Jumat, 15 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #13

Sudah beberapa hari Sasuke bekerja di Kementerian Sosial. Sejak kembali ke Jepang, Sasuke belum sempat bertemu Naruto, Sakura, juga Kiba. Sasuke terlalu sibuk dengan proyek pertamanya, tugas pertama dari Tuan Haruno. Sasuke bertanggung jawab melaporkan keadaan di Distrik Konoha. Daerah tersebut diketahui memiliki banyak permasalahan sosial. Sasuke diserahi tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu. Gaara tidak mendampinginya usai malam itu. Ia sibuk dengan tugasnya.

Saatnya istirahat siang dan Sasuke merapikan berkas-berkasnya. Meja kerjanya yang tersekat dengan beberapa staf mulai rapi.

"Kita makan bersama?" tanya Tuan Haruno mendadak. Mengagetkan Sasuke. Bukan pada kehadirannya, tapi pada ajakannya. Seorang Haruno mengajaknya makan?

Sasuke mengikuti lelaki itu, menuju sebuah resto berkelas. Nuansa serba biru sebagai dekorasi dominan di resto itu memberi rasa nyaman bagi siapapun. Sasuke menyunggingkan senyumnya.

"Kau tahu, Uchiha, mengapa aku mengajakmu makan?" tanya Haruno. Masih dengan basa-basi kebangsawanannya.

"Saya hanya tahu Anda, Pak, yang mengajak saya makan." Sasuke menjawab, berusaha mengimbangi. Dia sudah dengar bahwa Tuan Haruno senang mengajak bawahannya makan. Sebuah bentuk perhatian seorang atasan akan keadaan bawahan.

"Aku selalu tertarik untuk berdiskusi dengan pegawai di kementerian, termasuk kau. Bagaimana tugasmu?"

Sasuke diam. Kalau bisa memilih, maka lingkungan pantinya yang akan ia jadikan objek tugasnya, bukan wilayah yang sekarang dimaksud, Distrik Konoha. Kondisi sosial di pantinya jauh lebih memprihatinkan dibanding Konoha.

"Kami sedang bersiap mengadakan survei, Pak. Beberapa bahan kami olah, dan kemungkinan sore ini sudah siap. Sehingga, besok kami sudah bisa terjun ke lapangan untuk survei," jawab Sasuke.
Tuan Haruno memesan makanan, begitupun dengan Sasuke.

"Baik. Aku suka kerjamu. Lalu, bagaimana ceritamu sampai bisa kuliah di Oxford?" tanya Tuan Haruno lagi. Sasuke terdiam. Otaknya berusaha memilah berbagai informasi terkait kuliah, riwayat pendidikan, dan pemikirannya.

"Saya mendapat beastudi dari Oxford untuk kuliah. Dan pemerintah Jepang juga memberi beasiswa untuk kehidupan saya di Oxford," jawab Sasuke.

"Kebetulan, Nenek saya juga bekerja di London," lanjut Sasuke setelah menyeruput sedikit lemonadenya.

"London? Putriku juga sempat hidup di London selama 5 tahun. Dunia memang sempit, kurasa. Hmm, nenekmu kerja? Sebagai apa?" Sepertinya Tuan Haruno penasaran dengan kisah Uchiha di hadapannya ini. Sasuke sedikit memamerkan senyumnya. Tipis dan sebentar. Anda pasti mengenal nenek saya, Tuan. Seperti saya mengenal putri Anda.

"Pengurus rumah tangga keluarga muda."

Pelayan datang dan mereka makan. Kali ini Sasuke tidak diajak bicara. Ia memaklumi bahwa bagi bangsawan, makan tidaklah diiringi dengan percakapan. Meski agak merakyat, ternyata Tuan Haruno masih belum bisa melepas etika kebangsawanannya.

Sasuke Uchiha, tahukah kau bahwa ini langkah maju untukmu mendekati keluarga Haruno? Andai ia tahu, tentu ia akan gunakan sebaik mungkin. Tapi meskipun sadar akan hal itu, sepertinya Sasuke tidak menghiraukan. Ia bersikap biasa, tak memikirkan keluarga Haruno.

"Kenapa kau pilih Jurusan Sosial politik, Uchiha?"

Sasuke dan Tuan Haruno sudah menghabiskan porsi makanan masing-masing.

"Saya berasal dari keluarga kelas bawah, Pak. Dan saya ingin mengubah keadaan masyarakat seperti saya, masyarakat kelas bawah. Atau setidaknya mendapat keadaan yang lebih layak," jawab Sasuke. "Mungkin cita-cita yang terlalu tinggi. Tapi saya yakin, perlahan saya dan orang-orang di Kementerian Sosial mampu melakukannya," lanjutnya setelah jeda sejenak.

"Begitu?" Tuan Haruno berusaha meyakinkan jawaban Sasuke Uchiha. Kemeja dinasnya yang rapi seolah menggambarkan pemikirannya yang memang tertata rapi. Bila diibaratkan perpustakaan, maka susunan bukunya sangat rapi.

Mereka terus berbincang hingga waktu makan selesai dan waktu kerja kembali hadir.

"Jangan lupa, Uchiha, Sabtu kau ke rumahku. Akan kukenalkan dengan keluargaku," ucap Tuan haruno saat mereka keluar dari rumah makan. Sasuke mengangguk, kembali ke tempat kerjanya. Bertemu Sakura, hmm? Sasuke membatin riang.

Sakura hari itu bekerja di ruangannya, tidak ada yang mengusik selain telepon dan Shizune. Masih diingatnya kalimat sang ayah beberapa waktu lalu.

"Calonmu tidak dapat datang sekarang, mungkin lain waktu. Tapi, kuberitahu ia dari keluarga bangsawan juga."ujar sang ayah di Kitakyushu.

"Boleh kutahu namanya?" tanya Sakura.

"Dia, dari keluarga…" sang ayah belum selesai berbicara sudah terdengar bunyi telepon dari dalam saku pengusaha sekaligus menteri itu. Beberapa saat kemudian yang dilihat Sakura adalah pembicaraan sang ayah dengan seseorang di teleponnya.

Sakura memainkan pulpennya, sebuah pena seharga 300 yen, dipatenkan sebagai pena kuat yang khusus digunakan para bangsawan. Pena itu sangat sederhana bentuknya, seperti pena kebanyakan.
"Nona, Tuan Naruto menelepon Anda," ucap Shizune melalui telepon.

"Tolong sambungkan," sahut Sakura, memerintah. Sesaat kemudian, suara renyah teman berusia lebih tua darinya itu terdengar.

"Sakura, sibuk?"

"Ya, seperti biasa. Aku memeriksa laporan-laporan, proposal, kemudian menandatangani berkas-berkas. Ada apa?"

"Sasuke ke Jepang. Dia sudah bekerja sekarang."

DEG! Kalimat Naruto barusan membuatnya harus berlomba adu cepat antaara nafas dan jantung. Sebuah nama yang terus mengiang kini didengarnya lagi.

"Sas..uke?"

"Ya. Hmm, mungkin bagus bila kita bertemu. Aku ke rumahmu, ya," pinta Naruto.

Sakura mengangguk dan menjawab "Iya". Maka telepon itu terputus. Membiarkan Sakura dengan segala macam rasanya. Satu sisi hatinya sangat menggembira, membayangkan pertemuannya dengan Sasuke. Tapi, sisi lain hatinya harus menitikkan kesedihan. Ia sadar bahwa Sasuke datang bukan untuknya. Buktinya, Sasuke tidak mengabarinya. Pikiran Sakura mulai dipenuhi berbagai prediksi tentang Sasuke, dan proposal proyek Distrik Konoha yang sedianya akan dibiayai Keluarga Haruno dibiarkannya.

Bila saja Sakura tahu siapa penanggung jawab proyek Distrik Konoha. Tapi ia tak menggubris proposal bersampul biru itu. Pikirannya hanya dipenuhi Sasuke Uchiha.

Waktu membiarkan Sakura sedikit sibuk dengan urusan pribadi hingga Naruto datang dan langsung ke ruang kerja sahabatnya. Naruto dipersilakan duduk di sofa ruang kerja itu.

"Lalu?" tanya Sakura. Seorang pelayan membawakan minuman dan kue untuk Naruto.

"Ya, sudah beberapa hari lalu ia ke Jepang. Baru tadi dia telepon. Katanya sih baru sempat telepon." Jawab Naruto. Dilihatnya wajah Sakura berseri, ceria, saat mendengar tentang lelaki Uchiha.

"Sakura…"

"Ya?"

"Sekali lagi, dia datang bukan untukmu. Tak perlu mengharapkannya, apalagi sampai menunggu. Kau masih ingat hal itu?"

Naruto sempat ragu menanyakan dan menegaskan hal itu. Tapi, demi Sakura dan Sasuke, ia harus menegaskan kembali kemustahilan keduanya bersama. Sakura memandang taman di jendela ruang kerja. Hijaunya daun seolah terefleksi ke bola matanya.

"Aku tahu," jawab Sakura. "Naruto, di mana dia bekerja?" tanya Sakura kemudian saat matanya melihat ke arah wajah sahabatnya.

"Aku lupa bertanya. Pastinya dia tidak mengajar lagi, katanya. Dia tadi sempat bilang sih, kerja di tempat yang nyaman." Jwab Naruto. Sakura mengangguk.

"Naruto, aku mungkin tidak ditakdirkan untuknya. Sabtu ini ayahku akan mempertemukanku dengan calon pendampingku. Tak kusangka, aku akan menikah muda," Sakura tertawa dengan nada getirnya. Naruto menatap wajah harap Sakura. Kau masih mengharapkan Sasuke, kan?

"Sabtu ini? Semoga aku bisa hadir, ya. Aku ingin melihat lelaki beruntung itu," sahut Naruto. Raut wajahnya berubah. Sasuke…kau.. "Ah. Aku pergi, Sakura. Kau masih ada tugas, dan aku harus menjemput Ami." Naruto segera pamit. Belum jam makan siang sehingga mereka tidak makan bersama. Sakura mempersilakan, sambil tersenyum.

Sakura kembali ke meja kerja, membaca proposal berampul biru. Dan ia tak perlu bertanya pada Naruto, di mana Sasuke Uchiha bekerja. Matanya membelalak saat nama Uchiha Sasuke terbaca olehnya.

Kami-sama. Apa ini?

Naruto melangkahkan kakinya, menatap ponsel jingga miliknya. Dibukanya daftar panggilan dan mendapati nomer panggilan masuk.

"Sasuke, sore ini aku ingin bertemu," ucap Naruto segera saat telepon tujuannya diangkat.

"Hmm, baiklah. Toh aku tidak lembur. Di mana?"

"Aku jemput," KLEK! Naruto bersikap tak seramah biasanya. Raut wajah merah itu muncul bukan karena ersengat matahari atau malu, tapi ia sudah tak mampu menahan marahnya.

Maka, saat matahari jingga menjauhi langit malam, Naruto segera ke kementerian Sosial. Menjemput Sasuke. Tepat di depan pintu utama mereka bertemu. Sasuke dengan tas kerja dan pakaian dinas telah menanti kedatangan Naruto.

"Ke mana?"

"Taman kota," Naruto menjawab cepat. Di dalam mobil, keduanya hanya diam. Sasuke merasa ini bukan Naruto biasanya. Hari mulai gelap saat keduanya sampai di taman kota. Naruto mengajak Sasuke ke salah satu sisi taman kota, sebuah taman dengan pohon besar. Rerumputan menjadi alas kaki mereka.

"Ah, lama aku tidak ke sini. Ya, kan, Nar.." ucapan Sasuke berhenti mendadak. Sebuah pukulan mendarat di pipinya. BUAGG!

Uchiha itu terjengkang, jatuh ke rumput. Di depannya berdiri Naruto dengan wajah beringas.

"Kau egois!" teriak Naruto. Tangannya mengepal dan menarik kerah baju Sasuke.

"Naruto" panggil Sasuke. Naruto hanya menghempaskan tubuh Sasuke. Hening. Sasuke menunggu Naruto dengan aksi berikutnya. Tapi, hingga menit kedua tak ada gerakan Naruto atas dirinya.

"Aku tak sanggup melihat wajah Sakura," ucap Naruto. Keduanya sudah duduk di rumput taman kota. Kembali hening.

"Aku tidak tahu harus bagaimana, Naruto. Aku tak punya kuasa atas apapun yang terjadi," sahut Sasuke.

"Aku tahu. Hhh, andai kau tak bertemu dengannya,"

"Ya. Aku menyesali kebodohanku saat itu," Sasuke menjawab lagi. Nauto menoleh. Kedua alisnya seolah berusaha bertaut.

"Tidak seperti kau yang kukenal. Mana Sasuke yang kusuka?" tanya naruto.

"Sejak kaupukul, Sasuke yang kaukenal sudah hilang." Naruto segera memeluk bahu temannya usai mendengar pengakuan Sasuke. Ia tertawa, meminta maaf, dan disahuti tawa Sasuke.
 
"Sakura akan menikah."

"Baguslah."

"Hei. Perjuangkan cintamu padanya," ujar naruto sambil menunjuk dada kiri Sasuke. Sasuke menjawabnya dengan diawali senyum.

"Ini caraku, Naruto. Aku hanya mampu melakukan ini. Mencintainya. Sudah, itu saja," jawab Sasuke. Aku ingin melindungi nama baiknya.

"Kau harus datang Sabtu ini ke istananya. Dia akan bertemu calonnya sabtu ini," ujar naruto.
Kami-sama… Sasuke membatin, memanggil Tuhannya. Mencoba kuat usai mendengar kabar dari Naruto. Berarti, Tuan Haruno akan mengenalkan calon keluarganya juga? Sasuke membatin lagi.

"Tentu, tentu aku datang untuk mengucap selamat."

"Tidak! Kau harus bicara pada Keluarga Haruno."

"Naruto, c'mon. Jangan kekanakan. Kita tahu batasan-batasan kita kan? Kita masih punya etika, kan?"

"Tapi bukan begini caranya."

"Lalu?"

"Kau harus mendapatkan Sakura," jawab Naruto, mantap. Sasuke tersenyum mendapati temannya begitu gigih. Ah, aku harusnya malu pada kegigihan Naruto. Kenapa aku tidak segigih itu?

"Kita lihat, ya," sahut Sasuke ramah. Bujukan Sasuke sukses membuat Uzumaki muda itu diam, tidak merengek atas nama kegigihan. Mereka makan di kedai ramen, kemudian Sasuke diantar ke asrama.

Sabtu. Sebuah hari mendebarkan bagi banyak pihak. Gaara menemani Sasuke ke istana Haruno. Naruto bersama Ino datang menyertai keluarga masing-masing. Begitupun Kiba. Meski hatinya masih belum sepenuhnya tulus, ia mencoba melepas Sakura. Sasuke mengenakan setelan kemeja lengan panjang terbaik miliknya, dipadu celana bahan kebanggaannya. Gaara yang sudah lebih dulu bekerja mengenakan stelan jas abu-abu. Keduanya disambut Tuan Haruno.

"Di sana putriku, yang berambut merah muda. Cantik, bukan?" tanya Tuan Haruno membanggakan putrinya yang sejak tadi menatap tamu ayahnya itu. Sasuke tersenyum, sopan dan kembali mencoba sikap ramah pada tuan rumah.

Gemerlap pesta itu dihadiri wartawan. Kembali Sasuke tersenyum mengingat hari pertamanya bertemu Sakura.

"kenapa kau lari?"

"Aku…tak suka keberlebihan ini"

"Ini, Sakura Haruno. Sakura, ini pegawai baru ayah, Sasuke Uchiha. "

Keduanya bersitatap. Senyum lembut keduanya saling nampak.

"Aku tinggal dulu, ya. Sakura, belajarlah banyak hal dari Uchiha," ujar Tuan Haruno.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar