Kamis, 14 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #11

Satu jam lagi, dan ular besi akan membawa Sasuke ke Oxford City, tempat di mana Universitas Oxford berdiri. Itu berarti, satu jam lagi Sasuke akan mengunjungi saksi perubahan zaman. Asrama yang siap menerima tubuh lelahnya akan berbanding terbalik dengan ruang kuliahnya. Yang sedianya mengusir ia. Perbedaan itu juga karena modernitas yang ada di asramanya, berbanding terbalik dengan kekunoan bangunan tempat ia kuliah.

Bandara internasional Heatrow telah ditinggalkannya. Dengan menyeret tas travel, Sasuke menuju stasiun kereta yang akan membawanya sampai di Oxford City. Wajah-wajah Neanderthal berlalu lalang, diselingi sedikit sosok-sosok oriental yang ia kenali sebagai wajah Asia. Usai membeli tiket, ia menunggu di peron.

"Belum pernah?"

"Sudah. Di London."

Bayangan ketika ia dan Sakura di stasiun kereta bawah tanah kembali muncul. Membiarkan Sasuke tersenyum karena ingatan itu. Tak menunggu lama, kereta api datang dan membawanya semakin dekat dengan Universitas Oxford. Yang artinya semakin mendekatkan ia dengan predikat sarjana.. Dihamburkannya pandangan mata ke jendela kereta.

Wajar bila Harry Potter dan film-film bersetting Inggris abad pertengahan terlihat eksotis. Tidak ada yang perlu diubah lagi, karena apa yang tampak di film adalah hal alami. Sasuke terus menatap pemandangan itu, yang berbeda dengan London. Sebentar lagi musim dingin. Persiapan warga Inggris Raya tidak seperti warga Jepang yang begitu antusias. Sasuke tidak melihat acara-acara penyambutan seperti di Jepang. Sudahlah. Tak penting juga bagiku. Batin Sasuke akhirnya.

Sementara itu, di belahan Timur, Tokyo sedang bersiap menyambut musim dingin. Sakura sedang mengukur pakaian khusus musim dingin kali ini. Sebagai bangsawan, tentunya ia akan menjadi salah satu trendsetter mode gadis-gadis Jepang.

"Setelah ini, kita ke mana, Tante?" tanya Sakura. Seperti biasa, Shizune akan membacakan agendanya.

"Nona, Putri Hyuuga sudah datang," ujar salah seorang pelayan. Sakura mengangguk memberi isyarat. Usai mengukur, Sakura segera menuju ruang tamu, menemui tamu kecilnya, gadis dengan usia lebih muda 4 tahun darinya.

"Mari, ke taman belakang saja," ajak Sakura. Mereka bersisian.

"Baiklah. Ceritakan apa yang baru," ucap Sakura.

"Kak, dia sudah pergi. Tidak mengajar lagi," ujar Hyuuga hinata, gadis berambut biru tua. Mereka duduk di taman belakang istana Haruno. Pepohonan setinggi 1 meter menjadi penghias taman. Diselingi bebungaan bermacam warna. Angin menyemilir.

"Dia?"

"Guru pengajarku yang baru."

"Kenapa langsung berhenti? Kalian pasti sudah mengusilinya, hmm?" Sakura menggodanya. Bagi Sakura, Hyuuga Hinata dan temannya, Nagato, sudah seperti saudara sendiri. Keluarga mereka yang berhubungan baik, menjadi pendukung hubungan pertemanan mereka bertiga. Hyuuga Hinata lebih sering berkisah, sebiasa gadis remaja awal.

"Tidak. Dengarkan dulu, kak.." elak Hinata merengek. Sakura tertawa kecil.

"Iya, iya."

"Dia baru datang minggu lalu ke bimbingan kami, mengajar Ilmu Kemasyarakatan. Hebatnya, dia kuliah dengan beasiswa dari pemerintah Jepang dan Oxford, Kak."

Hyuuga Hinata bercerita dengan nada riang. Matanya berbinar. Sakura menangkap ada kesan mendalam di hati gadis itu tentang pengajarnya.

"Dia dari kelas bawah, tapi pemikirannya…sangat cerdas, Kak."

"Wah wah wah. Hyuuga Hinata sekarang sedang mengidolakan seseorang rupanya," ucap Sakura masih dengan nada menggoda. Wajah manis Hyuuga Hinata berubah warna, menyemburatkan rona merah.

"Sakura," panggil seseorang. Pria berambut pirang yang baru saja mengantar Sasuke ke bandara sudah berdiri tidak jauh dari mereka. "Kata pelayanmu, kau sedang santai di taman. Apa aku mengganggu?" lanjut Naruto, bertanya. Sakura menggeleng sambil tersenyum.

"Sasuke sudah berangkat," Naruto berkata setelah duduk di sebelah Sakura. Sakura menoleh dan memalingkan wajahnya kembali. Sementara hyuuga hinata malah membuka mulutnya, bertanya pada Naruto.

"Sasuke? Siapa? Apa aku mengenalnya?" tanya Hyuuga Hinata.

"Sasuke Uchiha, teman kami. Mungkin kau tak kenal dia, adik kecil," jawab Naruto sambil meledek Hyuuga Hinata.

"Hyuuga Hinata namaku, Kak Naruto. Oh, iya, Kak Sakura. Nama pengajarku juga Uchiha Sasuke. Sepertinya nama Uchiha Sasuke di masyarakat kelas bawah termasuk nama pasaran, ya?" tanya Hyuuga Hinata.

Sakura menoleh. Terkejut dengan apa yang diucap Hinata.

"Mungkin juga." Jawab Sakura sedikit bernada lemah. Sasuke…

"Kak Naruto, aku sedang curhat." Ucap Hyuuga Hinata. Naruto tersenyum.

"Aku kan juga kakakmu, adik kecil," sahut Naruto sambil mengacak rambut Hinata.

"Sudah, jangan terlalu dipikir hal itu," ucap Sasuke sambil mengacak rambut Sakura.
Melihat adegan Naruto dan Hinata, Sakura teringat akan Sasuke di pinggir Sungai Murasaki bersamanya. Sasuke juga mengacak rambutnya. Seketika itu juga Sakura menyentuh kepalanya. Sasuke…

"Kak Narutoooo..! rambutku jadi berantakan, tahu," rutuk Hinata. Naruto tergelak. Saat itu Hinata mencubit lengan Naruto. Akhirnya mereka berkejaran di taman. Sakura hanya tersenyum kecil melihat adegan di depannya.

"Nona, 2 jam lagi Anda harus pergi ke Kitakyushu," ucap Shizune yang menghampiri sakura. Mengangguk adalah jawaban pilihan Sakura.

"Iya, tolong siapkan keperluanku."

"Kak Narutooo!" suara Hinata masih terdengar. Sakura tersenyum saja sambil menyeruput teh.

"Sakura. Kudengar keluarga Haruno mengadakan perayaan musim dingin tertutup, ya?" tanya Naruto beberapa saat kemudian, berhenti karena ia merasa lelah. Dan rela lengannya dicubiti Hinata. Sakura mengangguk.

"Wadouw! Hmm, begitu. Baiklah. Akan kukabarkan ke teman-teman, ya."

Lagi-lagi Sakura hanya mengangguk.

"Sakura…" panggil Naruto. "Tak perlu menunggu Sasuke," lanjutnya. Sakura menoleh. Matanya menunjukkan tanya: kenapa?

"Dia bukan untukmu. Hmm, bukan karena ada orang lain, tapi lagi-lagi…kau tentu tahu sebabnya."
Tidak ada yang mendukungku untuk bersama Sasuke. Kami-sama, apakah ini pertanda bahwa bukan dia yang Kauberikan untukku? Sakura membatin, bertanya.

"Mungkin aku bukan orang yang tepat menjelaskan. Tapi, ini alamat emailnya, supaya kau mendapat jawaban yang sesuai," akhirnya Naruto memberi secarik kertas bertuliskan alamat email. Hyuuga Hinata yang melihat sekilas alamat email itu menunjukan raut wajah berbeda.

"Itu alamat pengajarku, kak," ucap Hinata. Baik Sakura maupun Naruto menoleh.

"Si sok misterius itu ternyata.." gumam Naruto. "Eh iya. Hinata, kau sudah selesai dengan Sakura? Aku ingin mengajakmu makan es krim. Mau?" tanya Naruto pada Hinata akhirnya. Ia hanya mengalihkan Hinata agar Sakura bisa mendapat waktu sendiri. Dan bukankah sebentar lagi Sakura harus ke Kitakyushu? Hinata mengangguk dan keduanya pamit pada Sakura.

Masih menahan perasaannya, Sakura segera menuju ruang kerjanya. Menghampiri seperangkat komputer kemudian menyalakannya. Ruang kerja penuh buku, dengan seperangkat komputer di meja kerjanya. Layar LCD dan keyboard pink memberi kesan ceria. Meski sudah harus bekerja, Sakura tetaplah gadis muda dengan segala pernik dunianya.

Setelah koneksi internet terpasang, ditulisnya sebuah surat elektronik pada Sasuke.

Bagaimana keadaanmu di sana? Baru saja Naruto bilang padaku, kau sudah berangkat.
Naruto juga bilang, aku tak perlu menunggumu. Baiklah. Kuakui aku begitu malu untuk berkata langsung padamu. Tapi, apa aku tak punya hak untuk menunggumu? Kenapa? Status sosialkah? Atau apa?

Maaf. Aku tak bisa berbasa-basi untuk menyampaikan hal ini. Tapi, aku butuh jawabanmu. Kuharap kita masih bisa menentukan garis yang belum tergambar, sesuai keinginan kita.

Haruno Sakura.

Surat elektronik itu menjelma menjadi kode-kode binary yang tak terlihat oleh Sakura. Kode-kode itu tersambung melalui penghubung, dan diatur sebuah sistem sehingga tak perlu waktu 5 menit untuk membiarkan kode itu tersimpan rapi di dalam kotak surat milik Sasuke. Merasa sudah mengirimkan pesan, Sakura lantas beranjak dari ruang kerjanya, menuju kamar pribadi untuk bersiap. Ya, waktunya semakin sedikit untuk bersiap, menuju Kitakyushu.

"Kitakyushu…" gumam Sakura.

Oxford City, sebuah wilayah di Negara Inggris Raya. Sasuke, pemuda Jepang dengan postur Asia itu telah sampai di asramanya yang tidak jauh dari universitas. Andrew, teman sekamarnya, sedang kuliah sepertinya sehingga ia tak melihat siapapun di kamar asramanya. Hanya tempat tidur, lemari, juga meja belajar dan perangkat belajar yang masih tak jauh berbeda dengan saat ia pergi.

"Welcome back, Uchiha Sasuke," ucap Sasuke melafalkan bahasa Inggris Britishnya. Ruang serba putih kini telah berganti dengan beberapa kertas dinding. Sepertinya Andrew yang menempelkan untuk mengganti suasana. Coklat muda. Pilihan yang cerah. Setidaknya begitulah menurut Sasuke.

Usai membersihkan diri, ia tidur sebentar. Mengistirahatkan sendi-sendinya. Hingga malam tiba, dan ia tak mendapati Andrew pulang. Ya, ia terus sendirian sampai esoknya.

Segera ia menuju komputernya. Satu-satunya komputer di ruangan itu. Hari ini ia harus mencetak laporannya untuk kemudian diberikan pada profesornya. Setelah itu, selesai. Begitu mudah untuk lulus. Tidak perlu ada skripsi, sidang, seperti rekannya yang kuliah di Indonesia, negara Asia Tenggara yang belum pernah dikunjunginya.

Matanya mengarah pada kotak kiri bawah komputernya. Sebuah pesan masuk. Komputer yang terkoneksi langsung dengan internet itu sangat berguna bila ada pemberitahuan mendadak.
Surat dari universitas, mungkin. Batin Sasuke.

Tidak. Itu dari Sakura Haruno. Dikirim belasan jam lalu. Sebuah senyum tersungging. Dia masih terikat bara, sepertinya. Kembali Sasuke membatin.

Sakura, terima kasih untuk perhatianmu. Aku baru sampai. Hmm, sebenarnya kemarin aku sampai, tapi aku langsung beristirahat.

Sakura, benar yang Naruto katakan. Tak perlu kau menungguku. Lihat dirimu, masa depanmu. Mungkin klasik, picisan, atau kau akan menyebut entah apa pada alasanku. Tapi aku mencoba realistis. 

Status sosialmu mengharuskanmu menjalani kehidupanmu. Begitupun aku. Rutinitasmu tentu berbeda denganku. Sakura, kau juga harus membanggakan bangsawan Haruno. Ya, kan? Sisi lain kehidupan yang kutunjukkan saat itu hanya sedikit penyeimbang rutinitasmu, kurasa. Bukan sesuatu yang harus kaujalani nantinya. 

Untuk meneruskan garis yang sudah tergambar, kita tak bisa asal menggambar, kan? Kita harus sesuaikan dengan garis terdahulu. Sakura, aku tahu kau mengerti. Kau adalah gadis cerdas dan dewasa, Sakura.

Aku yakin, kelak kau akan menjadi perempuan kuat. Aku yakin, Sakura, meski tanpa aku di sampingmu. 

Sasuke termenung. Tangannya berhenti mengetik. Beberapa jenak ia biarkan rasa di hatinya mengalir. Ia sudah berkata akan melepas Sakura pada Nenek Chiyo. Maka, ia akan melepasnya.

Usai menyelesaikan suratnya, Sasuke segera mengirimkan surat itu. Setelah itu, ia mencetak laporannya. Usai ini, ia akan bertemu dengan dosen pembimbingnya.

Tokyo, di sebuah panti asuhan.
Nenek Chiyo sedang membuat sarapan, dibantu Gaara.

"Nek," panggil Gaara.

"Ya?"

"Kenapa Sasuke tidak boleh dekat dengan Sakura? Dia sudah menunggunya belasan tahun, Nek," tanya Gaara kemudian. Nenek Chiyo menghentikan kegiatan mengaduk kare buatannya. Setelah diam, kembali ia mengaduk kare.

"Kau tahu jawabannya, kan, Gaara?"

"Hanya karena status sosial? Sebentar lagi Sasuke jadi sarjana, kan? Dia bisa bekerja dan jadi…"

"Berapa tahun dia akan menyamai status Haruno?"

Gaara tertegun dengan pertanyaan Nenek Chiyo.

"Kurasa mereka bukan orang seperti itu, Nek."

"Kau memang bekerja di Kementerian Sosial sekarang, Gaara. Kau memang kenal dengan Tuan Haruno. Tapi, kau tidak tahu bagaimana sesungguhnya mereka. Aku yang bersama mereka 24 jam sehari sampai Nona Sakura berusia 3 tahun."

Gaara mengingat memori masa lalunya bersama Sasuke. Juga Nenek Chiyo.

"Lihat, Gaara-kun. Dia main sama temannya," ujar Sasuke saat mereka berdua ada di taman kota. Sasuke mengamati gadis kecil berambut pink sedang berkejaran dengan lelaki berambut hitam. Hampir tiap hari Sasuke melakukan itu, mengamati. Sampai usianya 17 tahun.

Hanya tersenyum yang Gaara lakukan saat mengingat masa kecilnya dengan Sasuke. Ditatanya piring dan sendok untuk makan.

"Dia mau kemana ya?" Sasuke mengatakan pada gaara.

"Mungkin liburan," sahut Gaara saat melihat gadis pink berusia 11 tahun itu naik mobil dan supirnya membawa koper yang begitu besar.

"Aku yakin mereka berubah lebih baik, Nek," ucap Gaara.

"Tak perlu mendebatku."

Di saat yang sama, di Kitakyushu, Sakura Haruno sedang duduk di teras kamarnya, menghadap ke Sungai Murasaki. kelebat bayangan dia dan Sasuke terus saja hadir di ingatannya.

"Sakura," panggil Tuan Haruno.

"Ayah," sahut Sakura. Saat ini ia kembali menjadi Sakura yang anggun. "Maaf atas kelancanganku malam itu…"

"Ya. Aku tahu. Aku ke sini untuk memintamu bersiap-siap. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan orang yang kupilihkan sebagai calon pendampingmu," jawab Tuan Haruno.

DEG! Calon pendamping? Tapi Bukan Sakura bila tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Baiklah, Yah. Saat sarapan aku akan datang," ucap Sakura.

Melihat punggung ayahnya, Sakura hanya menerbitkan berbagai tanya dalam hati. Airmatanya sudah tak mau keluar lagi. Sepertinya ia sudah belajar banyak tentang tangis. Hingga saat ini ia hanya bisa diam, memendam semua rasa di hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar