Minggu, 17 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #14

Sasuke Uchiha dalam pakaian resmi versinya hanya mengangguk kala Tuan Haruno mempersilakan dirinya untuk berbincang dengan Sakura.

"Uchiha. Bukankah itu namamu?" tanya Sakura, mempertahankan keanggunan bangsawannya. Sasuke hanya tersenyum kecil.

"Masih kaku denganku, Sakura? Aku masih seperti yang kau kenal," jawab Sasuke. Sakura mengajaknya ke balkon. Keduanya memegang gelas piala berisi jus jeruk. Ya, meski dalam pesta bangsawan, baik Sasuke maupun Sakura tidak suka dengan minuman keras. Alunan musik klasik menjadi latar pesta malam itu.

Sasuke melihat kota Tokyo dengan segala gemerlapnya dari balkon megah itu. Lampu berkerlip, mengalahkan cahaya bintang di langit.

"Ayahmu mengundangku," ujar Sasuke sambil menatap pemandangan dari balkon. Sakura di sampingnya juga melakukan hal yang sama.

"Iya. Aku tahu. Ayah sudah cerita tentangmu. Aku mendengar nada bangganya," sahut Sakura.

"Jadi? Kapan aku akan dikenalkan dengan Keluarga Haruno?"

"Kau pikir kau siapa?" Sakura segera menyadari nada pertanyaannya. "Maaf, bukan maksudku.."

"Aku mengerti. Tuan Haruno bilang aku akan dikenalkan dengan keluarganya." Sasuke tersenyum lagi, mencoba tenangkan Sakura bahwa ia tidak tersinggung. "Dan, calon keluarganya, calon suamimu," lanjutnya yang sukses memunculkan raut terkejut Sakura Haruno.

"Kau.." ucap Sakura terbata.

"Hn. Aku memang tidak mencegahmu, tapi bukan berarti aku tak menyukaimu, Sakura," Sasuke seolah melanjutkan ucapan Sakura, dengan nada berbeda. Nada yang membuat Sakura menoleh, berharap menemukan jawaban atas ketidakmengertiannya terhadap Sasuke.

Sepertinya Sasuke menyatakan perasaannya padaku.

"Nona Haruno, bolehkah aku bicara dengan Anda?" tanya seorang lelaki borjuis dengan setelan jas yang mungkin sangat mahal. Nara Shikamaru, Sasuke mengenali wajah eksekutif muda cerdas itu.

Nara Shikamaru adalah salah satu bangsawan yang sepi dari gosip-gosip media. Berita tentangnya hanya seputar kesuksesannya menangani perusahaan, atau prestasi-prestasi tingkat internasional. Pemuda berusia 20 tahun itu sangat pendiam, dan hanya bicara seperlunya. Begitu yang Sasuke tahu data tentang Nara Shikamaru. Tapi dia dermawan.

"Tapi, bagaimana dengan…" Sakura berusaha mengelak. Sasuke tidak bergeming, diam saja dengan raut wajah yang juga diam saja atau datar. Tidak mencegah Sakura, tapi juga tidak mengizinkan.

Aku tidak berhak apapun atasnya. Bisik batin Sasuke. Akhirnya Sakura mengangguk dan meninggalkan Sasuke, ikut bersama Nara.

Terngiang perbincangan tadi malam dengan Gaara. Sasuke masih menggenggam gelasnya.

"Kau yakin akan datang?" tanya Gaara di rumput halaman.

"Ya."

"Kau tahu kan besok pertunangannya?" tanya Gaara lagi. Dilihatnya Sasuke menatap langit malam. Sangat hitam. Sesekali terlihat kerlip bintang. Kali ini Gaara melihat Sasuke seolah menantang langit. Tak ada kata terucap dari mulut sahabatnya selain anggukan.

"Mungkin memang aku hanya mampu mencintainya dengan cara seperti ini."

Gaara sangat takjub mendengar ucapan Sasuke. Terlalu bijak. Tapi melihat usia Sasuke, Gaara merasa wajar saja.

"Baiklah kalau kauputuskan mencintainya belasan tahun dan berakhir begini," sahut Gaara.

"Tidak berakhir, Gaara. Hanya tidak berubah saja. Istilahnya, tidak progresif."

Keduanya tertawa usai Sasuke mengucap kata yang terdapat dalam kamus kontemporer itu.

"Aku pulang dulu," ucap Gaara akhirnya. Baru saja ia melangkah menjauhi sosok sahabatnya, Sasuke memperdengarkan sebuah ide.

"Atau…bagaimana kalau kulamar ia di depan ayahnya?"

"Gila."

Sasuke tersenyum. Gila adalah kata terakhir Gaara atas idenya. Ya, mungkin ia gila bila Kiba adalah calon suami Sakura. Tapi kata Naruto, Kiba sudah mundur karena Sakura tidak memilihnya. Bagaimanapun, tak ada yang bisa menolak Tuan Haruno, bukan? Sasuke menyunggingkan senyumnya. Ia hanya akan diam melihat kejadian di depannya malam ini. Hanya diam. Begitu janjinya pada diri sendiri.

"Hei, kau sendirian?" tanya Naruto yang sudah di dekatnya. Setelan jas abu-abu sudah menjadi dresscodenya.

"Gaara di sana. Sakura di sana bersama Nara Shikamaru," jawab Sasuke.

"Nara Shikamaru?" tanya Naruto menunjukkan nada tidak percaya. Atau mungkin meyakinkan dirinya tidak salah dengar.

"Ya. Memang kenapa? Kau begitu bingung, hmm?"

"Nara Shikamaru bukan orang yang mau datang bila tidak sangat penting. Bisa saja…"

"Ya, bisa saja dia calon suami Sakura. Lantas kenapa?" tanya Sasuke.

"Lantas kenapa, katamu? Dia…"

Sasuke menangkap kepanikan di kata-kata Naruto. Juga kekhawatiran. Naruto sangat dekat dengan Sakura. Mungkinkah? Sasuke membatin.

"Naruto," panggil Sasuke. Dilihatnya Naruto meneguk habis minumannya.

"Dapatkan Sakura!" ucap Naruto agak keras. Sebenarya ia berniat tegas, tapi nadanya lumayan tinggi. Syukurlah, tidak membuat orang-orang di dekatnya menoleh.

"Berapa kali kita bicara tentang ini?"

"Aku tak peduli ribuan kali kau menolak, tapi, dapatkan Sakura. Setidaknya untuk malam ini," elak Naruto. Apa maksudnya? Kembali Sasuke membatin.

"Para undangan yang kami hormati, sekaranglah saatnya pengumuman penting dan bahagia bagi kami. Sebelumnya, izinkan kami mengenalkan Haruno Sakura pada Anda semua," ujar Tuan haruno yang entah sejak kapan sudah memegang mikrofon. Panggung khusus yang didekorasi dominan biru itu menjadi latar yang sangat megah. Sejenak lampu sorot hanya menyinarinya yang menjadi fokus panggung, kemudian beralih pada gadis di dekat panggung, Sakura. Dengan anggunnya, Sakura berjalan. Saat itu juga Naruto menarik Sasuke agar berjalan menuju panggung, menyelip di antara orang-orang.

"Naruto,"

"Aku yakin dia orangnya. Aku yakin itu. Kau harus menghentikannya. Kau harus mendapatkannya," jawab Naruto sekenanya, sambil berjalan cepat di antara undangan. Tangannya menggamit tangan Sasuke. Beberapa meter lagi mereka sampai di podium, tidak seperti Sakura yang sudah di depan panggung. Naruto semakin panik, dan mau tak mau Sasuke ikut berdegup, panik. Beginikah seharusnya? Batinnya di sela gemuruh nafas mereka.

Sakura menaiki tangga, sedangkan Naruto dan Sasuke bersicepat mendekatinya. Mata Sasuke sempat menangkap sosok Nara Shikamaru yang dihormatinya, berdiri di depan panggung, bersisian dengan Sakura tadi. Sementara Inuzuka Kiba berdiri di dekat Ino Yamanaka dan Sai. Matanya masih sempat merekam semua itu. Dalam hitungan sepersekian detik sebelum didengarnya tuan Haruno berbicara lagi.

"Haruno Sakura, putri tunggal keluarga Haruno. Saat ini ia sudah menangani anak perusahaan Haruno Corporation. Dan malam ini, saya akan mengabarkan bahwa putri saya bertunangan dengan seorang lelaki terpilih,"

Naruto sudah berdiri di samping Shikamaru. Begitupun Sasuke.

"Dan nama lelaki beruntung itu ad.." ucapannya terpotong oleh tangan Sasuke yang terangkat. Seperti seorang siswa yang akan menjawab pertanyaan di kelas. Sakura menatap lelaki itu heran. Ada apa? Batin sakura dan Tuan haruno menanyakan hal yang sama.

Sementara itu, Sasuke mengangkat tangan refleks karena Naruto mencubit lengannya. Segera ia menoleh pada Naruto, menunjukkan wajah marah.

"Aku tak butuh wajah marahmu. Katakan sekarang," ucap Naruto. Dasar, malaikat penolong. Lagi-lagi Sasuke membatin.

"Saya minta maaf sebelumnya, Tuan. Saya tahu, saya lancang. Tapi, saya berharap bisa menjadi lelaki beruntung itu, Tuan," ucap Sasuke akhirnya.

Wajahnya memerah usai mengucap kalimat barusan. Ia sudah terima bila ia diusir dari tempat itu, juga dipecat dari kementerian di tengah proyeknya. Jantungnya yang tadi berdegup kencang sekarang makin kencang.

Sakura di depannya terkejut akan ucapan Sasuke. Tidak menyangka atas keberanian Sasuke dan kenekadannya. Tapi, ia tidak bisa menyangkal bahwa wajahnya bersemu merah atas ucapan Sasuke.

Sementara itu, Gaara menyaksikan kejadian tadi dari sudut ruangan. Minuman ringan yang dipegangnya hampir terlepas. Benar-benar gila! Dan ucapan semalam masih sangat diingatnya.

Inuzuka Kiba segera menghampiri Sasuke. Tangannya menepuk bahu Sasuke, berusaha menyalurkan kekuatan. Senyuman telah didapat Sasuke dari Kiba. Yamanaka Ino dan Sai uga menghampiri mereka, ikut tersenyum. Naruto ikut tersenyum setelah melihat sahabatnya tersenyum. Hanya Nara Shikamaru yang berbalik, menatap Sasuke sekilas, lalu berjalan menjauhi panggung.

"Merepotkan," ujar Shikamaru, terdengar oleh Naruto dan Sasuke.

Lalu? Bagaimana dengan Tuan Haruno? Lelaki itu hanya meneruskan ucapannya di mikrofon.

"Maaf, hadirin. Saya membatalkan pengumuman ini. Sepertinya keadaan belum memungkinkan," ujar Lelaki tua nan bijaksana itu.

Digamitnya tangan Sakura, keduanya menuruni panggung, menghampiri Sasuke.

"Uchiha Sasuke, ikut aku," Tuan Haruno memerintah Sasuke sebagai atasan. Sasuke mengangguk dan mengikuti langkah kaki Tuan Haruno. Dirasakannya berpasang mata menatap mereka. Sebagian lagi diikuti cibiran tentang sikapnya. Sasuke hanya memasang wajah tak bersalah, meski hati kecilnya mengatakan ia melukai kehormatan Tuan Haruno.

Sakura dan teman-temannya hanya berdiri saja. Naruto yang hendak mengejar Sasuke, berniat menemaninya, dicegah oleh Kiba.

"Biarkan mereka berdua selesaikan, tanpa dirimu," ucap Kiba. Melihat Yamanaka Ino dan Sai mengangguk, Naruto mengurungkan niatnya. Ia diam saja dengan wajah pasrah.

"Naruto, aku tidak yakin tadi Sasuke bilang…" ucap Sakura. Naruto menjelaskan semuanya. Termasuk ketika ia mencubit lengan Sasuke.

"Dan ucapan Sasuke tadi, aku tidak menyuruhnya," Naruto menyelesaikan ceritanya. Ino tertawa sebentar, begitupun Sai. Hanya Kiba yang geram.

"Kau menempatkannya pada posisi sulit, tahu?" sahut Kiba kesal. Naruto meminta maaf pada Kiba dengan matanya.

Bagaimana dengan Sakura? Gadis itu hanya diam, menatap lantai marmer yang diinjaknya, dan berdoa akan keselamatan Sasuke.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar