Kamis, 30 September 2010

Sisi Lain Kehidupan #3

Perempuan tua yang dipanggil nenek Chiyo itu sgera menutun hanabi dan Konohamaru untuk menghampiri Sakura. Keduanya bersitatap sebentar sebelum akhirnya berpelukan, menautkan tubuh yang satu dengan yang lainnya.

"Nek.."

"Sakura, apa kabar?"

"Sejak Nenek pergi, tidak banyak yang berubah di hunian kita," jawab Sakura.

"Hei, hei. Aku dilupakan?" tanya Sasuke akhirnya.

"Ah…kau diganggunya, Sakura?" tanya Nenek Chiyo usai tertawa.

"tidak, Nek. Malah aku dilindungi…dengan cara yang tidak biasa," jawab Sakura ikut tersenyum.

"Kalian mengobrollah dulu. Aku akan melanjutkan kerja bakti di rumah ini. Nek, sepertinya rumput-rumput sudah merindukanmu," ujar Sasuke menghentikan celoteh dua perempuan d hadapannya.

"Terima kasih Sasuke," sahut Sakura, masih dengan senyum manisnya. Ketika Sakura melewati Sasuke, Sasuke berkata pelan

"Sepertinya aku tidak akan lagi menunjukkan sisi-lain-kehidupan padamu."

Sakura mengikuti Nenek Chiyo-nya ke rumput di halaman. Sama seperti malam itu, mereka duduk di halaman. Mulailah mengalir cerita antara keduanya, nostalgia saat di London, juga sedikit kisah tentang Sasuke.

"Bagaimana caranya kau ke sini, Sakura?"

"Sasuke yang membawaku, Nek," jawab Sakura yang dengan tenangnya menceritakan semua kisahnya dengan Sasuke.

"Dia benar-benar melaksanakannya, ya?" ujar Nenek Chiyo yang sangat terlihat tidak bertanya meskipun kalimatnya seolah berintonasi pertanyaan. Sakura menoleh.

"Eh? Nenek sudah tahu?"

"Kalian di sini. Nenek, apa kabar Nek?" sapa lelaki yang Sakura kenali sebagai Gaara. Ia melihat Gaara dan Nenek Chiyo berpelukan. Sudah biasa, bukan, di negaranya? Sakura tersenyum ketika mendapati Gaara menoleh padanya.

"Nenek baik, seperti kaulihat, kan? Sasuke di dalam. Sepertinya ia butuh bantuanmu," jawab nenek Chiyo sambil tertawa.

"Baiklah. Permisi," ujar Gaara yang kemudian meninggalkan keduanya.

"Nek, tadi Nenek bilang Sasuke jadi juga melakukannya. Maksud nenek?"

"Hei, sejak kapan Sakuraku ini berubah tidak tenang?"

"Mungkin sejak bertemu Sasuke, Nek," jawab Sakura.

"kalian mirip,"

"Maksud Nenek?" Sakura mulai tak habis pikir dengan kalimat-kalimat teman tuanya ini. Di London, ketika menjadi tetangga sebelah, Neneknya ini tidak seaneh sekarang.

"Blak-blakan. Seolah kalimat yang diucapkan itu kalimat biasa. Bukankah kau tak seperti itu, Nona?"

Sakura mulai merenungi sedikit ucapan Neneknya. Apa iya?

"Mana pengawalmu? Aku tak melihatnya,"

"nenek, aku kan bilang aku kabur,"

"Hohoho, iya, ya? Nenek lupa," ujar Nenek Chiyo gembira. "pulanglah." Lanjut perempuan itu akhirnya setelah usai tertawa. Lagi-lagi Sakura terkesiap. "ya, ini bukan tempatmu. Pulanglah,"

"Tapi aku boleh main lagi ke sini?"

Hanya diam sebagai jawaban Nenek. Sakura berdiri, beranjak pergi dari halaman. Ia merasa tidak rela pergi begitu saja. Tapi, ia berpikir lagi, bahwa ia memang tidak tepat berada di sini, di lingkungannya sekarang.

"Makanlah. Gaara sudah masak sup krim, katanya," ujar Sasuke melihat Sakura masuk ke ruang tamu. Tapi dilihatnya Sakura tidak ceria seperti ketika menyambut Nenek tadi. "Kau…disuruh pulang?" tanya Sasuke.

Sakura menoleh ke arah Sasuke. Ia bisa tersenyum, menyimpan semua gelisahnya pada siapapun yang dihadapinya. Tapi tidak pada Sasuke yang begitu terbuka padanya.

"Aku tahu pasti Nenek akan mengatakan itu. Aku tahu dari wajahmu. Makanlah, sudah sore dan kau dari tadi belum makan," lanjut Sasuke. Masih dengan nada khasnya. Sakura segera ke kamarnya. Untung Karin belum pulang sehingga ia mudah untuk menumpahkan semua rasa di hatinya.

"Bila itu yang terbaik, pulanglah. Aku antar," ujar Sasuke yang entah sejak kapan berdiri di pintu.

"Sudah pergi satu malam, belajar hal baru setengah hari tadi…lalu selesai begini saja?" tanya Sakura akhirnya. Kepalanya menunduk, tidak berani menatap lelaki-pembawa-dirinya.

"Cukup sudah apa yang kutunjukkan padamu, sepertinya. Kau tidak cocok terus ada di sini," ujar Sasuke lagi.

"begini saja?"

"ya."

"Tak adakah yang lainnya? Tak adakah?" tanya Sakura lagi. Ia merasa berat berpisah dengan kehidupan yang mulai disukainya ini. Meski baru semalam, Sasuke mengajarkan banyak hal padanya.

"hei, cantikmu bisa hilang kalau begini. Sudahlah, kita tidak bisa mengubah garis hidup yang sudah tergambar. Kita hanya bisa menentukan garis selanjutnya yang belum tergambar. Iya, kan?" lanjut Sasuke seraya mengusapkan jempolnya ke bibir mata Sakura yang mulai teraliri bulir bening.

Jelas saja, tingkah Sasuke semakin menggelisahkan Sakura. Dengan lelaki sebaik ini, bagaimana bisa ia pergi?

"Aku antar sekarang. Bersiaplah. Usai makan, kutungu di luar."

Sasuke tidak bercanda?

-tsuzuku-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar