Kamis, 04 Februari 2010

Masih Tentang Hati di Kampus Hijau

Lingkaran itu sedikit meredam keriuhannya. Sekelompok manusia menyimak keluhan seorang rekannya. Pagi dingin yang meningkahi rintik hujan semalam menjadi latar kejadian itu. Sebuah keluhan seperti biasa, mengenai hati. Keluhan yang bahkan temannya yang baru datang bisa mengerti isi keluhannya.

Ya, di sebuah kampus penuh renovasi bangunan di berbagai sudutnya, terjadilah apa yang dikeluhkannya. Di sela kegiatan kampus yang begitu padat, di luar kuliah tentunya, sebagian besar oknum menggunakannya untuk menyemai benih kasih di antara mereka. Wow! Indah, bukan? Lantas kenapa ia mengeluhkan keadaan itu?

Rupanya keluhan itu hadir karena ketidaknyamanannya terhadap apa yang diwujudkan atas rasa-rasa itu. Da’wah, hmm, kegiatan da’wah kampus selain kuliah,, tepatnya, jadi tidak murni lagi, menurutnya. Hmm, rekan-rekan masih menyimak hingga ia bertanya ‘harus gimana?’

Seorang teman menyarankan ketegasan akan jam malam bagi interaksi para aktivis. Seorang lagi menyarankan agar mereka sekalian saja dipertemukan untuk dinikahkan (lumayan ekstrem). Seorang lagi berpikir bahwa fenomena ini ia lihat semakin marak sejak adanya media internet yang bebas digunakan di mana saja. Penggunaan internet yang semakin tak terkendali ini memicu adanya rasa nyaman mengungkapkan apa yang tidak bisa diungkap dalam kehidupan nyata. Dan ia sepakat, perlu adanya pembatasan penggunaan internet.

Sayang, sang fasilitator diskusi tidak menyetujui rencana pembatasan internet. Mungkin benar, semua kembali pada pengguna internet. Baik buruknya internet adalah karena penggunanya. Internet adalah media.


Hmm, sampai di sini, saya mulai berpikir tentang sesuatu yang mengganggu. Mengganjal pikiran say. Yah, benar. Saya merasakan perubahan sikap pengurus BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa, setelah kepengurusan saya di jurusan. Seiring bergantinya kepengurusan, maka sikap, karakter, dan sistem ikut berganti. Saya menemukan sikap terlalu terbuka dan kurang menjaga. Tadinya saya berpikir, mungkin mereka sudah mengetahui batasan dan memiliki batasan yang berbeda. Ya, saya pikir begitu. Saya menemukan berbagai hal yang harus diubah, tapi saya hanya bisa diam karena saya masih yakin mereka punya alasan untuk itu.

Suatu malam, saya berdiskusi dengan seorang teman mengenai hal ini. Apa katanya? Indah bila saya jabarkan. Tapi saya akan membagikannya.

“Menikah. Atau puasa,” ujarnya kala saya coba utarakan keluhan rekan saya. “Tundukkan pandangan dari syahwat. Benteng diri seseorang lebih penting dari sistem.” Lanjutnya. Benteng diri yang bagaimana?

“Tarbiyah dzatiyah. Secara bahasa adalah pengembangan diri dari segi spiritual, yang memiliki variasi cara..” segera saya potong ucapannya. Saya rasa kami tidak membahas sisi etimologi, terminologi, atau ilmu kebahasaan. Kami sedang membahas sisi operasional.

“Ukht, hal terpenting dari tarbiyah dzatiyah adalah dengan membaca alquran yang kita sendiri berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya..” ujarnya tanpa pedulikan protesku. DEG! Kalimat terakhirnya segera mengunci mulut saya. Sebuah jawaban yang membuat saya mengerti, apa yang akan dijelaskannya lagi.

Hening, langit malam menjadi saksi kami mencerna tiap kalimat. Senyum terkembang, meningkahi secercah ilmu yang hadir di pikiran kami.

Terima kasih, rekan. Kepercayaan yang tidak luntur ini semakin menguat. Aku yakin, hanya orang yang hatinya penuh dengan cinta terhadap Qur’an saja yang mampu mengucap kalimat sepertimu. Beda rasanya bila yang mengucap itu bukan orang yang terisi kecintaan (pada Al-Qur'an).


Ya Allah...
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
Bahwa hati-hati ini telah berkumpul
untuk mencurahkan mahabbah kepadaMu,
Bertemu untuk taat kepadaMu,
Bersatu dalam rangka menyeruMu,
Dan berjanji setia untuk membela syariatMu,
Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya...
Ya Allah...
Abadikanlah kasih sayangnya,
Tujukkanlah jalannya,
Dan penuhilah dengan cahayaMu
yang tak akan pernah redup,
Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman
dan keindahan tawakal kepadaMu,
Hidupkanlah dengan ma'rifahMu,
Dan matikanlah dalam keadaan syahid dijalanMu...
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung
dan sebaik-baik penolong, amien..
Dan semoga sholawat serta salam
senantiasa tercurah kepada Muhammad,
kepada keluarganya,
dan kepada semua sahabatnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar