Kamis, 30 September 2010

Sisi Lain Kehidupan #4


"Nek…" ujar Sakura yang sudah siap untuk pulang. Ia tidak bisa lagi melawan. Toh, ia hanya menjadi tamu di sini. Nenek Chiyo, perempuan yang dipanggil Sakura, menoleh dan menunjukkan senyum tipisnya di mata Sakura, kata-kata Nenek adalah titah yang tak boleh dibantah. Bukan karena takut, tapi Sakura sudah tahu bahwa ucapan Nenek banyak sekali pertimbangannya secara logika.

"Aku pamit.." lanjutnya lagi. Ada sesak di dadanya seolah sakit fisik menyerang organ tubuhnya di bagian dada. Sakura tidak lagi menitikkan airmata seperti tadi. Gaun selutut sudah dipakainya lagi. Makanan jatahnya sudah ia habiskan. Sakura berdiri di samping Nenek Chiyonya itu.

"Ya. Hati-hati."

"Sakura, ayo," ajak Sasuke yang berdiri di depan pintu. Jeans belel dan kaos serta jaket jeans menjadi pakaiannya. Sakura membuntutinya. Nenek Chiyo hnya menatap kedua punggug pemuda di depannya, keluar dari rumah, kemudian melewati halaman, dan menghilang sama sekali.

"Tak apa, Nek?" tanya Gaara. Rupanya ia berdiri di samping Nenek sejak Sakura pergi.

"Ya. Nona Sakura harus tetap menjalani kehidupannya. Sasuke juga harus menjalankan pesan keluarganya di sini," jawab Nenek.

"Ya."

Sementara itu, Sasuke tak melepas pegangan tangannya pada Sakura. Ia hanya ingin mencoba mengalirkan ketenangan batin pada Sakura meski ia tahu upayanya tak berpengaruh besar. Setidaknya begitu menurutnya.

"Sasuke…haruskah begini?"

"Kalau tak mau, bilang saja," jawab Sasuke seperti biasa. Sepertinya Sasuke terbiasa mengucap apa yang di kepalanya, batin Sakura.

"aku tak bisa. Nenek pasti sudah memikirkan…"

"Ya sudah. Biarlah berjalan apa adanya."

Keduanya berjalan dengan tetap diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya langkah kaki dan bising kendaraan lalu lintas yang menjadi pengiring perjalanan mereka. Keduanya naik bus umum, karena Sasuke tidak memiliki cukup uang bila harus naik taksi. Sakura benar-benar merasa tak enak ketika ia menyusahkan Sasuke, bahkan hingga detik perpisahan mereka.

"Sampai gerbang sini saja kuantar kau," ucap Sasuke saat mereka sudah di depan gerbang istana Sakura dan keluarga Haruno.

"Tapi, kau masuk saja dulu. Kau kan harus makan, atau setidaknya minum," elak Sakura mencegah niat Sasuke. Sudah sejauh ini, selelah ini, lalu Sasuke akan pulang begitu saja? Tidak. Begitu batin Sakura.

"Tidak semua hal harus dapat imbalan. Ya, kan?"

"I…iya, tapi…"

"Cobalah pikirkan bagaimana pandangan pengawalmu bila melihatku? Bisa-bisa aku dituduh menculikmu saat iu," jelas Sasuke akhirnya sambil menyeringai.

"Hmm…baiklah. Terima kasih sudah mengantarku. Aku boleh ke sana lagi, kan?"

Sebuah perpisahan biasa, tak ada yang istimewa. Sakura masuk ek dalam istananya dengan segala kehebohan sebagai pasukan penyambut, dan Sasuke kembali ke rumahnya, dengan keriangan Konohamaru dan lainnya.

"Nona, ini baju Anda"

"nona, ini sepatu anda"

"Nona, ini sarung tangan Anda"

Beberapa pelayan melayani persiapan Sakura pagi itu. Karena kecerdasannya, Sakura mampu selesai sekolah dalam usia 16 tahun dengan masuk kelas akselerasi. Kini, Sakura disekolahkan khusus keputrian. Kejadian sore kemarin semakin memperketat pengawalan dan nilai-nilai etika.

"Nona?" panggil salah seorang pelayannya kala Sakura tidak juga mengacungan tangannya untuk dipakaikan sarung tangan. Sakura seolah baru saja menyadari ada orang lain di sekitarnya.

"Maaf," sahut Sakura dengan nada lemah, tak bergairah.

"Kau jadi selemah ini, Nonaku?" tanya kepala pelayan di rumah itu, seorang perempuan yang sangat sabar menghadapi segala urusan kerumahtanggaan di istana itu, Shizune.

Sakura menatap sedikit sayu pada perempuan berusia matang di hadapannya. Rok selutut yang membentuk lekukan tubuhnya, juga kemeja lengan panjang berarna putih dengan hiasan renda di dadanya. Kacamata manis bertengger di hidungnya. Tentunya dengan hara yang tidak murah, mengingat ia bekerja di istana keluarga Haruno.

"Tante Shizu…aku masih memikirkan tempatku menginap kemarin malam."

"Lantas? Apakah Anda mendapatkan empuknya tempat tidur seperti di kamar ini, Nona?" tanya Shizune mencoba ramah. Sakura menggeleng.

"Malah aku mendapat kasur kapuk. Kau tahu, kan, kemarin saat sampai di rumah, aku langsung diberi perawatan khusus?" tanya Sakura balik, mencoba mengajak Shizune untuk ingat akan kegiatan kemarin usai Sakura datang ke istana.

"Ya. Lantas? Adakah yang istimewa di tempat Anda menginap, Nona?"

"Sesuatu yang tidak kulupakan. Bolehkah aku ke sana, Tante Shizune?" akhirnya Sakura mendongak, menatap Shizune lebih dalam. Entah apakah tatapan memohon atau memerintah yang Sakura berikan. Hanya, Shizune mendapati mata Nonanya tidak sekeras dulu dalam menatap.

"Nona sudah berubah, ya. Sudah mulai mampu mengutarakan isi hati Nona," jawab Shizune yang tentunya tidak sesuai pertanyaan Sakura.

"Hmm. Iya, sepertinya. Selama ini aku hanya mengatakan isi kepalaku terkait laporan, laporan, dan laporan. Juga pandangan tentang apa yang dibicarakan Ayah. Dan itu bukan isi hatiku," sahut Sakura, nona bergaun biru selutut itu.

"Tante, sepertinya aku tidak akan bisa ke sana."

"Siapa bilang?" sahut Shizune. Sakura mendongak, mendapati mata dengan bingkaian kacamata di hadapannya. Masih tidak percaya dengan ucapan Shizune. Tapi…ucapan tadi benar dari Shizune, kan?

"Ya. Tuan dan Nyonya sedang ke luar negeri untuk 2 hari. Saya rasa Nona bisa pergi ke tempat itu lagi," lanjut Shizune. Ramah. Seperti biasa.

"Terima kasih, Tante. Tapi…"

"Tentu etelah Nona menjalankan apa yang diagendakan untuk Nona," lanjut Shizune akan kalimat Sakura yang terpotong.

"Ya."

Sebuah harapan terbersit kini. Sakura akan bertemu dengan teman-temannya di panti asuhan lagi. Harapan itu menggerakkan seluruh anggota badannya, seolah terisi energi yang berlebih. Kaki tangannya berayun menuju ruang makan. Sarapan menunggu untuk disantap.

Sementara itu di panti asuhan, Sasuke sedang membantu Nenek memasak. Sambil memotong bawang, Sasuke mengajak nenek berbincang hingga sampailah pada perbincangan tentang Sakura.

"Kenapa Nenek tidak mau menyinggung tentangnya?" tanya Sasuke.

"Aku tidak ingin banyak harapan baru yang akan tumbuh. Aku tahu, harapan-harapan itu nantinya tidak akan terwujud," jawab Nenek sambil mencuci sayuran hijaunya.

"Tapi, Nek. Aku mengajak Sakura juga hanya untuk mengenalkan dia dengan dunia kita. Bukan mencelakainya. Itu kan yang nenek khawatirkan?"

"Sudahlah Sasuke. Kau fokus saja memotong bawang,"

"Tapi.."

"Kau sedikit unik. Lelaki biasanya akan fokus pada satu kegiatan dan kau? Lihatlah, masih sempat bicara serius saat sedang memotong bawang.."

"Jangan coba alihkan pembicaraan, Nek. Aku…"

"Aku tidak mau bicara tentangnya lagi, mengerti?" Nenek bernada memerintah meski dengan nada lembut.

"Baiklah."

"Hei, hei, hei. Apakah ada yang bernada tinggi barusan? Aku seperti mendengar sesuatu," ujar Gaara yang (mungkin) sejak tadi berdiri di pintu dapur. Hmm, mungkin juga tidak layak disebut pintu karena tidak ada daun pintu di sana. Tapi, untuk memudahkan, kita sebut pintu saja, ya?

"Kau mau ikut? Baru saja selesai, Gaara," jawab Sasuke. Ia melepas celemeknya. Menghampiri Gaara.

"Nek, pinjam Sasukenya, ya," Gaaara berkata pada Nenek. Nenek mengangguk. Gaara dan Sasuke segera ke tempat favorit mereka, halaman rumah.

"Kau maih memikirkan Sakura?" tanya gaara saat Sasuke memainkan rerumputan.

"Ya. Masih. Bahkan membicarakannya dengan Nenek," jawab Sasuke. Masih tenang seperti biasa.

"Dia sudah berubah, ya."

"Siapa bilang? Dia masih seperti dulu. Hanya berubah lebih cantik saja."

"Wah, wah, wah. Kau tahu sekali, Sasuke. Sudah sejauh apa kau mendekatinya?"

"Tidak jauh. Hanya biasa saja. Tapi…Gaara.." panggil Sasuke. Terputus oleh nafas Sasuke.

"Ya?"

"Apa aku bisa bertemu lagi dengannya?"

"Bisa saja. Memangnya kenapa?"

"Kau tahu bukan, dia siapa?"

"Huft. Kau ini. Kita jadi seperti di film 'putri dan rakyat jelata' sekarang. Sudahlah. Temui saja. Aku yakin kau bisa."

"Tapi…dia tidak mengingatku, Gaara."

"Mana mungkin dia ingat, bertemu kau saja belum pernah….sebelum kemarin."

"Iya, ya? Huft."

Keduanya terdiam. Sasuke merebahkan badannya, diikuti Gaara. Keduanya asik menatap hiasan langit berwana putih itu. Berjalan pelan seolah tidak mau mengejutkan makhluk-makhluk bumi.
Terlintas sebuah rencana di benak Sasuke. Sebuah rencana yang masih perlu diolah lagi karena rencananya masih belum memiliki alur yang jelas. Rencana yang dia juga pikirkan sangat kecil kemungkinannya untuk terlaksana.

"Kau masih memikirkan Sakura?" tanya Gaara.

"Ya. Entah kenapa, aku merasa perlu memikirkannya."

"Bicaramu seperti mahasiswa saja," celetuk Gaara, diikuti tawa kecilnya.

"Hei, aku memang mahasiswa. Kau saja yang tidak mengakuiku."

"Iya, iya. Aku mengakuimu, mahasiswa Ilmu Sosial Politik Universitas Oxford, Uchiha Sasuke. Tapi, kau kok tetap kumal, ya? Hahaha" Gaara meledek lagi.

"Kuliah jarak jauh, tau. Jadi penampilanku tidak perlu disesuaikan dengan kampus di sana."

"Lalu? Kemarin kau mengaku sebagai siswa di sekolah Kakashi?"

"Aku juga bersekolah di sekolah Kakashi, kan? Kau ini bertanya saja."

"Tapi kan kau suka membolos."

"Ya, ya, ya. Sepertinya aku sedang diwawancara."

"Habis, kau aneh. Mengajak Sakura ke tempat itu,"

"Biarlah. Aku ingin ia juga merasakan kehidupan anak miskin. Bahkan gelandangan."

Gaara tersenyum. Menatap wajah Sasuke yang manis, meski kumal. Sejak kembali ke Jepang dan menekuni kehidupan panti asuhan, Sasuke menyikapinya dengan biasa, tidak berubah meski ia pernah tinggal di London.

-tsuzuku-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar