Jumat, 01 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #8

Matahari Sabtu kali ini menjadi tidak biasa bagi Sakura Haruno. Ya, hari ini ia diizinkan untuk tidak menjalani berbagai agenda yang dijadwalkan. Hari ini pula ia akan pergi berama Sasuke Uchiha.

"Kencan?" tanya Shizune yang sudah berdiri di belakang nonanya itu. Sakura sedang asik memtut diri di depan kaca. Khas gadis remaja yang akan pergi kencan.

"Eh?"

"Hihi..ya, Nona akan kencan, ya?" goda Shizune, menyadari perubahan pada ekspresi wajah Sakura Haruno. "Semoga sukses, ya," lanjut Shizune. Ia melangkah pergi dari kamar besar nonanya. Dia sama seperti gadis lainnya.

"Tante.." panggil Sakura beberapa saat saat Shizune melangkah. "Boleh aku pergi tanpa pengawal?" tanya Sakura melanjutkan panggilannya. Shizune menoleh, kemudian mendekat.

"Hmm, kurasa kita akan membiarkan Sasukemu menunggu lebih lama," ucap Shizune saat memegang sisir yang sejak tadi dipegang Sakura. Masih dengan nada menggoda.

Sementara itu, Sasuke baru saja memasuki gerbang istana Sakura. Pelayan mempersilakan ia duduk di ruang tamu. Seperti biasa, seorang tamu akan dijamu dengan minuman khas keluarga Haruno. Sasuke dengan kaos biru berkerah dan jaket coklat muda serta celana jeans lembut menjadi pilihannya. Tersenyum ia mendapati penampilannya. Seperti saat kuliah di London, saat tingkat awal. Lantas, bagaimana dengan Sakura? Pikirnya segera.

Pikirannya membuahkan hasil. Gadis cantik di depannya telah hadir dengan penampilan baru. Kagum? Tentu. Kagum dengan penyamaran yang dilakukan Sakura Haruno. Rambutnya dikepang. Pakaiannya tidaklah semewah Sakura Haruno yang biaanya, namun tetap anggun. Rok terusan berwarna peach dengan rompi putih.

"Sasuke. Maaf membuatmu menunggu," ucap Sakura. Sasuke yang berdiri sejak tadi hanya bisa tersenyum.

"Tidak seperti yang biasa, ya?"

"Iya. Tante Shizune yang mengusulkan, karena kita tidak akan menggunakan mobilku."

"Hei…sudahlah. Ayo," ajak Sasuke. Mereka berdua segera naik shinkansen ke Kitakyushu. Kereta bawah tanah yang menghubungkan ratusan stasiun itu kini Sakura naiki bersama Sasuke. Usai membeli tiket di mesin penjualan, mereka menunggu di peron.

"Belum pernah?" tanya Sasuke.

"Sudah. Saat di London," jawab Sakura segera. Kereta yang mereka tunggu datang tepat dengan jadwal yang tertera di papan sebelah mesin penjualan tiket. Ya, bila kereta datang lebih lambat atau lebih cepat 1 menit, sudah tentu fatal akibatnya. Bukan karena ketertiban waktu, tapi karena kecelakaan yang tak dapat dihindarkan nantinya. Sasuke dan Sakura segera masuk melalui pintu yang terbuka otomatis. Kebetulan sekali, kereta sedang tidak penuh, sehingga mereka bisa duduk di bangku panjang yang menempel pada dinding kereta.

"Kata Naruto…" ucap Sakura.

"Naruto? Uzumaki Naruto maksudmu?" tanya Sasuke.

"Iya. Katanya, di Kitakyushu ada akuarium air tawar," lanjut Sakura sambil mengangguk.

"Ya. Naruto memang suka..ah, kita sampai."

"Cepat sekali," kata Sakura heran.

"itu karena kita diam saja. Dan baru bicara beberapa sat lalu," jawab Sasuke, masih dengan tersenyum.

Mereka melangkahkan kaki menuju trotoar Kitakyushu. Berjalan kaki cepat seperti warga Jepang lainnya. Keduanya menikmati tepian sungai pembelah kota. Duduk sebentar di rest area, kemudian melanjutkan jalan hingga tiba di tempat tujuan. Akuarium air tawar dengan atap melengkung berisi air tawar sungai Kitakyushu.

"Wah!" pekik Sakura menunjukkan gembira hatinya.

"Kau suka?"

"Iya. Indah."

Mereka terus menelusuri akuarium raksasa itu.

"Sasuke-kun, Naruto sudah pernah ke sini, katanya. Dengan gadisnya," ucap Sakura.

"Dari mana kau belajar memanggilku dengan embel-embel –kun?"

"Kau marah?" tanya Sakura, mengubah ekspresi wajahnya. Tapi tetap saja cantik meski wajahnya menunjukkan takut.

"Tidak. Hanya lucu saja." Ucap Sasuke menjawab, sebelum didikuti tawa khasnya.

"Aku juga ke sini dengan gadisku," ucap Sasuke. Seolah tidak mau kalah dengan pernyataan Sakura tentang Naruto. Tak ayal, ucapan Sasuke membuat gadis kepang itu menautkan kedua alisnya.

"Eh? Kau ke sini dengan gadismu?"

"He eh."

"Siapa? Kau tak pernah mengenalkannya padaku selama aku di panti asuhan."

"Apa penting bagimu?"tanya Sasuke. Sakura hanya diam. Tidak berani menjawab. "Sudah, nikmati saja perjalanan kali ini," ujar Sasuke melanjutkan ucapannya. Aku belum siap bilang padamu, Sakura. Sasuke membatin dan mengutuki dirinya yang tadi sempat kelepasan bicara.

"Sasuke."

"Tanpa –kun?" goda Sasuke saat Sakura memanggilnya tanpa embel-embel –kun lagi.

"Kau tahu Inuzuka Kiba?"

"Keluarga Inuzuka…hmm, aku pernah dengar. Namanya pernah muncul dalam berita terkait pajak," jawab Sasuke sambil memandang Sakura.

"Kau tahu? Kiba yang kita temui di sekolahmu sama persis dengan Inuzuka Kiba."

"Lantas?"

"Aku masih tidak mengerti kenapa bisa, Sasuke."

Keduanya diam. Meski cerdas, Sakura tetaplah gadis berusia 16 tahun. Sasuke tersenyum. Mungkin Sakura memang belum pernah mendengar tentang kemungkinan doppleganger atau hal lainnya.

"Kau tahu doppleganger? Itu bisa jadi kemungkinan. Tapi rasanya sangat aneh bila keduanya sangat nyata dalam waktu yang lama. Aku kenal Kiba di sekolah sudah sangat lama," jawab Sasuke.

"Ya, aku sudah tanya Kiba Inuzuka. Jawabannya juga sama, doppleganger. Tapi…"

"Kau tahu, Sakura? Jawabanku. Itulah kuasa Tuhan. Dia menciptakan sesuatu yang sama, bukan karena kurang kreatif."

"Hemm? Benarkah?" tanya Sakura.

"Lihat itu," ucap Sasuke, menunjuk ke dinding akuarium. Terlihat garis di dalam akuarium itu. Sakura menoleh dan mengamati garis itu.

"Batas air?" kata Sakura, masih bernada tanya.

"Ya, batas air. Kau tahu, selain alasan ilmiah, ada alasan lain," jawab Sasuke.

"Apa?"

"Masih karena kuasa Tuhan," Sasuke bernada semakin mantap.

"Kau…begitu mengakui keberadaan Tuhan, Sasuke?" tanya Sakura.

"Ya. Kau mau mencoba?" tanya Sasuke usai menjawab singkat pertanyaan Sakura. Perlahan ia mengangguk. Apapun denganmu, rasanya sangat bermakna. Batin Sakura, begitu dewasa.

"Sasuke"

"Ya?"

"Apakah kuasa Tuhan juga bila aku menerima pernyataan cinta seseorang?" tanya Sakura. Sejenak keduanya diam hingga terdengar tawa khas seorang Sasuke.

"kau ini terlalu polos, Nona. Apa yang kita alami memang kuasaNya. Tapi, kita yang memilih garis awal yang akan kita alami. Meski…kita tak tahu apa yang akan kita alami. Tapi garis awalnya, kitalah yang memilih. Mengerti, Nona?" tanya Sasuke kemudian.

"Kau tanya begitu, karena ada yang keupikirkan tentang cinta?" Sasuke melanjutkan usai menghela nafasnya. Melihat Sakura mengangguk lemah, Sasuke melanjutkan lagi pertanyaannya,"Siapa?"

"Inuzuka Kiba,"

Tak ada yang nampak di wajah Sasuke. Padahal, Sakura sangat ingin mendengar ketidaksetujuannya. Datar, hanya sedikit ekspresi sisa tawa tadi. Masih dengan air muka wibawa, Sasuke menatap Sakura.

"Lakukan sesuai kata hatimu, Sakura. Aku akan mendukungmu," ucap Sasuke.

"Tapi…" Sakura berusaha mengelak. Teringat kejadian beberapa malam lalu, saat Sakura makan di resto siap saji bersama Kiba Inuzuka.

Sakura menahan degup jantungnya usai mendengar pernyataan Inuzuka Kiba di depannya. Bila mempertimbangkan kestabilan perusahaan, akan sangat baik bila mereka bersatu. Namun, Sakura Haruno yang masih remaja itu sangat memikirkan hatinya sendiri.

"Izinkan aku berpikir, Kiba," jawab Sakura masih dengan anggunnya seorang putri.

"Baiklah. Kuhormati apapun keputusanmu," ujar Kiba tak mau kalah wibawa dengan sang putri Haruno di hadapannya.

"Terima kasih. Sebaiknya aku pulang."
Kiba mengantar Sakura sampai pintu depan usai membayar makanan mereka. Supir limousin Haruno sudah menunggu.

"Kenapa?" tanya Sasuke. Dilihatnya Sakura menunduk. "Kalau kau tak suka akuarium, bilang saja. Kuajak ke tempat lain," lanjutnya lagi.

"Aku suka."

Mereka kembali menelusuri lorong akuarium raksasa. Hingga di ujung, kemudian keluar. Sasuke mengajak Sakura makan di pinggir sungai Murasaki.

"Sebentar. Kita pesan es krim, ya," ujar Sasuke. Sakura hanya mengangguk. Pemandangan di pinggir Sungai Murasaki adalah pemandangan elok yang menakjubkan. Tidak dapat dibayangkan bahwa tahun 1970-an Sungai Murasaki memiliki tingkat kekeruhan paling fatal.

Sakura duduk di kursi kayu bercat putih, menunggu Sasuke membelikannya es krim.

"Es krim strawberry-coklat. Kau suka?" tanya Sasuke sambil membawa dua gelas kecil es krim.

"Boleh."

Mereka menikmati es krim dan pemandangan yang menghampar. Sambil menikmati es krim, keduanya asik berbincang tentang rencana masing-masing bila menjadi pemerintah kota Kitakyushu. Diselingi tawa, rencana-rencana pun mengalir dari otak mereka.

"Sudah saatnya makan siang."

"Iya. Hmm, itu pelayannya," sahut Sasuke. Setelah dilambaikan tangan oleh Sasuke, sang pelayan pun menghampiri meja mereka berdua.

"Kencan, Sasuke?" tanya seseorang. Suara yang Sasuke dan Sakura kenali.

"Naruto?" sapa Sakura. Dilihatnya gadis berambut hitam sebahu yang tangannya digandeng Naruto.

"Ah, tidak. Hanya mengajaknya ke akuarium," jawab Sasuke santai. Berusaha mengelak.

"Hei, katamu kau akan ke sini dengan gadismu. Ini pertama kalinya, kan, kau ke sini?" goda Naruto. Sakura menoleh ke arah Sasuke yang masih sempat tertawa. Padahal Sakura teringat percakapan mereka di akuarium tadi, tentang gadis yang diajak Sasuke ke akuarium. Jantungnya kembali berdegup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar