Kamis, 30 September 2010

Sisi Lain Kehidupan #2

Sasuke mengajak Sakura menatap langit malam di luar panti asuhan. Rumput di halaman rumah tersebut menjadi tempat pilihan Sasuke untuk duduk.

"Ceritakan mengapa kau lari dari pestamu," ujar Sasuke. Masih datar terasa nada bicaranya. Sakura diam agak lama sebelum akhirnya menjawab

"Aku tidak suka dengan keberlebihan di sana," ujar Sakura.

"Orang kaya memang aneh, ya," sahut Sasuke singkat. "Lihat di sana. Bintang-bintang itu," lanjutnya seraya mengarahkan telunjuknya, seperti tadi. Dan Sakura menurut, juga seperti tadi.

Sasuke mengalihkan tatapannya dari langit ke wajah perempuan di sampingnya. Sebuah getaran mulai terasa di hatinya. Takjub dengan keindahan wajah Sakura ang seolah dipahat sempurna oleh seniman abad pertengahan.

"Kenapa?" tnya Sakura saat menoleh mendapati Sasuke sedang menatap ke arahnya.

"Orang kaya memang berbeda, ya. Kau secantik itu jika tanpa perawatan khusus tentu tidak akan bisa," ujar Sasuke.

"Jadi, kau takjub padaku?"

"Ya. Hhh, meski begitu, aku tidak mungkin dikagumi olehmu, kan?" ujar Sasuke. Apa adanya. Sangat apa adanya. Ia tak menyadari semburat merah mengiringi keheranan Sakura di wajahnya.

"kamu..un.."

"Sasuke, kau sedang apa? Masuklah," sapa seseorang memotong kalimat Sakura. Sakura menolehkan pandangannya. Agak berbeda dengan Sasuke, lelaki itu berkulit bersih, tampak terawat.

"Berhentilah, Gaara, untuk menasehatiku, mengingatkanku. Aku hanya ingin duduk di sini bersama tamuku."

"Kau itu…tidak kasihan pada nona ini? Dia tidak sepertimu. Mungkin dia tidak biasa dengan udara malam di luar,"

"Tidak apa-apa, emm…Gaara. Aku senang di sini," jawab Sakura menenangkan Gaara.

"Baiklah."

Dan Sakura menghabiskan malam itu di bawah bintang, meski agak kedinginan. Ia tak peduli malam ini berita hilangnya ia menjadi berita paling hangat.

"Sakura, besok kau akan kuajak ke sekolahku," ujar sasuke.

"tak apa?"

"Tidak. Sebelumnya, kau akan diubah sedikit…maksudku, penampilanmu agar tidak mencolok. Mengenai administrasi, tenanglah. Kau tidak perlu repot mengenai administrasi," rinci Sasuke.

"aku menurut saja,"

"Eh?"

"Toh tidak berpengaruh bila aku menolak, kan?" ujar Sakura sambil tersenyum manis.

Pagi ini Sakura memakai baju pinjaman karin, teman panti asuhan Sasuke. Hanya rok selutut dengan kaos berkerah. Sakura mengenakan kacamata baca milik Sasuke dan rambut indahnya dikepang di tengah.

"Manis," ujar Sasuke. Baru saja ia melihat Sakura dengan penampilan barunya. Sakura segera menyejajari Sasuke, menuju sekolah barunya.

Tidak perlu waktu lama untuk bisa sampai ke sekolah mereka. Sebuah bangunan sederhana yang membebaskan muridnya berpakaian apapun ke sekolah dengan syarat tertentu.

Sasuke mengajak Sakura ke tempat duduknya, bukan sebuah kursi. Di sekolah ini tidak ada kursi, hanya ada tikar. Sakura yang sudah yakin dengan kebaikan Sasuke brusaha menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan barunya.

"Sasuke, dapet dari mana?" tanya seorang lelaki berambut acak-acakan dan gimbal, Kiba namanya.
Tampangnya sangat terlihat preman, seperti yang dilihat Sakura di televisi atau buku-buku bacaannya.

"Kiba, diam kau. Sebentar lagi..." elak Sasuke menepis tangan Kiba yang mulai mendekati tubuh Sakura, sementara Sakura terus berusaha mundur.

"Baiklah. Sekarang, kita belajar Bahasa Jepang," ujar seseorang dengan wajah tampan yang sering membuat histeris perempuan yang melihatnya. Guru mereka, Kakashi. Sakura bergidik ngeri melihat buku teks bacaan Kakashi. Tampangnya memang boleh, tapi buku bacaannya...mesum. Sakura spontan memegang tangan Sasuke.

"hei, kenapa? Tenanglah. Aku di sini," ujar Sasuke berupaya menenangkan Sakura.

"Sudah 3 jam mereka belajar bahasa, kemudian mereka pulang.

"Sakura," panggil kakashi. Yang dipanggil mulai merasakan ketidaknyamanan. Sasuke ikut memegang tangannya. "Oh, rupanya kau kekasih Sasuke. Aku hanya merasa pernah melihatmu saja. Kenalkan, aku pengajar di sini, mahasiswa Universitas Tokyo," ujar Kakashi melihat Sasuke memegang tangan Sakura.

Sakura merasa was-was saat ia berjalan melewati teman-teman Sasuke itu. Ia merasakan tatapan yang tidak bersahabat dari tiap lelaki yang menatap wajahnya.

"Sakura? Kau takut, eh?" tanya Sasuke akhirnya. Ia terus membimbing Sakura melewati jalan kecil menjauh dari sekolah mereka.

"Aku ingin pulang.."ujar Sakura.

"Kenapa kau tidak dewasa?" tanya Sasuke heran. Sakura melepas tangan Sasuke yang terus memegangnya. Mereka sudah dekat dengan panti asuhan.

"kau bilang aku tidak dewasa!" tanya Sakura dengan nada tinggi. "Aku harus menahan takut dan malu karena mereka terus saja melihatku!"

"Tapi.."

"kukira kau mengerti cara yang baik un.."

"Aku bilang, sisi lain kehidupan. Mengerti?" sahut Sasuke masih dengan nada tenang.

"Tapi kau..."

"kau memang belum dewasa, sama seperti dulu. Ayo, kita pulang," ujar Sasuke.
Sakura enggan menitikkan airmatanya. Ia malah terperangah dengan ucapan Sasuke 'sama seperti dulu'. Apakah Sasuke adalah orang di masa lalunya?

"Sakura, ayo kita pulang."
Sakura mengikuti langkah Sasuke. Keduanya mendekati panti asuhan tempat menginapnya sementara, selama sisi-lain-kehidupan ini dialaminya.

"Maaf.."

"Eh?"

"Maaf. Aku terlalu menganggapmu sama seperti teman-temanku yang lain. Aku tadi lupa kau berbeda dengan kami." Ujar Sasuke.

"Sasu.."

"Kakaaaaak..." lagi-lagi Konohamaru menghambur, menyambut mereka berdua.

"Konohamaru, yuk...kita bersihkan hidungmu," ajak Sakura. Konohamaru menurut saja ketika tangannya digandeng Sakura. Keduanya mendahului Sasuke. Sekilas Sakura berkata, "Aku akan berusaha menikmatinya..."

"Kak Sasuke, ayo masuk," ajak Konohamaru ketika keduanya mendapati Sasuke terdiam di pintu halaman Panti Asuhan.

Sakura melakukan beberapa perubahan. Konohamaru diajarkannya membersihkan hidung tiap kali ingusnya keluar. Karin diajarkan bagaimana merawat kebersihan kamar. Siang itu hingga sore panti asuhan ramai oleh kegiatan bersih-bersih. Sasuke ikut membantumengangkat serta memunguti barang-barang.

"Kau tu..."

"Ssstt, tolong diam Sasuke."

"Tapi kau seperti biasa mengerjakan ini. Ini kan tugas pelayanmu di is.."

"Aku di luar negeri hidup seperti rakyat biasa,"

"Bisa?"tanya Sasuke.

"Ya, setelah aku merengek pada ayahku," jawab Sakura.

"huh. Sama saja, seperti yang lainnya. Merengek agar keinginannya terpenuhi," rutuk Sasuke.

"Eh?"

"tapi walau bagaimana, aku tetap suka kamu, kok," ujar Sasuke. Sakura mengerutkan alisnya.

Terheran-heran terhadap Sasuke. Sangat biasa.

"Nenek pulaaaang!" teriak Konohamaru, Hanabi (?) menyambut seorang nenek ua di depan pintu. Sakura menoleh ke arah pintu itu. Tepat saat itu, nenek itu menoleh ke arah Sakura.

"Nenek Chiyo?"

"Nona Sakura?"

-tsuzuku-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar