Kamis, 13 Oktober 2011

Aku ta'aruf karena ikutan tren



masih membahas tentang  ta'aruf. ah sudahlah, jangan tanya lagi artinya. terlalu banyak tulisan May tentang arti ta'aruf. May yakin penikmat internet juga orang yang melek informasi. Di internet sudah banyak bahasan tentang istilah ta'aruf. So, May mau ngapain? Tentu seperti biasa, membahas dari kacamata yang nggak biasa.

Siang itu, seorang perempuan berkerudung marun, gamis marun, duduk di halte bus. Tak lama saya lewati, ada seorang pria mendekatinya, mereka duduk agak berjarak. Hei, lihat. Jenggotnya rapi. Dia termasuk yang katanya tarbiyah atau malah anak band ya? Eh, tapi celananya dilipet, mirip teman-teman kampus yang suka jadi aktivis kajian Islam. Segera saya hampiri perempuan tersebut.

"Jauhan aja duduknya, mesra dikit atuh,"

"kami sedang ta'aruf mbak"

"ta'aruf? kirain suami istri"

"Iya. Kami nggak bersentuhan, kami nggak mengucapkan kata-kata mesra kalau bertemu,"

"Oh, gitu. Wah, saya ketinggalan zaman, dong,"

"Maksud mbak?"

"Waktu saya dan suami ta'aruf, kami meski punya HP nggak teleponan, sms seperlunya kalau tanya progress persiapan nikah. Telepon juga beliau ke orangtua saya, bukan bicara sama saya. Kami juga nggak jalan berdua, bertemu 2 - 3 kali. Dan saat khitbah pun beliau nggak datang karena tugas,"

"Hmm, kapan itu?"

"Kami baru menikah beberapa waktu lalu,"

"Oh.."

"ehem!" ujar sang lelaki. Saya beringsut meninggalkan mereka. Kemudian saya hubungi teman kampus saya yang up to date kondisi perpacaran, hehe. secara dia berpacaran.

"Hola, eh, May. Apaan? Gangguin ta'arufan gue aja,"

"Eh? Ta'aruf?"

"Yo'a. Gue kan nggak mau ketinggalan, sekarang lagi tren ta'aruf tauuk. Eh, ajarin gue dong ta'aruf kan elo udah nikah,"

Hampir saja saya pingsan

==================================

Cukup sudah khayalan May. Hehe, tadi itu cuma khayalan temans, sekadar karya yang terinspirasi dari kejadian yang May alami. Yeah, cukup jelas sekarang, akibat film-film yang katanya religi, jadilah pacaran dibungkus dengan kata ta'aruf. Entah harus senang atau sedih. Tapi May sangat sedih ketika menyadari efek itu tidak hanya menjangkiti teman-teman kesayangan yang memang belum paham agama. Teman-teman yang katanya rutin mengkaji Islampun tak luput dari 'tren' itu. Dan May tak bisa sepenuhnya menyalahkan ketika ta'aruf-ers itu beraksi. Mereka hanya sedang berbunga-bunga saja, dan itu sepintasan.

Mereka ta'aruf, tapi tak berbeda dengan yang berpacaran: smsan mesra, jalan berdua, bahkan mencari alasan untuk bisa berduaan. Sangat berbeda dengan konsep ta'aruf yang May yakini :)

Thanks, mas, sudah benar-benar mencintai May. Dengan tak cemburu sebelum akad *katanya*, tak mengucap kata-kata mesra, tak mengajak May untuk 'pacaran', sebelum akad. May yakin kok, rasa itu pasti ada di benak siapapun yang belum dan akan menikah: sebuah rasa suka terhadap calon pasangannya, insya Allah. Tapi, May lebih yakin bahwa pecinta sejati akan menjaga yang dicintanya dari kesia-siaan atau jurang ketidakbaikan ^.^.

Jadi, intinya, kalau mau pacaran, ya pacaran aja. Kalau mau ta'aruf, ya ta'aruf aja, jangan pacaran dibungkus ta'aruf. Oke? May nggak melarang yang mau pacaran, karena May yakin setiap orang mengerti konsekuensi pilihannya.

3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum.. Izin copy paste ya mba..

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum.. Izin copy paste ya mba..

    BalasHapus
  3. 'alaikumussalam, silakaaan ^^

    BalasHapus