Kamis, 30 September 2010

Sisi Lain Kehidupan #1

Senja sudah tidak lagi tampak. Tokyo mulai gemerlap dengan lampu-lampunya, tapi masih kalah dengan gemerlap aula Gedung Pertunjukan Ranko. Sebuah gedung pertunjukkan yang sering disewa untuk acara-acara kelas atas. Di tengah gemerlap pesta penyambutan itu, terengah-engah seorang gadis berambut sebahu dengan gaun lebar di badannya, berusaha pergi dari ruang besar.

Sakura Haruno, putri tunggal pengusaha haruno yang termasuk 10 besar di dunia. Gadis berusia 16 tahun itu sedang mengikuti ritual 'melarikan diri' dari tempat yang tidak diharapkannya. Ia bukan orang yang suka dengan kemewahan, meski di London ia hidup dengan kecukupan. Pangeran William menjadi contoh baginya bahwa kalangan atas bisa hidup biasa saja dengan rakyat jelata. Tapi tidak di sini, di negaranya, di mana ia harus bersikap seperti putri.

"Mau ke mana?" tanya seseorang. Lelaki dengan rmbut tak bermodel, lusuh, dengan pakaian sedikit kotor. Sakura mengerti ia harus waspada karena di luar gerbang aula sudah menjadi ruang publik yang bebas dilewati siapapun—termasuk lelaki lusuh ini.

"Ke rumah teman.."jawab Sakura. Gaun lebarnya tak bisa menipu mata sang penanya, lelaki berkulit kotor.

"Rumah teman? Jangan bercanda. Lihatlah ke sana, ada wajahmu di sana," ujar laki-laki tadi sambil menunjuk sebuah arah. Sakura mengikuti telunjuk laki-laki itu. Matanya ikut mengarah pada televisi besar yang menyiarkan acara di dalam aula.

Seketika degup jantung Sakura bersicepat dengan waktu yang sepersekian detik. Kami-sama, lelaki ini… batinnya.

"Kenapa pergi? Oke, maaf..tepatnya..lari?"

"Aku…"

"Ikut aku kalau kau mau aman." Ujar lelaki tadi seraya menggandeng tangan Sakura. Ah tidak, tepatnya menarik.

Sakura memilih diam. Nanti akan ia pikirkan apa yang harus dilakukan. Mereka terus berlari hingga beberapa ratus meter menjauhi gedung tadi. Mendadak lelaki kotor itu berhenti. Tangannya meraih sesuatu di kantong bajunya, kemudian mengarahkan pada Sakura. Kilatannya meyakinkan Sakura bahwa itu adalah cutter, pisau portable sepertinya.

"kau…"

"Diam" ujar lelaki itu mendekati Sakura, mengarahkan pisaunya ke bagian bawah tubuh Sakura. Kami-sama…

SET..SET…

Lelaki itu merobek gaun Sakura dengan bantuan cutternya. Kini, Sakura hanya memakai gaun selutut. Sakura terkejut dengan ulah lelaki itu.

"Kau lambat bila berlari dengan pakaian begitu. Ini lebih baik." Ujar lelaki itu, kemudian memungut robekan gaun dan membuangnya ke tempat sampah. "Agar mereka tidak melihat jejak kita," lanjutnya. Mereka lari lagi.

Lari dan terus lari hingga sampai waktu untuk benar-benar berhenti. Sakura terkejut. Sebuah panti asuhan, tertera papan nama di depan rumah besar itu. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung puluhan anak. Begitu pikir Sakura.

"kau?"

"Kak Sasukeee….."panggil seorang anak kecil. Lucu, imut, meski ingus meleleh di hidungnya. Sasuke tersenyum dan membentangkan tangannya ke anak kecil itu. Ya, lelaki tadi adalah Sasuke. Lelaki yang melarikan Sakura.

Sejenak anak kecil itu memeluk Sasuke, lalu menoleh ke Sakura.

"Kenalkan, aku Sakura.." ujar Sakura spontan, diiringi senyum manis.

"Konohamaru," ujar anak kecil tadi. Riang. "kak Sasuke, cantik sekali dia,"

"Ya. Tapi kita harus menghormatinya. Dia…"

"Tamu. Ya, kan, kak?" tanya Konohamaru. Seolah ia sudah terbiasa dengan kalimat untuk 'menghormati tamu yang datang'. Sasuke tersenyum.

"Iya. Konohamaru masuk duluan ya. Kakak mau di sini sebentar, menemani Kak Sakura," ujar Sasuke ramah. Konohamaru mengangguk dan membungkuk ke arah Sakura. Sakura menanggapi dengan senyum sumringah.

"Kau suka anak kecil?" tanya Sakura akhirnya. Hatinya mulai yakin bahwa lelaki yang membawanya bukan lelaki jahat.

"bukan itu yang ingin kubahas. Aku mengajakmu kemari untuk menunjukkan sisi lain kehidupan," ujar Sasuke yang bukan menjawab pertanyaan Sakura.

"Sisi lain Kehidupan?"

-tsuzuku-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar