Sabtu, 20 Juli 2013

Gadis Jilbab Ungu

"Ndri," panggil Lala, gadis berjilbab ungu. Taman dengan pola rumput melingkar menjadi latar keduanya di kampus coklat itu. Agak tergopoh gadis itu menghampiri temannya yang dikenal karena pencalonan diri sebagai ketua Pecinta Alam, kegiatan terkenal dari kampus tersebut.

Yang dipanggil hanya menoleh dan berdiri di tempatnya. Ya, mungkin menurutnya percuma juga kalau Lala ia hampiri. yang ada malah mirip film India. Tangan kanannya yang memegang ponsel candybar klasik itu sedikit berubah posisi. Kini kedua tangannya dilipat di depan dadanya.

"Yow, kenapa, La?" tanyanya. Cuek sekali ternyata calon ketua pecinta alam ini meski tampilannya sangat terlihat alim. Lala yang sudah berhenti di hadapannya kini hanya sedikit memanyunkan bibirnya: ngambek.

"Katanya mau ambil tas keril di kos? udah Lala minta temenin Ira nunggu, juga. HP nggak aktif pula." gerutu Lala yang hanya diiringi cengiran lelaki di hadapannya.

"Maaf, maaf. HP baterenya habis. Tau sendiri HPku kayak apa. Males ngecharge juga. Ya udah, bawa tasnya nggak?"

Mata Lala membulat. What!? Seenaknya banget nih orang, rutuk Lala.

"Ambil sendiri. Lala mau ke perpustakaan."

"Duh, ngambek?" lelaki itu menggodanya. Lala tidak menanggapi dan hanya pergi begitu saja.

===============

Malam ini hujan rintik mengguyur kota metropolitan. Begitupun kos tempat Lala tinggal. Ada yang menggelayut dalam hatinya seperti gelayut titik air di ujung genteng kosnya. Ya, ia sedikit banyak terpikir akan Andri. Tanpa konfirmasi apapun dari Andri membuatnya khawatir, was-was, bertanya-tanya. Apa Andri sudah mendapatkan tas keril? besok kan pendakian, kapan dia packing? kapan dia mempersiapkan keperluan pribadinya?

Banyak yang heran kenapa bisa seorang Lala bisa dekat dengan Andri. Lala dikenal sebagai perempuan berjilbab lebar yang menjaga pergaulannya dengan laki-laki. Begitu yang sering didengar rekan-rekan satu fakultasnya. Tapi Andri adalah laki-laki pertama dari fakultas berbeda yang mampu mendekati Lala. Akhirnya berkembang berbagai spekulasi terkait hubungan Andri-Lala, apalagi Andri sering membelikan Lala makanan kecil atau oleh-oleh dari pendakian selama 3 bulan terakhir ini.

"La, ada Andri tuh," ucap Desi, teman kos Lala.

Eh? Andri? hujan-hujan begini? Lala segera menyambar jilbab kaosnya dan melangkahkan kaki menuju pintu kos.

"Ya Allah, Ndri. Tung.."ucap Lala begitu melihat Andri yang lumayan kuyup, sepertinya terguyur air hujan. Padahal setahu Lala hanya rintik hujannya. Tapi ucapannya terpotong oleh tangan Andri yang sigap.

"Nih, maaf ya," sahut Andri sambil menyodorkan coklat kesukaan Lala. Lala tidak segera menyambut coklat itu tapi malah tak beranjak tatapannya dari sosok Andri.

"Ah! Aku ambilkan handuk," ujar Lala akhirnya, masih belum menerima coklat itu. Tak perlu waktu lama untuk mendapati Lala membawa handuk kecil.

"Nih."

"Bekas siapa nih? Nanti aku ketularan nggak?"

"Yee, ini handuk baru."

(bersambung. ada usul arah cerita ini?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar