Kamis, 30 September 2010

Sisi Lain Kehidupan #6

"Kau mau jadi pengajar privat Sakura?" tanya Gaara di halaman. Masih dengan rumput yang sama. Sepertinya rumput itu sudah agak memanjang.

"Iya. Kenapa?"

"Hei, hei, hei. Jangan buat aku tertawa, ya? Bagaimana dengan pakaianmu? Lantas, bagaimana dengan gayamu? Jauh beda dengan gaya mereka yang bangsawan. Iya, kan?"

Shit! Aku tak memikirkan sejauh itu, batin Sasuke. Bangsawan pasti mendapat pendidikan etika ala bangsawan. Aku? 

"Tapi…"

"Aku heran. Kau yang biasanya memikirkan semua dengan matang, jadi tidak berpikir pada hal ini."

"Gaara, kau mau mendakwaku? Silakan, silakan," jawab Sasuke. Matanya asik menatap bintang. Mengalihkan pikiran penatnya karena kemungkinan gagal sudah di depan mata. Haruskah berhenti rencananya sampai di sini?

Akhirnya hening yang tercipta mulai terpecah dengan suara. Ya, Gaara tidak salah dengar. Itu suara tawa Sasuke. Perlahan tapi pasti, suara itu semakin keras.

"Haha. Haha. Hahahahaaaa"

Sasuke menoleh ke arah Gaara yang duduk di samping kirinya.

"Kenapa aku jadi kurang perhitungan ya?" tanya Sasuke. Gaara hanya mengangkat kepalanya, kembali mengarahkan pandangan ke langit.

"Karena Sakura," jawab Gaara. Padahal jelas bahwa pertayaan Sasuke mengisyaratkan tidak perlu ada jawaban.

"Aku tetap akan jadi pengajar," kata Sasuke lagi.

"Sa.."

"Tapi bukan untuk menjadi guru Sakura."

Gaara hanya tersenyum mendapati tekad temannya itu.

Langit menjadi tempat mereka memandang, membentang menyusuri atap bumi. Di salah satu ujungnya ada Sasuke yang asik mendendang pelan lagu kehidupan dengan Gaara, di lain tempat, belum sampai di ujung tapi di langit yang sama, tepat di bawahnya, seorang Sakura Haruno duduk manis di dalam limousin. Saat ini ia sedang menuju tempat pesta pembukaan Gedung Inuzuka. Gaun kuning lembut menjadi pilihannya kini. Gemerlap jalanan Tokyo—yang menyimpan kekumuhan di beberapa sudutnya—tidak mengalihkan pikiran Sakura akan suatu hal. Mengapa Nenek Chiyo tidak mengizinkannya tinggal di panti? Apakah karena ia seorang Putri?

"Nona, kita sudah sampai," ucap Shizune menyadarkan Sakura. Mengangguk menjadi jawabannya. Seperti biasa, seorang petugas membukakan pintu mobilnya, kemudian ia melangkah keluar. Berjalan dengan anggunnya. Shizune dalam balutan gaun hitam segera menyejajari langkah Nonanya itu.

"Nona Haruno, senang sekali Anda memenuhi undangan kami," ucap salah satu anggota keluarga Inuzuka, Hana. Perempuan yang tingginya melebihi Sakura itu segera mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Sakura yang tidak perlu memeras otaknya segera mengerti dan menyambut uluran tangan serta memasang senyum manis nan anggun miliknya.

"Sakura?" tegur sesorang. Dari suara baritonnya sangat mudah untuk mengetahui ia adalah laki-laki. Sakura menoleh pada lelaki berjas abu-abu itu. Lelaki di samping Hana.

"Kiba?" sahut Sakura. Sejenak berkelebat kenangan masa kecilnya bersama Kiba Inuzuka saat bermain dengan anjing kecil. Tiba-tiba Sakura menghentikan kelebatan itu sepihak. Ia ingat saat ini ia seorang Putri Haruno yang harus bersikap anggun.

"Hei, Sakura. Kau kenapa?" tanya Kiba.

Sakura tidak bisa tenang sekarang. Sekelebat bayangan lain muncul, lelaki yang mengganggunya di sekolah Sasuke. Bukankah dia Kiba?

"Seperti pernah melihatmu dengan tato di wajah. Ke mana tato itu, Kiba?" tanya Sakura.

"Aku tidak pernah memakai tato, apalagi di wajah. Mana mungkin seorang keturunan Inuzuka memakai tato, Nona?" jawab Kiba, mengelak sekaligus berargumentasi.

"Tapi…"

"Sebentar lagi acara akan dimulai. Kiba, kau bisa menemani Nona Haruno?" tanya Hana memecah dialog kedua rekan berdirinya itu.

"Baiklah, kak. Ayo, Sakura. Setelah 10 tahun, aku belum mendengar apapun tentangmu," ajak Kiba.

"Ya. Tante, nikmatilah pesta ini. Aku aman, kok. Ada Kiba bersamaku," ujar Sakura pada Shizune.

Setelah Shizune pergi, Kiba dan Sakura memilih balkon di samping gedung yang merupakan pinggiran lokasi acara. Keduanya duduk di kursi yang disediakan, lengkap dengan mejanya. Suasana gemerlap sangat terasa di dalam acara itu. Belum lagi gedung Inuzuka yang memang mewah. Dengan desain minimalis, gedung Inuzuka berdiri kokoh. Sedikit sentuhan gaya romawi di beberapa pilar depan bangunan itu, menambah kesan mewah. Jendela-jendela kaca yang merefleksikan cahaya lampu di seberang gedung, memberi efek menyala pada gedung itu.

"Aku bertemu orang sepertimu."

"Ya. Tadi kau menyebutkannya. Hei, apa kau bertemu dengannya saat kau kabur?" tanya Kiba akhirnya. Sakura diam sejenak. Sebelum memberi jawaban berupa angukan lemah.

"Aku kabur…kau tahu?"

"Nona, aku kan kerabatmu. Ayahmu yang memberi tahu bahwa kau kabur. Ia memintaku mencarimu," jawab Kiba.

"Tapi…aku tidak melihatnya di tivi…"

"Ya, karena kami merahasiakan hal ini."

"Berdua saja? Di mana yang lain?" tanya seseorang memecah pembicaraan mereka berdua.

"Uzumaki Naruto?" sapa Kiba yang lebih mirip pertanyaan. Rambut kuning disisir rapi ke samping, jas biru tua menjadi pilihannya.

"Sepertinya kita akan reuni malam ini," jawab Sakura.

"Kau mau ikut kami usai acara peresmian ini?" tanya Naruto.

"Ke mana?"

"Tempat yang belum pernah kaukunjungi,"

Dan sampailah mereka di sini. Sebuah tepian sungai Sumida, sebuah tempat makan terbuka. Sakura beserta tiga rekannya: Kiba, Naruto, dan Ino, tengah memesan seporsi daging bakar khas Indonesia. Jaket berbahan fleece pun dikenakan Sakura agar tubuhnya tidak terkena angin malam di tepian sungai itu.

"Apa nama daging bakar itu?"

"Konro. Mereka bilang Konro," jawab Kiba.

"Lihat Sakura, sungai seluas ini tidak hanya bisa dilewati, tapi juga bisa dinikmati. Kau belum pernah, kan?" ujar Ino begitu antusias. Mereka berempat melepas jubah kebangsawanan mereka kini.

"Ayolah. Ceritakan pengalamanmu sewaktu kabur."

Naruto mendapat delikan dari mata Ino dan Kiba karena menanyakan hal itu. Meski mereka berempat adalah teman sejak kecil, tapi Sakura adalah orang paling tertutup dalam kelompok itu. Ino dan Kiba sangat tahu, seorang Sakura Haruno tidak akan dengan mudahnya menceritakan tentang dirinya. Ia akan lebih mudah menceritakan pemikiran tentang politik, ekonomi, sosial, dan semacamnya. Ia tidak dididik untuk mengungkapkan perasaannya.

"Ma…maaf, Sa.."

"Kalian ingin tahu?" tanya Sakura. Kini bukan Cuma Ino dan Kiba yang mendelik. Naruto ikut mendelik, tapi bukan mendelik kesal. Ketiganya tersentak dengan jawaban Sakura.

"Ti.."

"Aku kabur ke sebuah panti." Sakura memulai kisahnya, tak mempedulikan elakan ketakutan tiga temannya.

"Seorang lelaki kumal mengajakku ke panti asuhan. Di sana aku menyamar sebagai rakyat jelata, hanya setengah hari. Setelah itu aku pulang," Sakura melanjutkan. Sangat singkat.

Ino tersenyum. Ya, Sakura baru saja berusaha menceritakan pengalamannya.

"Kau berkenalan dengan siapa saja?" tanya Ino kemudian, berusaha memancing Sakura agar bercerita lebih banyak.

"Sasuke, Gaara, si kecil Konohamaru, juga seorang Nenek yang dulu jadi tetanggaku di London. Nenek Chiyo,"

"Sasuke?" tanya Naruto.

"Iya. Kalau tidak salah namanya Sasuke Uchiha," jawab Sakura. Naruto yang sejak tadi berdiri menyandar di pegangan tepi sungai, segera duduk di kursi, di samping Sakura. Seakan ia ingin tahu lebih lanjut.

"Kau sepertinya sangat tertarik dengan Sasuke, Naruto?" tanya Ino sambil terus menopang dagunya.

"Bukan. Tapi nama itu. Aku sangat ingat dengan nama itu," jawab Naruto.

"Kenapa dengan Sasuke? Tanya Kiba.

"Kau tahu tentangnya, Naruto?" tanya Sakura. Mungkin ia yang lebih terkejut.

"Iya. Aku pernah bertemu dengannya di luar negeri. Saat aku…"ucapan naruto dihentikan oleh pelayan yang datang dengan membawa pesanan. Keempatnya sangat menikmati harum daging bakar itu.

Konro adalah iga sapi yang dibakar dengan bumbu-bumbu rempah. Lidah orang Jepang mungkin tidak akan terbiasa atau terkejut bila pertama kali memakannya.

"Eh iya, kapan-kapan kuajak kalian ke Kota Kitakyushu, ada Sungai Murasaki di sana."
Naruto tanpa sadar mengalihkan pembicaraan. Bukan Naruto kalau tidak dapat menarik perhatian. Teman-temannya langsung memasang wajah tertarik pada apa yang diucapkan Naruto.

"Kenapa dengan sungai di Kitakyushu?"

"Di sana ada akuarium sungai. Malah, kita bisa lihat batas antara air tawar dengan air laut. Aku baru sekali ke sana, bersama…"

Terputus. Ada raut enggan, atau mungkin sungkan yang dipasang Naruto.

"Uhum. O, iya, Naruto kan usianya 19 tahun, sudah pantaslah punya gandengan. Iya, kan?" goda Ino.

"Gandengan?" tanya Sakura.

Ino tersenyum mafhum. Sakura tidak seperti dirinya. Ino meski bangsawan, bersekolah di sekolah umum. Jadi, istilah-istilah umum tentu saja ia ketahui.

"Pasangan, Nona Haruno," jawab Ino sambil masih menggoda.

"Oh."

"Sudah, sudah. Sekarang, kita makan dulu konro-nya," Kiba menengahi.

Malam berlalu dan berganti pagi. Sudah dini hari ketika Sakura diantar pulang oleh teman-temannya. Ini pertama kali baginya pulang selarut ini.

Di kamar, Sakura memikirkan dua hal: Kiba dan Sasuke. Mengapa ada dua Kiba? Kemudian, mengapa Naruto bisa kenal Sasuke?

Namun, dua pertanyaan itu tidak membiarkan Sakura untuk bertahan pada kesadarannya. Rutinitasnya yang begitu melelahkan telah membantunya untuk mudah terlelap usai ia rebahkan badannya di tempat tidur. Tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar