Kamis, 30 September 2010

Sisi Lain Kehidupan #5

"Usai mengikuti kelas etika, Sakura segera meminta supir pribadinya melajukan mobil ke arah panti asuhan. Di tangannya sudah ada berbagai macam kue. Limousin itu membawa Sakura menuju panti asuhan di mana Sasuke berada.

Di tengah jalan, Sakura melihat Sasuke sedang berdiri. Hmm, tepatnya berjalan ke arah berlawanan dengan limousinnya.

"Pak, tolong berhenti, Pak," ujar Sakura. Seketika itu juga mobil berhenti dan Sakura segera turun.

"Sasuke," panggil Sakura. Yang dipanggil hanya menoleh karena merasa suara tidak asing mampir di telinganya dan menyuarakan namanya.

"Sakura? Mau apa?" tanya Sasuke. Ditatapnya Sakura dari atas ke bawah. Gaun biru selutut mengingatkannya pada kejadian malam itu. Segera saja Sasuke tertawa.

"Kau jadi suka dengan gaun selutut agar cepat kalau lari, ya?" celetuk Sasuke sedikit meledek.

"Tidak. Ini memang pakaian yang disiapkan untuk sekolah etika hari ini."

"Oh, rupanya tuan putri sedang belajar etika." Sasuke mengangguk-angguk.

"Ayo, masuk ke mobil. Aku ingin bicara denganmu. Aku juga mau ke panti."

"Tak perlu."

"Eh?"

"Tak perlu. Nanti mobilmu kotor bila aku masuk,"

"Tak apa."

"Yakin?" ujar Sasuke sambil menghampiri limousin Sakura. "Satu lagi, jangan ke panti, setidaknya untuk sementara ini."

Lagi-lagi Sakura menoleh karena terkejut.

"Eh?"

"Nenek sedang tak mau melihatmu."

"Sasuke…"

"Ya?"

"Aku mau titip kue untuk teman-teman di panti, kalau begitu."

"Ya."

"Sasuke?"

"Ya?"

"Bicaramu seperti orang berpendidikan tinggi. Kau tentu tidak hanya bersekolah di sekolah Kakashi kan?" tanya Sakura lagi.

"Kau menganalisisku? Jawabanku: Ya. Aku memang tidak hanya bersekolah di sekolah Kakashi."

"Pantas saja. Aku merasa kau sedikit aneh bila dibandingkan dengan teman-temanmu," ujar Sakura tertawa kecil.

"Sudah tak ada lagi? Aku keluar, ya?"

"Sebenarnya…aku ingin duduk di rumput itu lagi, di halaman panti. Tapi, titip salam saja, ya."

Sasuke menatap Sakura agak lama. Yang ditatap juga balas menatap Sasuke agak lama. Perlahan Sasuke memegang dagu Sakura, mendekatkan wajah keduanya. Terus saja mendekat hingga Sakura memejamkan matanya, mencoba merasakan nafas mereka.

Sakura tersentak, mungkin benar bila disebut terkejut. Sasuke menjauhkan wajah mereka.

"Maaf."

"Emm…iya," ucap Sakura menjawab sambil berupaya menutup rasa malunya.

Sasuke pamit dan membuka pintu mobil, membawa kue-kue. Juga membawa debaran yang sempat mengencang tadi. Setelah Sasuke melambaikan tangannya, Sakura meminta supirnya untuk menuju istana Haruno.

Sepanjang perjalanan, Sakura terus saja memikirkan kejadian yang baru dialami.

Sasuke menaruh kue-kue di lemari penyimpanan, setelah sebagiannya dibagikan pada anak-anak di panti asuhan.

"Dari Sakura?"

"Iya, Nek."

"Kau ke istananya?"

"Tidak. Kami bertemu di tengah jalan saat ia mau ke sini. Kularang, habis kulihat Nenek tidak setuju dengan keberadaannya di sini. Tak apa, kan, kuterima pemberiannya?"

"Ya."

"Nona, sudah saatnya Anda belajar ekonomi dan manajemen."
Sakura menoleh jam dinding di ruang makan. Sudah pukul dua siang. Shizune sudah berdiri di sampingnya usai mengatakan hal tadi.

"Tuan Iruka sudah datang?"

"Beliau sudah siap di ruang belajar sekitar limabelas menit yang lalu, Nona," jawab Shizune sambil melihat jam tangannya. Sakura beranjak. Masih dengan gaun yang tidak diganti. Masih biru selutut. Ruang belajar berjarak 2 ruangan dari ruang makan. Ya, meski 'hanya' dua ruangan, tapi jauhnya hingga belasan meter.

Srekk! Pintu geser itu terbuka, dan Sakura melihat sosok lelaki bernama Iruka—guru yang mengajari ilmu bisnis—dengan balutan kemeja lengan pendek. Sangat santai sepertinya. Kacamata bertengger di hidung berbekaskan luka itu.

"Selamat siang, Tuan Iruka."

"Selamat siang, Nona. Bisa kita mulai?"

"Silakan."

Pelajaran terkait bisnis itu berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi pada Sakura 2 hari kemarin. Shizune yang setia menemani Nonanya ikut duduk dan berusaha mencatat sebagian hal.
Sementara itu, Sasuke bermain dengan Konohamaru dan Gaara ke pusat kota. Ke taman yang dekat dengan istana Sakura.

"Kau sengaja, Sasuke?" tanya Gaara.

"Aku ingin melihat sedang apa dia. Itu saja."

"Ya sudah. Kubawa Konohamaru ke sana. Kalau urusanmu sudah selesai, segera susul kami, ya,"

"Ya."

Sasuke meninggalkan Gaara dan teman kecilnya. Ia berjalan menuju istana Haruno, tapi tidak ke gerbangnya. Sasuke memutar, berjalan ke arah samping istana itu. Temboknya tidak tinggi karena istana Haruno memang disiapkan untuk dikunjungi orang-orang. Setidaknya sampai pada gerbang yang sebenarnya. Sasuke baru tahu hal itu sekarang. Terus ia melangkah ke halaman istana itu. Menyusuri bagian samping hingga akhirnya ditemukannya sebuah pagar tanaman. Pagar yang terdiri dari tanaman bunga. Aneh. Sangat aneh.

Tempat berbahaya adalah tempat paling aman. Begitulah istilah yag digunakan di dalam istana haruno, menurut Sasuke. Pagar tanaman inilah satu-satunya celah untuk masuk ke istana sebenarnya.
Krosak. Krosak. Krosak.

Sakura yang sedang belajar tidak menyadari ada yang bergerak di samping ruang belajarnya. Ia terlalu fokus pada penjelasan Iruka.

Sasuke melihat sedikit bahwa Sakura sedang duduk di sebuah ruangan. Ada lelaki di hadapannya, juga whiteboard. Sedang apa? Batin sasuke bertanya. Sekitar beberapa menit ia mengintip, kemudian pergi, segera menyusul Gaara.

Usai belajar, Sakura merebahkan dirinya di kamar. Shizune masih terus berdiri di samping tempat tidur Tuan Putrinya.

"Agenda berikutnya apa?"

"Anda bisa beristirahat hingga pukul 8 malam, Nona. Setelah itu, kita akan menghadiri pesta pembukaan gedung Inuzuka."

"Baiklah. Boleh aku minta sendirian sekarang, tante?'

Shizune mengangguk dan pamit. Meninggalkan Sakura di ruang berwarna biru-pink miliknya. Ia tak mengerti mengapa Sang Ayah memerintahkan dua warna gender itu sebagai warna kamarnya. Tapi Sakura menyukainya. Warna pastel dan tidak mencolok. Badan yang tak terlalu menghabiskan banyak energi di dalamnya hari ini telah mencapai titik letihnya. Kelopak matanya menutup. Sakura tidur dengan mimpi indah seorang putri.

Sudah berlalu 4 hari sejak Sasuke mulai mengamati Sakura di istananya. Ia jadi lebih sering mengamati Sakura. Hanya mengamati, tidak lebih.

"Dari mana?" tanya Nenek.

"Taman kota, Nek,"

"Dengan pakaian itu? Kau tidak takut ditangkap polisi karena mereka mengira kau gelandangan?" tanya Nenek.

"banyak kok nek, pemuda di sana yang berpakaian sepertiku,"

"Tapi tidak sekumal dirimu," bantah Nenek.

"Haha, ternyata nenek suka membantah ya?"

"Kau yang tidak sopan pada Nenek."

"Iya, maaf. Hari ini kita makan apa, Nek?"

"Malam ini kita makan sisa tadi pagi,"

"Nek, apa aku bekerja saja?"

"Tak perlu bekerja sekarang. Selesaikan kuliahmu dulu."

"Tapi, Nek. Aku tidak bisa tinggal diam dengan kondisi kita sekarang. Sepertinya mengajar bukan hal buruk untuk kulakukan."

"Terserahlah. Tapi Nenek tidak punya cukup uang untuk membelikan pakaian layak untukmu."
"Tenang,Nek."

Malam itu menjadi malam yang baru bagi Sasuke. Rencana awal sudah mulai dijalankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar