Minggu, 17 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #17 [end]

Apa yang salah?

Sakura tidak mengerti dengan kalimat Naruto. Ia sudah pusing memikirkan hal ini: dirinya, Sasuke, dan perjodohan. Ia hanya diam sampai akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sebuah kursi, memesan minuman. Ya, ia butuh asupan mineral saat ini.

Sementara di bagian Naruto, tampak ia menunjukkan wajah tidak ramah. Apalagi wajah ceria seperti biasanya. Langkah kakinya tidak sabar dan menunjukkan kesal. Ternyata bila kesal, ia akan menyalurkan perasaan itu ke seluruh tubuhnya, termasuk kaki. Ia memasuki bagian resto itu, membelok dan berhenti di depan pintu. Pintu sebuah ruang khusus lelaki. TOILET PRIA

Digenggamnya engsel pintu, dan mendorong pintu melalui engsel itu. Membiarkan dirinya masuk ke ruang khusus. Ia tak mendapati Sasuke di dalam ruang itu. Tapi ia sadar, ada bilik-bilik lagi di dalam ruangan itu. Bisa saja Sasuke ada di salah satu bilik itu.

"Sasuke."

Sasuke mendengar suara yang sangat familiar milik Naruto. Tapi kali ini nadanya tinggi.

Hhhh, ada apa lagi dengan anak itu. Sasuke kembali membatin. Segera diselesaikannya urusan kecilnya, kemudian membuka pintu bilik.

"Sasuke," panggil Naruto seraya tiba-tiba menarik krah kemeja Sasuke.

"Naru.."

"Kau mau melepas Sakura? Jangan bodoh!" hardik Naruto tanpa memberi kesempatan Sasuke, bahkan untuk menyadari apa yang terjadi.

Naruto sudah mengepalkan tangannya dan hampir melayangkan kepalan itu bila Sasuke tidak mengumpulkan suara dan berbicara.

"Kupikir sudah jelas apa yang sering kita bicarakan," ujar Sasuke.

BUGG!

Naruto tetap memukul pipi temannya hingga bibir Sasuke menjadi jalan keluar darah yang terpercik.

BRUKK!

Naruto menghempaskan tubuh Sasuke hingga tersungkur. Sasuke bukan orang yang mudah dilumpuhkan, tapi keterkejutan dan beban pikiran telah menggoyahkan kewaspadaannya. Sasuke bersegera mengusapkan tangannya pada bibir berisi darahnya.

"Aku mau kita bertemu Tuan Haruno. Sekarang!" ujar Naruto lagi.

"Tapi…"

"Aku bilang sekarang!" Naruto semakin menegaskan.

Sasuke berdiri dan membiarkan dirinya serta Naruto diam. Hanya beberapa jenak.

"Kau harus buat janji dulu, Naruto," ujar Sasuke. Ia hanya ingin tahu apa maksud rekannya.

"Aku akan meneleponnya sekarang," sahut Naruto seraya mengambil ponsel di sakunya, menekan beberapa tuts. Di mata Sasuke, Naruto begitu cepat bertindak apa yang ada di pikirannya. Tapi, selama ini, tak selamanya kecerobohan Naruto itu berakhir kesalahan.

"Ya, Paman. Kami akan ke sana. Hanya 10 menit? Hmm, oke, tak sampai dua menit lagi kami sampai," ujar Naruto.

Tak sampai dua menit? Apa itu artinya dia akan…

Belum selesai Sasuke berpikir, Naruto sudah menarik tangannya, berjalan menyusuri lorong dan menemui Sakura untuk kemudian naik ke mobil Naruto.

"Eh? Ada apa Na…" panggil Sakura sambil berlari kecil. Naruto sudah berhasil membuatnya merasakan ketegangan. Belum lagi rasa ketakutan yang muncul akibat matanya menangkap noda merah di bibir Sasuke.

"Kita ke rumahmu. Ayahmu sudah menunggu," ucap Naruto. Akhirnya Naruto memasukkan Sasuke di jok depan, sementara ia mengemudi mobilnya. Sakura otomatis duduk di jok belakang.

"Pegangan yang kuat," Naruto memerintah kedua penumpangnya. Tak disangka, kecepatan melebihi 100 km/jam. Kontan membuat Sakura mengeratkan pegangannya pada jok mobil Sasuke di depannya. Sementara Sasuke memegang tangan Sakura, mencoba menenangkannya.

"Naruto," panggil Sasuke.

"Apa? Kalian sempat-sempatnya bermesraan," cibir Naruto. Sakura mendadak melepas tangannya dari pegangan Sasuke ketika mendengar ucapan Naruto.

Sementara itu, Gaara datang ke panti asuhan. Didapatinya Nenek Chiyo sedang membereskan sisa makan malam.

"Nek."

"Hhh, sejak Sasuke ke Okinawa, hanya kau yang kemari. Ah tidak. Malah sejak Sasuke diterima di Kementerian, ia sudah tidak sempat lagi kemari," ujar Nenek Chiyo sambil membawa piring kotor ke dapur. Gaara yang membantu menutup jendela rumah hanya menyunggingkan senyumnya.

"Kudengar hari ini ia ke Tokyo, Nek, sampai 3 hari ke depan," sahut Gaara. Ia berusaha memelankan suaranya agar tak terdengar anak-anak yang sudah tidur. Nenek Chiyo menoleh.

"Ke sini?"

Bukan suara Gaara yang segera didapat Nenek Chiyo, tapi sebuah senyum dan gelengan pelan.

"Ia ke Tokyo karena proyeknya yang didanai Haruno, Nek."

"Lagi-lagi Haruno. Tapi, Gaara. Bagaimana hubungan dua anak muda itu?" tanya Nenek Chiyo. Piringnya sudah selesai ia cuci. Gaara membantu meletakkan piring-piring itu ke rak khusus.

"Baik, Nek. Nenek tenang saja," jawab Gaara akhirnya. Dipeluknya nenek tua itu dari belakang. Bagi Gaara, Nenek Chiyo sudah seperti neneknya.

Semoga kalian memang mendapat yang terbaik. Gaaara membatin. Ia teringat malam itu, saat Sasuke melakukan hal gila.

IiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiI

Benar saja, belum ada dua menit tapi mobil sport milik Naruto sudah berdecit di halaman istana Keluarga Haruno.

"Naruto. Ayah di dalam," ucap Sakura perlahan.

"Itu tujuanku, Nona. Mempertemukan kalian dengan Tuan Haruno agar semua jelas. Istilahnya, clear." jawab Naruto. Sakura membelalakkan matanya, menatap Naruto tajam.

"Kau…aku benci!" bentak Sakura seraya meraih pegangan mobil, kemudian membuka pintunya. Kasar Sakura menutup pintu itu hingga terdengar sangat keras. Sementara Sasuke mulai berpikir akan semua hal yang berkaitan antara dirinya, Sakura, Tuan Haruno, dan Naruto. Mulai berkelebatlah bayangan saat mereka masih kecil, perkenalan dengan Sakura, kemudian perbincangan dengan Tuan Haruno.

Akhirnya Sasuke menghela nafasnya, membuka pintu mobil dengan santai, tidak menggebrak seperti Sakura.

"Arigato, Naruto. Meski aku tak mengerti, semoga kali ini adalah hal yang baik," ucap Sasuke saat keduanya sudah di depan pintu utama. Sakura sudah disambut Shizune dan Tuan Haruno. Kemudian Tuan Haruno mengajak kedua anak muda itu masuk.

Sasuke melangkahkan kakinya memasuki istana Haruno itu. Mereka berdua masih bersikap formal pada Tuan Haruno. Membungkuk, dan baru duduk setelah dipersilakan oleh sang tuan rumah. Sakura ikut duduk di samping ayahnya, ditemani Shizune yang berdiri.

Pelayan segera menghidangkan minuman dan kue coklat untuk tamu dan tuan mereka.

"Jadi?" tanya Tuan Haruno. Lagi-lagi langsung pada intinya. Naruto yang memang tidak mau membuang 10 menitnya segera menjawab.

"Aku hanya ingin Paman menjelaskan pada Sasuke ini semuanya" jawab Naruto. Tuan Haruno melihat wajah panik dua anak muda di hadapannya hanya terkekeh, membuat Sasuke dan Naruto terkejut. Tak mengerti apa yang lucu.

Pun Sakura, merasa heran dengan ayahnya yang terkekeh mengetahui dua rekannya panik.

"Aku tak mengerti maksudmu, Uzumaki. Apa yang harus kujelaskan?"

Naruto menggaruk-garuk kedua lututnya dengan tangannya, menunjukkan ia merasa bingung.

"Hahaha, lihatlah. Kau sendiri bingung, bukan?" Tuan Haruno terus tertawa. Sejak Naruto bayi, memang ia selalu membuat Tuan Haruno tertawa. Kali ini, Naruto benar-benar membuat Tuan Haruno tertawa.

"Begini Paman. Aku tidak yakin Paman rela Sasuke dan Sakura berpisah," ujar Naruto. Sasuek menoleh ke arah Naruto, sementara Sakura malah menunduk.

"Bisa lebih jelas, Naruto?" tanya Tuan Haruno. Meski yakin arah pembicaraan anak muda itu, tapi tidak salah meyakinkan, kan?

"Tentang hubungan Sasuke dan Sakura, Paman."

Tuan Haruno menghela nafasnya, menyandarkan punggung pada sofa.

"Menurut kalian?" Tuan Haruno balik bertanya yang tentu saja membuat Sasuke dan Naruto bingung. Tapi bukan Naruto namanya bila ia tak mampu menjawab cepat.

"Paman merestui hubungan mereka, kan?" tanya Naruto meyakinkan dirinya. Sasuke cepat memotong.

"Maaf, Tuan. Menurut saya, Tuan tentu sudah memikirkan masa depan Nona Haruno sebaik mungkin. Dan keputusan Tuan menjodohkan Nona Haruno dengan Tuan Muda Nara sudah tepat. Meski…" Sasuke berhenti di sini. Matanya menatap Tuan Haruno, tak mengindahkan Sakura.

"Meski?"

"Meski saya lebih setuju bila Tuan Muda Inuzuka yang menjadi pendamping Nona Haruno," lanjut Sasuke setelah disela Tuan Haruno.

Kembali hening usai Sasuke melontarkan pendapatnya. Naruto semakin geram dengan Sasuke.

"Apa alasanmu?" tanya Tuan Haruno akhirnya.

"Saya melihat Tuan Muda Inuzuka pantas untuk menjaga Nona Haruno, meski beliau tidak sesempurna Tuan Muda Nara. Tapi, Tuan. Pendapat saya ini mungkin karena saya lebih mengenal Tuan Inuzuka dibanding dengan Tuan Nara. Jawaban saya akan berbeda bila saya mengenal keduanya," Sasuke menjelaskan panjang lebar pendapatnya.

"Begitukah? Ada lagi?"

"Saya melihat…cinta di mata Tuan Inuzuka, tapi tidak ada di mata tuan Nara,"

"Dan di matamu? Adakah?" tanya Tuan Haruno. Sukses ia membuat Sasuke tersentak, menoleh pada Naruto, Tuan Haruno, dan Sakura. Matanya menunjukkan perkataan hatinya: aku tidak percaya dan tidak mengerti maksud Tuan Haruno. Seketika warna merah menjalar ke wajahnya, menghasilkan rona merah yang menunjukkan bahwa Sasuke Uchiha malu.

"Saya…" jawab Sasuke terbata. Ia masih menguasai dirinya yang terbawa emosi.

"Kalaupun ada, tak akan berpengaruh untuk masa depan Nona Haruno bukan, Tuan? Saya sadar dengan status sosial saya, juga status sosial Nona. Saya tidak akan berbuat seperti di film-film picisan. Saya yakin, bakti Nona adalah pada Tuan, ayahnya." jawab Sasuke retoris.

Jawaban barusan mampu membuat Tuan Haruno menyunggingkan senyum, menarik kedua ujung bibirnya disertai penyipitan mata tua.

"Kata siapa tidak berpengaruh?" Tuan Haruno seolah mengajak Sasuke adu pendapat. Tapi, melihat Sasuke siap menjawab, Tuan Haruno segera melanjutkan,

"Sebenarnya aku memang merencanakan pernikahan Sakura dan Nara Shikamaru sejak lama. Bahkan sejak mereka kecil. Hanya saja, baru akhir-akhir ini Nara Shikamaru menyatakan bersedia menikah dengan Sakura."

Benar, kan, dugaanku. Sasuke kembali membatin.

"Tetapi, hal itu berubah sejak malam itu, sejak kau melamar anakku, Sasuke," ujar Tuan Haruno. Kontan saja Sasuke dan Sakura menoleh pada lelaki tua yang dikenal bijaksana itu.

"Berubah bagaimana maksud Ayah? Bukankah…" Sakura yang sejak tadi diam mulai memotong kalimat ayahnya.

"Kau terlalu linglung, putriku, sepertinya. Aku ayahmu, aku mengenalmu sejak kau di dalam kandungan. Maka, aku memberikan jalan terbaik untukmu. Sebuah rencana baru di malam itu," Tuan Haruno melanjutkan sambil mengubah posisi duduknya jadi agak menghadap ke Sakura.

"Kalau aku benar menduga, maka rencana baru itu untuk Sakura dan Sasuke, Paman?" tanya Naruto mencoba meyakinkan dirinya. Kembali tuan haruno terkekeh.

"Ah, kau, Naruto. Harusnya kusimpan sampai 4 tahun hal ini," jawab Tuan Haruno sambil memegangi gelas minumnya. Dengan gerak tubuh, diajaknya yang lain untuk minum juga.

Namun, apa ada orang tegang yang bisa minum sendiri? Hanya Naruto yang refleks memegang gelasnya juga, menenggak habis minumannya.

"Tapi karena kalian memaksa, maka kukatakan sekarang. Sasuke, Sakura, bersiaplah." Ujar Tuan Haruno. Kemudian ia menceritakan flashback perasaannya sejak malam itu.

Berani sekali lelaki itu. Berkata di depan panggung, melamar anakku. Dan barusan, dia bilang itu perasaannya? Apa dia terpesona fisik Sakura? Atau hartaku?

Tapi, lelaki berpendidikan sepertinya tentu punya pemikiran yang tidak kerdil, seperti biasanya di tempat kerja. Akan kucoba ia di tempat baru. Biar kulihat apa yang selanjutnya harus kulakukan.

Ya, kutulis surat mutasi untuk menempanya.

Dan aku yakin, dia orang yang tepat untuk Sakuraku.

"Begitulah." Ujar Tuan Haruno singkat. Kembali Sakura dan Sasuke meronakan wajah mereka. Sama menunduk di depan Naruto, Tuan Haruno, dan Shizune.

"Jadi, Sasuke, apa kau tetap ingin melepas Sakura?" Tuan Haruno bertanya pada Sasuke yang masih menunduk. Ia mendongak akhirnya untuk memberi jawaban.

"Saya hanya menunggu restu dari Anda, Tuan," jawab Sasuke. Lagi-lagi diplomatis. Sesuatu yang disukai Tuan Haruno.

"Meski kau moderat, kau masih mengusung bakti pada orangtua, Sasuke. Aku suka itu. Tenanglah, aku merestuimu."

Jawaban Tuan Haruno memberi seulas senyum bahagia pada wajah Sasuke.

"Terima kasih, Tuan," ujar Sasuke.

"Lantas, bagaimana dengan Nenek Chiyomu itu?"

Pertanyaan Tuan Haruno membantu Sasuke untuk ke sekian kalinya kembali tersentak. Dari mana Tuan Haruno tahu tentang nenek Chiyo?

Mereka semua terdiam. Sasuke sangat tahu tentang ketidaksetujuan neneknya. Begitupun Sakura. Keduanya tahu hal itu.

"Hmm, besok kita akan bertemu dengan nenekmu itu. Sekarang sudah malam. Semua jelas, bukan?" tanya Tuan Haruno usai memberi keputusan.

Malam kali ini berbeda bagi Sasuke, juga Sakura. Naruto tersenyum melihat kejadian di depannya itu. Kedua lelaki muda itu berpamitan. Meninggalkan istana Haruno dengan status Sasuke yang baru: calon menantu.

++THE END++

3 komentar:

  1. Panjang ceritanya...bisa bikin buku sendiri ini mah. :D

    Ana nggak pernah ngikutin Naruto, jd malah bisa berpikir bahwa ini benar2 cerita original. Tinggal ganti nama2 karakternya aja. :D

    Settingnya Jepang modern ya? Kalo Naruto kan jaman ninja gitu.

    BalasHapus
  2. xixi, kalo dibikin buku, bingung nulis tokoh-tokohnya, secara May kudu nyari data lagi :D *nyari data sungai murasaki, taman ueno, sama oxford kan nggak gampang :D

    tapi pengen sih ini jadi buku, suatu hari, untuk konsumsi anak-anak kali ya?

    BalasHapus
  3. btw ceritanya emang orisinil kok :)

    BalasHapus