Minggu, 17 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #15

Uchiha Sasuke berjalan di belakang sosok lelaki tua yang sering dipanggilnya Tuan Haruno. Keduanya berjalan menuju sebuah tempat yang sangat dikenal oleh Tuan Haruno dan relasinya: Ruang Kerja.

Derap langkah kaki keduanya terdengar di lantai marmer itu, tidak menggema karena pengawal Keluarga Haruno berdiri di sisi jalan. Memberi hormat dengan membungkuk kepada Tuan Haruno.

Aku makhluk paling logis yang dikenalnya. Makhluk penuh pertimbangan seperti yang diketahui orang-orang. Jelas saja ia heran dengan sikapku barusan. Hhh, jangankan ia, aku saja heran. Sasuke terus membatin.

Akhirnya mereka berdua sampai di sebuah ruangan khas bangsawan yang bekerja dari rumah. Sebuah meja kerja dengan seperangkat komputer dilatarbelakangi rak buku menjadi pemandangan awal Sasuke Uchiha saat pintu ruangan terbuka. Ia tidak sempat mengamati semua karena kini di pikirannya hanya tentang kejadian tadi. Mungkin tadi aku memang gila.

"Masuklah." Tuan Haruno memerintahnya. Lagi-lagi Sasuke menuruti. Keduanya pun masuk ke dalam ruangan dengan dominasi warna coklat itu.

"Lalu.." Tuan Haruno memulai pembicaraan mereka dengan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia memutar badannya dan duduk di kursinya tanpa menyuruh Sasuke ikut duduk di hadapannya.

"Apa maksudmu?" tanya Tuan Haruno langsung pada inti pembicaraan. Hening sejenak karena Sasuke langsung mendongak, menatap ramah pada Tuan Haruno. Seolah ia sudah menyiapkan segalanya untuk malam ini.

"Saya hanya mengatakan isi hati saya, Tuan," jawab Sasuke. Tanpa memberi kesempatan pada atasannya, ia melanjutkan, "Saya tahu bahwa saya sangat lancang. Tidak seperti saya yang biasanya. Tapi, untuk hal ini, saya mengikuti perasaan saya, Tuan. Saya minta maaf atas ketidaklogisan ini."

Tuan Haruno terlihat sedang menulis sesuatu. Surat pemecatan. Konsekuensi untuk ketidakdewasaanku malam ini. Sebuah kelancangan atas kehormatannya.

"Ini. Surat mutasi. Mulai besok kau tidak dipekerjakan di Kementerian Pusat." Tuan Haruno berkata sangat singkat, tidak menyinggung apapun tentang ucapan Sasuke. Ia menyodorkan selembar kertas pada Sasuke. Sebuah surat mutasi, surat pemindahan tempat kerja. Sasuke segera menerima kertas itu.

"Baik, Tuan."

"Satu lagi sebelum kau pergi. Aku masih menunggu hasil proyek perdanamu itu."

Sebuah senyum tersungging di bibir Tuan Haruno. Senyum yang Sasuke belum mampu maknai di tengah kekacauan pikirannya. Untuk beberapa orang, mutasi adalah sebuah ketidaknyamanan dalam bekerja. Sasuke pamit dan segera meninggalkan ruang tersebut. Berjalan menuju pintu keluar.

Lihat reaksi nenek Chiyo terhadap surat ini. Batin Sasuke. Dan kisah penyebabnya.

"Hei. Aku ikut denganmu," ujar seseorang. Suara khas Naruto telah didengarnya. Sasuke menghentikan langkah dan menoleh. Dilihatnya Naruto mendekatinya di pintu keluar itu.

"Untuk apa?" Sasuke menyahut dengan pertanyaan. Ya, dirinya sedang tidak ingin diusik sekarang.

"Mengantarmu pulang. Gaara juga ikut kok. Itu, dia sedang bicara dengan Sakura," jawab Naruto polos. Sasuke tersenyum.

Tak perlu menunggu hingga berjam-jam untuk bisa segera pulang karena Gaara sudah menghampirinya. Mereka segera naik mobil Naruto, menuju asrama Gaara dan Sasuke.

"Aku dimutasi. Sepertinya Tuan Haruno adalah lelaki yang masih belum bisa sepenuhnya memisahkan urusan kantor dan rumah," ujar Sasuke di perjalanan.

"Apa saja katanya?" tanya Gaara. Ia duduk di belakang sementara Sasuke duduk di samping Naruto yang menyetir. Sasuke menceritakan apa yang terjadi di ruang kerja Tuan Haruno.

"Tapi efeknya positif kukira," sahut Gaara kemudian.

"Eh? Positif, katamu?" tanya Naruto. Gaara mengangguk.

"Dalam dunia kerja, Tuan Haruno sudah sangat kami kenal. Kau akan merasakannya, Sasuke. Segera. Lantas, kau dipindah ke mana?" tanya gaara usai menjawab pertanyaan Naruto. Sasuke melihat suratnya, sebuah nama yang tidak asing telah dibacanya.

"Okinawa," jawab Sasuke sambil membaca nama tempat itu. Naruto tersenyum. Salah satu kota besar telah dituliskan seorang Haruno untuk Sasuke, berarti dia tidak marah apalagi menyingkirkan temannya. Bahkan kebalikannya. Naruto asik senyum-senyum dengan pikirannya sendiri.

"Hei. Kau sepertinya sedang senang?" tanya Sasuke. Dilihatnya Naruto tersenyum.

"Ayolah, kuantar kalian ke asrama, dan ke bandara. Supaya bisa tepat waktu sampai di Naha International Airport." Naruto menjawab. Mereka bersamaan tersenyum.

Ya, hadapi dengan senyum hal ini, meski aku tak begitu tahu apa yang menantiku di Okinawa.

Sementara itu, Sakura Haruno menemui ayahnya. Baru kali ini ia berani menghadap langsung sang ayah tanpa diminta. Ruang kerja sudah menjadi latar tempat mereka berbincang.

"Aku mengenalnya bukan malam ini saja, Ayah," jawab Sakura saat Tuan haruno menanyakan perkenalannya dengan Sasuke. "Lalu, apa yang Ayah lakukan terhadapnya?"

Tuan Haruno bangkit dari tempat duduknya, berjalan melewati sakura, dan menjawab singkat sebelum beranjak dari ruangan itu.

"Mutasi."

Sakura membelalakkan matanya demi mendengar jawaban barusan.

"Ke mana? Ayah." Panggil Sakura sementara Tuan Haruno terus saja berjalan, meninggalkannya.

Mutasi? Dia akan jauh dariku?

Tuan Haruno segera mengaktifkan ponselnya, menekan beberapa tuts.

"Ya, Tuan Nara. Maafkan saya atas kejadian malam ini. Baiklah bila begitu. Saya tidak memaksa. Apa? Hahaha, terima kasih Tuan."


Hari berganti dan Sasuke sudah menikmati udara segar Okinawa. Kota bersih layaknya kota lain di Jepang itu telah membantu Sasuke melupakan ketidaknyamanannya. Bahkan ia merasa sangat nyaman dengan kantornya. Di asrama barunya, ia tinggal dengan seorang lelaki. Pegawai Kementerian juga. Namanya Kisame. Kisame sudah sangat senior di kantor Okinawa. Maka, beruntunglah Sasuke bisa mengenal lebih dekat dan mendapat ilmu darinya.

Sasuke menikmati harinya hingga sore di kantornya, dan sore itu Kisame mengajaknya ke tepian jalan, makan di pinggir jalan.

"Kau pegawai baru, ya? Baru kali ini Tuan Haruno memutasi pegawai baru," tanya Kisame. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka berhenti saat lampu merah menyala di perempatan jalan. Meski tak ada polisi lalu lintas, Kisame dan warga Okinawa lainnya tidak berani melanggar peraturan lalu lintas.

"Iya." Jawab Sasuke singkat. Ia kembali teringat kejadian semalam. Bahkan ia belum meminta maaf secara khusus pada Sakura.

Melihat rekan perjalanannya merenung, Kisame lebih memilih diam. Dilihatnya Sasuke seperti melamunkan sesuatu. Mungkin kekasihnya.

Mereka sampai di sebuah kedai pinggir jalan. Kisame meminggirkan mobilnya dan mengajak Sasuke turun. Dilihatnya Sasuke agak heran dengan kedai tersebut.

"Seperti bukan kedai Jepang," ucap Sasuke.

"Ya, ini salah satu kedai khas masakan Indonesia," jawab Kisame. Sasuke tersenyum. Ternyata keramahan Okinawa sudah sejauh ini. Sampai mengizinkan kedai luar negeri dibuka. Setahu Sasuke, Okinawa menutup diri dari dunia luar.

"Mereka tidak menutup diri dari Asia. Mereka hanya menutup diri dari dunia Barat," ujar Kisame, seolah mengerti pikiran Sasuke. "Meski melalui seleksi juga," lanjutnya.

Keduanya segera masuk dan memesan makanan. Sasuke terkagum dengan pelayannya, lelaki berusia 30-an tetapi fasih dalam bahasa Jepang.

"Katamu kau punya proyek yang ditugaskan Tuan Haruno?" tanya Kisame usai mereka memesan makanan. Sasuke mengangguk.

"Penelitian di distrik Konoha," jawab Sasuke. Kisame agaknya terkejut dengan jawaban itu.

"Konoha? Distrik itu lebih dekat dari Okinawa bila dibanding Tokyo," sahut Kisame. Sepertinya Tuan Haruno sudah merencanakan ini semua untuk anak muda ini.

"Ya, aku tahu itu. Aku bersyukur sudah dimutasi. Hanya saja, aku tidak mengerti bagaimana dengan koordinasi timku?" Sasuke mengeluhkan masalahnya. Kisame tersenyum, mengingat Sasuke masih sangat muda untuk memimpin sebuah proyek.


Pagi ini Haruno Sakura sudah duduk di ruang kerjanya. Ia mendapat jadwal yang tentu membahagiakannya: menelepon Sasuke. Jadwal yang agak aneh, tapi memang itulah yang dijadwalkan asistennya, mengingat dirinya menandatangani proposal proyek di Distrik Konoha. Segera saja teleponnya tersambung ke Okinawa.

Sementara di Okinawa, Sasuke sedang berkutat dengan beberapa dokumen statistik Okinawa. Teleponnya berdering, dan ia segera mengangkatnya.

"Kementerian Sosial Okinawa, dengan Uchiha Sasuke. Ada yang bisa saya bantu?" Sasuke mengucap sandi khususnya di Kementerian Sosial. Sebuah sapaan formal untuk tiap telepon yang masuk.

"Saya Haruno Sakura," ucap suara perempuan di seberang line telepon. Tak ayal, raut wajah tegang, terkejut, dan bingung, muncul pada Sasuke.

"Hanya ingin memberitahukan bahwa proposal proyekmu kami setujui, dan kapan meeting antara donatur dan pelaksana bisa dilakukan?" lanjut Sakura cepat. Tegar, tegas. Sasuke menangkap kedewasaan dan keanggunan dalam suara Sakura. Jadi, begini, kalau Sakura sedang bekerja?

Sasuke tak tahu bahwa degup jantung Sakura bersicepat saat ini. Mengingat bahwa yang berbicara langsung dengannya adalah orang yang spesial di hatinya.

"Maaf?" Sakura kembali bertanya menyadarkan Sasuke yang diam saja, menikmati suara Sakura.

"Oh, iya, terima kasih. Akan kami kabari segera, Nona Haruno," jawab Sasuke segera. Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan. Sasuke meletakkan gagang teleponnya dan segera menghubungi teman-teman satu timnya di Tokyo.

Keputusan itu didapat, Sasuke akan terbang ke Tokyo, menghadiri rapat bersama donatur selain Sakura Haruno. Sementara di kantor Okinawa, ia masih belum begitu mendapat tugas selain mempelajari kondisi sosial Okinawa sesuai dokumen Kementerian Sosial Okinawa. Kisame sebagai senior sudah mengizinkannya. Kepergian yang tinggal dua hari lagi itu benar-benar menguras pikiran Sasuke, karena ia harus menyukseskan proyek ini.


Dan hari yang dinantikan itu datang. Sasuke ada di Bandara Haneda pukul 10 pagi. Naruto menjemputnya.

"Lama-lama aku jadi penjemput abadimu, Sasuke," rutuk Naruto. Tapi senyum tak hilang dari wajahnya. Naruto sangat bahagia Sasuke ada di sampingnya lagi, meski hanya 3 hari.

"Naruto." Sasuke memanggil Naruto.

"Apa?"

"Donatur kedua proyek ini adalah… Keluarga Nara,"

Naruto melotot mendengarnya.

Sementara itu, Nara Shikamaru menjemput Haruno Sakura di istananya.

"Nona, Tuan Muda Nara sudah datang," ujar Shizune. Haruno Sakura heran. Aku tidak ada janji dengannya.

Tapi Sakura mengangguk dan memakai jasnya, menuju ruang tamu tempat Nara Shikamaru menunggu.

"Kita searah ke Kementerian, bukan?" ucap Nara Shikamaru. Sakura mengangguk. Mereka berdua naik mobil dan meluncur menuju Kementerian. Sakura diam saja, sama seperti Nara Shikamaru hingga mulutnya terbuka untuk menyebut sebuah nama. Dibarengi wajah terkejutnya, tepat di perempatan.

Takdir menunjukkan jalannya.

Mobil sport Naruto dan mobil Nara Shikamaru bersisian. Sakura Haruno yang menoleh, mendapati wajah Sasuke sedang menatap ke depan.

"Sasuke," desis Sakura. Saat itulah Sasuke menoleh.

"Sasuke, itu Sakura," ucap Naruto pelan, tapi tetap didengar Sasuke.

Lagi-lagi takdir menunjukkan jalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar