Minggu, 17 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #16

Sasuke menoleh dan mendapati wajah manis yang sangat dikenalnya. Juga sedang melihat padanya. Sasuke lebih terkejut ketika melihat orang di samping Sakura, sang pengendara mobil, Nara Shikamaru.

"Sepertinya dugaan kita benar. Nara Shikamaru dijodohkan dengan Sakura," ucap Naruto. Nada kesal ditangkap ruang dengar Sasuke. Sasuke hanya menarik bibir kirinya, membentuk seringai kecil. Sangat khas bangsawan.

"Ah. Lampu sudah hijau. Ayo, Sasuke," ajak Naruto. Entah kesal atau terburu-buru, Naruto melajukan mobilnya kencang, meninggalkan mobil Nara Shikamaru.

Sementara itu, Sakura menyesal sudah menurunkan kaca mobilnya sehingga Naruto dan Sasuke melihat. Kalian kecewa? Sakura membatin sedih. Emosinya berubah kini, menjadi sedih. Terasa ada yang menekan perasaannya dan membuat otot-ototnya lunglai, sehingga tubuhnya lemas. Ia terkulai di jok penumpang. Sebuah perubahan yang disadari mata jeli Shikamaru.

"Kau kenapa?" tanya Shikamaru, datar. Sakura menggeleng.

Kalau Naruto atau yang lainnya ada di sini dan melihatku begini, tentu mereka akan menyemangatiku. Batin Sakura. Disadarinya Shikamaru hanya bersikap datar.

Mereka sampai di halaman Kementerian beberapa menit setelah Naruto dan Sasuke. Terlihat Naruto duduk di lobi, sementara Sasuke sudah tak terlihat. Sakura menyapa Naruto sebentar, kemudian menuju ruang pertemuan. Shikamaru menyejajari gadis itu, juga menuju ruang pertemuan. Masih ada 10 menit lagi untuk sampai pada waktu pertemuan.

"Oh, iya. Arigato, Aya-san," ucap Sasuke di lorong gedung. Keduanya memegang map. Mungkin berkas-berkas yang akan ditampilkan nanti. Sakura dan Shikamaru tidak melewati keduanya, tapi berjalan ke arah yang berbeda. Langsung menuju ruangan. Sasuke membuntuti mereka.

Shikamaru membukakan pintu ruangan dan mempersilakan Sakura masuk lebih dulu. Kesopanan laki-laki bangsawan. Sasuke kemudian mempersilakan Shikamaru masuk lebih dulu, kemudian membiarkan dirinya menjadi orang terakhir masuk ke ruang pertemuan.

Sementara itu, Naruto duduk dengan tidak tenang, berkali-kali menghubungi teman-temannya. Ino, tidak mengangkat telepon. Begitu juga Sai. Hanya Kiba yang tersambung.

"Ah, Naruto. Kau di mana? Baru saja aku ingin menghubungimu," ujar Kiba.

"Aku di kantor Kementerian Sosial. Kau seperti di jalan?" sahut Naruto. Sofa tempat menunggu terasa nyaman baginya.

"Ya, aku menuju…apa? Kementerian Sosial? Aku juga mau ke sana," jawab Kiba terheran-heran. Akhirnya ia putuskan hubungan telepon dan memacu mobilnya.

Tak perlu waktu lama di jalanan Tokyo yang ramai itu. Meski ramai, macet bukan hal yang sering ditemui. Kiba sudah sampai di depan Naruto dalam beberapa menit.

"Lalu?"

"Aku menjemput kakakku yang ikut rapat di sini," jawab Kiba. "Kau?"

"Menunggu Sasuke yang rapat hari ini," jawab Naruto sambil mengarahkan pandangannya ke lantai 2. Dekorasi gedung ini seperti pusat perbelanjaan yang atap teratasnya bisa dilihat dari lantai satu.

"Aku sudah dengar dari kakak. Sasuke pemimpin proyek ini. Hmm, sepertinya kita bisa makan siang bersama, ya? Aku akan ajak Sai dan Ino," Kiba mengeluarkan idenya. Naruto menggeleng.

"Mereka tidak bisa kuhubungi," Naruto melanjutkan gelengan dengan ucapan.

Sementara itu, di dalam ruang rapat terjadi tanya jawab antara tim Sasuke dengan para donatur: Haruno, Nara, dan Inuzuka.

"Kami sudah mematangkan rencana mengenai regional binaan ini. Kami juga akan mengusahakan agar dana kegiatan ini tidak terus menerus berasal dari donatur, tapi kelak akan berasal dari warga binaan itu sendiri," jawab Sasuke ketika Nara menanyakan tentang kontinuitas dana.

"Bagaimana teknisnya?" tanya Haruno lagi.

"Kami tidak akan terus memberi barang jadi, tapi juga mendidik kesadaran untuk bekerja. Menurut survei tim kami, warga Konoha sebagian besar masih memiliki jiwa meminta dan menerima. Hal itulah yang akan kami coba ubah," Sasuke menjawab mantap sambil menunjukkan sebuah program kerja di layar, menunjukkan proyeksi gambar dari infokus dan laptop.

Terlihat Haruno, Nara, dan Inuzuka berdiskusi. Sementara Sasuke mendapat tepukan di punggung tangannya saat duduk. Tangan teman satu timnya. Sasuke menoleh pada rekannya, kemudian menyunggingkan senyum.

"Arigato."

Tak perlu menunggu lama untuk mendapat hasil rapat itu. Sang notulen sudah sigap menuliskan semua hal, dewan rapat sudah memutuskan, dan tepat 1 jam setelah jam makan siang, mereka selesai. Sasuke berkumpul dengan rekan timnya, merencanakan makan siang bersama. Semua anggota rapat keluar ruangan, meninggalkan Hana Inuzuka dan Sasuke Uchiha.

"Sepertinya adikku menunggu di bawah," ujar Hana pada Sasuke.

"Maaf, Nona?" tanya Sasuke meyakinkan dirinya. Ini kali pertama ia berbicara pada Hana Inuzuka.

"Ya. Sepertinya ia menungguku, sekaligus menunggumu. Baru saja ia bicara di telepon denganku, bertemu Naruto dan akan makan siang dengan teman-temannya," jawab Hana dengan nada anggun yang tidak dapat diragukan Sasuke. Sasuke tersenyum, mengangguk. Kemudian mempersilakan Hana Inuzuka keluar ruangan lebih dulu, dan lagi-lagi ia terakhir.

Di luar ruangan, keduanya berpapasan dengan Sakura dan Shikamaru.

"Nona Haruno, apa kau ada rencana makan siang?" tanya hana.

Perempuan ini banyak bicara juga. Sasuke membatin. Matanya tidak menatap Sakura, hanya membungkuk pada Shikamaru dan Sakura cepat.

"Belum," jawab Sakura singkat.

"Kiba menunggumu di bawah. Ah, Naruto juga." lanjut Hana cepat. Sakura mengangguk.

Sasuke dan Sakura pergi dari tempat itu, bersisian. Ah, tidak. Tepatnya, Sasuke berjalan di belakang Sakura. Ia masih mencoba menghormati perempuan bangsawan, meski ia berstatus temannya.

"Sepertinya aku bisa mengajakmu makan, Nona?" tanya Shikamaru pada Hana Inuzuka. Hana mengangguk sambil tersenyum. Keduanya berjalan menuju lantai bawah, pintu utama.

Sasuke dan Sakura hanya diam selama perjalanan menuju lantai satu, tempat Naruto dan Kiba menunggu.

"Sakura. Sasuke," sapa Naruto ceria.

Mereka berempat masuk ke mobil Naruto, menuju resto khas Jepang. Sasuke duduk di belakang, bersama Kiba, sementara Sakura duduk di samping pengemudi, Naruto Uzumaki.

"Bagaimana kabarmu Sasuke di Okinawa?" tanya Kiba.

"Menyenangkan," jawab Sasuke singkat. "Meski aku di sana karena hal memalukan," lanjutnya seraya menatap Sakura dari belakang.

"Sudahlah. Di sini kau berkumpul dengan kami, temanmu," Kiba menghibur Sasuke. Cerianya disahuti riangnya Naruto, dan ajaibnya, sedikit mengubah suasana hati Sasuke. Ikut riang seperti rekan-rekannya.

Mereka sampai di sebuah resto tujuan, dan segera menuju tempat duduk untuk 4 orang. Naruto izin ke belakang, sedangkan Kiba menyingkir sebentar, menyisakan Sasuke dan Sakura berdua, bersisian. Sasuke menopang dagunya, menatap ke depan.

"Maaf," ujar Sasuke, membuat Sakura menoleh menatapnya. "Maaf sudah mempermalukanmu malam itu. Aku tak bermaksud.." ucapan Sasuke dipotong oleh telunjuk Sakura yang menempel di bibirnya. Sasuke tidak menyangka Sakura akan seberani ini.

"Sstt…sudahlah. Tak apa."

Mereka bersitatap. Sasuke mencoba mencari arti suara Sakura di dalam matanya. Begitupun Sakura. Yang ditangkap Sasuke adalah sebuah rasa: rindu. Ya, Sakura merindukannya.

"Apa aku mengganggu?" tanya Naruto. Sasuke dan Sakura mengalihkan wajah mereka. Sangat tampak rona merah di wajah Sakura, sementara Sasuke memalingkan….tepatnya membuang mukanya dari Naruto. Mereka segera memesan makanan.

"Nara Shikamaru sudah ayah tentukan sebagai calon pendampingmu," ucap Tuan Haruno. "Tapi sudah tidak berlaku sejak lelaki Uchiha itu melamarmu."

Sakura kehilangan rona merahnya, berganti raut sedih. Ia baru saja mengingat ucapan ayahnya dua malam lalu. Ayahnya masih mempertahankan Shikamaru. Begitu pikir Sakura.

"Sasuke, pergilah dengan Sakura sebentar," ucap Naruto kemudian. Sasuke menoleh.

"Tapi setelah makan. Aku sudah lapar," sahut Kiba yang sudah hadir di antara mereka. Keempat pemuda berbeda usia itu segera melahap makanan yang sudah dibawakan pelayan. Kemudian, Naruto meminjamkan mobilnya pada Sasuke.

Hanya ada Sakura dan Sasuke sekarang di dalam mobil. Sakura masih terus memandang pemandangan luar melalui jendela mobil.

"Kita ke mana?"

"Taman Ueno. Kau mau?" tanya Sasuke. Meski belum musim semi, Sakura mengangguk jika diajak ke Taman Ueno. Sasuke mempercepat mobilnya, dan mereka segera sampai di Taman Ueno. Sakura segera memilih sebuah tempat duduk di sekitar kolam yang ada di taman tersebut.

"Jadi?" tanya Sasuke, berusaha membuka pembicaraan. Ia duduk di samping Sakura.

Sakura menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman, menatap kolam tanpa menikmati kicau beburung yang sedang meminum air kolam, atau setidaknya mampir.

"Ayah sudah menyiapkan calon untukku."

Sasuke seolah tidak terkejut mendengarnya. Sudah kuduga.

"Kejadian malam itu, seolah tak mempengaruhi rencana ayah,"

"Dan kau harus menuruti kemauannya, kan?" tanya Sasuke meyakinkan Sakura.

Tapi Sakura menubruknya, menangis di dadanya. Menumpahkan semua rasanya. Sedih, takut, marah, dan…rindu. Sasuke menangkupkan kedua tangannya, memeluk Sakura demi menjaga keseimbangan Sakura.

"Kau harus menunjukkan baktimu," ujar Sasuke. Hatinya tidak bisa dibohongi, dirinya juga ikut goyah saat Sakura menangis di depannya, bahkan di pelukannya.

"Aku hanya mau dirimu," ujar Sakura di sela isaknya. Sasuke mengelus kepala Sakura, menyentuh rambutnya.

"Apa yang kita mau, belum tentu yang terbaik untuk kita, kan?" sahut Sasuke. "Aku yakin kau mampu, Sakura. Kau kuat," Sasuke meyakinkan Sakura. Dibiarkannya ibu jari kekar itu mengusap pipi Sakura, berusaha menghapus airmatanya.

Hening menemani mereka, membiarkan keduanya asik dengan pikiran masing-masing.

"Kau tak memperjuangkanku, Sasuke?" tanya Sakura. Sasuke mengeratkan pelukannya. Hanya diam beberapa jenak, membiarkan dirinya menata kata untuk diucapkan.

Aku tak tahu apakah aku tak berjuang. Tapi aku tak mau mengusik garismu.

"Sakura, aku yakin kau mengerti," jawab Sasuke akhirnya, di sela helaan nafasnya. Berusaha keras dikuasainya emosi yang menggelegak. Ingin ia memberontak, menyatakan bahwa ia akan memperjuangkan Sakura. Tapi, ia tak ingin merusak kehormatan Keluarga Haruno. Sangat tidak ksatria.

Sakura membiarkan dirinya ada dalam pelukan Sasuke beberapa waktu. Hingga akhirnya ia bisa menjauhkan tubuh mereka. Mengusap airmatanya. Kini Sasuke melihat Sakura sudah tak segalau tadi, saat mereka baru sampai di Taman Ueno.

"Aku tahu. Tapi aku butuh waktu," ujar Sakura. Sasuke mengangguk, tersenyum pada Sakura. Mereka makan malam di pinggir jalan. Sasuke bercerita tentang Okinawa yang dilihatnya pada Sakura.

Akhirnya Sasuke menjemput Naruto di resto tempat mereka berpisah. Saat Sasuke pergi ke belakang, Naruto menatap Sakura, sahabatnya.

"Bagaimana?" tanya Naruto.

"Ia tak akan memintaku pada ayah. Terutama ia tahu bahwa Ayah sudah menentukan bahwa Nara Shikamaru adalah calon suamiku," jawab Sakura. Matanya menatap ruang kosong di langit-langit. Tak nampak Sakura sedang melihat sesuatu.

"Jadi?"

"Ia melepasku," ujar Sakura. Mendengar itu Naruto segera mengepalkan tangan.

"Tak bisa dibiarkan. Kalian salah, kalian salah."

Usai berkata dengan nada tinggi, Naruto berbalik menuju arah Sasuke pergi tadi. Sakura terkejut dengan reaksi Naruto.

Apa yang salah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar