Kamis, 14 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #12

Sakura mulai mendandani dirinya, dibantu Shizune.

"Tante, apakah Tante tahu siapa orang yang dimaksud Ayah?" tanya Sakura. Shizune yang membantu Sakura mengepas pakaiannya hanya menggeleng.

"Maaf, Nona. Saya tidak tahu. Sepertinya Tuan akan memberi kejutan pada kita, Nona," jawab Shizune.

Hari ini aku akan menemui seseorang. Calon pendampingku, dan bukan Sasuke. Apa aku mampu melewati semua ini tanpa Sasuke? Sakura kembali membatin sambil membiarkan Shizune dengan aktivitasnya.

"Tante, aku masih 16 tahun," ucap Sakura. Ah, apa usia bisa menjadi alat pengelakan kali ini, Sasuke? Sakura bertanya pada hatinya seolah ia bertanya langsung pada Sasuke.

"Tuan Haruno tentu sudah memikirkan semua, Nona. Saya yakin Anda tidak akan menikah secepat ini," jawab Shizune, berusaha menenangkan nonanya.

Setelah Sakura siap, ia dan Shizune segera berjalan menuju ruang makan.

Di benua Eropa, Sasuke sedang berjalan ke gedung jurusannya. Baru saja ia memarkir sepeda sewaan di tempat khusus parkiran sepeda. Beberapa juniornya menyapa saat mereka berpapasan. Keramahan, kecerdasan, dan sosok Sasuke sudah tenar di kalangan mahasiswa Oxford Jurusan Ilmu Sosial dan Politik.

Lantai dua, ruang paling dekat dengan tangga. Sebuah pintu kayu tertutup sebagian, menandakan ada seseorang, atau mungkin beberapa orang di dalam ruang tersebut. Ruang Profesor Wallack. Sasuke mengetuk pintunya dan masuk setelah dipersilakan.

"Uchiha, how are you?" tanya sang profesor berkacamata dengan bangganya. Aksen Inggris Timur yang kental mulai didengar lagi oleh telinga Sasuke.

"I am fine, Sir," jawab Sasuke. Dialek Jepangnya sangat menarik perhatian siapapun yang mendengarnya.

"Laporannya?"

Sasuke menyerahkan laporan yang belum dijilid itu. Tampak sang Profesor membolak-balik halaman demi halaman laporan berlembar-lembar itu. Sesekali ia menganggukkan kepalanya.

"Good. Kupastikan kau lulus. Ini, segera tandatangani, dan minta tandatangan ke pihak universitas. Selamat Uchiha. Congratulation. Aku bangga padamu," ucap sang profesor sambil menjabat tangan Sasuke.

"Jadi, kapan aku bisa mendengar kisah cintamu?" tanya profesor, yang dijawab tawa oleh Sasuke. Keduanya tertawa kemudian.

"Hei, aku bahkan belum pernah bercerita tentang gadis yang kusuka, Sir,"

"Justru karena belum pernah. Siang ini aku bebas. Kita makan bersama, oke? Sekalian merayakan kelulusanmu," bujuk sang profesor. Sasuke Uchiha mengangguk. Mereka berpisah dan Sasuke mengurus surat keputusan akan kelulusannya. Rencananya, sebelum makan siang ia sudah menyelesaikan semua urusan.

Rutinitas mahasiswa universitas ternama itu segera menjadi pemandangan biasa bagi Sasuke. Tapi, ia yakin akan merindukan suasana itu. Berkelebat bayangan rekan-rekan kelasnya yang melingkar di bawah pohon, berdiskusi. Sesekali berdebat, sesuai jurusan yang mereka ambil.

Kakinya melangkah, menuju tempat ia janji bertemu dengan Profesor Wallack. Di kafe terdekat Fakultas Ilmu Sosial. Di depan bangunan bergaya etnik itu, terpancang sebuah prasasti. Ya, siapapun yang datang akan membaca bahwa kafe itu ada dengan legenda yang melingkupinya. Sasuke masuk dan duduk di meja paling dekat pintu depan.

"Sudah datang lebih dulu?" tanya profesor saat ia mendapatkan Sasuke duduk. Masih tersenyum, Sasuke mengangguk. Mereka memesan makanan cepat saji.

"Jadi, apa rencanamu setelah ini?" tanya profesor.

"Bekerja di Kementerian Sosial. Aku sudah mengirim lamaran," jawab Sasuke. Profesor berkacamata itu sebenarnya berusia 40an, tapi gaya berpakaian dan wajahnya masih menunjukkan bahwa ia berusia 30an.

"Kementerian Sosial? Itu tempat Tuan Haruno bekerja, kan? Aku takjub pada kalian, meski bekerja di pemerintahan, masih giat berusaha di bidang lain," sang profesor berkomentar.

"Ya, agar tidak korupsi. Sepertinya itu alasannya."

"Right. Kupikir juga begitu. Hebatnya lagi, Tuan Haruno termasuk dari 10 orang terkaya di dunia."

"Ya."

"Lalu? Kisah cintamu?"

"Haha, Sir. Kau mau meledekku? Aku belum berpikir hal itu." Sasuke tertawa sedikit, kemudian mengalihkan wajahnya. Kebetulan, pelayan membawakan pesanan mereka.

"Thank you, Miss. Hmm, apa karena kau masih berpikir tentang status sosialmu?"

"Hmm. Ya, kau sudah baca laporanku, kan? Dengan status sosial kami, sangat jarang terlintas dalam benak kami untuk merencanakan kisah cinta termanis. Tapi…kurasa tidak ada orang yang tidak memimpikan kisah cinta termanis untuknya."

Profesor Wallack tersenyum. Baginya, semua mahasiswanya memiliki cara berpikir mengagumkan, termasuk Sasuke.

"Jadi?"

"Haha. Kau menang. Akupun punya impian itu. Tapi tak mungkin terwujud," Sasuke melanjutkan.

"Kenapa?"

"Status sosialku yang jauh darinya. Bagiku, penyatuan cinta bukan hal mudah." Sasuke menyeruput lemonade kesukaannya bila santap siang. Kemudian memakan sedikit demi sedikit stik kentangnya.

"Hanya karena status sosial?"

"Prof, kau tahu? Kurasa kau sudah merasakannya. Bila dua orang saling mencintai, mereka pasti berharap untuk bersama selamanya, bukan?" Melihat profesornya mengangguk, Sasuke melanjutkan.

"Dan pernikahan adalah satu-satunya cara paling ksatria menurutku. Sedangkan pernikahan bukan hanya menyatukan dua cinta manusia, tapi juga dua keluarga. Atau kalau kasusmu, prof, dua budaya." Ya, Profesor Wallack memiliki istri gadis Afrika. Budaya orangtuanya yang dominan Inggris, berbeda dengan budaya istrinya.

"Kau berpikir sejauh itu. Nampaknya kau serius sekali memandang cinta," komentar profesor sambil memakan stik kentangnya.

"Begitukah? Hmm, mungkin pengalaman mengajarkanku. Karena itu, aku juga harus memikirkan segala macam hal yang akan mengiringi kisah cintaku nantinya," sahut Sasuke.

"Kau tahu? Kau terlalu realistis, Uchiha. Itu menurutku," ujar sang profesor. Sasuke tersenyum datar. Kemudian kembali menikmati makanannya, teriyaki. "Tapi aku suka anak muda yang berpikiran sepertimu. Hanya saja, coba sedikit saja kautanam kuat-kuat impianmu, dibarengi langkah realistismu. Aku yakin, kau akan jadi orang besar karena pemikiranmu itu," lanjutnya.

"Terima kasih, prof. aku senang bisa berbincang begini," ucap Sasuke. Mereka meneruskan pembicaraan hingga waktu beranjak petang. Sasuke berpamitan dan kembali ke asramanya. Di sana, Andrew sedang mengetik.

"Sasuke, kau lulus?" tanya Andrew. Sasuke mengangguk. Andrew berteriak, raut mukanya tampak senang.

"Hei, kau begitu riang,"

"Ya, karena kau lulus, Sasuke," sahut Andrew.

"Karena aku lulus, atau…karena aku akan pergi dari sini. Jadi, gadis pujaanmu tidak akan terlihat mendekatiku lagi," celetuk Sasuke. Andrew tertawa, kemudian memeluk Sasuke. Keduanya tertawa kemudian.

"Ada surat untukmu. Dari Jepang," ujar Andrew. Sasuke melihat ke meja belajar. Sebuah amplop coklat besar tergeletak. Segera dihampirinya

KEMENTERIAN SOSIAL

Sasuke bersegera membuka amplop itu. Beberapa berkasnya, juga surat bahwa ia diterima, telah ia baca.

"Andrew!"

"Ya?"

"I got it! Yeah!" Sasuke berteriak dan memeluk Andrew. Sasuke mendapatkan tiket dan ia berencana langsung ke Jepang esok harinya. Ijazahnya akan dikirim ke Jepang, begitu kata pihak universitas tadi siang.

Sementara itu, Gaara masih menatap bintang. Ia yakin Nenek Chiyo hanya salah paham. Tak selamanya seorang yang jahat akan tetap jahat, bukan?

"Kau di sini? Tidak pulang?" tanya Nenek Chiyo.

"Kau seperti mengusirku, Nek," sahut Gaara.

"Masih memikirkan keluarga Haruno?" tanya Nenek. Gaara mengangguk.

"Sebenarnya, kenapa Nenek begitu yakin keluarga Haruno tidak baik? Ceritakan, Nek," Gaara meminta pada Nenek Chiyo yang sudah dianggapnya sebagai nenek sendiri.

"Dulu, saat aku bekerja dengan keluarga Haruno, hampir setiap hari mereka sibuk dengan kegiatan-kegiatan antarbangsawan. Mereka seolah hidup di dunia mereka sendiri. Bahkan saat Nona Sakura lahir, aku yang menjadi ibu baginya. Kedua orangtuanya hanya memenuhi materi saja,"

"Sangat klasik,"

"Makanya, aku tak ingin Sasuke pun menjadi korban di keluarga itu."

Gaara menyunggingkan senyum, menyadari bahwa perempuan berusia lanjut ini sangat menyayangi temannya.

"Percayalah, Nek. Mereka berubah," ujar Gaara, masih berusaha menenangkan Nenek Chiyo. Tapi, seorang perempuan tua pasti hanya akan bercerita dan gigih dengan pendapat pribadinya, kan?

Sakura heran, masih merenung. Tadi pagi acara makan dengan calon pendamping dibatalkan karena sang tamu tidak dapat hadir. Aneh, apalagi keluarga Haruno yang mengadakan. Selama ini, Sakura hanya tahu bahwa tidak ada yang tidak dapat memenuhi undangan keluarga Haruno.

Sakura melirik netbooknya. Ia sudah membaca surat dari Sasuke. Ia sudah mengerti maksud Sasuke. Tapi, ia tak dapat membohongi hatinya yang masih berharap ada keajaiban antara mereka.

Malam di Kitakyushu memaksa Sakura mengenakan sweater. Ia tak kemanapun selain di kamar. Shizune membiarkan nonanya sendirian, setidaknya ini liburan bagi Sakura yang selalu dipadati jadwal tiap hari di Tokyo.

Sasuke mengucap salam perpisahan beberapa waktu lalu, dan kini ia di bandara yang dua hari lalu menyambutnya. Lalu lalang manusia yang tak ada habisnya mengisyaratkan Sasuke bahwa masih banyak daya tarik Inggris, yang belum ia lihat. Traveller, turis. Begitu eksotisnyakah tempat ini? Sasuke bertanya dalam hati. Sebuah panggilan dari pengeras suara menggerakkan kakinya, melangkah menuju burung besi yang akan membawanya kembali ke tanah air.

Hari yang beranjak siang menemani Sasuke menempati kursi. Sementara di Jepang, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Gaara mendapatkan tugas untuk menjemput pegawai baru Kementerian Sosial di bandara.

"Sasuke?" Gaara tersenyum. Sepertinya Tuhan menjodohkan mereka sehingga ia bekerja dengan sasuke. Segera dilipatnya surat tugas yang baru sore tadi ia terima. Kakinya melangkah menuju parkiran, di mana mobil Kementerian terparkir. Kali ini ia memakai mobil sedan milik divisi tempatnya bernaung. Setelah menyalakan mesin, ia meluncur menuju bandara.

Jet lag. Sasuke merasakan penyesuaian fisiknya sedang berlangsung. Perbedaan waktu yang begitu besar membuatnya mengalami apa yang disebut jet lag. Beberapa waktu lalu sang pramugari mencatat pesanannya. Ya, sudah lama ia tidak minum jus alpukat, setidaknya untuk menambah asupan karbohidrat serta glukosa dalam tubuhnya.

Waktu berlalu dan Sasuke sampai di bandara tanah airnya. Setelah melewati pengecekan, ia keluar. Di pintu keluar terminal internasional, dirogohnya saku celana. Membaca kembali surat dari Kementerian Sosial. Dalam baris tulisan yang ia baca, sebuah mobil dinas akan menjemputnya.

Malam-malam disuruh ke kantor? Sasuke membatin heran.

"Sasuke," panggil seseorang yang menepuk bahunya. Sasuke menoleh dan mendapati lelaki berambut merah tua di hadapannya. Gaara. Segera Sasuke memeluk Gaara.

"Gaara. Aku diterima," ucap Sasuke. "Tepat di hari kelulusanku," lanjutnya. Gaara membalas pelukan sahabatnya itu.

"Setelah dua bulan mengirim lamaran, ya?" ujar Gaara menyunggingkan senyum. Sasuke mengangguk ragu. Iapun tak mampu memastikan waktu yang tepat, berapa lama ia menunggu berita itu. "Tuan Haruno sudah menunggu," lanjut Gaara. Keduanya menaiki mobil yang tersedia dan menuju Kementerian Sosial. Bukan jam kerja, memang, tapi inilah waktu yang dimiliki Tuan Haruno di sela waktu sibuknya.

Sasuke ditemani Gaara menuju lantai 4, ruang khusus Tuan Haruno, sang menteri. Setelah mengetuk pintu, Gaara membuka pintu, mendahului Sasuke masuk yang kemudian diikuti Sasuke.

Lelaki berkumis dengan badan tegap sudah duduk di balik meja resminya. Gaara dan Sasuke belum lagi duduk saat ia beranjak dan menuju seperangkat sofa yang ada di ruang itu. Di samping meja kerjanya.

"Duduklah di sini," ucap Tuan haruno.

"Selamat malam, Tuan Haruno," ucap Sasuke, mencoba beramah tamah. Mereka saling berjabat dan berbincang sedikit.

Setelah mengetahui tugasnya, Sasuke dipersilakan pulang untuk berkemas karena ia akan tinggal dengan Gaara di asrama yang sudah disediakan. Gaara dan Sasuke pulang dalam diam.

"Hampir sampai," ucap Gaara.

"Apa kata Nenek?" tanya Sasuke, menggumam. Gaara menoleh.

"Nenek pasti senang, Sasuke," Gaara berusaha menenangkan Sasuke yang gundah dan lelah itu.
Sasuke mengetuk pintu bangunan yang sudah tertutup itu. Nenek Chiyo yang membukakan. Ia tak berlama-lama terperangah dengan sosok Sasuke di hadapannya. Kini ia memeluknya, memeluk lelaki kesayangannya.

"Sudah keberapa kali aku dipeluk hari ini, Nek?" ucap Sasuke seolah bertanya. Nenek terkekeh mendengarnya. "Aku lulus," lanjutnya lagi. Nenek mempersilakan kedua pemuda itu masuk.

"Nek, aku diterima di Kementerian Sosial," ujar Sasuke sambil berjalan ke kamarnya.

"Apa?"

"Ya."

"Lakukan maumu." Ucap Nenek akhirnya. Sasuke tidak terkejut seperti Gaara. Dibiarkannya Sasuke ke kamar.

"Nek?" tanya Gaara. Mereka ke dapur, bersama menyiapkan makan serta minuman.

"Ya. Sasuke sudah besar. Aku yang renta ini sudah tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Menyesal? Tidak." Jawab Nenek menjelaskan. Gaara menangkap getir di sana. Digenggamnya tangan keriput sang nenek, mencoba menenangkan.

"Tuan Haruno sudah berubah, kok, Nek. Sasuke bisa menjaga dirinya," ucap Gaara. Tapi aku tidak tahu apa ia bisa menjaga hatinya.

Dua jam bagi Sasuke sudah cukup untuk melepas rindu dengan panti asuhannya sehingga mereka menembus dini hari saat menuju asrama.

Aku sudah di Jepang, Sakura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar