Senin, 16 April 2012

Lelaki Itu...

Ini hari ketiga pelatihan kepemimpinan bagi kami, peserta yang merupakan mahasiswa kampus Angkasa. Kelompokku yang kesemuanya perempuan mendapat giliran berlatih debat dengan kelompok Ari yang kesemuanya lelaki. Dan saat itu kulihat dia.

“Siapa dia?” tanyaku berbisik pada Karina, mahasiswa di sebelahku.

“Tertarik, eh?” goda Karin. Yeah, bukannya menjawab malah dilakukannya khas perilaku remaja akhir.

“Cuma ingin tahu,” sahutku, masih dengan wajah tanpa ekspresi. Mataku sesekali mencuri pandang pada dia, lelaki yang tak kukenal. Ada yang menarik darinya, entah apa. Sementara Karina dan lainnya asik berdebat dengan Ari serta kelompoknya, kecuali dia. Ya, lelaki yang membuatku suka mencuri pandang.

“Oke, bagus.” Ujar panitia yang menjadi pembawa acara kali ini. Acara debat berhenti meski aku tak ikut andil, juga dia. Lagi-lagi dia. Kami sekelompok, ah maksudku dua kelompok kembali ke dalam barisan peserta yang lesehan di lantai. Bergabung dengan yang lain. Dan dia kulihat duduk di sudut ruang, masih tanpa ekspresi dan pembicaraan dengan siapapun.

Acara terus berlangsung hingga akhirnya kami bersiap pulang. Dan hingga akhir, aku masih belum mengenalnya, si lelaki itu. Kurapikan tasku usai acara 3 hari ini. Berbaris kami mengantri di depan tronton. Mobil besar tanpa pintu belakang dengan kursi berhadapan menyamping itu adalah kendaraan mewah kami selama kegiatan. Keren, kan?

Aku yang terakhir akan masuk tronton, akhirnya tak jadi naik. Kenapa?

“Maaf, bisa bantu cari teman yang belum naik?”
Seorang panitia menanyaiku. Sedikit sinis aku menangapi akhirnya.

“Siapa?”

“Ratih,” jawab panitia itu lagi seraya mengoleskan lotion ke tangannya. Hebat! Ada peserta yang belum naik tapi dia masih memanjakan dirinya! Segera aku berlari ke arah penginapan kami, berharap segera menemukan Ratih itu.

Tuhan, aku belum tahu wajah Ratih! Sudahlah, kuteriakkan saja namanya, semoga membantu.

“Ratih! Ratih!” teriakku. Kutelusuri seluruh ruangan penginapan, dan aku baru selesai menyusuri 2 ruang ketika kudengar suara bass juga meneriakkan nama Ratih. Suara lelaki? Siapa? Bukankah tadi semua peserta sudah diminta duduk di dalam tronton?

“Hei, sudah menemukan Ratih?” tanya pemilik suara bass itu ketika kami bertemu pandang. Dia? Lelaki itu? Aku hanya menggeleng pelan di tengah keterpanaan.

“Be..lum,” jawabku yang juga terbata. Segera lelaki itu menarik tanganku.

“Cepat, kita cari Ratih,” ujarnya.

“Tapi…”

“Kita harus cepat, kasihan mereka menunggu,” ujarnya. Kulepas genggaman tangannya keras, menghentak.

“Kemana panitia!? Kenapa cuma kita yang mencari!?” teriakku tak terima.

“Tak usah pedulikan mereka yang tak berjiwa, Nona.”

APA!?

Saat aku terkesiap itulah kami berhasil menemukan perempuan yang diduga Ratih. Kami melihat Ratih begitu lemah dan tak sadarkan diri. Pingsan kah? Aneh, tak ada yang melaporkan ini. Kami dekati tubuh itu, masih ada tanda dia hidup. Syukurlah.

“Ratih?” tanyaku.

“Kau bisa mengangkatnya?” tanya lelaki itu padaku. APA!? Dia yang lelaki memintaku mengangkat Ratih? Aku yang perempuan? Tapi tak apa, toh aku terbiasa melakukannya. Tuhan, belum cukupkah Kau mengejutkanku atas lelaki ini?

“Bantu aku.” Oh, jadi dia meminta bantuan agar kami berdua yang mengangkat Ratih? Oke oke, aku segera mengangguk. Kami mengangkat ratih dan membawanya ke mobil tronton yang menanti.

“Sudah ketemu!” teriak panitia dari atas tronton. Akhirnya mereka turun dan membantu kami.  Kini aku dan lelaki itu berdiri bersisian, sedikit lelah.

“Terima kasih, Nona.” Ujarnya. Formal sekali dia. “Aku suka kau kuat begitu. Terima kasih,” lanjutnya sambil memandangi tronton. Eh? Aneh.

“Maaf, karena Ratih sakit, jadi tempat di tronton sudah penuh dan kami tak bisa membawa kalian, bagaimana?” ujar panitia yang berlari ke arah kami.

“Eh? Ta…”

“Tak apa. Kami bisa pulang dengan angkutan umum,” lelaki itu memotong protesku. Setelah panitia itu pergi, Kutatap marah lelaki tadi. Benar-benar aneh.

“Kau…” ujarku bernada tinggi.

TAP! Lagi-lagi tanganku digenggamnya sehingga aku mau tak mau ikut berjalan dengannya.

“Mungkin kita bisa lebih mengenal, Nona?” ucapnya lagi. Eh? Tuhan, lindungi aku. Toh, aku bisa gunakan jurus Todang atau Nindang dari karateku bila dia macam-macam.

“Dan…kurasa panitia kita belum cukup dewasa untuk mendengar dan bersikap, jadi lebih baik kita yang mengalah. Nanti kita yang akan mengubah tatanan kemanjaan itu, iya, kan?” lanjutnya seolah menjawab semua protesku atas sikap dan kata-katanya terhadap panitia.

2 komentar:

  1. mba mae,,,, tulisan2nya dikumpulkan dunk.. dijadiin buku :D

    BalasHapus