Rabu, 11 November 2009

Sejarah Peradaban yang Sesungguhnya

Jika disebut kata orientalisme, tentu masyarakat Indonesia secara umum akan mengenyitkan alis mereka. Namun, jika yang disebut adalah kata “Al-Qiyadah” atau “Lia Eden”, tentu hampir seluruh masyarakat Indonesia tahu, atau setidaknya pernah mendengar. Sekarang pertanyaannya, apa kaitan orientalisme dengan Al-Qiyadah dan Lia Eden? Pertanyaan tersebut pasti terlintas di benak setiap orang yang membaca dua kalimat awal paragraf ini.

Orientalisme, suatu kajian yang dijelaskan dalam buku berjudul Belajar Islam dari Yahudi memberitakan tentang distorsi sejarah peradaban, terutama peradaban Islam, yang dilakukan oleh masyarakat Barat. Membaca judul buku ini, pada awalnya penulis mengira akan mendapatkan pengetahuan tentang Islam dari sudut pandang agama Yahudi, yang artinya akan memberitahu pembaca bagaimana Yahudi membicarakan Islam secara ilmiah. Namun, setelah membaca sedikit sinopsis dari buku ini pada sampul belakang, maka yang didapati oleh pembaca adalah buku yang mereka pegang berisi pemaparan mengenai taktik Yahudi sebagai intel untuk menemukan kelemahan Islam, yaitu dengan mengajarkan Islam pada umat Islam serta mempelajari Islam dari umat Islam, menurut cara pandang mereka.

Melihat sampul buku ini saja, pembaca akan langsung bertanya-tanya tentang isinya, terutama setelah melihat lambang bulan-bintang (simbol agama Islam) di dalam lambang Bintang David (simbol Yahudi). Seorang simbolog atau orang yang berminat dengan lambang, juga orang yang tahu arti dua lambang itu tentunya ingin tahu mengapa harus lambang itu yang dijadikan ilustrasi pada sampul buku. Adapun arti dari lambang tersebut, yakni seorang muslim mempelajari agamanya dalam bimbingan dan demi kepentingan Yahudi. Atau bisa juga dikatakan bahwa muslim mempelajari dan menjabarkan makna dalam Islam dengan cara berpikir Yahudi.

Di dalam buku ini dijabarkan bagaimana proses distorsi sejarah umat Islam, dari penyebaran agama hingga pengingkaran. Bentuk orientalisme pertama adalah saat sentuhan pertama umat Islam dengan Barat dalam Perang Yarmuk, ketika Khalid bin Walid berduel dengan Jirji Tudur. Jirji Tudur bertanya, mengapa Khalid bin Walid diberi julukan Pedang Allah? Apakah Allah turun dari langit dengan membawa pedang yang diberikan kepada Nabi dan kini pedang itu berada di tangan Khalid bin Walid? (halaman 64)

Sekilas buku ini lebih cenderung membela suatu agama, Islam. Namun, setelah membaca hingga halaman puluhan, pembaca akan menemukan bahwa sesungguhnya ini adalah buku sejarah—tentunya sejarah yang jujur tanpa memikirkan kepentingan satu kelompok. Kenetralan penulis buku dapat dilihat dalam uraiannya yang menyatakan bahwa umat Islam pada masa kejayaan Islam menyalin karya ahli-ahli terdahulu dan berusaha menyempurnakan dengan ilmu yang mereka dapati dari Islam, sejenis penyempurnaan ilmu. Selain itu, karena ini merupakan buku sejarah, maka dijelaskan pula tentang gerakan Martin Luther yang asli.
“Tapi perlu juga diketahui bahwa Martin Luther bukanlah seorang liberal. Ia tak pernah menganjurkan liberalisme dalam pemikirannya. Bahkan jika Martin Luther masih hidup dan mengetahui sejarah perkembangan pemikiran dalam Kristen ia akan langsung meninggal seketika, karena kaget dengan kondisi yang ada” (halaman 77).

Penulis menegaskan, sedikitnya ada dua motivasi yang ada di belakang kepala para orientalis. Pertama, hasil kajian yang mereka lakukan menyumbang dan menciptakan konflik di antara umat Islam. Kedua, menghancurkan rasa percaya diri yang dimiliki oleh umat Islam atas kebenaran dan kebaikan yang ada dalam Islam (hlm 157)

Suatu pertanyaan yang terlalu didasarkan pada logika manusia. Bentuk masa kini dari pertanyaan seorang orientalis tentunya berupa pertanyaan,”Kapan Allah dilahirkan?” atau,”Siapa Tuhan terdahulu sebelum Allah?”

Penulis buku ini, Herry Nurdi, adalah salah satu muslim Indonesia yang mendalami permasalahan seputar Islam dari sudut pandang sejarah dan kaitannya dengan Zionisme, atau Yahudi sebagai bangsa. Dua buku terdahulu yang telah ditulisnya, Jejak Freemasonry dan Zionisme di Indonesia dan Kebangkitan Freemasonry dan Zionisme di Indonesia, menjadi best seller. Beliau juga sempat menjadi redaktur di majalah Islanm Sabili. Kini beliau menjadi salah seorang redaktur program “Dunia Islam” dalam sebuah radio swasta. Seorang peneliti Yahudi yang begitu fokus terhadap masalah yang tidak sepele ini saling mendukung dengan pengamat lain, yang juga orang Indonesia, Rizky Ridyasmara (Penulis buku Knight Templar Knight of Christ, Fakta yang Tak Terungkap dalam The Da Vinci Code).

Di antara kelebihan buku Belajar Islam dari Yahudi sebagai sebuah buku sejarah, terdapat pula kekurangan dari buku ini. Misalnya saja, jenis tulisan yang digunakan dalam bentuk Times New Roman, sehingga kurang menarik minat pembaca pada umumnya, padahal sasaran buku ini tidak hanya orang yang lebih mendalami Islam saja, tapi juga muslim yang sebaiknya tahu tentang sejarah yang sesungguhnya. Selain itu, keterhubungan antarkalimat maupun antarfrasa dalam kalimat masih kurang jeli dipandang penulis. Hal tersebut menyebabkan perlu fokus berlebih untuk mengartikan tulisan beliau (Herry Nurdi).

Pesan dari buku ini adalah ajakan terhadap umat Islam untuk lebih kritis terhadap apa yang diterima, terutama dalam sejarah Islam. Tidak selalunya yang dari Barat itu baik. Pun lokalisasi agama yang akhir-akhir ini diusung oleh masyarakat Indonesia. Karena itu, teruslah berperan dalam perang pemikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar