Jumat, 01 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #7

Hari baru telah datang. Sakura Haruno sudah siap dengan rutinitasnya. Berolahraga, sarapan, dan menjalani agenda yang telah dijadwalkan. Sejenak ia melupakan apa yang menjadi pertanyaannya semalam.

Di lain tempat, sebuah bimbingan belajar khusus bangsawan menjadi pilihan seorang pemuda. Rambutnya kini tertata rapi. Kemeja biru lengan panjang dengan celana bahan berwarna hitam telah menjadi pakaian resminya. Namanya Uchiha Sasuke. Kini ia menjadi pengajar di bimbingan belajar itu.

"Uchiha-san," panggil seorang lelaki, sesama pengajar. Shino Aburame namanya. Lelaki irit tawa dengan kacamata bertengger di depan matanya, berkemeja lengan pendek. Sasuke memperkirakan usia Shino tidak jauh darinya.

"Ya," jawab Sasuke. Pagi ini Shino adalah partner piketnya.

"Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu," ujar Shino. Langsung pada topik. Sasuke segera mengambil kursi di dekatnya, duduk. Begitupun Shino, langsung duduk di samping Sasuke.

"Silakan."

"Kudengar, kau pernah kuliah di London?" tanya Shino. Sasuke tersenyum,

"Ya, Lantas?"

"Jadi kau juga mengamati kondisi sosial masyarakat di London?"

"Lalu?"

"Hei. Kau selalu balik bertanya bila kutanya. Jawablah," ujar Shino agak merajuk.

Sasuke hanya tertawa kecil mendengar nada rajukan Shino.

"Anggap saja jawabanku 'iya'. Bagaimana?" Lagi-lagi Sasuke berintonasi tanya pada ujung kalimatnya.

"Baiklah. Aku hanya ingin kau bercerita kondisi masyarakat—kalangan atas—di London."

"Kurasa…kau ingin membandingkannya dengan di bimbel ini ya?" Sasuke masih tertawa kecil menyahuti ucapan Shino. Akhirnya mereka pun terlibat pembicaraan seru. Shino mendapati bahwa gaya kebangsawanan di Jepang masih jauh manusiawi dibanding di Barat sana, khususnya di London, tempat Sasuke pernah tinggal.

Mereka asik berdiskusi hingga akhirnya waktunya Sasuke mengajar. Kelas pertama yang akan diajarkannya mulai hari ini, hari pertama kerja.

Langkah kakinya terhenti di depan pintu geser sebuah ruangan.

R-3D
Ruang 3D, setara dengan 3 SMP di sekolah umum. Dan memang, pelajarannya untuk siswa kelas 3 SMP.

Ya. Bersiaplah untuk Ilmu Kemasyarakatan. Batin Sasuke seraya menggeser pintu itu hingga terbuka. Ia melangkah tenang meski tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah bangsawan-bangsawan.

"Selamat siang. Saya, Uchiha Sasuke, pengajar baru di sini. Menurut jadwal, kali ini saya akan mengajar Ilmu Kemasyarakatan. Bisa kita mulai?"

Seorang siswa berkacamata mengangkat tangannya. Si rambut hitam, Sai.

"Hmm, Kak. Kakak lulusan mana?"

"Perlukah diketahui saya kuliah di mana?"

"Saya rasa itu perlu. Agar kami tahu kualitas pengajar kami," jawab Sai dengan nada khasnya—angkuh.

"Kualitas pengajar bukan ditentukan dari tempat belajarnya, bukan? Tapi dari cara belajar dan kemampuannya menyerap semua pelajaran yng diberi sang guru," jawab Sasuke diplomatis.

"Apa kakak malu untuk menyebut universitas Kakak?"

"Oh, jadi kita akan membahas tempat saya belajar? Baiklah. Sepeertinya saya suka dengan kelas ini. Menarik." Sasuke tersenyum, mengarahkan pandangan matanya ke ruang kelas itu, terisi 5 orang siswa, keluarga bangsawan. Sasuke kemudian mengalihkan matanya pada whiteboard dan menulis di sana.

OXFORD

"Lulusan Oxford?" tanya siswa tadi, masih Sai.

"Saya masih kuliah di sana. Sekarang ini sedang menulis tugas akhir, sebuah perbandingan kehidupan masyarakat kelas bawah di Tokyo dan London," jawab Sasuke, masih dengan tersenyum.

"Mau-maunya meneliti hal begitu," celetuk siswa lain, berambut pirang. Nagato.

"Menurut kalian, bagaimana dengan kehidupan kelas bawah?"

"Kurasa akan bagus bila kita berkenalan dulu namaku Nagato, yang tadi pertama menyapamu, Sai. Gadis berambut biru tua itu, Hyuuga Hinata. Kemudian, gadis berambut biru, Konan. Terakhir, Juugo. Siswa yang berambut sama sepertiku."

Sasuke mengikuti arah pengenalan yang dilakukan Nagato. Mereka mulai meneruskan diskusi mereka.

"Terima kasih. Sepertinya waktu kita di kelas ini sudah habis. Lagipula, jam istirahat sudah terdengar. Untuk diskusi di luar kelas, silakan temui saya di ruang piket."

Sepertinya aku menyukai tempat ini. Batin Sasuke.

"Kak Sasuke," panggil seseorang menghentikan langkah Sasuke. Nagato, lelaki tadi. Siswa yang seolah mencoba mengakrabkan diri dengan Sasuke. Koridor yang diapit ruang kelas menjadi tempat mereka kini. Sasuke menoleh dan menunggu Nagato yang menyusulnya.

"Jadi benar, kau meneliti tentang masyarakat kelas bawah?"

"Ya."

"Dan..apakah benar, bahwa kau juga termasuk kalangan mereka?"
Sasuke diam sebentar. Teringat akan kejujurannya di tengah diskusi tadi.

"Ya."

"Tapi…bagaimana bisa?"

"Dengan ini," jawab Sasuke seraya menunjuk kepalanya. "Kau juga bisa mendapat beasiswa bila memakai otak. Toh, beasiswa bukan hanya untuk orang kurang beruntung secara materi. Beasiswa itu lebih karena prestasi. Itu yang kutahu," Sasuke melanjutkan dengan mantap, menatap ke arah Nagato.
Nagato menyejajari Sasuke, masih berjalan dengan diam.

"jadi…ini sisi lain kehidupan, ya?" tanya Nagato. Sasuke menoleh.

"Eh?"

"Ya. Kau adalah tokoh di episode sisi lain kehidupan. Sisi lain kehidupan yang pernah kulihat, kualami. Selama ini kutahu hanya orang miskin tidak bersekolah tinggi. Meski negara menggratiskan beberapa sekolah, tapi mereka tidak memanfaatkannya. Itu semua karena mereka pikirkan ekonomi mereka. Perut mereka. Tapi..kau melakukan hal beda, Kak."

"Hmm.." ujar Sasuke usai membiarkan hening sejenak menguasai mereka. "KAu tipe pemikir juga, ya?" tanya Sasuke. "Aku suka itu."

"Eh?"

"Ya. Aku suka pemikir sepertimu. Aku yakin, kau akan menjadi orang hebat yang tidak berlindung pada harta keluargamu, dan kekuasaannya," lanjut Sasuke menanggapi keheranan Nagato.

"Terima kasih, kak."

"Sama-sama."

Mereka berdua menyusuri koridor dan berpisah di depan ruang piket.

Sementara itu, sebuah limousin baru saja melewati bimbingan belajar tempat Sasuke kerja. Sakura Haruno di dalamnya tidak menyadari bahwa Uchiha ada di dalam gedung yang dilewatinya. Tujuannya adalah Gedung Inuzuka, tidak lainnya. Kali ini ia sedang mengikuti alur agenda Shizune, sebuah pertemuan untuk merencanakan kehidupan gedung yang baru semalam diresmikan. Ia harus mengejar waktu, sama seperti peserta rapat lainnya. Seharusnya hasil sudah ditentukan kemarin pagi, tapi karena Sakura sempat hilang, maka keputusan gagal diambil.

"Nona, apakah Anda tidak apa-apa?" tanya Shizune, mengingat Nona-nya pulang dini hari, tidak seperti biasanya. Hanya anggukan saja diterima Shizune sebagai jawaban. Tampaknya Sakura malas berbicara.

Waktu beranjak mengantar mereka ke pintu utama gedung. Segera Sakura menuju ruang rapat, ditemani Shizune.

"Sakura. Eh maksudku, Nona Haruno," panggil Kiba di dekat pintu depan.

"Kiba."

"Kau segar hari ini, meski kami membuatmu begadang semalaman," ujar Kiba. Senyum manis Sakura menjadi sahutan atas pujian Kiba. "Kau sudah siap? Mari," ajak Kiba. Mereka bersama menuju ruang rapat.

"Kiba. Nanti aku ingin bicara denganmu," ujar Sakura.

"Aku juga," ucap Kiba.

Rapat pun berjalan dengan Hyuuga Hiashi sebagai pemimpinnya. Keputusan didapat 3 jam kemudian. Karena lelah, peserta rapat seera menyerbu kantin di gedung tersebut. Kiba mengajak Sakura ke resto siap saji.

"Kiba, bisa jelaskan kenapa bisa dirimu ada 2?" tanya Sakura segera setelah memesan makanan.

"Apa itu penting, Sakura?"

"Aku rasa…iya." Jawab Sakura. Dilihatnya Kiba memainkan sesuatu di tangannya.

"Aku tahu kau bukan seorang yang sekedar ingin tahu sesuatu. Apa ini ada hubungannya dengan…Sasuke?" tanya Kiba, bernada menyelidik.

"I..iya.." jawab Sakura usai menenangkan degup jantungnya. Mendengar nama Sasuke saja sudah membuatnya salah tingkah.

"Kenapa?"

"Ya. Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu tertarik dengan semua yang terkait dengan Sasuke itu. Termasuk kembaranmu itu, Kiba. Aku masih heran. Mungkin bila hanya wajah yang mirip aku tak begitu heran. Toh manusia di dunia ini juga memiliki doppelganger—kembaran—kan? Tapi bila nama saja sama…"

"Justru doppelganger itu karena hampir semua sama, bahkan dengan nama. Tapi percayalah Sakura. Aku tidak pernah pergi ke tempat sekumuh itu. Singkatnya, mungkin bisa kujawab….rencana Tuhan? Kebetulan?" Kiba tidak mau kalah berargumen.

"Baiklah. Sementara ini pendapatmu kuterima."

Sakura dan Kiba menerima pesanan masing-masing.

"Tapi, Kiba…tadi kau ingin bicara sesuatu?" anya Sakura kemudian. Bentonya sudah siap dengan sumpit yang dipegangnya.

"Makanlah dulu. Bangsawan tidak boleh makan sambil berbincang," Kiba seolah mengingatkan Sakura akan pelajaran etika yang tadi diterimanya. Sakura tersenyum, lalu memakan bentonya. Membiarkan acara makan itu menjadi jeda pelepas lelahnya.

"Sekarang kita sudah selesai." Ucap Sakura.

"Aku suka padamu. Aku suka pada hatimu. Aku ingin kita terikat pada pernikahan. Bersediakah?" tanya Kiba usai mereka makan.

Sasuke berjalan menuju taman kota, menuju kediaman bangsawan Haruno. dilewatinya pintu gerbang. ia tak sungkan untuk bicara pada petugas penjaga bahwa ia ingin bertemu dengan nona Haruno mereka.

"Sasuke?" sapa Sakura Haruno. malam sudah menjadi latar mereka, tapi wajah Sasuke tidak dapat mudah terhapus dari pandangan Sakura sehingga ia mengenali Sasuke meski dalam balutan kemeja. Sakura segera keluar dari limousinnya.

"Saku...maaf. Nona Haruno," sahut Sasuke.

"ada apa? Ah, baiknya kita masuk. boleh, kan, Tante?" ucap Sakura sambil menoleh pada Shizune.

"Silakan."

"Tidak perlu. aku hanya ingin tahu keadaanmu saja. dan, aku ingin mengajakmu ke Kitakyushu," ujar Sasuke.

"Akuarium hm?" tanya Sakura.

"Kau tahu?" tanya Sasuke. Melihat Sakura mengangguk, Sasuke melanjutkan,"Sabtu ini kita ke sana. aku akan menjemputmu, dan menunjukkan sis.."

"Sisi lain kehidupan, kan?" potong Sakura. Sasuke tersenyum. akhirnya ia pamit dan kembali ke panti asuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar