Sabtu, 07 April 2012

Pendekatan Mekanisme Universal

Berikut saya coba paparkan sekadar rangkuman bahasan teori Duvignaud (Pendekatan Mekanisme Universal) dari buku karya Umar Junus (fiuh, bahasa Melayu euy, nggak bisa langsung dikunyah isinya). Oh iya, kalau mau salin untuk tugas terutama, mohon cantumkan blog saya sebagai sumber, ya. Saya masih menjunjung etika karya ilmiah soalnya ^_^
Terima kasih



Pendekatan Mekanisme Universal

Devignaud mengawali pemikirannya dengan menolak 4 mitos tentang estetika, yaitu:
1.    Seni adalah realisasi empiris dari keindahan (pandangan Goethe)
2.    Seni berasal dari seni primitif
3.    Seni bertugas melukiskan kenyataan alam
4.    Seni selalu terikat pada agama

Kemudian Duvignaud membagi tipe seni yang berbeda dengan pandangan dunia (banyak digunakan sarjana-sarjana Jerman). Tipe-tipe tersebut yaitu:
1.    Seni primitif yang memiliki fungsi sendiri dalam masyarakat primitif (seperti seni terkait animisme, dinamisme yang merupakan seni di zaman prasejarah)
2.    Seni dalam masyarakat teokrasi yang berhubungan dengan kekuatan di luar manusia
3.    Seni dalam kehidupan kota yang memegang peranan penting dalam perkembangan seni (menurut Duvignaud)
4.    Seni modern yang merupakan perkembangan dari seni kehidupan kota

Dapat disimpulkan bahwa Duvignaud membicarakan hubungan antara seni dan fungsi seni dalam masyarakat. Devignaud melihat dalam perspektif sejarah kesenian (dengan manifestasi seni) pasti dihasilkan oleh kondisi sosial tertentu. Hal tersebut bersifat umum, menyeluruh, kapan dan di mana saja (universal). Perkembangan seni setiap bangsa sama dengan tingkat perkembangan yang juga sama.

Pandangan-pandangan Duvignaud tersebut lebih menitikberatkan pada sosiologi kesenian tanpa memperhatikan perkembangan setempat. Hal ini bertentangan dengan dasar sosiologi sastra yang menekankan adanya perbedaan karena berbedanya sosiobudaya tiap wilayah.

Karena Duvignaud menyatakan bahwa sifat tiap seni itu sama, maka pandangan tersebut tidak memungkinkan adanya perhatian terhadap variasi individual antara seniman satu dengan lainnya. Pandangan ini berbeda dengan sosiologi sastra yang salah satu dasarnya ingin melihat perbedaan seni berdasar perbedaan latar belakang seniman.

Pendekatan Duvignaud dengan keadaan tersebut (terlalu umum dan tidak memperhatikan karakteristik tiap seni) sukar digunakan untuk mengkaji dalam sosiologi sastra karena bertolak dari sesuatu yang umum dan abstrak. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk melihatnya sebagai pendekatan ‘gerak seni’, lebih khusus lagi, ‘gerak sastra’, yang kelihatannya diabaikan pendekatan lain dalam kajian sastra.




1 komentar:

  1. Izin copy untuk tugas ya mbak, alhamdulillah dari sini saya bisa paham. Soalnya buku yang saya punya isinya kurang bisa saya pahami. hehehe... Terima kasih :)

    BalasHapus