ross karena bibir Ross yang sakit itu.
            “Ross, bapak bawa...Ross!”ujar seorang pria di pintu rumah. Dilihatnya wajah sang anak lebam. Kantong plastik berisi roti coklat kesukaan Ross segera ia letakkan di samping sang anak. Air bening menetes dari kelopak matanya. Rita terkejut melihat kejadian itu.
            “Bapak....”panggil Ross. Tangan mungil yang dihiasi darah kering itu berusaha menggapai pipi sang bapak. Keduanya sama menangis, tapi Ross menangis sedih karena melihat bapaknya menangis. Segera Rita pamit untuk keluar. Saat itu sang ibu masuk ke rumah.
            “Bu..anak kita..”ucap sang bapak. Perempuan itu hanya terdiam. “Bu. Jadi? Yang bikin Ross begini, kamu!?”tanya sang bapak keras. Sambil menahan air mata yang terus tumpah, sang bapak memarahi ibu Ross. Melihat itu, Ross hanya mampu mengeluarkan air mata, sesuatu yang sudah sangat lama tak dilakukannya. Sama seperti bapak yang sudah lama tak menangis.
            Sungguh, langit pagi hari itu sangat cerah, tapi tak mampu mencerahi Ross yang sedang sakit. Ross memandang ke luar, ke arah rumah Rita, teman mainnya. Sementara itu, terdengar suara keras sang bapak dari arah dapur. Hanya, Ross tak mendengar suara pukulan atau benda pecah yang mengiringi marahnya bapak. Ross tak bisa istirahat meski badannya lelah.
***
            Sudah tiga malam Ross terbaring. Bapak tak bekerja seharian penuh. Sang ibu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lebih cepat lagi agar bisa menemani Ross lebih lama. Sayangnya, keduanya tak mampu membawa Ross ke puskesmas terdekat. Meski di tangan bapak saat ini ada kartu askes, tapi kartu itu tak berguna di daerah mereka. Bapak hanya terus mendongeng, suatu hal yang sering ia lakukan saat Ross masih bayi. Ibu menemani Ross, mengipasinya. Suasana yang sangat Ross rindukan selama ini. Sayangnya, keakraban itu tak dirasakan saat ia sehat. Maka menyadari itu bening air keluar lagi dari kelopaknya. Ross menangis lagi, dan tangisan tak bersuara itu menyadarkan sang ibu untuk bereaksi.
            “Ross, sakit lagi, nak?”tanya sang ibu. Memar-memar dan luka di sekujur tubuh Ross sudah diberi balsem dan obat merah. Ross hanya menggeleng. Selengkung manis terwujud dari bibirnya. Ya, Ross tersenyum. Senyumnya tak membuat ibu dan bapak ikut tersenyum. Tapi mereka menitikkan air mata. Siapa yang tak bersedih bila anak semata wayang menderita, tapi di tengah deritanya tak sanggup orangtua berbuat apa-apa?
***
            Sore ini Ustadz Syamsul mengantar Rita sepulang mengaji ke rumah Ross. Gadis kecil lembut pendiam itu sudah 2 hari tidak datang. Pria berusia 25 tahun itu membawa makanan dan sedikit obat. Tak berapa lama, Rita dan Ustadz Syamsul sampai di depan rumah Ross.
            “Assalamu’alaikum,”ucap Ustadz Syamsul dan Rita, hampir bersamaan.
            “Ya. Eh, Pak Ustad. Masuk, Pak,”jawab ibu Ross. Tersenyum Ustadz menanggapi jawaban perempuan di hadapannya. “Maaf, Pak. Kontrakan kami kecil,”lanjut sang ibu.
            “Nggak apa-apa, Bu. Ross, maaf, Kakak baru bisa datang sekarang. Kemarin Kakak ke Yogya dua hari. Nih, Kakak bawa makanan,”sahut ustadz muda itu, menahan getir. Melihat kondisi Ross, manusia manapun yang memiliki hati akan menangis. Pun seorang laki-laki seperti Ustadz Syamsul yang tegar itu.
            “Bu, kita bawa Ross ke dokter,ya,”ujar ustadz cepat.
            “Maaf, Pak Ustadz. Saya udah mau bawa dia, tapi nggak bisa, Pak. Duitnya nggak ada, Pak. Lagian, sakitnya udah mendingan, kok. Paling-paling besok udah main sama Rita,”elak sang ibu. Ustadz tersenyum, menyadari cara berpikir mereka yang berbeda. Ya, lebih baik mengalah, batinnya. Saat itu bapak Ross muncul dari dapur.
            “Eh, Pak Ustadz,”ucap bapak sambil menyalami ustadz. Mereka berbincang sebentar diiringi senyum Ross. Menjelang maghrib, Ustadz Syamsul melangkahkan kakinya keluar dari kontrakan kecil yang penuh pelajaran itu, baginya.
***
            Ini hari ke-5 sejak Ustadz Syamsul menjenguk Ross. Tadi malam panas badan Ross sempat meninggi, tapi sudah turun usai dikompres oleh ibu. Bapak sudah kembali pada rutinitasnya, ia bekerja seharian lagi. Memar dan luka yang sempat membaik mulai terasa perih lagi setelah panas badan Ross.
            “Bu...ma...afin...Ross...”ucap Ross siang itu saat sang ibu menyuapinya. Sang ibu tersenyum. Ross, tiap hari begini, sampai kapan?tanya sang ibu dalam hati. Segera ia selesaikan suapan terakhir Ross. Selesai Ross makan, ia pergi ke dapur. Rencananya ia akan makan, tapi tidak di depan Ross.
            Saat itulah Ross merasakan tubuhnya dibanjiri air, tapi air itu tidak dingin. Panas malah. Peluh terus menetes, bahkan mengalir di sekujur tubuhnya. Gemetar ia rasakan seolah kedinginan. Tapi gemetar ini adalah gemetar bahwa ia kepanasan. Berusaha keras dipanggilnya sang ibu, tapi suaranya tak begitu saja mau menuruti perintah otaknya, seolah ada yang mencegah untuk keluar. Sampai pada akhirnya, di tengah usaha menahan panas dan mengeluarkan suara,
            “Ibuu!!”panggil Ross. Segera saja sang ibu yang baru menyendok nasi segera meletakkan piringnya dan menghampiri Ross. Terkejut ia lihat sang anak kuyup dan bergetar.
            “Ross, Ross..”panggil sang ibu. Saat tangannya mendekat pada kening Ross, dirasakannya uap panas Ross. Merah wajah Ross baru disadarinya saat itu. Segera ia berniat mengompres Ross, tapi itu hanya niat. Ross menggenggam tangannya.
            “Bu, Ross..Ross..”hanya itu yang ia ucap. Sang ibu berupaya menyiapkan kompres dan mengompres Ross. Agak lama kemudian, saat itu adzan Ashar, panas Ross mulai menurun, setidaknya itu terlihat dari tidak gemetarnya Ross. Sang ibu sudah mulai melihat wajah Ross yang dihiasi senyum kecil. Haruskah ibu bawa kamu ke dokter, Ross?batin sang ibu.
            Ketika sang bapak pulang, Ross sudah tidak panas lagi.
***
            Kejadian itu berulang. Malam ini saat bapak dan ibu ada di rumah, tepat saat bapak mendongeng. Tubuh Ross mengejang lagi. Dalam sekejap badannya kuyup, seperti siang itu. Ibu segera mengompres, seperti siang itu juga. Tapi setelah agak lama, turunnya panas tak berulang. Badan Ross tetap panas. Bapak segera berdiri, membawa Ross dalam gendongannya.
            “Pak? Mau dibawa ke mana?”tanya ibu panik.
            “Kita harus ke puskesmas, bu. Ross nggak sembuh-sembuh,”jawab sang bapak.
            “Tapi, Pak...”
            “Duit? Aku bisa cari, kok, Bu. Sekarang yang penting Ross,”sahut bapak menenangkan. Segera keduanya melangkah, menyusuri jalan menuju puskesmas. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Ustadz Syamsul. Akhirnya beriringan mereka menuju puskesmas.
            “Paak..Bapak..Bu...”panggil Ross lirih. Bapak sempat berhenti mendengar suara Ross.
            “Ross laper?”tanya bapak.
            “Pak...Bu...”ucap Ross. Panas badannya semakin menurun. Bapak mulai munculkan wajah cerah dalam perjalanan mereka. Di dalam angkot, Ustadz Syamsul tak henti-hentinya berdzikir, mendo’a untuk Ross.
            “Panas badan kamu turun, Ross. Sebentar lagi kamu sembuh..”ucap bapak senang. Ibu tersenyum mendengarnya. Setelah 15 menit, mereka sampai di depan puskesmas. “Ross, kita udah sampai. Sebentar lagi kamu berobat, nak,”lanjut bapak.
            Tangan Ross menggapai-gapai pipi bapak. Saat itu ibu menghampiri Ross. Tangan Ross yang satu berusaha menggapai pipi sang ibu. Ketiganya tersenyum saat itu.
            “Bu, Pak, terima kasih, maafin Ross...”ujar Ross. Setelah itu matanya meredup, tapi tidak dengan senyumnya.
            “Ross, jangan bilang begitu...Ross? bangun, nak. Kita sudah sampai..”panggil sang bapak. Berkali ia guncangkan tubuh Ross, tapi tak didapatinya Ross membuka mata. Ustadz Syamsul yang ada di samping mereka segera memeriksa sejauh ia tahu. Innalillahi...
            “Bu, Pak..maaf. Sebaiknya kita segera ke dokter, memeriksa keadaan Ross,”ucap ustadz mengusulkan. Selama Ustadz Syamsul mengurus administrasi, bapak dan ibu membawa Ross ke ruang periksa. Syukurlah saat itu tak ada pasien lain. Baru memegang sebentar, dokter sudah mengucap sesuatu.
            “Maaf, Pak, Bu. Anak Anda sudah tak dapat kami tolong...”
            “Bohong! Bapak bilang begitu karena kami miskin,kan?”sahut bapak mengelak. Saat itu Ustadz Syamsul masuk.
            “Bapak, maaf. Tapi setelah Ross minta maaf, ia sudah pergi meninggalkan kita,”ujar Ustadz Syamsul. Bapak dan ibu tak dapat marah lagi, hanya menangis di depan tubuh Ross. “Pak, sebaiknya kita mengucap innalillahi wa innalillahi roji’un...”bimbing ustadz. Kedua manusia paruh baya itu menurut. Membiarkan anak semata wayangnya pergi. Semoga kau lebih tenang, nak. Batin sang bapak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar