Alhamdulillah, kesibukan itu sudah lewat. May tulis di sini karena nggak akan muat kalau ditulis di area "Kata Pengantar" dalam skripsi, heuheuheu. Wokeh, gatelnya harus segera dihilangkan dengan menuliskan semua pengalaman terkait sidang.
Selasa, 14 Juni 2016. Syukurlah di bulan Ramadhan, which is nggak bakal kesiangan bangunnya. Sejak dua hari sebelumnya segala perlengkapan sudah disiapkan. Kemeja Mama yang putih dengan aksen zebra di lengan dan krah (Mama bangga banget bilang itu baju lungsuran bos yang dibeli di Jepang wkwkwkwk) serta rok bahan chiffon hitam jadi outfit of the day. Eits, sebenarnya memang dresscode untuk sidang putih hitam ding, hehehe. Pesan ojek online dan meluncuuuur.
Sampai kampus pukul 06:30an gitu deh, menuju kantor program studi daaaaaaan.....tidak mendapati satu orangpun di sana! TIDAAAKKK!!! Apakah saya terlambat? Akhirnya turun ke lantai 1 dan mencari ruang yang kiranya melayani curhatan mahasiswa jelang sidang.
Administrasi Kemahasiswaan akhirnya jadi pilihan (karena lihat mbak-mbak pakai jaket almamater heuheu). Akhirnya kami duduk di depan ruang yang belum terisi juga oleh satu pegawaipun itu. Pukul 07:00 kami akhirnya mengisi buku daftar hadir yang disodorkan bapak administrasi.
Kisah berlanjut dengan dipanggilnya kami satu persatu ke ruang sidang. Sebagai mahasiswa di urutan panggilan kedua, jantung rasanya jedug-jedug. Bersegeralah saya ke ruang pertama, ruang Ibu cantik yang akan menjadi dosen penguji saya. Bersama dua teman lain kami duduk di kursi yang disiapkan.
Lho!? Itu kan dosen pembimbing sayaaaaaa!!!! Hadhuh, beliau perfeksionis pula. Bisa habis saya. Bismillah aja, baca doanya Nabi Musa waktu menghadapi Fir'aun. Eh, tapi jangan bayangin dosen saya pakai baju Cleopatra yaaaa. Akhirnya skripsi kami serahkan pada beliau dan bersiaplah untuk ditanyai.
"Maesaroh, nanti tanggal 18 revisinya bawa ke saya, ya," ujar sang Ibu lembut. Wait! Jadi, nggak ditanyain layaknya dua teman di samping? -_-!
Selesai di ruang pertama, kami ke ruang kedua yang setelah saya lihat di daftar penguji saya adalah dosen pembimbing skripsi saya (juga). Allah, entah ini berkah atau cobaan. Masuklah kami berdua (bersama teman) ke ruangan Bapak Ketua Program Studi.
"Maesaroh, kenapa tertarik membahas Bima Satria Garuda?" tanya beliau. Alhamdulillah, terjawab sesuai pertanyaan beliau saat bimbingan pertama. Daan, seperti biasa ketika berbincang dengan beliau, jadilah rumpi-rumpi syantiieeek muncul. Segala sinetron Anak Jalanan dibawa sebagai contoh sinetron yang kurang baik.
"Oke, hasilnya bagaimana?" tanya beliau lagi.
"Nanti skripsinya dibakar, ya," kata Bapak. Spontan saya shock!
"Apa!?"
"Iya, dibakar ke CD," lanjut Bapak yang sepertinya belum menyadari keterkejutan saya. Owalah si Bapaaaaak, bikin shock ajah.
Kami selesai dan menuju ruang ketiga, ruang paling menegangkan karena penguji tersebut belum pernah kami temui. Ya, dua penguji sebelumnya masih santai.
Bapak penuh wibawa nan santun tersebut menanyakan hal yang persis sama dengan Pak Ketua Program Studi. Tapi, beliau ada tambahan ternyata. Menanyakan alasan kenapa bisa hasil tersebut muncul. Uwaaa!!!
Lelah rasanya setelah sidang. Saya bersegera pulang ketika selesai menemui dosen ketiga.
*terima kasih semua...
Tampilkan postingan dengan label bahasa-sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa-sastra. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Juni 2016
Minggu, 09 November 2014
Kacaunya Penggunaan Bahasa: Kami atau Kita?
"Pendaftaran peserta silakan hubungi kita," ujar salah seorang panitia kegiatan seminar kebahasaan di depan kelas. Risih, tapi telinga saya sudah sangat sering mendengar kata "kita" yang tidak sesuai tempatnya. Apa saya kaku? Entahlah. Ada baiknya kita baca definisi "kita" menurut KBBI versi online (dalam jaringan).
ki·ta pron 1 pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara; (KBBI)
Kalau dilihat konteksnya, rasanya janggal kalau kami yang ada di ruang kelas juga dihubungi untuk pendaftaran. Padahal, yang dimaksud panitia adalah hubungi panitia. Lantas kenapa mereka seolah lupa menggunakan kata "kami"? Definisi kami dalam KBBI yaitu:
ka·mi pron 1 yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca --masih dari sumber yang sama--
kalau kita baca terutama yang saya cetak tebal dan garisbawahi, maka akan terlihat kata mana yang tepat digunakan dalam konteks atau situasi sejenis dengan panitia tadi. Sepertinya, kita harus banyak belajar dari serial Bima Satria Garuda yang berusaha menggunakan Bahasa Indonesia yang tepat dalam setiap percakapannya.
ki·ta pron 1 pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara; (KBBI)
Kalau dilihat konteksnya, rasanya janggal kalau kami yang ada di ruang kelas juga dihubungi untuk pendaftaran. Padahal, yang dimaksud panitia adalah hubungi panitia. Lantas kenapa mereka seolah lupa menggunakan kata "kami"? Definisi kami dalam KBBI yaitu:
ka·mi pron 1 yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca --masih dari sumber yang sama--
kalau kita baca terutama yang saya cetak tebal dan garisbawahi, maka akan terlihat kata mana yang tepat digunakan dalam konteks atau situasi sejenis dengan panitia tadi. Sepertinya, kita harus banyak belajar dari serial Bima Satria Garuda yang berusaha menggunakan Bahasa Indonesia yang tepat dalam setiap percakapannya.
Jumat, 19 September 2014
Jurnal Perdanaku
ANALISIS
MINAT BACA SISWA SD
Maesaroh
Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas
Bahasa dan Seni Universitas Indraprasta PGRI
Jl.
Nangka 58C Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Indonesia
maesaroh.sya@gmail.com
Abstrak
Membaca
adalah keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh setiap manusia.
Dengan membaca, maka manusia dapat menerima berbagai pengetahuan yang
ada. Akan tetapi di Indonesia hal tersebut tidaklah menjadi sesuatu
yang penting. Terutama pada anak-anak, khususnya siswa SD, kegiatan
membaca tidak begitu disukai sehingga keterampilan berbahasa yang
mendasar itu tidak terasah dengan baik. Padahal, dari kecil kegiatan
membaca akan sangat berguna bila ditekuni yakni menjadi manusia
berkualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Kata
kunci: membaca, siswa, Indonesia
Analysis
of
Elementary
Students's
Interest
Abstract
Reading
is
language
skills
possessed
by
every
human
being.
By
reading,
then
humans
can
accept
a
variety of
existing
knowledge.
But
in
Indonesia,
it
is not
to
be something
important.
Especially
in
children,
especially
elementary
students,
reading
is
not so
favored
that
the
basic
language
skills
are
not
well
honed.
In
fact,
from reading the small activity would be very useful if occupied into
a human that can compete at the international level.
Keywords:
reading,
students,
Indonesia
A.
PENDAHULUAN
Buku
adalah jendela dunia. Pepatah tersebut tidaklah salah. Melalui buku,
maka berbagai ilmu pengetahuan dapat diketahui tanpa melangkahkan
kaki ke sumber ilmu. Sayangnya, di Indonesia kegiatan membaca buku
bukanlah hal utama yang disenangi warga masyarakat. Baik orang dewasa
maupun anak-anak kini tidak akrab dengan buku. Bahkan, banyak yang
memandang orang penyuka buku sebagai orang kurang pergaulan. Padahal,
justru dengan membaca maka wawasan orang tersebut sangat luas.
Anggapan kurang pergaulan tersebut menjadikan masyarakat tidak mau
menekuni buku sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia
Indonesia. Tidak salah bila Taufik Ismail menyatakan dalam
makalahnya, Generasi Nol Buku, bahwa ia bersama dengan puluhan ribu
anak SMA lain di seluruh tanah air pada 1953-1956 sudah menjadi
generasi nol buku, yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Nol buku
karena mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan
sekolah, sehingga "rabun" membaca. Sementara istilah
"pincang mengarang" karena tidak ada latihan mengarang
dalam pelajaran di sekolah. Kewajiban membaca dan mengarang, menurut
Taufik, bukan bertujuan untuk membuat siswa menjadi sastrawan, tapi
merupakan keahlian yang dibutuhkan di setiap profesi. Generasi nol
buku itulah yang kini disebut Taufik menjadi warga Indonesia yang
terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara di seluruh
strata, baik di pemerintahan atau di swasta. Beberapa sebab mendasar
amburadulnya Indonesia sekarang, mungkin sekali karena dalam fase
pertumbuhan intelektual, mereka membaca nol buku di sekolah (Ismail:
2007)
B.
PEMBAHASAN
Darmono
(2007:214) menyatakan bahwa minat baca merupakan kecenderungan jiwa
yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca. Minat baca
ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan
membaca. Hal ini disebabkan minat membaca merupakan salah satu faktor
penting yang akan membantu anak untuk segera siap membaca.
Senada
dengan pendapat Darmono, Rachman (1983:16) mengemukakan bahwa minat
baca diartikan sebagai perwujudan perilaku baca murid yang disebabkan
oleh faktor-faktor pendorong tertentu, baik oleh faktor internal
maupun eksternal.
Sementara
itu, Dallman dkk (1982 dalam Hadi Susanto, 2013) mengatakan bahwa
minat membaca merupakan faktor terpenting dari kesiapan membaca anak
untuk belajar membaca.
Minat
baca masyarakat Indonesia, dalam hal ini siswa SD masih rendah. Hal
tersebut terjadi hampir merata di beberapa daerah. Di Jakarta, siswa
SD lebih memahami bagaimana menggunakan ponsel pintar (smartphone)
daripada memilih buku bacaan yang tepat untuk mereka. Di Kalimantan
lain lagi. Para siswa kesulitan menemukan kosakata yang tepat untuk
menceritakan kegiatan sehari sebelumnya. Hal tersebut diakui sebagian
siswa bahwa itu karena mereka sangat jarang membaca buku. Buku-buku
yang disediakan di perpustakaan hanya sesekali mereka lirik bila ada
tugas.
Berdasarkan
data UNDP 2010 minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat
112 dari 175 negara, masih sangat rendah. Kemudian UNESCO pada 2012
mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang
berarti dalam tiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang memiliki
minat baca (republika.co.id). Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS) 2006 disebutkan bahwasanya masyarakat Indonesia lebih
tertarik menonton televisi dan mendengarkan radio daripada membaca
koran.
Beberapa
survei di atas telah menunjukkan mengenai kurangnya minat baca di
Indonesia. Akan tetapi kurangnya minat baca tidak muncul begitu saja.
Ada faktor-faktor penyebab kurangnya minat baca di Indonesia,
khususnya di kalangan siswa SD.
Penyebab
pertama sistem pembelajaran belum membuat anak-anak, siswa, dan
mahasiswa harus membaca buku. Saat ini tugas-tugas siswa SD lebih
banyak mendekatkan mereka dengan internet. Mulai pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) sampai tugas mengarang dalam pelajaran
Bahasa Indonesia. Para siswa hanya ditugaskan mencari sebuah materi
dan mencetaknya untuk dikumpulkan tanpa ada keharusan mendiskusikan
bahan yang mereka kumpulkan.
Penyebab
kedua adalah banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan
TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku.
Para siswa SD lebih mudah menghapal lagu-lagu baru atau kisah terbaru
yang ditayangkan televisi daripada mengetahui buku baru yang terbit
untuk mereka. Padahal, sudah banyak buku-buku yang terbit dengan
penyesuaian isi serta tata wajah buku agar menarik perhatian
anak-anak, seperti buku-buku Kecil-kecil Punya Karya terbitan Asma
Nadia Publishing House.
Kemudian
penyebab ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu
seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall,
supermarket. Di kota besar khususnya aktivitas rutin di hari kerja
yang padat memang membosankan, melelahkan. Hal tersebut menyebabkan
masyarakat memerlukan waktu luang untuk bersantai dan berhenti
sejenak dari rutinitasnya. Berbagai fasilitas disediakan sebagai alat
pemenuh kebutuhan hiburan. Padahal, waktu luang yang ada bisa diisi
dengan membaca buku.
Penyebab
keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang
kita. Kita hanya terbiasa mendengar berbagai dongeng, kisah,
adat-istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, nenek, dan tokoh
masyarakat.
Kelima,
para ibu orang tua kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan,
serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga. Sehingga tiap
hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu
anak membaca buku dan belajar. Bahkan bagi sebagian besar ibu di
Indonesia membaca buku adalah hal yang membuang waktu sehingga tidak
perlu dilakukan.
Terakhir,
mempunyai sifat malas yang merajalela dikalangan anak-anak maupun
dewasa untuk membaca dan belajar demi kemajuan diri masing-masing
untuk menambah ilmu pengetahuan. Keengganan membaca buku ini masih
terkait dengan adanya berbagai mainan lain sejenis game console, atau
ttontonan anak yang waktunya sangat lama. Bagi anak-anak, menonton
atau bermain adalah hal yang tidak menguras energi dan pikiran
sedangkan membaca memerlukan fokus pikiran tersendiri.
Dengan
keenam faktor tersebut maka muncullah kurangnya minat baca masyarakat
Indonesia, khususnya siswa SD. Dampaknya, tidak lain tidak bukan,
rendahnya kualitas orang Indonesia dalam persaingan dengan orang luar
negeri yang hobi membaca.
Upaya
yang sudah dilakukan pemerintah terkait masalah minat baca antara
lain memperbaiki perpustakaan di setiap daerah. Dari bangunan,
manajemen, hingga koleksi diusahakan agar tidak ketinggalan dengan
toko buku. Selain itu, untuk menambah pelayanan dan meningkatkan
minat baca masyarakat, keterlambatan mengembalikan buku perpustakaan
tidak lagi didenda berupa uang, tapi skorsing ketidakbolehan meminjam
buku dalam kurun waktu tertentu.
Kemudian
pemerintah juga menyediakan perpustakaan keliling dengan mobil yang
dioperasikan pada hari tertentu di wilayah perpustakaan tersebut.
Dengan adanya mobil perpustakaan keliling, anak-anak yang enggan ke
perpustakaan masih bisa membaca buku. Kegiatan jemput bola yang
dilakukan pemerintah mulai berbuah hasil.
ada
pula acara-acara yang diadakan oleh perpustakaan untuk menarik minat
baca masyarakat Indonesia, misalnya saja lomba bercerita. Lomba
bercerita ini isi ceritanya harus diambil dari buku-buku yang sudah
terbit di Indonesia. Dengan cara itu diharapkan para siswa SD yang
ingin menjadi peserta akhirnya membaca buku untuk diceritakan dalam
lomba.
Upaya
pemerintah tersebut juga didukung oleh sebagian masyarakat yang
peduli pada minat baca penduduk Indonesia. Maka berdirilah berbagai
taman bacaan dan mobil pustaka keliling yang mirip dengan
perpustakaan keliling milik pemerintah dari segi fungsi.
Selain
itu, upaya meningkatkan minat baca juga dapat dilakukan dari dalam
rumah. Sebagian keluarga modern mencanangkan kegiatan membaca bagi
keluarganya sebagai sesuatu hal wajib setiap hari. Mereka membiasakan
pembacaan dan berbagi cerita terkait isi buku dengan antar anggota
keluarga. Bahkan ada yang mengenalkan buku pada anggota keluarga yang
masih bayi.
Program
kunjungan ke toko buku tiap bulan atau perpustakaan juga bisa menjadi
salah satu cara meningkatkan minat baca pada anak. Dengan kunjungan
tersebut, anak akan tahu bahwa buku banyak macamnya.
- PENUTUP
Minat
baca masyarakat Indonesia, khususnya siswa SD, masih rendah. Hal
tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang melatarbelakangi
kurangnya minat baca. Berbagai upaya harus dilakukan agar minat baca
siswa SD khususnya meningkat. Pihak pemerintah, organisasi swadaya,
sampai individu berusaha untuk mengembangkan minat baca masyarakat
Indonesia. Jika mereka tidak berjalan sendiri-sendiri dan bersinergi,
tentu minat baca masyarakat Indonesia akan meningkat. Peningkatan
minat baca sejak kecil akan berdampak positif saat ia dewasa, yaitu
dapat menjadi manusia berkualitas yang mampu bersaing di tingkat
internasional.
DAFTAR PUSTAKA
Darmono. 2007.
Perpustakaan
Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja.
Jakarta: Grasindo.
H. A, Abd. Rachman,
dkk.1983. Minat
Baca Murid Siswa Sekolah Dasar di Jawa Timur.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
http://saipuddin.wordpress.com/2010/05/16/7-penyebab-rendahnya-minat-baca/
(diakses 14 Februari 2014)
http://kitaabah.com/ina/diankp/peran-komunitas-meningkatkan-minat-baca-anak-indonesia
(diakses 14 Februari 2014)
Sabtu, 21 September 2013
Bahasa Vicky yang Ajaib
Akhir-akhir ini heboh soal Bahasa Vicky. Ada juga yang nyebut Vickyisme, atau Vickyisasi. Saya sendiri punya cerita terkait hal ini. Yuk, simak cerita saya ^_^
Berawal dari suatu siang saya dudukduduk di depan rumah bersama Kinan. Seorang tetangga yang merupakan ibu rumah tangga datang dan nyeletuk, "Kasian ya si Saskia, ketipu," katanya. Saya sontak bengong. "Itu, penyanyi," lanjutnya.
"Yah, saya nggak apdet artis-artisan. Hehehe, Budhe apdet ajah," celetuk saya nyengir sambil mangku Kinan.
"Yang di tivi adanya itu."
Oke, saya akhirnya penasaran tentang Saskia. Oh, di internet baru tahu saya bahwa namanya Zaskia, bukan Saskia. Baca baca baca, saya lagi-lagi ber-ooh, dia ketipu tunangannya. Tapi ada berita terkait yang menarik. Saya tertarik judul yang menyebut tentang Vicky dan bahasa intelek. Segera saya buka beritanya, baca, dan...GLODAK!
Entah saya harus bicara apa. Saya akan mencoba menggambarkan kondisi saya saat itu.
"Di usiaku saat ini .. ee .. ya 29 MY AGE ya ..
mulai ngikik karena Wakijanishnya. *Wakijanish itu Wakijan English--sebutan untuk pengguna kata Inggris dengan tata bahasa Indonesia, yang tujuan awalnya untuk bercanda.
"Tapi aku tetap masih merindukan apresiasi karena .. basically aku seneng .. seneng musik walaupun KONTROVERSI HATI Aku lebih menyudutkan kepada KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih ...
belum berhenti ngikik. Kali ini diiringi alis berkerut, ceritanya mikir.
"Nggak ..kita .. kita belajar .. apa ya HARMONISASI dari hal terkecil sampai terbesar.. Kupikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan KUDETA apa yang kita menjadi keinginan yaa.
"Dengan adanya hubungan ini bukan MEMPERTAKUT, bukan MEMPERSURAM STATUSISASI KEMAKMURAN keluarga dia gitu .. tapi menjadi CONFIDENT, tapi .. kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita tetap lebih baik ... dan aku sangat bangga."
Kejengkang! Nggak ding, cuma shock aja ada yang se-wakijanish- ini plus ngasal aja ngasih imbuhan -isasi dan memper-. Gemes, jadi penasaran nyari-nyari istilah kebahasaan untuk kasus Vicky ini.
Daaan... sore tadi di ruang kuliah saya dapat jawabannya dari Bu Endang sebagai dosen saya.
"Saya baru nemu orang seajaib dia. Vicky ini seinterferensi-interferensinya orang. Apalagi video dia nyalon, tonton deh. Ajaib banget."
Interferensi. Yup! itu dia istilah kebahasaan yang tepat. Mau tahu apa sih interferensi itu?
Eh iya, ternyata penyimpangan bahasa mirip Vicky itu udah pernah ada lho di zaman orde baru. Misalnya: kuningisasi, turinisasi (kampanye penanaman pohon Turi wkwkwkwkwk)
Berawal dari suatu siang saya dudukduduk di depan rumah bersama Kinan. Seorang tetangga yang merupakan ibu rumah tangga datang dan nyeletuk, "Kasian ya si Saskia, ketipu," katanya. Saya sontak bengong. "Itu, penyanyi," lanjutnya.
"Yah, saya nggak apdet artis-artisan. Hehehe, Budhe apdet ajah," celetuk saya nyengir sambil mangku Kinan.
"Yang di tivi adanya itu."
Oke, saya akhirnya penasaran tentang Saskia. Oh, di internet baru tahu saya bahwa namanya Zaskia, bukan Saskia. Baca baca baca, saya lagi-lagi ber-ooh, dia ketipu tunangannya. Tapi ada berita terkait yang menarik. Saya tertarik judul yang menyebut tentang Vicky dan bahasa intelek. Segera saya buka beritanya, baca, dan...GLODAK!
Entah saya harus bicara apa. Saya akan mencoba menggambarkan kondisi saya saat itu.
"Di usiaku saat ini .. ee .. ya 29 MY AGE ya ..
mulai ngikik karena Wakijanishnya. *Wakijanish itu Wakijan English--sebutan untuk pengguna kata Inggris dengan tata bahasa Indonesia, yang tujuan awalnya untuk bercanda.
"Tapi aku tetap masih merindukan apresiasi karena .. basically aku seneng .. seneng musik walaupun KONTROVERSI HATI Aku lebih menyudutkan kepada KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih ...
belum berhenti ngikik. Kali ini diiringi alis berkerut, ceritanya mikir.
"Nggak ..kita .. kita belajar .. apa ya HARMONISASI dari hal terkecil sampai terbesar.. Kupikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan KUDETA apa yang kita menjadi keinginan yaa.
"Dengan adanya hubungan ini bukan MEMPERTAKUT, bukan MEMPERSURAM STATUSISASI KEMAKMURAN keluarga dia gitu .. tapi menjadi CONFIDENT, tapi .. kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita tetap lebih baik ... dan aku sangat bangga."
Kejengkang! Nggak ding, cuma shock aja ada yang se-wakijanish- ini plus ngasal aja ngasih imbuhan -isasi dan memper-. Gemes, jadi penasaran nyari-nyari istilah kebahasaan untuk kasus Vicky ini.
Daaan... sore tadi di ruang kuliah saya dapat jawabannya dari Bu Endang sebagai dosen saya.
"Saya baru nemu orang seajaib dia. Vicky ini seinterferensi-interferensinya orang. Apalagi video dia nyalon, tonton deh. Ajaib banget."
Interferensi. Yup! itu dia istilah kebahasaan yang tepat. Mau tahu apa sih interferensi itu?
Interferensi, menurut Nababan (1984), merupakan kekeliruan yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua. Senada dengan itu, Chaer dan Agustina (1995: 168) mengemukakan bahwa interferensi adalah peristiwa penyimpangan norma dari salah satu bahasa atau lebih. (sumber)Lega begitu terjawab my questionisasi (halagh).
Eh iya, ternyata penyimpangan bahasa mirip Vicky itu udah pernah ada lho di zaman orde baru. Misalnya: kuningisasi, turinisasi (kampanye penanaman pohon Turi wkwkwkwkwk)
Jumat, 04 Januari 2013
Sepanjang Rel Kereta: Kisah Persahabatan
Tema persahabatan ada di buku ini, dengan berbagai kisah fiksi para penulisnya. Keuntungan penjualan akan dipakai untuk biaya cuci darah istri salah satu pegawai Bu Nenny, penanggung jawab pengumpulan naskah sehingga menjadi buku ini. Yang suka persahabatan, yang pengen beramal, beli aja buku ini. Bisa lewat sya bisa lewat penerbitnya ^_^
Sahabat Maya Inspirasiku: Kisah Inspiratif Persahabatan
“Siapa sih dia, kok ngabisin bandwith forum aja?” begitu rutukku membatin akan ulah dua akun di sebuah forum yang aku aktif di dalamnya. Kecintaanku pada forum itu membuatku menjaga dengan kemampuanku agar forum dengan traffic tinggi itu tidak down. Tapi rupanya ada yang tidak patuh akan aturan forum, termasuk dua akun ini .... (nyatanya maya - sya)
***
Interaksi di dunia maya ternyata bisa terisi hikmah lho. Oke, kita nggak menafikan adanya efek negatif karena interaksi dunia maya, tapi semua tergantung pemakainya kan? di buku ini berbagai kisah nyata para penulisnya terkait persahabatan dunia maya bisa jadi suntikan semangat untuk nggak memandang sebelah mata terhadap dunia maya. iyakah? buktinya buku ini :D
penasaran? segera miliki aja. lewat sya bisa, lewat penerbitnya langsung bisa ^_^
***
Interaksi di dunia maya ternyata bisa terisi hikmah lho. Oke, kita nggak menafikan adanya efek negatif karena interaksi dunia maya, tapi semua tergantung pemakainya kan? di buku ini berbagai kisah nyata para penulisnya terkait persahabatan dunia maya bisa jadi suntikan semangat untuk nggak memandang sebelah mata terhadap dunia maya. iyakah? buktinya buku ini :D
penasaran? segera miliki aja. lewat sya bisa, lewat penerbitnya langsung bisa ^_^
Rindu Mahabbah: Antologi Cinta dan Kerinduan
“Mas...besok tanggal 12, kan?” aku menyahuti dengan hal lain.
“Iya, besok tanggal 12. Besok aku pergi ke lokasi, di pedalaman Sorowako,” jawabnya.
Ah, Mas. Bukan itu maksudku. Tapi, tanggal 12 besok itu istimewa untukku. Hangat tadi sedikit demi sedikit menghilang, berganti dengan desakan di dada, timbulkan sesak. Kalau saja ia mau mengurangi egonya untuk tak mempedulikan hari yang katanya tak perlu dirayakan itu. Dan sambil menunggu sambungan ucapannya, kualihkan pandang ke benda kain bernama boneka, sebuah boneka mungil pemberiannya tahun lalu. Hadiah pertama dan mungkin terakhirnya di hari istimewaku karena ia tak akan lagi menganggap tanggal 12 sebagai hari yang perlu diingat selain sebagai tanggal lahirku.
“Kita sudah pernah bahas, kan? Masih banyak kok hari lain yang juga istimewa, Rin,” akhirnya terdengar juga kalimatnya. Dan saat itu juga aku merasakan air mata sudah menelusuri pipi gembilku.
***
Sepenggal kisah dalam buku ini ditulis oleh sya. ehem, siapa ya sya itu? *lirik-lirik yang ngetik*
oke, oke, ini buku sya yang ke...duh lupa, dari 4 buku ini buku ke berapa, ya? -_-a
langsung aja deh ke rinciannya buku ini:
Judul Buku: Rindu Mahabbah
Penulis : Gemintang Halimatussa’diah, dkk
Editor : Gemintang Halimatussa’diah
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : Zaid Abdurrahman
ISBN : 978-927-0803-36-8
harga: Rp 42.000
masih ada belasan kisah fiksi yang religius dalam buku ini, tentu terkait cinta dan rindu. hayuk, yang pengen dapet hikmah dari kisah-kisahnya, beli aja buku ini. di mana? hubungi May juga bisa, kok. ke penerbit langsung juga bisa ^_^
Minggu, 16 Desember 2012
First Love Story
Pagi-pagi kaget dengan kabar dari penerbit Goresan Pena Publishing. Antologi "First Love Story" udah terbit!!! Kyaaaa~~ ini buku antologi pertama May berarti ^_^ sekaligus buku pertama May :malu:
buku ini berisi kumpulan cerita yang berdasar kisah nyata masing-masing penulisnya. waw! penasaran?
tuh covernya. bukunya ada 5 season dan May masuk ke buku season 5 :D oh iya, tulisan Mas Dian juga masuk di antologi ini lho, tapi beliau di season 2 (aiiih, kalah deh rasanya)
o iya ini sedikit rincian dari penerbitnya tentang buku May:
kalau rincian buku Mas Dian:
mau tau isi kisahnya? yuk beliiiiii xixixixi
buku ini berisi kumpulan cerita yang berdasar kisah nyata masing-masing penulisnya. waw! penasaran?
tuh covernya. bukunya ada 5 season dan May masuk ke buku season 5 :D oh iya, tulisan Mas Dian juga masuk di antologi ini lho, tapi beliau di season 2 (aiiih, kalah deh rasanya)
o iya ini sedikit rincian dari penerbitnya tentang buku May:
First Love Stories season 5 :
Oleh : Lavira Hadi Cahya - Murni Oktarina - Sepri Ayu Flow - Kaswarganti Catur NW - Nur Indah Ariyani, dkk.
Penulis : Lavira Hadi Cahya - Murni Oktarina - Sepri Ayu Flow - Kaswarganti Catur NW - Nur Indah Ariyani - Kusuma - Dhianikee - Nur Fuad - Nur Fitriani – Sya - Yolanda P.Ningrum - Heru Patria - Ikhrina Syaf’aini - Melly Waty - Dian Agustin - Ariny NH.
Editor : Lavira Hadi Cahya.
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing.
Desain Cover : Yulianto Wibowo.
ISBN : 978-927-6624-08-6
kalau rincian buku Mas Dian:
First Love Stories season 2 :
Oleh : Lavira Hadi Cahya - Gemintang Halimatussa’diah - Rinai Bening Kasih - Rezita Agnesia Siregar - Leni Sundari, dkk.
Penulis : Lavira Hadi Cahya - Gemintang Halimatussa’diah - Rinai Bening Kasih - Rezita Agnesia Siregar - Leni Sundari - Askar Marlindo - Fhirzy Fatmalia - Reshi Gowo - Adinda Iik Zakiah - Fitria Osin - Fitria Desi Shinta - Arinda Shafa - Amaniyya Al Asr – Chastfa - Nurdian Dhee - Ami ChipoChipo - Ai Nur’aisah - Fatimah.
Editor : Lavira Hadi Cahya.
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing.
Desain Cover : Yulianto Wibowo.
ISBN : 978-927-6624-08-6
mau tau isi kisahnya? yuk beliiiiii xixixixi
Sabtu, 19 Mei 2012
Sastra dan Perubahan Sosial
Assalamu'alaikum. lama nih nggak bahas sastra islami. Tadi dapet bahan waktu kuliah sastra dan masyarakat (sosiologi sastra). tentang sastra dan perubahan sosial.
sastra dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan sosial
ada yang bingung dengan subjudul di atas? oke, sya mulai ya. sastra adalah bagian dari kebudayaan masyarakat tempat ia lahir. misalnya saja, syair-syair nasehat (kalau kata dosen, contoh konkretnya gurindam). karena sastra itu lahir, tumbuh, dan berkembang di tengah masyarakat, maka otomatis sastra itu dipengaruhi kondisi sosial sekitarnya, tapi sastra juga bisa memberi pengaruh pada perubahan kondisi sosial tempat ia tercipta.
sastra dipengaruhi perubahan sosial
yuk kita ambil contoh. Teman-teman masih ingat "Catatan Seorang demonstran"? karya sastra tersebut (meski masih berjenis autobiografi) lahir karena kegelisahan seorang pemuda bernama Soe Hok Gie (Gie) atas kondisi sosial di negara tempat ia hidup, Indonesia. Gelisah karena pemerintah yang cacat menurutnya. Kegelisahan itu dituangkannya dalam tulisan-tulisan featureatau puisi. misalnya saja yang sya kutip ini:
PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
-soe hok gie-
kegelisahan Gie itu tertuang dalam puisi dan akhirnya puisi yang merupakan karya sastra itu menjadi contoh bahwa karya sastra dipengaruhi perubahan sosial. sampai di sini kita sepakat? atau ada pendapat lain?
sastra mempengaruhi perubahan sosial
oke, kali ini kita terbang ke masa sekarang. Bagaimana bisa sastra mempengaruhi perubahan sosial? eh tapi coba deh inget atsar sahabat,"ajari anakmu sastra, maka yang takut akan jadi berani". sya yakin teman-teman pernah membaca atau setidaknya tahu isi novel 'ayat-ayat cinta', 'ketika cinta bertasbih', 'di bawah lindungan ka'bah', dan yang terbaru 'negeri 5 menara'. Apa teman-teman menyadari bahwa sebenarnya karya-karya tersebut mulai mengubah sedikit kehidupan masyarakat di Indonesia, khususnya muslim remaja?
Yep. pertama, sya sangat menyadari bahwa remaja saat ini mengenal ta'aruf untuk menikah dan mereka mulai mencoba meninggalkan yang namanya pacaran. Iya, kan? Sya sangat berterima kasih pada penulis novel bertema cinta itu yang ternyata mampu mengajak remaja muslim berubah haluan pola pikir mereka
kedua, sedikit banyak masyarakat muslim mulai terbuka matanya terhadap kata 'pesantren'. setelah diserang bertubi-tubi melalui buku 'perempuan berkalung sorban' (hei, ternyata buku tersebut juga mengubah pola pikir muslim tentang pesantren! sayangnya pola pikir negatif
), kini 'Negeri 5 menara' mengembalikan arti kata 'pesantren' yang sebenarnya.
sastra dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan sosial
ada yang bingung dengan subjudul di atas? oke, sya mulai ya. sastra adalah bagian dari kebudayaan masyarakat tempat ia lahir. misalnya saja, syair-syair nasehat (kalau kata dosen, contoh konkretnya gurindam). karena sastra itu lahir, tumbuh, dan berkembang di tengah masyarakat, maka otomatis sastra itu dipengaruhi kondisi sosial sekitarnya, tapi sastra juga bisa memberi pengaruh pada perubahan kondisi sosial tempat ia tercipta.
sastra dipengaruhi perubahan sosial
yuk kita ambil contoh. Teman-teman masih ingat "Catatan Seorang demonstran"? karya sastra tersebut (meski masih berjenis autobiografi) lahir karena kegelisahan seorang pemuda bernama Soe Hok Gie (Gie) atas kondisi sosial di negara tempat ia hidup, Indonesia. Gelisah karena pemerintah yang cacat menurutnya. Kegelisahan itu dituangkannya dalam tulisan-tulisan featureatau puisi. misalnya saja yang sya kutip ini:
PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
-soe hok gie-
kegelisahan Gie itu tertuang dalam puisi dan akhirnya puisi yang merupakan karya sastra itu menjadi contoh bahwa karya sastra dipengaruhi perubahan sosial. sampai di sini kita sepakat? atau ada pendapat lain?
sastra mempengaruhi perubahan sosial
oke, kali ini kita terbang ke masa sekarang. Bagaimana bisa sastra mempengaruhi perubahan sosial? eh tapi coba deh inget atsar sahabat,"ajari anakmu sastra, maka yang takut akan jadi berani". sya yakin teman-teman pernah membaca atau setidaknya tahu isi novel 'ayat-ayat cinta', 'ketika cinta bertasbih', 'di bawah lindungan ka'bah', dan yang terbaru 'negeri 5 menara'. Apa teman-teman menyadari bahwa sebenarnya karya-karya tersebut mulai mengubah sedikit kehidupan masyarakat di Indonesia, khususnya muslim remaja?
Yep. pertama, sya sangat menyadari bahwa remaja saat ini mengenal ta'aruf untuk menikah dan mereka mulai mencoba meninggalkan yang namanya pacaran. Iya, kan? Sya sangat berterima kasih pada penulis novel bertema cinta itu yang ternyata mampu mengajak remaja muslim berubah haluan pola pikir mereka
kedua, sedikit banyak masyarakat muslim mulai terbuka matanya terhadap kata 'pesantren'. setelah diserang bertubi-tubi melalui buku 'perempuan berkalung sorban' (hei, ternyata buku tersebut juga mengubah pola pikir muslim tentang pesantren! sayangnya pola pikir negatif
saya tulis ini sebelumnya di myQuran
Sabtu, 07 April 2012
Pendekatan Mekanisme Universal
Berikut saya coba paparkan sekadar rangkuman bahasan teori Duvignaud (Pendekatan Mekanisme Universal) dari buku karya Umar Junus (fiuh, bahasa Melayu euy, nggak bisa langsung dikunyah isinya). Oh iya, kalau mau salin untuk tugas terutama, mohon cantumkan blog saya sebagai sumber, ya. Saya masih menjunjung etika karya ilmiah soalnya ^_^
Terima kasih
Terima kasih
Pendekatan Mekanisme UniversalDevignaud mengawali pemikirannya dengan menolak 4 mitos tentang estetika, yaitu:1. Seni adalah realisasi empiris dari keindahan (pandangan Goethe)2. Seni berasal dari seni primitif3. Seni bertugas melukiskan kenyataan alam4. Seni selalu terikat pada agamaKemudian Duvignaud membagi tipe seni yang berbeda dengan pandangan dunia (banyak digunakan sarjana-sarjana Jerman). Tipe-tipe tersebut yaitu:1. Seni primitif yang memiliki fungsi sendiri dalam masyarakat primitif (seperti seni terkait animisme, dinamisme yang merupakan seni di zaman prasejarah)2. Seni dalam masyarakat teokrasi yang berhubungan dengan kekuatan di luar manusia3. Seni dalam kehidupan kota yang memegang peranan penting dalam perkembangan seni (menurut Duvignaud)4. Seni modern yang merupakan perkembangan dari seni kehidupan kotaDapat disimpulkan bahwa Duvignaud membicarakan hubungan antara seni dan fungsi seni dalam masyarakat. Devignaud melihat dalam perspektif sejarah kesenian (dengan manifestasi seni) pasti dihasilkan oleh kondisi sosial tertentu. Hal tersebut bersifat umum, menyeluruh, kapan dan di mana saja (universal). Perkembangan seni setiap bangsa sama dengan tingkat perkembangan yang juga sama.Pandangan-pandangan Duvignaud tersebut lebih menitikberatkan pada sosiologi kesenian tanpa memperhatikan perkembangan setempat. Hal ini bertentangan dengan dasar sosiologi sastra yang menekankan adanya perbedaan karena berbedanya sosiobudaya tiap wilayah.Karena Duvignaud menyatakan bahwa sifat tiap seni itu sama, maka pandangan tersebut tidak memungkinkan adanya perhatian terhadap variasi individual antara seniman satu dengan lainnya. Pandangan ini berbeda dengan sosiologi sastra yang salah satu dasarnya ingin melihat perbedaan seni berdasar perbedaan latar belakang seniman.Pendekatan Duvignaud dengan keadaan tersebut (terlalu umum dan tidak memperhatikan karakteristik tiap seni) sukar digunakan untuk mengkaji dalam sosiologi sastra karena bertolak dari sesuatu yang umum dan abstrak. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk melihatnya sebagai pendekatan ‘gerak seni’, lebih khusus lagi, ‘gerak sastra’, yang kelihatannya diabaikan pendekatan lain dalam kajian sastra.
Sabtu, 18 September 2010
Nulis, Yuk!
Fren, kita nggak selalu nulis untuk dikoleksi sendiri. Jujur, deh...iya,kan? Nah, berdasar pertanyaan seorang teman tentang menulis, saya pengen nyoba ‘nularin’ apa yang saya lakukan.
Nggak susah, kok, nulis. Yang penting MAU, MAMPU, dan SEMPAT. Kapan kita bisa tahu kalau kita mau? Sewaktu keinginan itu muncul. Bahkahn, sekelebat mimpi tentang sebuah kalimat yang ingin ditulis untuk seseorang saja sudah bisa dikategorikan mau. Lalu, mampunya? Wah, ini pertanyaan yang mudah dijawab. Kapan kita bisa menulis dan menyusun kata? Itulah masa yang disebut mampu. Lalu, kapan waktu untuk kata sempat? Ini lagi. Menurut saya, kita sempat ketika mau dan mampu itu muncul...kapan kita punya pulpen dan kertas atau keyboard dan monitor (dengan CPU tentunya)? Saat itulah kita bisa menulis...ups, sempat. Ya, tentunya lihat situasi dan kondisi juga....
Terus, gimana biar kita bisa ngembangin tulisan supaya orang minat untuk baca tulisan kita? Banyak yang nanya,”Punya buku kiat menulis?” atau “Ahli tentang psikologi bilang apa tentang tulisan?”
Jujur, nih, fren. Saya lebih cenderung setuju dengan kata-kata dosen saya (siapa?), Helvy Tiana Rosa, suatu saat ketika kami duduk santai ditemani mi ayam. Beliau berkata,”Kita nggak perlu banyak teori, tapi praktek” atau kata dosen lain,”Sulit kalau melihat teori, tapi belajarlah dari karya orang lain.”
Intinya, kalau kita terjun ke lapangan secara langsung, akan lebih mudah membantu kita menemukan kiat menulis.
Terakhir, nih. Saya punya satu pedoman dalam menulis: Jadi dirimu sendiri, temukan gayamu dalam menulis.
Ok, selamat berjuang lewat pena. Kalau ada yang punya kiat menulis lebih baik dari saya, menyanggah, atau menambah, langsung aja, ya, isi kolom komentar. Ok, fren. Saya tunggu perjuangan kita lewat pena. Kenapa kita? Karena saya juga akan berjuang lewat pena, nggak mau kalah dibanding kalian.
Nggak susah, kok, nulis. Yang penting MAU, MAMPU, dan SEMPAT. Kapan kita bisa tahu kalau kita mau? Sewaktu keinginan itu muncul. Bahkahn, sekelebat mimpi tentang sebuah kalimat yang ingin ditulis untuk seseorang saja sudah bisa dikategorikan mau. Lalu, mampunya? Wah, ini pertanyaan yang mudah dijawab. Kapan kita bisa menulis dan menyusun kata? Itulah masa yang disebut mampu. Lalu, kapan waktu untuk kata sempat? Ini lagi. Menurut saya, kita sempat ketika mau dan mampu itu muncul...kapan kita punya pulpen dan kertas atau keyboard dan monitor (dengan CPU tentunya)? Saat itulah kita bisa menulis...ups, sempat. Ya, tentunya lihat situasi dan kondisi juga....
Terus, gimana biar kita bisa ngembangin tulisan supaya orang minat untuk baca tulisan kita? Banyak yang nanya,”Punya buku kiat menulis?” atau “Ahli tentang psikologi bilang apa tentang tulisan?”
Jujur, nih, fren. Saya lebih cenderung setuju dengan kata-kata dosen saya (siapa?), Helvy Tiana Rosa, suatu saat ketika kami duduk santai ditemani mi ayam. Beliau berkata,”Kita nggak perlu banyak teori, tapi praktek” atau kata dosen lain,”Sulit kalau melihat teori, tapi belajarlah dari karya orang lain.”
Intinya, kalau kita terjun ke lapangan secara langsung, akan lebih mudah membantu kita menemukan kiat menulis.
Terakhir, nih. Saya punya satu pedoman dalam menulis: Jadi dirimu sendiri, temukan gayamu dalam menulis.
Ok, selamat berjuang lewat pena. Kalau ada yang punya kiat menulis lebih baik dari saya, menyanggah, atau menambah, langsung aja, ya, isi kolom komentar. Ok, fren. Saya tunggu perjuangan kita lewat pena. Kenapa kita? Karena saya juga akan berjuang lewat pena, nggak mau kalah dibanding kalian.
24 Juli 2007
10.42 WIB
10.42 WIB
Rabu, 11 November 2009
revisi
Beranjak malam menuju pertengahan masa. ya, aku di sini asik melayangkan mata menatap monitor begantian dengan lembarskripsi teman yang kucoba revisi. Apa itu revisi?
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
re·vi·si /révisi/ n peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan: sudah waktunya diadakan -- thd buku ini;
me·re·vi·si v memperbaiki; memperbarui: kami akan ~ buku ini agar menjadi lebih baik
ternyata setelah membuka berkali gugel, wikipedia,eh nemunya di kamus besar....kitab suci mahasiswa bahasa.....
cuma mau bilang bahwa sya nemu kata itu....ditengah kerja yang berkaitan
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
re·vi·si /révisi/ n peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan: sudah waktunya diadakan -- thd buku ini;
me·re·vi·si v memperbaiki; memperbarui: kami akan ~ buku ini agar menjadi lebih baik
ternyata setelah membuka berkali gugel, wikipedia,eh nemunya di kamus besar....kitab suci mahasiswa bahasa.....
cuma mau bilang bahwa sya nemu kata itu....ditengah kerja yang berkaitan
baca
Sepagian menjelang siang bercerita banyak hal hingga akhirnya ia ucapkan hal sama:
ajarin cerpen dan puisi dunk
padahal diksinya sudah bagus....
akhirnya kujawab
langkah pertama: baca!!
kenapa baca?
karena baca itu sumber kekayaan kosakata. kalau sudah rajin membaca, maka kosakata akan bertambah dengan sendirinya. kata bang herry nurdi sih gitu
terus? nah, yang sempat may sebut tadi kan diksi. emangnya diksi itu apa?
dik·si n Ling pilihan kata yg tepat dan selaras (dl penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (spt yg diharapkan)
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
kenapa diksi juga dipikirkan? dalam sastra, terutama narasi deskriptif, pemilihan kata kan diharapkan bisa menimbulkan efek terhadap pembaca sehingga pembaca bisa merasakan ruh dari tulisan yang disajikan.
*sya habis baca teori nih jadi tulisannya begini. maaf kalau banyak kekurangan. tolong tambahkan biar baik ya teman-teman. makasih
ajarin cerpen dan puisi dunk
padahal diksinya sudah bagus....
akhirnya kujawab
langkah pertama: baca!!
kenapa baca?
karena baca itu sumber kekayaan kosakata. kalau sudah rajin membaca, maka kosakata akan bertambah dengan sendirinya. kata bang herry nurdi sih gitu
terus? nah, yang sempat may sebut tadi kan diksi. emangnya diksi itu apa?
dik·si n Ling pilihan kata yg tepat dan selaras (dl penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (spt yg diharapkan)
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
kenapa diksi juga dipikirkan? dalam sastra, terutama narasi deskriptif, pemilihan kata kan diharapkan bisa menimbulkan efek terhadap pembaca sehingga pembaca bisa merasakan ruh dari tulisan yang disajikan.
*sya habis baca teori nih jadi tulisannya begini. maaf kalau banyak kekurangan. tolong tambahkan biar baik ya teman-teman. makasih
Puisi Sosial Tak Berjudul
oiiii, inilah negeri carut-marut
negeri yang penuh tumpah darah kami
alangkah akrab dengan bencana
dimana mana orang berteriak!
lapar...lapar....
siapa peduli?
oiii, inilah negeri carut marut
negeri yang penuh airmata
alangkah akrab dengan yang bernama busung lapar
lapar....
lapar...
tak ada peduli
ketika...berebut sesuap nasi...
mati
terinjak berkubur tanpa nisan
hahhh....
di gedung wakil rakyat
berkursi rakyat, bersepatu rakyat, bertameng reformasi
terlanjur kutitipkan suara hati dan nurani
sedang mereka sibuk berebutan amplop
yang berseliweran di bawah kursi
di gedung rakyat yang bertameng rakyat
terlanjur kusandarkan harapan
tentang mimpi mimpi indah tanah merdeka
di pundak mereka
rumah rakyat telah berobah tingkah
menjadi warung tuak tempat berkumpul para pemabuk
hingga tempat nongkrong para pelacur
yang berparfum darah mahasiswa dan bertongkat
tulang tulang rakyat yang semakin sekarat
lihatlah
di dasinya terpampang hati dan nurani rakyat
yang diperjual belikan dengan tarfi yang cukup lumayan
buat tidur di hotel berbintang bintang
sambil berdansa cha cha cha
lupa rakyat
lupa janji
lupa sumpah
lupa jabatan
lupa nurani
dan lupa mati
by seseorang yang nggak mau disebut namanya....
sebuah gugatan pada kehidupan sosial yang coba dirangkai dalam bait puisi. nggak salah untuk nempatin kata-kata denotatif. nggak salah. banyak pengulangan kalimat yang sya pikir adalah sebuah penekanan (tar dulu, lagi penuh nih kepala, jadi belum bisa komen banyak...)
negeri yang penuh tumpah darah kami
alangkah akrab dengan bencana
dimana mana orang berteriak!
lapar...lapar....
siapa peduli?
oiii, inilah negeri carut marut
negeri yang penuh airmata
alangkah akrab dengan yang bernama busung lapar
lapar....
lapar...
tak ada peduli
ketika...berebut sesuap nasi...
mati
terinjak berkubur tanpa nisan
hahhh....
di gedung wakil rakyat
berkursi rakyat, bersepatu rakyat, bertameng reformasi
terlanjur kutitipkan suara hati dan nurani
sedang mereka sibuk berebutan amplop
yang berseliweran di bawah kursi
di gedung rakyat yang bertameng rakyat
terlanjur kusandarkan harapan
tentang mimpi mimpi indah tanah merdeka
di pundak mereka
rumah rakyat telah berobah tingkah
menjadi warung tuak tempat berkumpul para pemabuk
hingga tempat nongkrong para pelacur
yang berparfum darah mahasiswa dan bertongkat
tulang tulang rakyat yang semakin sekarat
lihatlah
di dasinya terpampang hati dan nurani rakyat
yang diperjual belikan dengan tarfi yang cukup lumayan
buat tidur di hotel berbintang bintang
sambil berdansa cha cha cha
lupa rakyat
lupa janji
lupa sumpah
lupa jabatan
lupa nurani
dan lupa mati
by seseorang yang nggak mau disebut namanya....
sebuah gugatan pada kehidupan sosial yang coba dirangkai dalam bait puisi. nggak salah untuk nempatin kata-kata denotatif. nggak salah. banyak pengulangan kalimat yang sya pikir adalah sebuah penekanan (tar dulu, lagi penuh nih kepala, jadi belum bisa komen banyak...)
Puisi tak berjudul
Robb...
waktu ku terbangun tadi
kutemukan potongan potongan doa
pada lipatan kain sarungku yang lusuh
pada lipatan peciku yang berdebu
pada lipatan sajadahku yang telah lama kumal
kubuka
lipatan lipatan itu
Ya Robb!!!
tanggal dan tahunnyapun tlah hilang
apakah masih berlaku?
n_n
waktu ku terbangun tadi
kutemukan potongan potongan doa
pada lipatan kain sarungku yang lusuh
pada lipatan peciku yang berdebu
pada lipatan sajadahku yang telah lama kumal
kubuka
lipatan lipatan itu
Ya Robb!!!
tanggal dan tahunnyapun tlah hilang
apakah masih berlaku?
n_n
Mempelajari aksus Monang dalam Cerpen "Monang"
Cerpen “Monang” mengisahkan seorang pemuda Batak yang selalu dinomorsatukan dan dibanggakan tetapi tidak merasa nomor satu dan bangga. Keberadaannya yang seperti itu menekan nuraninya yang tidak setuju dengan penomorsatuan dan pembanggaan seorang pria sementara kehormatan dan harga diri perempuan diinjak-injak. Monang begitu menyayangi semua kakaknya yang perempuan serta ingin membahagiakan ibunya sehingga mengurungkan niatnya untuk membakar sang ayah.
Karya berbentuk prosa ini sebagian besar menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Batak. Hanya saja, ada satu keanehan yang, kalau boleh dibilang, fatal melalui suatu logika. Telepon genggam adalah kunci dari khayalan yang kelewatan. Sebuah telepon genggam yang baterainya habis, harus segera dicharge, tetapi ketika dinyalakan akan terputus dan tidak segera menyambung pembicaraan dalam telepon seperti yang dilakukan sebelum baterainya habis.
Pengintegrasian budaya ke dalam cerpen “Monang” terjadi pada beberapa hal. Tradisi bahwa laki-laki lebih berpengaruh dalam kerumahtanggaan dituliskan dengan menggunakan tokoh ayah Monang. Watak keras, tidak mau mengalah, dan arogan menjadi sifat yang menempel pada sang ayah. Keberanian Monang hanya pada saat ia akan membakar rumah bersama ayahnya. Namun, hal itu juga dihentikan dengan ingatan dan ketakutan Monang pada kutukan ibu-ibu dalam kisah Malin Kundang serta Sampuraga. Meskipun yang ia sakiti nantinya adalah sang ayah, tetapi hal tersebut akan berimbas pada sang ibu yang sangat disayangi dan dihormatinya. Ia yakin ibunya bukan akan berterima kasih, melainkan sebaliknya.
Mengenai Malin Kundang, kisah anak durhaka ini sudah tersohor di seluruh Indonesia sebagai dasar kisah-kisah kedurhakan seorang anak yang berbuah kutukan. Tidak jauh berbeda dengan kisah Sampuraga yang malu mengakui keberadaan sang ibu karena kondisi fisiknya berbeda dengan Sampuraga.
Agak, bahkan jauh, berbeda dengan kisah Monang. Mengingat kisah Sampuraga dan Malin Kundang membuat Monang tidak melaksanakan niatnya untuk membakar rumah yang berisi keluarganya. Pemicu niatnya adalah kekasaran sang ayah terhadap[ sang ibu suatu malam yang menurutnya sudah keterlaluan dan pada titik puncak.
Alur kisah ini adalah maju-mundur-maju, atau sering disebut alur camnpuran. Diawali dengan kisah Monang yang menerima telepon, lalu pikirannya melayang ke masa lalu yang merupakan isi cerita, kemudian kesadarannya akan keberadaan dirinya di masa sekarang, masa ia harus menjalani hidupnya bersama keluarga baru bersama istri dan anak-anaknya.
Kisah dalam cerpen “Monang” mengajak pembaca memahami dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Kehebatan seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga bukan pada kehebatannya menyakiti atau menjadi nomorsatu di dalam rumah, tetapi kehebatan seorang laki-laki ada pada kemampuannya untuk terus membawa bahtera rumah tangga yang dinaunginya ke dalam kedamaian sejati.
Cerpen “Monang’ ditulis oleh Palti R. Tamba
Karya berbentuk prosa ini sebagian besar menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Batak. Hanya saja, ada satu keanehan yang, kalau boleh dibilang, fatal melalui suatu logika. Telepon genggam adalah kunci dari khayalan yang kelewatan. Sebuah telepon genggam yang baterainya habis, harus segera dicharge, tetapi ketika dinyalakan akan terputus dan tidak segera menyambung pembicaraan dalam telepon seperti yang dilakukan sebelum baterainya habis.
Pengintegrasian budaya ke dalam cerpen “Monang” terjadi pada beberapa hal. Tradisi bahwa laki-laki lebih berpengaruh dalam kerumahtanggaan dituliskan dengan menggunakan tokoh ayah Monang. Watak keras, tidak mau mengalah, dan arogan menjadi sifat yang menempel pada sang ayah. Keberanian Monang hanya pada saat ia akan membakar rumah bersama ayahnya. Namun, hal itu juga dihentikan dengan ingatan dan ketakutan Monang pada kutukan ibu-ibu dalam kisah Malin Kundang serta Sampuraga. Meskipun yang ia sakiti nantinya adalah sang ayah, tetapi hal tersebut akan berimbas pada sang ibu yang sangat disayangi dan dihormatinya. Ia yakin ibunya bukan akan berterima kasih, melainkan sebaliknya.
Mengenai Malin Kundang, kisah anak durhaka ini sudah tersohor di seluruh Indonesia sebagai dasar kisah-kisah kedurhakan seorang anak yang berbuah kutukan. Tidak jauh berbeda dengan kisah Sampuraga yang malu mengakui keberadaan sang ibu karena kondisi fisiknya berbeda dengan Sampuraga.
Agak, bahkan jauh, berbeda dengan kisah Monang. Mengingat kisah Sampuraga dan Malin Kundang membuat Monang tidak melaksanakan niatnya untuk membakar rumah yang berisi keluarganya. Pemicu niatnya adalah kekasaran sang ayah terhadap[ sang ibu suatu malam yang menurutnya sudah keterlaluan dan pada titik puncak.
Alur kisah ini adalah maju-mundur-maju, atau sering disebut alur camnpuran. Diawali dengan kisah Monang yang menerima telepon, lalu pikirannya melayang ke masa lalu yang merupakan isi cerita, kemudian kesadarannya akan keberadaan dirinya di masa sekarang, masa ia harus menjalani hidupnya bersama keluarga baru bersama istri dan anak-anaknya.
Kisah dalam cerpen “Monang” mengajak pembaca memahami dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Kehebatan seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga bukan pada kehebatannya menyakiti atau menjadi nomorsatu di dalam rumah, tetapi kehebatan seorang laki-laki ada pada kemampuannya untuk terus membawa bahtera rumah tangga yang dinaunginya ke dalam kedamaian sejati.
Cerpen “Monang’ ditulis oleh Palti R. Tamba
Nilai Islam dalm Novel "Sabuk Kiyai"
Sabuk Kiai menceritakan tentang seorang siswa SMA bernama Ranu Sadewa yang tidak mau kalau keberhasilannya dikaitkan dengan nama besar ayahnya yang seorang jendral. Askhirnya ia melarikan diri ke sebuah pesantren di Jawa untuk menuntut ilmu. Sebagai seorang pemula, ia diremehkan oleh senior-seniornya. Hingga pada suatu hari, berakhirlah masanya untuk berguru di pesantren tersebut.
Sinopsis singkat tersebut adalah permulaan sebagian kecil dari pembahasan novel Sabuk Kiai dari sisi keagamaan.
Jika membahas tentang tiga hal pokok dalam Islam (syariat, aqidah, dan akhlak) tentunya akan ditemukan banyak hal sejak awal kisah dituliskan. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
* Bapaknya langsung menampar wajahnya hingga terjerembab, ketika ijazahnya tidak tercantum nama Letjen. Abdul Syukur.(hlm 2)
Suatu bukti bagaimana sikap seorang Abdul Syukur terhadap keluarga (anaknya) yang tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Dalam AlQuran, seorang ayah sebaiknya membimbing
* Indah, seorang gadis SMA, bersikap ramah terhadap Ranu, yang merupakan kakak kelasnya. Sebuah sikap yang sebaiknya ditunjukkan terhadap sesama manusia.
* Sayyidina Ali, selain saudara sepupu, ia adalah anak paman Nabi, juga menantunya. Namun, yang perlu diingat, Nabi tidak hanya memandang karena hubungan saudara saja, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa (hlm 9)
* Kiai Misbah menyapa Ranu di mesjid pesantren, tidak seperti Komaruddin sang murid yang kasar dalam menyikapi Ranu yang baru datang. (hlm.25-27)
Sikap Kiai Misbah sangat mencerminkan anjuran Rasulullah mengenai adab memuliakan tamu.
* Ranu Sadewa mati-matian belajar agama untuk menghadapi tes masuk aliyah kelas dua. Walaupun sudah diakui sebagai cucu Kiai Misbah, tetapi tidak otomatis ia bisa masuk aliyah begitu saja tanpa tes. (hlm.33). KEGIGIHAN Ranu merupakan salah satu aplikasi dari ayat Al-Quran sebagai berikut:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(Al-Ankabut:69)
Dari beberapa contoh di atas, maka sudah terlihat bahwa begitu banyak sikap seseorang yang harus diperlihatkan agar dia dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Karena itulah akhlak sangat diperhatikan dalam bersikap. Penulis novel sebagai karya sastra juga harus memperhatikan bagaimana menuliskan sikap agar pembaca mencontoh sikap tokoh pada novel yang ditulisnya.
Pada sebuah poin di atas dibahas mengenai sebab penunjukan Ali sebagai salah satu pemegang amanah dari Nabi Muhammad. Di sini tertulis mengenai syariat Islam yang tidak melulu keras menyikapi suatu ketentuan. Misalnya saja mengenai nepotisme yang sedikit dibahas dalam novel Sabuk Kiai, Indah menyatakan bahwa nepotisme ada yang bersifat positif selama tidak hanya melihat kedekatan personal, tapi juga melihat kemampuan individu dalam bidangnya. Dengan kata lain, profesional.
Sikap lain yang ditunjukkan oleh tokoh Ranu, yang memang seharusnya ditunjukkan seorang muslim adalah saat dia dimusuhi oleh seniornya di pesantren. Penulis teringat oleh suatu ayat dalam Al-Quran
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Q.S. Al-Baqarah:159)
Saat itu Ranu hanya bersabar dan tetap bersikap lembut
Ada pula kala Ranu mendapat tekanan dari sang ayah untuk tidak pergi, tapi Ranu memilih untuk tetap pergi mengikuti keinginannya, seperti kuatnya tekad seorang muslim yang diperintahkan Allah dalam ayat berikut:
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Al-Baqarah:246)
Kehidupan pesantren sebagai latar belakang kisah Ranu Sadewa menciptakan suasana yang taat pada agama secara umum. Hanya saja pada beberapa santri yang lebih senior ketaatan pada agama mulai meluntur. Ketaatan yang bersumber dari hukum Islam tidak lagi diindahkan ketika uang menjadi tujuan.
Dalam novel Sabuk Kiai, terdapat kisah seorang santri yang menjual ilmu yang dimilikinya (menciptakan azimat-azimat) agar mendapatkan uang. Terdapat pula yang merasa kebal karena ilmunya yang didapat dari pesantren Kiai Misbah menantang polisi agar menembaknya saat ia merampok.
Selain itu, dalam novel berjudul Sabuk Kiai sering disebutkan tentang ilmu laduni yang artinya ilmu yang membuat seseorang mampu menguasai ilmu apapun tanpa mempelajarinya. Bahkan Sabuk kiai milik Kiai Misbah (yang menjadi judul novel) dianggap memiliki kekuatan gaib. Pada akhirnya Kiai Misbah berusaha menunjukkan pemahaman yang sebenarnya agar keyakinan para santri benar-benar hanya pda Allah swt, bukan pada hal-hal instan seperti ilmu laduni maupun sabuk miliknya. Upaya Kiai Misbah sebenarnya seperti isi kandungan Al-Quran surat Al-Ikhlas ayat pertama. Menjelang akhir cerita Kiai Misbah memberitahukan bahwa sabuk miliknya hanya diisi tiga buah batu kali biasa untuk mengganjal perutnya saat menahan lapar.
Novel adalah karya sastra yang diminati oleh masyarakat di dunia. Mengkaji novel dapat melalui berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan religi.
Setelah mengkaji melalui pendekatan religi, dalam novel Sabuk Kiai terdapat banyak nilai-nilai islami, khususnya akhlak yang merupakan salah satu cakupan agama Islam.
Sinopsis singkat tersebut adalah permulaan sebagian kecil dari pembahasan novel Sabuk Kiai dari sisi keagamaan.
Jika membahas tentang tiga hal pokok dalam Islam (syariat, aqidah, dan akhlak) tentunya akan ditemukan banyak hal sejak awal kisah dituliskan. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
* Bapaknya langsung menampar wajahnya hingga terjerembab, ketika ijazahnya tidak tercantum nama Letjen. Abdul Syukur.(hlm 2)
Suatu bukti bagaimana sikap seorang Abdul Syukur terhadap keluarga (anaknya) yang tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Dalam AlQuran, seorang ayah sebaiknya membimbing
* Indah, seorang gadis SMA, bersikap ramah terhadap Ranu, yang merupakan kakak kelasnya. Sebuah sikap yang sebaiknya ditunjukkan terhadap sesama manusia.
* Sayyidina Ali, selain saudara sepupu, ia adalah anak paman Nabi, juga menantunya. Namun, yang perlu diingat, Nabi tidak hanya memandang karena hubungan saudara saja, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa (hlm 9)
* Kiai Misbah menyapa Ranu di mesjid pesantren, tidak seperti Komaruddin sang murid yang kasar dalam menyikapi Ranu yang baru datang. (hlm.25-27)
Sikap Kiai Misbah sangat mencerminkan anjuran Rasulullah mengenai adab memuliakan tamu.
* Ranu Sadewa mati-matian belajar agama untuk menghadapi tes masuk aliyah kelas dua. Walaupun sudah diakui sebagai cucu Kiai Misbah, tetapi tidak otomatis ia bisa masuk aliyah begitu saja tanpa tes. (hlm.33). KEGIGIHAN Ranu merupakan salah satu aplikasi dari ayat Al-Quran sebagai berikut:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(Al-Ankabut:69)
Dari beberapa contoh di atas, maka sudah terlihat bahwa begitu banyak sikap seseorang yang harus diperlihatkan agar dia dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Karena itulah akhlak sangat diperhatikan dalam bersikap. Penulis novel sebagai karya sastra juga harus memperhatikan bagaimana menuliskan sikap agar pembaca mencontoh sikap tokoh pada novel yang ditulisnya.
Pada sebuah poin di atas dibahas mengenai sebab penunjukan Ali sebagai salah satu pemegang amanah dari Nabi Muhammad. Di sini tertulis mengenai syariat Islam yang tidak melulu keras menyikapi suatu ketentuan. Misalnya saja mengenai nepotisme yang sedikit dibahas dalam novel Sabuk Kiai, Indah menyatakan bahwa nepotisme ada yang bersifat positif selama tidak hanya melihat kedekatan personal, tapi juga melihat kemampuan individu dalam bidangnya. Dengan kata lain, profesional.
Sikap lain yang ditunjukkan oleh tokoh Ranu, yang memang seharusnya ditunjukkan seorang muslim adalah saat dia dimusuhi oleh seniornya di pesantren. Penulis teringat oleh suatu ayat dalam Al-Quran
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Q.S. Al-Baqarah:159)
Saat itu Ranu hanya bersabar dan tetap bersikap lembut
Ada pula kala Ranu mendapat tekanan dari sang ayah untuk tidak pergi, tapi Ranu memilih untuk tetap pergi mengikuti keinginannya, seperti kuatnya tekad seorang muslim yang diperintahkan Allah dalam ayat berikut:
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Al-Baqarah:246)
Kehidupan pesantren sebagai latar belakang kisah Ranu Sadewa menciptakan suasana yang taat pada agama secara umum. Hanya saja pada beberapa santri yang lebih senior ketaatan pada agama mulai meluntur. Ketaatan yang bersumber dari hukum Islam tidak lagi diindahkan ketika uang menjadi tujuan.
Dalam novel Sabuk Kiai, terdapat kisah seorang santri yang menjual ilmu yang dimilikinya (menciptakan azimat-azimat) agar mendapatkan uang. Terdapat pula yang merasa kebal karena ilmunya yang didapat dari pesantren Kiai Misbah menantang polisi agar menembaknya saat ia merampok.
Selain itu, dalam novel berjudul Sabuk Kiai sering disebutkan tentang ilmu laduni yang artinya ilmu yang membuat seseorang mampu menguasai ilmu apapun tanpa mempelajarinya. Bahkan Sabuk kiai milik Kiai Misbah (yang menjadi judul novel) dianggap memiliki kekuatan gaib. Pada akhirnya Kiai Misbah berusaha menunjukkan pemahaman yang sebenarnya agar keyakinan para santri benar-benar hanya pda Allah swt, bukan pada hal-hal instan seperti ilmu laduni maupun sabuk miliknya. Upaya Kiai Misbah sebenarnya seperti isi kandungan Al-Quran surat Al-Ikhlas ayat pertama. Menjelang akhir cerita Kiai Misbah memberitahukan bahwa sabuk miliknya hanya diisi tiga buah batu kali biasa untuk mengganjal perutnya saat menahan lapar.
Novel adalah karya sastra yang diminati oleh masyarakat di dunia. Mengkaji novel dapat melalui berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan religi.
Setelah mengkaji melalui pendekatan religi, dalam novel Sabuk Kiai terdapat banyak nilai-nilai islami, khususnya akhlak yang merupakan salah satu cakupan agama Islam.
Sekura: Tinjauan Sosiokultural
Sosiokultural terbentuk dari dua kata, sosial dan kultural. Sosial berasal dari kata Latin Socius yang berarti kawan atau masyarakat, sedangkan kultural berasal dari Colere yang berarti mengolah. Colere berasal dari bahasa Inggris yaitu Cultur yang diartikan sebagai segala daya upaya dan kegiatan manusia dalam mengubah dan mengolah alam (Soerjono Soekanto:1990).
Salah satu cara untuk mendalami dan memahami karya sastra adalah dengan melihat bagaimana penggambaran sosiokultural (sosiologi sastra) dalam karya sastra tersebut. Sapardi Djoko Damono berpendapat: Istilah sosiokultural adalah pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan.
Dick Hartoko dan B. Rahmanto juga mengatakan: Sosiologi sastra adalah cabang ilmu yang mendekati sastra dari hubungannya dengan kenyataan sosial. Memperhatikan baik pengarang, proses penulisan maupun pembaca serta teks sastra itu sendiri.
Masyarakat, pengarang, dan karya sastra memiliki suatu hubungan yang tak dapat dipisahkan. Untuk memahami hubungan tersebut, dibutuhkan tinjauan mengenai hubungan karya sastra dengan masyarakat pembentuknya. Grebstein menyatakan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara lengkap bila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan yang telah menghasilkannya. Ia harus dipelajari dalam konteks seluas-luasnya dan tidak hanya dirinya sendii.
Karya sastra bukanlah gejala tersendiri, … Masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah. Pertama sebagai suatu kekuatan yang istimewa, kedua sebagai tradisi.
Dengan demikian, karya sastra mencerminkan pergerakan/ perubahan yang terjadi dalam suatu masyarakat.
Kultur, atau yang biasa disebut kebudayaan, memiliki tujuh unsur, yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumahtangga, senjata, alat produksi, transportasi, dan sebagainya).
2. Mata pencaharian hidup dan sistem tata ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan lain-lain).
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4. Bahasa (lisan dan tulisan).
5. Kesenian
6. Sistem pengetahuan
7. Religi.
Setiap kebudayaan memiliki unsur-unsur di atas. Tujuh unsur di atas adalah hasil pemikiran sekelompok manusia sebagai usaha untuk mengatasi berbagai kebutuhan dalam kelompok tersebut.
Cerpen “SEKURA” yang menjadi pokok bahasan kali ini kental unsur budaya, tepatnya budaya Lampung Barat. Hal ini ditunjukkan pada paragraf berikut:
Ia menatap pada etalase ruangan, seperti mengingat,”Kayu yang diukir, disesuaikan dengan sifat manusia.” Tiba-tiba ia mengalihkan pandang pada wajah Synong, “Hai! Kau mengetahui banyak tentang pesta sekura. Berarti kau berasal dari Lampung Barat?” Perlahan Synong mengangguk
Dalam cerpen ini, dikisahkan secara tidak langsung mengenai perusakan citra pesta sekura yang dimaksud, dari pesta rakyat menjadi sebuah kesempatan untuk berbuat amoral, seperti pada kisah dalam paragraf berikut:
Sebuah pesta yang selalu jadi cermin perilaku orang kampungku. Tapi, disini, sebuah dimana orang bersekura untuk menutupi perilaku mereka.”
“Telah tak ingat lagi kapan tepatnya peristiwa itu. Yang jelas, aku diperkosa saat pesta itu diselenggarakan. Dan pada akhirnya, pesta itu melekatkan sebuah nama, pelacur.”
Sekura sendiri adalah sebuah pesta rakyat yang sangat disukai masyarakat Pekon Balak, Lampung Barat. Cerpen “Sekura” secara tidak langsung mengenalkan pembaca pada suatu tradisi nusantara yang belum sempat terekspos oleh media manapun, hal ini terlihat dari rincinya penjelasan penulis mengenai pesta sekura, sekaligus sebagai perumpamaan akan suatu hal, yaitu razia pelacuran.
SEKURA
Zarman RZ
Mendadak, suara deritan pintu menyentakkan. Seorang lelaki muncul dan duduk di sudut ruangan, lalu berkata,
“Hai, pelacur, siapa namamu?” Mata lelaki itu menatap lurus,”Jawab!”
Tangan lelaki itu berpindah ke dalam tas, begitu keluar selembar KTP telah berada di tangan. Mendekati cahaya, lalu ia baca
“Nama: Synong. Kelahiran: Pekon Balak.”
Sepi!
“Kenalkan! Namaku Sebambang; kepala Satpol PP di sini,”
Ia mengalihkan pandangan. Kepala Satpol PP?
“sekarang juga kau bisa kubebaskan, tapi ada syaratnya,” Lelaki itu mendekatkan wajah,” Kau harus melayanoiku malam ini.”
Ia dorongkan tangannya pada lelaki itu. Praaakk! Lelaki itu terjatuh. Menatap, perlahan ia berdiri, tangannya menyentuh kancing baju, ikat pinggang. Ia mendekat...
“Bouhu. Bouhu
Perkampungan dan sekelompok orang sedang menuju arah lapangan. Terus berjalan, di antara mereka ada yang berpakaian serba hitam. Baju yang dipakai dalam keadaan sobek, kotor, dan tubuh ditempeli sampah, dedaunan kering. Memakai topi dan wajah ditutup topeng. Topeng itu, agaknya terbuat dari kayu yang diukir dan dipadukan dengan dedaunan hijau.
Dalam arak-arakan lain berbagai keunikan lagi ia saksikan. Seorang lelaki, topeng itu bila lebih diperhatikan akan nampak seperti wajah tikus. Kumis, motif yang dipadukan dengan corak bulu tikus. Dan berjalan serta tingkah lakunya seperti seekor tikus. Sesekali akan terdengar ucapan dari salah seorang,
“Tabik-tabik si daun kacang
Batang kuning sampiran kain
Tabik-tabik yang punya kampung
Sikam datang numpang bermain.”
Pada bagian lain, ucapan itu dibalas seseorang,
“Hu dia datang ratong munih cina dengan kupiah
Sai nyadang ko ngenalah.”
Berjalan dengan tingkah yang sesuai dengan karakter tokoh topeng yang dipakai. Hingga tiba di arena pesta, sebuah batang pinang berada di tengah lapangan.
Pada bagian lain, sebuah tarup telah dipenuhi para undangan. Kepala adat, tokoh masyarakat, sesepuh keturunan leluhur pendiri tilyun. Dan kelompok orang yang memakai topeng berjalan ke batang pinang.
Dengan suara yang khas diiringi musik dan siulan, mereka mulai memanjat, satu-satu. Berebut mengambil sesuatu yang tergantung di puncak batang pinang, serupa lomba tujuh belas Agustus (ini bukan semacam perlombaan, tetapi lebih merupakan sebuah pesta rakyat). Sesuatu itu—setelah segalanya selesai—ditukar dengan sebuah benda; ada kain sarung yang berukiran mattok, ada kopiah, ada sandal jepit, ada...
Seperti sebuah hari yang tak bisa membedakan, apakah telah menjelang sore, apakah malam, ataukah telah menjelang pagi. Sungguh, segalanya terasa samar. Seperti hari itu, merasakan kelelahan terus menyerbu, hari dimana ia merasa berada di suatu tempat yang amat dikenal, tapi bagai tak tertempuh.
“Masuk!”tiba-tiba suara itu mnyentakkan benaknya.
Perempuan itu terjatuh.
Mendekat,”Mereka tak mengerti arti sebuah malam.” Tiba-tiba perempuan itu mengeluarkan suara seraya berdiri,”Tidakkah kita bisa hidup bebas tanpa digerogoti?” Perempuan itu mendekati Synong,” Pengecut! Razia pelacur hanya ada pada bulan puasa.”
“Mereka hanya ber-sekura.”
Sesaat, keheningan meresap.
“Hai! Bagaimana kau tahu nama pesta itu?”
Sebuah pesta yang selalu jadi cermin perilaku orang kampungku. Tapi, disini, sebuah dimana orang bersekura untuk menutupi perilaku mereka.”
“Kejadian penting itukah maksudmu?”
“Tepat sekali. Kau ingat sekarang kita berada pada bulan apa?” Perempuan itu hanya diam,”Razia pelacur hanya bagian dari acara ritus. Mereka menunjukkan kesungguhan memberantas prostitusi.”
Ia menatap pada etalase ruangan, seperti mengingat,”Kayu yang diukir, disesuaikan dengan sifat manusia.” Tiba-tiba ia mengalihkan pandang pada wajah Synong, “Hai! Kau mengetahui banyak tentang pesta sekura. Berarti kau berasal dari Lampung Barat?” Perlahan Synong mengangguk, “Dan sudah berapa lama kau berada di sini?”
“Hampir satu minggu.”
Mata perempuan itu membulat, heran, “Mengadakan razia, kemudian mempublikasikan bahwa mereka telah menjalankan tugas sebagai aparat.”
“Bukan hanya itu, mereka juga memperkosaku.”
Perempuan itu tertawa.
“Bangsat! Mengapa kau tertawa!?”
“Baru kali ini kudengar pelacur diperkosa.”
“Aku memang pelacur, tapi tidakkah boleh ada istilah perkosaan?”
Perempuan itu perlahan mendekati Synong.
“Layani saja mereka satu malam, nanti kau juga akan dibebaskan.”
“Terlambat. Mana mungkin membebaskanku. Mereka takut aku membeberkan perilaku mereka. Paling-paling aku akan dikirim ke tempat rehabilitasi.”
“Ya, razia itu hanya memperebutkan hadiah.”
“Maksudmu, ritus nyakak buah?”
“Persis. Mereka memberikan laporan dengan istilah asal bapak senang.”
Synong menatap cahaya yang jatuh berbentuk garis-garis melayah. Hening. Untuk beberapa saat kesunyian tadi menjelma jadi pemberontakan, berontak pada nasib dan protes yang tertahan di tenggorokan. Sepi, untuk kemudian menjalar ke segala penjuru tempat yang bernama dendam.
Pintu kembali berderit.
Tiga lelaki berbadan tegap masuk. Mendekat, dan salah seorang dari mereka berkata,”Kau yang bernama Waiheni?”
Perempuan itu menatap, senyum, lantas mengangguk.
“Kau terjaring razia PSK. Menurut catatan kami kau telah dua kali tertangkap.” Lelaki itu mendekatkan wajahnya,”Seperti biasa, kau akan bebas setelah melayaniku.”
Perempuan itu kembali tersenyum.
Pada bagian lain, dua lelaki tadi berkata pada Synong,”Kau akan dikirim ke tempat rehabilitasi.”
Mata lelaki itu menatap tajam. Perlahan, wajahnya makin mendekati Synong dan dalam ruangan yang gelap itu sesuara meronta, menjerit, dan tak seorangpun yang datang. Suara itu perlahan pula menjalar ke segala penjuru ruangan.
Perlahan, ia gerakkan badan. Barangkali ia telah tak peduli tentang arti sebuah hari. Barangkali juga, keheranan telah memenuhi benaknya. Tentang arti seorang pelacur. Daalm keadaan demikian, tanpa sadar ia telah menanam sebuah prinsip:bahwa melacur adalah melacur, itu benar. Tapi bahwa melacur adalah topeng, sungguh hal itu tak dapat ia terima.
Perempuan itu memasangkan pakaiannya,”Aku hanya menjual tubuhku, dan jika dibiarkan bukankah akan mengurangi pengangguran?”
Synong duduk, menyandarkan punggung pada dinding, lalu berkata,”Percuma. Mereka tak mengerti tentang hukum sebab-akibat. Pelacur adalah perusak moral, tanpa tahu apa sebab.”
“Kau jangan bercerita tentang moral.”
“Bukankah kau yang mulai?”
Dalam gelap, perempuan itu menunjuk ke arah Synong. “Kau!”
“Kau yang pertama mulai.”
“Kau jangan mengelak!”
Praaakk!
“Diam pelacur!” mendadak kedua pasang mata serentak mengarah ke pintu, “Ini bukan jalanan. Kalian jangan beteriak.” Lelaki itu mengangkat tangan, menunjuk pada Synong,” Ayo, kau akan kami kirim ke tempat rehabilitasi.”
Hening.
“Telah bertahun-tahun aku tak lagi pernah menyaksikan pesta itu, pesta yang konon bernama pesta sekura. Dan tahukah kau, semalam aku bermimpi tentang pesta itu.”
Perempuan itu tak bergeming, ia pandangi Synong yang sedang berbicara. Synong tertawa, perempuan itu mengamati, hingga perlahan tawa Synong berhenti., “Telah tak ingat lagi kapan tepatnya peristiwa itu. Yang jelas, aku diperkosa saat pesta itu diselenggarakan. Dan pada akhirnya, pesta itu melekatkan sebuah nama, pelacur.”
“Hai, cepat. Waktunya berangkat.” Lelaki itu dengan nada meninggi.
Synong melangkah, berjalan menuju pintu.
Bahwa melacur adalah melacur, pada sunyi dan ruang gelap, pada kerlap-kerlip lampu jalanan, entahlah! Telah tak peduli lagi ia akan sebuah prinsip. Malam, selalu tak pernah ia miliki tanpa berjuta pertanyaan, seperti saat ini, saat dikirim ke tempat rehabilitasi, melewati kelokan, melewati jalan utama, dan sekilas ia sempat menyaksikan razia PSK.
Tapi aneh, ketika sorot matanya singgah pada beberapa aparat, ia bagai tak percaya. Tak ada wajah, tak ada hidung, tak ada...aneh, mereka memakai topeng. Ukiran, motif, amat serupa dengan topeng pesta itu. Perlahan, ia mengucek-ngucek mata, kembali ia ulangi lagi. Benarkah?
Perlahan pula, ia alihkan pandang ke samping, ke belakang, ke depan. Tetapi, keanehan itu masih terus mengepung benaknya. Sesaat, ia seperti berada di tempat yang amat dikenal tapi tak tertempuh. Pelacur, sekura, topeng, topeng...
Salah satu cara untuk mendalami dan memahami karya sastra adalah dengan melihat bagaimana penggambaran sosiokultural (sosiologi sastra) dalam karya sastra tersebut. Sapardi Djoko Damono berpendapat: Istilah sosiokultural adalah pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan.
Dick Hartoko dan B. Rahmanto juga mengatakan: Sosiologi sastra adalah cabang ilmu yang mendekati sastra dari hubungannya dengan kenyataan sosial. Memperhatikan baik pengarang, proses penulisan maupun pembaca serta teks sastra itu sendiri.
Masyarakat, pengarang, dan karya sastra memiliki suatu hubungan yang tak dapat dipisahkan. Untuk memahami hubungan tersebut, dibutuhkan tinjauan mengenai hubungan karya sastra dengan masyarakat pembentuknya. Grebstein menyatakan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara lengkap bila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan yang telah menghasilkannya. Ia harus dipelajari dalam konteks seluas-luasnya dan tidak hanya dirinya sendii.
Karya sastra bukanlah gejala tersendiri, … Masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah. Pertama sebagai suatu kekuatan yang istimewa, kedua sebagai tradisi.
Dengan demikian, karya sastra mencerminkan pergerakan/ perubahan yang terjadi dalam suatu masyarakat.
Kultur, atau yang biasa disebut kebudayaan, memiliki tujuh unsur, yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumahtangga, senjata, alat produksi, transportasi, dan sebagainya).
2. Mata pencaharian hidup dan sistem tata ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan lain-lain).
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4. Bahasa (lisan dan tulisan).
5. Kesenian
6. Sistem pengetahuan
7. Religi.
Setiap kebudayaan memiliki unsur-unsur di atas. Tujuh unsur di atas adalah hasil pemikiran sekelompok manusia sebagai usaha untuk mengatasi berbagai kebutuhan dalam kelompok tersebut.
Cerpen “SEKURA” yang menjadi pokok bahasan kali ini kental unsur budaya, tepatnya budaya Lampung Barat. Hal ini ditunjukkan pada paragraf berikut:
Ia menatap pada etalase ruangan, seperti mengingat,”Kayu yang diukir, disesuaikan dengan sifat manusia.” Tiba-tiba ia mengalihkan pandang pada wajah Synong, “Hai! Kau mengetahui banyak tentang pesta sekura. Berarti kau berasal dari Lampung Barat?” Perlahan Synong mengangguk
Dalam cerpen ini, dikisahkan secara tidak langsung mengenai perusakan citra pesta sekura yang dimaksud, dari pesta rakyat menjadi sebuah kesempatan untuk berbuat amoral, seperti pada kisah dalam paragraf berikut:
Sebuah pesta yang selalu jadi cermin perilaku orang kampungku. Tapi, disini, sebuah dimana orang bersekura untuk menutupi perilaku mereka.”
“Telah tak ingat lagi kapan tepatnya peristiwa itu. Yang jelas, aku diperkosa saat pesta itu diselenggarakan. Dan pada akhirnya, pesta itu melekatkan sebuah nama, pelacur.”
Sekura sendiri adalah sebuah pesta rakyat yang sangat disukai masyarakat Pekon Balak, Lampung Barat. Cerpen “Sekura” secara tidak langsung mengenalkan pembaca pada suatu tradisi nusantara yang belum sempat terekspos oleh media manapun, hal ini terlihat dari rincinya penjelasan penulis mengenai pesta sekura, sekaligus sebagai perumpamaan akan suatu hal, yaitu razia pelacuran.
SEKURA
Zarman RZ
Mendadak, suara deritan pintu menyentakkan. Seorang lelaki muncul dan duduk di sudut ruangan, lalu berkata,
“Hai, pelacur, siapa namamu?” Mata lelaki itu menatap lurus,”Jawab!”
Tangan lelaki itu berpindah ke dalam tas, begitu keluar selembar KTP telah berada di tangan. Mendekati cahaya, lalu ia baca
“Nama: Synong. Kelahiran: Pekon Balak.”
Sepi!
“Kenalkan! Namaku Sebambang; kepala Satpol PP di sini,”
Ia mengalihkan pandangan. Kepala Satpol PP?
“sekarang juga kau bisa kubebaskan, tapi ada syaratnya,” Lelaki itu mendekatkan wajah,” Kau harus melayanoiku malam ini.”
Ia dorongkan tangannya pada lelaki itu. Praaakk! Lelaki itu terjatuh. Menatap, perlahan ia berdiri, tangannya menyentuh kancing baju, ikat pinggang. Ia mendekat...
“Bouhu. Bouhu
Perkampungan dan sekelompok orang sedang menuju arah lapangan. Terus berjalan, di antara mereka ada yang berpakaian serba hitam. Baju yang dipakai dalam keadaan sobek, kotor, dan tubuh ditempeli sampah, dedaunan kering. Memakai topi dan wajah ditutup topeng. Topeng itu, agaknya terbuat dari kayu yang diukir dan dipadukan dengan dedaunan hijau.
Dalam arak-arakan lain berbagai keunikan lagi ia saksikan. Seorang lelaki, topeng itu bila lebih diperhatikan akan nampak seperti wajah tikus. Kumis, motif yang dipadukan dengan corak bulu tikus. Dan berjalan serta tingkah lakunya seperti seekor tikus. Sesekali akan terdengar ucapan dari salah seorang,
“Tabik-tabik si daun kacang
Batang kuning sampiran kain
Tabik-tabik yang punya kampung
Sikam datang numpang bermain.”
Pada bagian lain, ucapan itu dibalas seseorang,
“Hu dia datang ratong munih cina dengan kupiah
Sai nyadang ko ngenalah.”
Berjalan dengan tingkah yang sesuai dengan karakter tokoh topeng yang dipakai. Hingga tiba di arena pesta, sebuah batang pinang berada di tengah lapangan.
Pada bagian lain, sebuah tarup telah dipenuhi para undangan. Kepala adat, tokoh masyarakat, sesepuh keturunan leluhur pendiri tilyun. Dan kelompok orang yang memakai topeng berjalan ke batang pinang.
Dengan suara yang khas diiringi musik dan siulan, mereka mulai memanjat, satu-satu. Berebut mengambil sesuatu yang tergantung di puncak batang pinang, serupa lomba tujuh belas Agustus (ini bukan semacam perlombaan, tetapi lebih merupakan sebuah pesta rakyat). Sesuatu itu—setelah segalanya selesai—ditukar dengan sebuah benda; ada kain sarung yang berukiran mattok, ada kopiah, ada sandal jepit, ada...
Seperti sebuah hari yang tak bisa membedakan, apakah telah menjelang sore, apakah malam, ataukah telah menjelang pagi. Sungguh, segalanya terasa samar. Seperti hari itu, merasakan kelelahan terus menyerbu, hari dimana ia merasa berada di suatu tempat yang amat dikenal, tapi bagai tak tertempuh.
“Masuk!”tiba-tiba suara itu mnyentakkan benaknya.
Perempuan itu terjatuh.
Mendekat,”Mereka tak mengerti arti sebuah malam.” Tiba-tiba perempuan itu mengeluarkan suara seraya berdiri,”Tidakkah kita bisa hidup bebas tanpa digerogoti?” Perempuan itu mendekati Synong,” Pengecut! Razia pelacur hanya ada pada bulan puasa.”
“Mereka hanya ber-sekura.”
Sesaat, keheningan meresap.
“Hai! Bagaimana kau tahu nama pesta itu?”
Sebuah pesta yang selalu jadi cermin perilaku orang kampungku. Tapi, disini, sebuah dimana orang bersekura untuk menutupi perilaku mereka.”
“Kejadian penting itukah maksudmu?”
“Tepat sekali. Kau ingat sekarang kita berada pada bulan apa?” Perempuan itu hanya diam,”Razia pelacur hanya bagian dari acara ritus. Mereka menunjukkan kesungguhan memberantas prostitusi.”
Ia menatap pada etalase ruangan, seperti mengingat,”Kayu yang diukir, disesuaikan dengan sifat manusia.” Tiba-tiba ia mengalihkan pandang pada wajah Synong, “Hai! Kau mengetahui banyak tentang pesta sekura. Berarti kau berasal dari Lampung Barat?” Perlahan Synong mengangguk, “Dan sudah berapa lama kau berada di sini?”
“Hampir satu minggu.”
Mata perempuan itu membulat, heran, “Mengadakan razia, kemudian mempublikasikan bahwa mereka telah menjalankan tugas sebagai aparat.”
“Bukan hanya itu, mereka juga memperkosaku.”
Perempuan itu tertawa.
“Bangsat! Mengapa kau tertawa!?”
“Baru kali ini kudengar pelacur diperkosa.”
“Aku memang pelacur, tapi tidakkah boleh ada istilah perkosaan?”
Perempuan itu perlahan mendekati Synong.
“Layani saja mereka satu malam, nanti kau juga akan dibebaskan.”
“Terlambat. Mana mungkin membebaskanku. Mereka takut aku membeberkan perilaku mereka. Paling-paling aku akan dikirim ke tempat rehabilitasi.”
“Ya, razia itu hanya memperebutkan hadiah.”
“Maksudmu, ritus nyakak buah?”
“Persis. Mereka memberikan laporan dengan istilah asal bapak senang.”
Synong menatap cahaya yang jatuh berbentuk garis-garis melayah. Hening. Untuk beberapa saat kesunyian tadi menjelma jadi pemberontakan, berontak pada nasib dan protes yang tertahan di tenggorokan. Sepi, untuk kemudian menjalar ke segala penjuru tempat yang bernama dendam.
Pintu kembali berderit.
Tiga lelaki berbadan tegap masuk. Mendekat, dan salah seorang dari mereka berkata,”Kau yang bernama Waiheni?”
Perempuan itu menatap, senyum, lantas mengangguk.
“Kau terjaring razia PSK. Menurut catatan kami kau telah dua kali tertangkap.” Lelaki itu mendekatkan wajahnya,”Seperti biasa, kau akan bebas setelah melayaniku.”
Perempuan itu kembali tersenyum.
Pada bagian lain, dua lelaki tadi berkata pada Synong,”Kau akan dikirim ke tempat rehabilitasi.”
Mata lelaki itu menatap tajam. Perlahan, wajahnya makin mendekati Synong dan dalam ruangan yang gelap itu sesuara meronta, menjerit, dan tak seorangpun yang datang. Suara itu perlahan pula menjalar ke segala penjuru ruangan.
Perlahan, ia gerakkan badan. Barangkali ia telah tak peduli tentang arti sebuah hari. Barangkali juga, keheranan telah memenuhi benaknya. Tentang arti seorang pelacur. Daalm keadaan demikian, tanpa sadar ia telah menanam sebuah prinsip:bahwa melacur adalah melacur, itu benar. Tapi bahwa melacur adalah topeng, sungguh hal itu tak dapat ia terima.
Perempuan itu memasangkan pakaiannya,”Aku hanya menjual tubuhku, dan jika dibiarkan bukankah akan mengurangi pengangguran?”
Synong duduk, menyandarkan punggung pada dinding, lalu berkata,”Percuma. Mereka tak mengerti tentang hukum sebab-akibat. Pelacur adalah perusak moral, tanpa tahu apa sebab.”
“Kau jangan bercerita tentang moral.”
“Bukankah kau yang mulai?”
Dalam gelap, perempuan itu menunjuk ke arah Synong. “Kau!”
“Kau yang pertama mulai.”
“Kau jangan mengelak!”
Praaakk!
“Diam pelacur!” mendadak kedua pasang mata serentak mengarah ke pintu, “Ini bukan jalanan. Kalian jangan beteriak.” Lelaki itu mengangkat tangan, menunjuk pada Synong,” Ayo, kau akan kami kirim ke tempat rehabilitasi.”
Hening.
“Telah bertahun-tahun aku tak lagi pernah menyaksikan pesta itu, pesta yang konon bernama pesta sekura. Dan tahukah kau, semalam aku bermimpi tentang pesta itu.”
Perempuan itu tak bergeming, ia pandangi Synong yang sedang berbicara. Synong tertawa, perempuan itu mengamati, hingga perlahan tawa Synong berhenti., “Telah tak ingat lagi kapan tepatnya peristiwa itu. Yang jelas, aku diperkosa saat pesta itu diselenggarakan. Dan pada akhirnya, pesta itu melekatkan sebuah nama, pelacur.”
“Hai, cepat. Waktunya berangkat.” Lelaki itu dengan nada meninggi.
Synong melangkah, berjalan menuju pintu.
Bahwa melacur adalah melacur, pada sunyi dan ruang gelap, pada kerlap-kerlip lampu jalanan, entahlah! Telah tak peduli lagi ia akan sebuah prinsip. Malam, selalu tak pernah ia miliki tanpa berjuta pertanyaan, seperti saat ini, saat dikirim ke tempat rehabilitasi, melewati kelokan, melewati jalan utama, dan sekilas ia sempat menyaksikan razia PSK.
Tapi aneh, ketika sorot matanya singgah pada beberapa aparat, ia bagai tak percaya. Tak ada wajah, tak ada hidung, tak ada...aneh, mereka memakai topeng. Ukiran, motif, amat serupa dengan topeng pesta itu. Perlahan, ia mengucek-ngucek mata, kembali ia ulangi lagi. Benarkah?
Perlahan pula, ia alihkan pandang ke samping, ke belakang, ke depan. Tetapi, keanehan itu masih terus mengepung benaknya. Sesaat, ia seperti berada di tempat yang amat dikenal tapi tak tertempuh. Pelacur, sekura, topeng, topeng...
Langganan:
Postingan (Atom)




