Jumat, 01 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #10

"Kau pesan apa?" tanya Naruto pada Sasuke. Meski mereka duduk di kedai ramen, tapi yang disediakan adalah menu-menu khas Jepang, tentunya ramen sebagai menu utama. Sasuke masih berusaha menata perasaan hatinya sambil matanya berpura-pura melihat menu.

"Sasuke?" panggil Naruto. Sasuke segera meletakkan daftar menu, dan menatap Naruto.

"Ramen saja. Biar di sana aku tidak terlalu rindu," jawab Sasuke. Sakura yang juga mulai mampu bersikap biasa kembali heran dengan pernyataan Sasuke.

"Di sana?" tanya Kiba, mendahului Sakura yang baru membuka mulutnya. Ternyata Kiba tak kalah heran dengan Sakura.

"Iya. Dia akan ke London besok. Iya, kan, Sasuke?" jawab Naruto sambil meyakinkan jawabannya pada Sasuke. Kali ini Sakura tidak dapat menahan keheranannya.

"London?" tanya Sakura. Seolah kelebat bayangan masa sekolahnya ada di depannya kini.

"Hmm, kau belum tahu, ya? Maaf, maaf. Selama ini aku tidak memberitahumu. Aku mahasiswa Universitas Oxford, Sakura," jawab Sasuke menjelaskan. Nadanya terdengar bahwa Sasuke berusaha tenang menjawab pertanyaan Sakura.

"Katamu, kau sekolah di tempat Kakashi…jadi…" Sakura seolah berusaha mengelak apa yang diucapkan Sasuke. Baginya tidak mungkin bila seorang Sasuke yang bersekolah di tempat Kakashi ternyata mahasiswa Oxford.

"Iya, tapi untuk penelitian," Sasuke berusaha meyakinkan.

"Hei, hei. Sakura, aku sudah bilang aku mengenal Sasuke kan? Kami bertemu di konferensi mahasiswa di Amsterdam. Saat itu aku tahu tentang Sasuke. Makanya, aku tertarik saat malam itu kau bicara tentang Sasuke," jawab Naruto menjelaskan. Tepat di frase terakhirnya, Naruto sukses membuat wajah Sakura merona karena malu. Naruto segera mendapat sikutan kecil dari Sasuke, sementara Kiba berdehem. Sepertinya hanya dia yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan ini.

"Ehem! Jadi, apa pesanan yang lain? Kau mau pesan apa, Sakura?" tanya Kiba.

"Ramen," jawab Sakura, masih berusaha menutupi rasa malunya. Karena Naruto pun suka sekali ramen, maka semua yang di sana memesan ramen. Setelah memanggil pelayan dan memesan, mereka berbincang.

"Kalian tadi janjian ya di sini?" tanya Naruto pada Kiba, juga Sakura.

"Iya. Sakura sedang tidak sibuk, maka kuajak saja dia keluar," jawab Kiba. Terlihat nada bicaranya sangat tidak biasa. Wajar, bukan, seorang lelaki ingin membanggakan dirinya di depan perempuan yang disukai, sementara ada lelaki saingannya di situ?

"Oh, begitu. Kami di sini dari siang, mengerjakan tugas akhir, belajar. Ya, kan, Sasuke?" sahut Naruto.

"Oh. Kalau boleh tahu, kau jurusan apa, Sasuke?" tanya Kiba. Sakura pun mulai menunjukkan wajah antusias. Ingin tahu disiplin ilmu apa yang ditekuni Sasuke.

"Ilmu Sosial dan Politik," jawab Sasuke singkat.

"Berapa lama kau di London?"

"Ya, hanya di tingkat awal kuliah saja. Sekarang aku tinggal di Jepang. "

"Hmm, begitu. Lantas, apa rencanamu usai kuliah?" tanya Kiba. Mereka mulai bercerita seru sekali sehingga Sakura pun merasa nyaman bersama mereka bertiga.

"Maaf, aku permisi sebentar," ucap Sakura. Sepeninggal Sakura, Naruto juga undur diri karena Ami menelepon. Kini tinggal Kiba dan Sasuke di meja makan. Hari sudah malam dan mereka tak begitu nampak lelah.

"Aku tahu dari Sakura tentangmu," ujar Sasuke. Kiba mengerutkan dahinya.

"Maksudmu?"

"Majulah terus. Hanya kau yang bisa mendampinginya," Sasuke melanjutkan. Kalimatnya mampu membuat Tuan Muda Inuzuka itu mengeraskan gerahamnya. Namun raut wajahnya kembali lembut usai keterkejutan itu.

"Kau tahu, dia menyukaimu?" tanya Kiba. Aku tak mengerti dengan orang ini. Apa maunya? Batin Kiba.

"Aku tahu. Tapi aku tak bisa. Kalian bangsawan yang harus juga memikirkan masa depan kebangsawanan kalian, masa depan perusahaan, juga nama keluarga kalian. Bukankah begitu, sebaiknya? Aku tahu, Sakura juga sudah dewasa meski usianya baru 16 tahun. Aku yakin, kau orangnya yang bisa mendampingi gadis itu."

Sasuke sesekali meneguk es lemonade miliknya. Berusaha menenangkan pikirannya.

"Kau berkata begitu untuk apa? Apa karena kau tak suka padanya?" Kiba mulai melontarkan tanyanya. Sasuke menoleh, menatap Kiba, untuk kemudian membuka mulutnya.

"Bukan," ujarnya. Wajahnya masih menggambarkan sebuah ketenangan. "Aku hanya ingin ia dijaga orang yang tepat."

"Dan kau sok tahu bila berkata aku yang tepat. Kita tidak tahu yang akan terjadi, bukan? Kita sama-sama tahu hatinya. Tapi, kau…egois." Kiba mulai tidak bisa menahan ketenangannya. Naruto menghampiri keduanya dan merasakan sedang ada yang tidak membuatnya nyaman di meja makan mereka.

"Kiba, sudah malam. Kami duluan, ya," ucap Naruto sambil menarik tangan Sasuke perlahan.

"Permisi, Kiba. Senang berdiskusi denganmu," ujar Sasuke. Tepat saat Sasuke dan Naruto berdiri, Sakura datang.

"Kami pamit. Aku harus bersiap untuk kepergianku besok," ucap Sasuke pada Sakura. Wajah Sakura sudah tidak dapat menyimpan lagi perasaannya. Begini saja? Banyak hal bersamanya dan…aku kehilangan? Batin Sakura.

Tanpa menunggu jawaban Sakura, Naruto dan Sasuke pergi. Menembus malam dengan mobil sport coklat muda. Naruto mengemudikan mobilnya, memutar setir ke kanan, lurus, kemudian sesekali ke kiri. Memutar dengan perubahan beberapa derajat. Hanya diam yang mereka pilih kini, mungkin kelelahan.

"Besok kuantar ke bandara," ucap Naruto.

"Tak perlu. Kau akan repot nanti," sahut Sasuke. Mengelak.

"Tak repot."

"Baiklah. Arigato."

Kembali hening. Hanya sedikit bunyi mesin yang halus terdengar. Hingga akhirnya mereka sampai di tepian jalan. Sasuke keluar dari mobil, membungkuk sedikit pada Naruto, lalu berbalik. Melangkah mendekati panti asuhan.

"Kau baru pulang?" tanya Nenek Chiyo.

"Ya."

"Gaara bilang, kau besok ke London?" tanya nenek lagi. Tangan tuanya yang masih kuat itu membawakan piring berisi kue ke ruang depan, kemudian duduk di kursi bersama Sasuke. Melihat Sasuke mengangguk, Nenek Chiyo tersenyum. "Yokatta. Tidurlah, besok kau harus tepat waktu,"
Begitulah. Nenek Chiyo terus memberi nasehat meski Sasuke sudah tahu mana yang tepat untuknya. Sasuke memakan kuenya kemudian beranjak pergi.

"O, iya, Nek," ujar Sasuke. Berhenti melangkah. "Aku melepas Sakura," lanjutnya lagi.
Malam pun berlalu, sementara Kiba dan Sakura di sisi lain kota Tokyo sedang berdua di kedai.

"Aku mau pulang," ucap Sakura. Kiba memanggil pelayan dan membayar semua pesanan, kemudian mengantar Sakura pulang.

"Besok kau mengantar Sasuke?" tanya Kiba di depan pintu istana. Sakura menggeleng. Kiba merasa ada bagian di hatinya yang menangis ketika melihat Sakura lunglai begitu. "Baiklah. Aku pulang, selamat tidur," lanjut Kiba sebelum membuka pintu mobilnya, meluncur dari istana Haruno.

Sakura masuk ke kamarnya. Ia mengingat London sebagai tempat ia besar. Sejak lulus SD, ia sudah hidup di London. Dan Sasuke juga kuliah di London.

Kau tak berubah…Sama seperti dulu.

Kalimat Sasuke kembali melesak melalui celah ingatan Sakura. Dicobanya menghubungkan kalimat sasuke dengan kenyataan bahwa ia pernah hidup di London. Apakah Sasuke memang orang dari masa lalunya? Kemudian, Nenek Chiyo yang adalah tetangganya, merupakan orang yang juga tinggal di panti asuhan tempat Sasuke tinggal.

Siapa Sasuke sebenarnya? Sakura masih membatin, mencoba mencari tali perhubungan antara dirinya dan Sasuke. Namun, hasilnya nihil. Ia tidak dapat mengingat bahwa Sasuke adalah orang dari masa lalunya. Ia merasa tidak pernah bertegur sapa dengan Sasuke sebelum malam itu. Malam dimana ia lari bersama Sasuke.

"Sasuke akan pergi. Apa begini saja akhirnya?" tanya Sakura.
Malam pun membawa mata Sakura mengantk. Anehnya, ia tak begitu saja terpejam. Pikirannya masih ke arah Sauke.

Matahari sudah tinggi, membiarkan Naruto dan Sasuke menikmati AC di dalam mobilnya karena udara luar mobil yang panas.

"Berangkat jam berapa nanti?" tanya Naruto.

"Masih sesuai jadwal, jam 1 siang. Semoga tidak delay," jawab Sasuke. Naruto tertawa melihat tingkah Sasuke.

"Kau sudah melamar kerja di mana, Sasuke?" tanya Naruto.

"Kementerian Sosial. Tapi aku belum dapat panggilan," jawab Sasuke. Naruto segera menoleh. Terlihat sekali bahwa wajahnya terkejut.

"Itu, kan.."

"Ya, aku tahu. Tuan Haruno adalah Menteri Sosial saat ini. Tapi, kau lihat kan? Aku tak menggunakan Sakura sebagai alat," sahut Sasuke.

"Bukan, tapi.. Yah, kau tahu, kan, bagaimana perasaan Sakura?"

"Aku tahu. Sangat tahu."

"Kau terlihat seperti…mempermainkannya." Naruto menyahuti dengan nada lemah. Sasuke menyadari Naruto sangat menyayangi Sakura sebagai temannya. Sasuke tersenyum. Ya, wajar bila Naruto tidak ingin sahabatnya dipermainkan.

"Aku tak berniat begitu. Aku hanya ingin menjaganya. Aku juga ingin menentukan garis kehidupanku."

"Tapi bila kau terus ada di sekitarnya, itu akan membuatnya kesulitan. Kau mengerti, kan?"
Sasuke terdiam. Kembali ia berpikir. Ya, Naruto ada benarnya.

"Aku berharap yang terjadi nanti adalah ketentuan yang memang terbaik untuk semuanya."
Jalanan Tokyo pun terbelah oleh mobil Naruto. Mereka sampai di bandara tepat pukul 11. Sasuke menuju terminal internasional.

"Hati-hati. Kau harus cepat kembali," ujar Naruto.

"Eh?"

"Ya. Aku butuh bantuanmu mengerjakan tugas kuliahku," lanjut Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sasuke melangkah pergi, menuju ruang tunggu. Matanya menatap layar digital di depannya.

"Nek, gadis itu manis, ya?" tanya Sasuke. Usianya baru 7 tahun saat melihat bayi Sakura di gendongan Nenek Chiyo.

Bayangan masa kecilnya lewat di pikirannya. Asik saja melintas. Seolah menyadari Sasuke sedang membutuhkan hiburan di masa tunggu ini. Beberapa ingatan, kenangan, juga bayangan masa lalunya berkelebatan. Membuatnya sesekali tersenyum.

Sementara itu, Sakura Haruno baru saja selesai mengikuti kelasnya bersama Iruka. Gadis bergaun coklat muda itu duduk di ruang makan, menunggu makanannya. Usai makan siang, ia harus menempuh waktu beberapa jam dengan limousinnya ke Kitakyushu. Kedua orangtuanya sudah menunggu di sana. Sebuah acara keluarga disiapkan, menyambut musim dingin yang akan tiba.
Sasuke…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar