Jumat, 01 Oktober 2010

Sisi Lain Kehidupan #9

"Naruto. Kau cerewet sekali, sih. Lihat hasilnya," ucap Sasuke sambil memberi kode pada Naruto untuk melihat ke arah Sakura. Terutama raut wajah yang kini berubah. Gads berambut hitam segera mendekati Sakura, memegang bahunya. Berusaha menenangkan dengan senyuman seadanya.

"Sakura, ikut aku sebentar. Naruto, tolong jaga meja ini, ya," panggil Sasuke, seolah tidak ada apa-apa. Sakura masih menahan malu yang tercetak pada kedua pipinya.

"Sakura?" tanya Naruto. "Hei, sejak kapan kau menyamar tanpa kusadari bahwa itu kau?"lanjutnya lagi. Sasuke yang sudah berjalan di depan Sakura hanya menoleh ke arah Naruto.

"Berisik."

Lalu Sasuke kembali berjalan menjauhi Naruto, mengajak Sakura bersamanya.

"Baiklah. Apa yang sudah kaudengar?" tanya Sasuke. Matanya masih menatap sungai di depan mereka. Sakura tidak langsung menjawab, ia masih diam, mengatur nafasnya juga degup jantungnya.

"Semua yang dikatakan Naruto."

"Hmm, begitu. Lalu, apa yang kausimpulkan?" tanya Sasuke lagi.

"Apa kita sedang berdiskusi, Sasuke?" Sakura balik bertanya. Siapa yang tidak gemas, ketika seseorang mengajakmu berdua saja setelah kaudengar pernyataan yang membuatmu sangat terkejut itu hadir, tapi ternyata orang itu hanya mengajak diskusi santai seperti biasa?

"Aku bertanya," jawab Sasuke akhirnya.

"Kau..menyukaiku." ucap Sakura, menjawab pertanyaan Sasuke sebelumnya, setelah berusaha memberi kekuatan pada fisiknya yang agak melemah usai pernyataan Naruto tadi.

"Menurutmu, bagaimana bila benar aku menyukaimu?" tanya Sasuke lagi.

"Eh? Kenapa tanya padaku?" Sakura mulai heran. Rona merah serta degup jantungnya sudah tidak begitu terasa meski saat ini Sasuke berbalik dan bersandar di pinggiran sungai dengan wajah mengarah padanya.

"Karena keputusan ada di tanganmu."

"Itu.."

Kembali Sasuke tertawa kecil. Tapi kali ini tangannya sedikit mengacak rambut Sakura.

"Sudah, jangan terlalu dipikir hal begitu. Sepertinya kita harus kembali ke meja makan," ucap Sasuke, mengajak Sakura untuk tidak membiarkan Naruto lama-lama menjaga meja mereka.

Sakura mengelus kepalanya yang tadi sempat diacak oleh Sasuke. Maksudnya apa? Kenapa berusaha misterius di depanku? Batin Sakura heran. Matanya tak lepas menatap punggung lelaki itu.

"Ami, Sakura, makanlah dulu. Aku dan Naruto harus pergi sebentar."
Sasuke menarik Naruto ke sisi lain pinggiran sungai.

"Kau sudah ungkapkan?"

"Belum."

"Aku tak menyangka bahwa Sakura Haruno orangnya," ucap Naruto. Mereka berdua berpegangan di pinggiran sungai.

"Aku juga tak mengerti."

"Tapi kau sadar, kan, dia bang.."

"Ya, aku tahu. Makanya aku tak mau memberi harapan. Padanya, juga padaku. Aku hanya ingin begini saja, mengenalnya. Membiarkan dia menjadi temanku. Melihatnya, dan memastikan bahwa dia baik-baik saja," jawab Sasuke. Kini matanya dan mata Naruto sama menatap ke meja makan di mana Sakura serta Ami berbincang. Raut wajah bahagia yang terpancar dari Sakura telah berhasil membuat Sasuke tersenyum.

"Aku tak tahu. Kau bodoh atau justru pecinta terbaik. Tapi, aku setuju dengan sikapmu. Untuk saat ini," sahut Naruto, menimpali ucapan Sasuke.

Mereka berdua kembali ke meja makan. Menikmati hidangan hingga sore datang. Sasuke berinisiatif mengantar Sakura, naik Shinkansen lagi. Naruto mengantar Ami dengan mobilnya. Mereka berpisah di depan stasiun.

"Ternyata begini ya kota Kitakyushu?" tanya Sakura saat keduanya sudah menuju Tokyo. Sasuke menoleh.

"Ya."

"Terima kasih, Sasuke. Aku suka," ucap Sakura sambil memamerkan senyum manis nan anggun miliknya.

"Sama-sama."

Jeda di antara keduanya. Asik dengan pikiran masing-masing. Sakura yang merasakan lelah segera mengatupkan dua matanya, tidur dalam keadaan duduk. Sementara Sasuke hanya diam, entah apa yang ada di kepalanya.

Mereka sampai di taman kota Tokyo saat hari mulai malam. Langit tidak lagi terang. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Sasuke menyadari bahwa mendung sudah hadir. Begitupun dengan Sakura. Mereka semakin bergegas untuk segera sampai di istana Haruno. Hanya perlu waktu 10 menit untuk sampai di gerbang utama istana, tapi alam tidak bersepakat dengan Sasuke maupun Sakura.

ZRASSS!

Deras hujan yang tiba-tiba mengagetkan keduanya. Segera Sasuke menarik tangan Sakura, mencari pohon yang kiranya teduh. Dan mereka mendapatkannya. Merasa dirinya laki-laki, Sasuke segera melepas jaketnya, memakaikan pada Sakura.

"Setidaknya kau tidak terlalu kedinginan," ucap Sasuke.

"Klasik," sahut Sakura. "Tapi, Terima kasih," lanjutnya lagi.

"Kata orang, hujan itu romantis," ucap Sakura usai diam sejenak.

"Ya. Kata orang."

Sakura agak terkejut mendengar sahutan Sasuke yang begitu singkat. Mereka diam hingga hujan mereda. Sasuke mengantar Sakura sampai pintu istana.

"Arigato gozaimasu," ucap Sakura. Dilepaskannya jaket Sasuke dan dikembalikan pada Sasuke.

"Masuk?"

"Iee. Tak perlu. Aku pulang dulu."

Melihat Sasuke menolak, Sakura hanya bisa tersenyum. Jeda memiliki kesempatan lebih banyak di antara mereka kini. Hingga akhirnya Sasuke melangkah pergi, menjauh dari Sakura yang berdiri di pintu.

"Sasuke," panggil Sakura yang sukses menghentikan langkah Sasuke. "Arigato," lanjutnya. Kini Sasuke membalas hanya dengan senyuman. Sakura menatap kepergian Sasuke, menatap punggung tegap lelaki itu menembus malam, hingga hilang di pandangannya. Setelah itu, segera ia masuk ke kamarnya.
Sudah berlalu 20 menit sejak kedatangan Sakura ke istana Haruno dan kini Sakura sedang duduk di tepian tempat tidur. Memikirkan hari ini, masa yang sudah dijalaninya dengan Sasuke, terutama ucapan Naruto.

"Hei, katamu kau akan ke sini dengan gadismu. Ini pertama kalinya, kan, kau ke sini?"
Sakura membatin. Aku tak mengerti maksudnya, tapi bila Naruto berkata begitu…apa itu artinya, dia menyukaiku?

Sementara itu, di sebuah jalan kota Tokyo, sesosok laki-laki berjalan. Di sebuah halte ia berhenti. Tapi bukan untuk menunggu bus. Ia berhenti untuk menatap payung bumi, langit malam usai hujan.

"Tak ada bintang di sana. Jelas saja, ini usai hujan."
Sasuke menoleh mendengar suara tadi. Tidak ia dapati siapapun kecuali dirinya dan sesosok lelaki berambut merah, rekannya. Gaara.

"Hmm, ya. Akupun kini sedikit redup seperti langit. Pulang bersama?" Sasuke menawarkan diri. Mereka berdua kini bersisian.

"Kau meredup?"

"Ya."
Gaara mengajak Sasuke ke kedai makan. Mereka makan berdua, memesan teriyaki.

"Ceritakan," ucap Gaara. Sasuke diam. Hanya diam. Akhirnya ia menoleh ke tempat lain.

"Tidak sekarang," elak Sasuke setelah puas dengan diamnya.

"Makanlah," ucap Gaara. Keduanya menghabiskan porsi masing-masing. Kemudian mereka berjalan menuju panti.

"Percuma bila kukatakan aku menyukainya. Ya, kan?" sasuke melontarkan kalimat berintonasi interogatif. Mereka berdua kini sedang duduk di rumput halaman panti.

"Sakura?"

"Ya. Percuma bila kukatakan aku menyukainya. Seorang bangsawan sudah memiliki garis hidupnya sendiri, dan akupun memiliki garis takdirku. Menurutmu, apa aku ini pengecut?"
Gaara menoleh ke arah temannya. Tidak biasanya Sasuke berbicara selemah ini.

"Bukan. Kau bukan pengecut. Kau hanya mencoba untuk lebih realistis. Oh iya. Ini, surat dari dosen pembimbing tugas akhirmu." Gaara menjawab sambil mengangsurkan sebuah amplop dengan kop Oxford.

"Terima kasih. Penelitianku sudah selesai sepertinya. Nanti biar kubaca di kamar. Masuk?"

"Tidak. Aku pulang saja," elak Gaara. Keduanya berpisah di halaman rumput itu. Sasuke melenggang masuk setelah Gaara pergi.

Di kamar, Sasuke segera menuju meja belajarnya. Mengambil sebuah pulpen, juga buku berukuran A4. ia membuka amplop, membaca sedikit, kemudian menulis di bukunya. Membaca lagi, kemudian menulis lagi. Terus sampai akhirnya ia mengantuk. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 saat ia menolehkan wajahnya untuk mengecek waktu.

"Selamat datang realita, sudah saatnya bangun dari mimpi indah," ucap Sasuke pada dirinya sendiri. Ia baru saja mengerjakan outline laporannya, sebuah tugas akhir kuliahnya. Rencananya lusa ia akan pergi ke London untuk menuntaskan tugas akhirnya. Dosen pembimbingnya sudah mengirimkan tiket untuknya.

"Sasuke," panggil seseorang di pinggir jalan raya. Siang itu tidak begitu terik karena musim dingin akan segera tiba. Sasuke yang saat itu sedang berjalan di trotoar segera menoleh. Mobil sport berwarna coklat muda menepi. Sang pengemudi melongokkan kepalanya. Pemuda berambut pirang.

"Naruto," jawab Sasuke.

"Ikut aku," ucap Naruto cepat. Sasuke menurutinya, masuk ke mobilnya.

"Kita mau ke mana?"

"Ke taman kota. Aku ingin berkonsultasi tentang kuliahku," jawab Naruto sambil menyetir mobilnya.

nagareru kisetsu no mannaka de
futo hi no nagasa wo kanjimasu
sewashiku sugiru hibi no naka ni
watashi to anata de yume wo egaku *)

Sebuah lagu mengalun dari CD player di mobil Naruto. Sasuke menyesap makna lagu tiu sambil mengalihkan pandangannya ke luar mobil.

"Kau ingat Sakura?" tanya Naruto.

"Ya. Dan tak ada gunanya bila lebih dari sekedar mengingatnya," jawab Sasuke. Kembali ia memandang jendela mobil.

Mobil melaju dan akhirnya mereka sampai di parkiran taman kota. Naruto dan Sasuke segera mengambil tempat khusus, sebuah gazebo. Menenteng tas masing-masing, mereka duduk dan membuka apa yang mereka bawa: buku dan netbook. Mata Sasuke menatap netbook milik Naruto. Menyadari bahwa miliknya dilihat, Naruto tersenyum.

"Bilang saja kalau butuh, akan kupinjamkan," ucap Naruto.

"Aku butuh. Kurasa, aku bisa lebih cepat selesai bila sekarang aku mengetik laporanku," sahut Sasuke cepat dan begitu terbuka. Seperti biasanya. Naruto segera mengarahkan netbooknya pada Sasuke. Berbekal buku A4 miliknya, Sasuke mengetik sebagian laporannya.

"Kau mau jadi apa setelah lulus?" tanya Naruto di sela ketik-mengetik itu.

"Politisi. Konsulat, atau diplomat."

"Hmm, menarik. Baiklah, aku akan berbaring di sini."
Naruto berbaring sebentar sebelum akhirnya bangkit mendadak.

"Hei. Kau bilang apa tadi? Diplomat?" tanya Naruto.

"Kenapa?"

"Kau kan tahu, itu lahan jurusan Hubungan Internasional."

"Lantas kenapa kau baru berpikir sekarang?" tanya sasuke dengan nada mengejek.

"Aaarrrgghhh! Kau mengejekku, ya? Sudahlah. Aku mau tidur dulu."

Suasana damai di taman kota menjadi pengiring Sasuke menyelesaikan laporannya. Berlembar-lembar hingga ia kelelahan. Hari sudah sore dan Naruto yang tadi benar-benar terlelap sudah bangun.

Didapatinya Sasuke masih mengetik. Melihat temannya begitu fokus di netbook, Naruto segera mendekat. Melihat apa yang terjadi di layar netbooknya. Sebuah program word terbuka. Naruto terbelalak melihat sisi kiri bawah layarnya. Halaman yang ditunjukkan adalah halaman 63.

"Sasuke?" panggil Naruto.

"Ya?"

"Kau mengetik semuanya?" tanya naruto lagi. Sasuke menoleh, emndapati wajah Naruto yang menampakkan keheranan. Senyum mengembang diarahkan Sasuke untuk Naruto. Mengangguk jadi jawabannya.

"Selesai. Tinggal merapikan reference saja. Naruto, arigato," ujar Sasuke. Ia mengaktifkn internet, menyimpan filenya di web khusus miliknya di Universitas Oxford. Usai proses tersebut, Sasuke mengeluarkan sebuah CD.

"Kenapa CD? Tidak Flashdisk saja?" tanya Naruto.

"Supaya aman," jawab Sasuke. Urusan simpan-menyimpan pun selesai, Naruto mengajaknya makan di sisi lain taman kota.

"Ramen lagi?" tanya Sasuke. Naruto mengangguk senang.

"Naruto, kau di sini?" sapa seseorang. Naruto sangat mengenalnya. Sasuke juga mengenali wajah lelaki itu, sangat mirip teman sekolahnya. Lelaki tersebut hanya memakai kaos berkerah dan celana jeans.

"Kiba. Kau juga makan di sini?" sahut Naruto. "Oh iya. Ini Uchiha Sasuke yang pernah kuceritakan padamu," lanjutnya lagi, mengenalkan Sasuke pada Kiba. Sasuke mengenal profil Inuzuka Kiba sebagai bangsawan yang santun dan berwibawa.

"Maaf menunggu lama, Kiba," ucap seorang rekanan Kiba. Suara seorang perempuan yang Naruto dan Kiba sangat kenali. Juga Sasuke. Gadis berusia 16 tahun dengan rok terusan selutut, Sakura Haruno.

Tidak ada yang dapat menggambarkan wajah terkejut Sakura dan Sasuke.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar