Kali ini aku bertugas membawa sebuah buku yang disensor. Lagi? Ya,dan tim LDF siap melindungiku katanya. Tapi yang kulihat di sini adalah...
"Hei, kau belum ganti baju, Kasumi?"
"Iya, Rika. Kabarnya Badan Sensor akan kemari, ya?"
Percakapan kedua anggota LDF juniorku membuatku terkejut. Sirine berbunyi dan mereka masih asik berbincang.
"Hei kalian! Segeralah bersiap dan lindungi aku!" Ujarku akhirnya tak tahan melihat mereka yang begitu santai. Tak ada yang berani menegur mereka karena kabarnya mereka adalah putri petinggi negeri ini. Bahkan Dojo lembut memperlakukan mereka, tidak seperti saat memperlakukanku. Kesal. Kulihat kedua orang itu menoleh.
"Melindungimu? Yang benar saja." Sahut Rika.
Kami-sama, aku hanya menjalankan prosedur.
"Kasahara!" Teriak seseorang. Siapa lagi kalau bukan Dojo, instruktur super galak itu? Aku menoleh dan menyadari makna panggilannya. Sebuah tangan merenggutku dan kami berguling sampai ke balik mobil box. Saat aku menoleh, kulihat lelaki tinggi kekar mendekapku--tepatnya menahanku--dan meminta buku yang kupegang. Sayup kudengar panggilan Dojo dan teman-teman serta rentetan tembakan yang baru dimulai.
"Siapa?"
"Berikan buku itu dan kami akan segera pergi" jawab lelaki itu.
Aku terkejut. Ini strategi baru yang belum kami tahu, menyusup di antara kami. Dan mereka melanggar aturan. Ah, apa mereka peduli dengan aturan?
Mataku tertuju pada tangan kanannya yang menahanku.
"Ini..."
"Apa?"
"Biarkan aku memegangnya."
"Hah?"
"Bekas luka yang di tangan ini mengingatkanku pada...pangeranku. tangannya juga banyak bekas luka."
"Aneh. Gadis bodoh." Sahutnya.
"Siapa yang bodoh?"
"Kau"
"Biarkan aku mengingatnya."
Grepp!! Badanku kembali terhuyung karena menjauh dari lelaki itu. Ada yang menarikku. Lagi. Dan ia memelukku sambil menghindari lelaki tadi.
"Bodoh." Ujarnya setelah kami di tempat aman. Tapi ia tak melepas pelukannya.
"Do..jo?"
"Kenapa lengah begitu? Kau membuatku khawatir, tahu!? Syukurlah kau--dan buku itu--baik-baik saja."
"Khawatir?"
Dojo segera melepas pelukannya. Ia kembali kikuk seperti biasanya. Iapun menepuk kepalaku seolah aku anak kecil. Perlakuannya ini yang membuatku menyukainya. Entah dengannya apakah menyukaiku. Yang pasti, aku senang bertugas bersamanya.
"A-ayo. Sebentar lagi selesai."
Aku mengangguk mengikutinya. Aku masih yersenyum sehingga ia berbalik dan menarik tanganku.
"Lama sekali."
"Aku pelari tercepat."
"Terserah. Jaga buku itu."
"Yokai."
Kami mengendap dengan tetap bergenggaman tangan.
"Dojo."
"Hmm"
"Arigatou."
"Hmm"
"Apa jawabanmu?"
"Berisik. Ke kiri."
"Ah. Haii"
Dan kurasakan genggamannya semakin erat.
"Lain kali jangan mau dipeluk lelaki lain"
"Eh?"
"Tadi. Kau suka?"
"Bu-bukan. Aku hanya ingat tangannya mirip tanganmu"
"Lewat sini" perintahnya lagi.
"Haii"
"Tanganku kenapa?"
"Aku..."
"Komaki di kanan kita. Tezuka di atas gedung. Kau bisa, kan, ke ruang penyimpanan sendiri?"
"Iya."
"Aku akan mengawasimu."
Aku mengangguk.
Misi itu segera selesai karena sepertinya juniorku banyak yang sanggup menahan badan sensor di gerbang. Aku lelah dan menuju asrama. Anko pasti menungguku cemas.
"Otsukare sama desuka Kasahara." Ucap seseorang. Tezuka! Dia tadi dikabarkan sempat terluka karena berhadapan dengan sniper juga. Segera kudekati ia.
"Otsukare sama desuka Tezuka. Kau baik-baik saja? Yokatta, aku senaaaang."
"Kau terlalu sumringah untuk tahu kondisiku. Apa kau mulai menyukaiku?"
"Ups! Bukan begitu, Tezuka. Hahaha, apa kata Anko nanti?" Jawabku sambil menepuk bahunya.
"Ouch! Baru juga diperban. Sakit."
"Ups. Maaf maaf. Hehe" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Hei Kasahara. Jangan terlalu akrab dengan Tezuka. Di sana ada yang menatapmu tajam lho." Ujar Komaki-san sambil melewati kami.
"Eh?"
"Tuh" ucap Komaki-san lagi sambil memberi isyarat memakai kepalanya. Di sana, dekat pintu keluar, kulihat sosok pendek yang super galak: Dojo. Euh! Dia pasti menceramahiku lagi.
"Dia sih pasti akan ceramah lagi. Heran, sebegitu tidak sukanya dia padaku." Sahutku.
"Bukan tidak suka. Sudah sana, sepertinya dia menunggumu." Sahut Komaki-san.
"Iya, Kasahara. Pergilah." Lanjut Tezuka.
Duh, berat tapi sudahlah toh itu pintu keluar. Aku bisa langsung jalan ke asrama kalau dia ngomel.
"Kasahara. Kau dan Tezuka?" tanya Dojo saat aku sudah di dekatnya. Tuh, kan, pasti mau ceramah.
"Aku tahu kok dia dengan Anko. Aku kan cuma senang melihat dia baik-baik saja. Tidak boleh?"
"Bukan begitu."
Kami terus berjalan dalam diam. Aku lelah. Ingin segera tidur. Dojo mengantarku sampai asrama seperti biasa akhir-akhir ini. Dia memang lebih perhatian sejak ayah dan ibu datang. Tapi galaknya tetap ada. Semakin menjadi malah kalau boleh dibilang.
"Sudah sampai. Terima kasih, Dojo."
"Kasahara. Bisa kau hanya melihatku?" Tanyanya tiba-tiba, bukannya menjawab ucapan terima kasihku.
"Eh?"
"Aku hanya ingin kau melihatku."
"Dojo?"
Cup. Dia berjinjit mencium keningku.
"Tidurlah, sudah malam." Ujarnya sambil menepuk kepalaku kemudian meninggalkanku di depan pintu.
"Eh? Eeeeeeeh!?" Teriakku. Segera aku berlari ke kamar dan melompat ke kasur. Mungkin mukaku sudah sangat merah sekarang. Dojooooooooooooo
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Juli 2019
Kamis, 13 April 2017
Tyler si Lembut: fanfiction
Aku tidak bisa tenang. Sebuah informasi tidak mengenakkan telah kuterima: musuh mengincar teman-temanku. Di kantin kampus ini aku hanya bisa mendengus sebal.
"Ini minumlah." ucap Tyler, rekan kuliah sekaligus temanku dalam setiap misi kami. Aku menoleh ketika aku menyadari ia menopang dagunya sambil menatapku. Sementara gelas jus alpukat kesukaanku hanya diam di meja.
"Ke...kenapa?" tanyaku gugup dan penasaran. Mata ketua timku ini tidak biasanya selembut itu. Aku merasa teduh, nyaman dengan tatapannya.
"Hanya ingin kau tersenyum." jawabnya lagi sambil tersenyum manis. Aku bersumpah belum pernah melihat senyumnya yang semanis ini. Tyler adalah ketua yang tegas, kaku, jarang senyum. Mungkin menyeringai lebih sering, itupun kalau ada anggota timnya yang harus dihukum.
"A...pa?" tanyaku lagi setelah aku menunduk. Sepertinya aku sangat malu mendapati kelembutannya. Bahkan gelas jus tidak kusentuh. Aku tak berani walau hanya mendekat.
"Minumlah, aku akan melindungimu." jawabnya. Mendengar itu, aku mendongak. Melindungi? "Aku tahu siapa musuh kali ini. Berhenti khawatir dan lindungi mereka sekuat tenaga." Lanjutnya lagi.
Nada lembutnya bercampur tegas sehingga mengurangi kekhawatiranku. Dia masih tersenyum lembut sehingga aku ikut membalas senyuman teduhnya.
"Aku suka senyummu" ujarnya lagi sambil tetap menopangkan dagu. Senyumnya tidak hilang juga sehingga aku kembali kikuk ketika meminum jus alpukat.
"Ini minumlah." ucap Tyler, rekan kuliah sekaligus temanku dalam setiap misi kami. Aku menoleh ketika aku menyadari ia menopang dagunya sambil menatapku. Sementara gelas jus alpukat kesukaanku hanya diam di meja.
"Ke...kenapa?" tanyaku gugup dan penasaran. Mata ketua timku ini tidak biasanya selembut itu. Aku merasa teduh, nyaman dengan tatapannya.
"Hanya ingin kau tersenyum." jawabnya lagi sambil tersenyum manis. Aku bersumpah belum pernah melihat senyumnya yang semanis ini. Tyler adalah ketua yang tegas, kaku, jarang senyum. Mungkin menyeringai lebih sering, itupun kalau ada anggota timnya yang harus dihukum.
"A...pa?" tanyaku lagi setelah aku menunduk. Sepertinya aku sangat malu mendapati kelembutannya. Bahkan gelas jus tidak kusentuh. Aku tak berani walau hanya mendekat.
"Minumlah, aku akan melindungimu." jawabnya. Mendengar itu, aku mendongak. Melindungi? "Aku tahu siapa musuh kali ini. Berhenti khawatir dan lindungi mereka sekuat tenaga." Lanjutnya lagi.
Nada lembutnya bercampur tegas sehingga mengurangi kekhawatiranku. Dia masih tersenyum lembut sehingga aku ikut membalas senyuman teduhnya.
"Aku suka senyummu" ujarnya lagi sambil tetap menopangkan dagu. Senyumnya tidak hilang juga sehingga aku kembali kikuk ketika meminum jus alpukat.
Minggu, 09 November 2014
Lelaki yang Bukan Lelakiku
Lelaki itu berdiri di hadapanku, mengenalkan dirinya dengan bahasa universal, Bahasa Inggris. Jaket hitam yang harusnya ia kenakan hanya disampirkan begitu saja di bahunya. Ketika mengenalkan diri sebagai turis, ia berpakaian kasual: celana jeans dan kaos biru muda. Di antara turis lain, hanya ia yang begitu banyak bertanya selama perjalanan. Bahkan, ia menawariku berbagai camilan layaknya sikap terhadap turis lain. Ia tak peduli sepertinya kalau aku pemandunya.
"Apa itu?" tanyanya, tentu dalam Bahasa Inggris. Jari lentiknya mengarahkan mataku ikut melihat apa yang ia maksud. Mobil kami melewati sebuah anjungan yang ramai.
"Oh, itu janur kuning, penanda ada pernikahan di sana, Tuan Raj," jawabku. Pernikahan, kata yang melayangkan anganku pada suami yang sedang di Pulau K.
"Apa di tempat ini sering ada yang seperti itu?"
Aku yang sedari tadi ikut menyimak penjelasan pemandu Taman Mini Indonesia Indah jadi teralihkan dan mulai menjelaskan fungsi lain anjungan yang ada di tempat wisata ini pada Tuan Raj.
"Nanti jam istirahat kau temani aku ya, kita akan buat sesuatu yang seru," lanjutnya dengan diakhiri kedipan mata. Sementara aku, hanya melongo dengan tingkah turis ajaib ini. "Ayolah, aku jarang bebas begini," rengeknya kemudian. Wait, kenapa dia jadi berubah begini?
Dan akhirnya pada waktu istirahat kami berpencar. Tuan Raj mengajakku menuju anjungan yang tadi ia tanyakan. Mau apa dia ke acara pernikahan orang?
"Apa kami boleh masuk, nona-nona cantik?" tanyanya pada penerima tamu yang duduk manis di dekat pintu masuk bangunan.
"Si..Silakan," jawab penerima tamu itu. Kulihat mata genit gadis-gadis itu menatap nakal Tuan Raj. Haduh, Tutup ketemu botol ini sih, batinku.
"Terima kasih, cantik."
Tanpa sengaja kupegangi jaketnya, berharap kami tidak hilang di tempat asing ini. Kenapa aku dapat turis yang begini, sih?
"Aku ingin tahu seperti apa pestanya. Biasa saja ternyata. Kukira ada yang unik, Jihan," ucapnya setelah masuk beberapa meter ke dalam ruangan dengan disambut beberapa among tamu khas Jawa.
"Oke, kau sudah lihat dan bisakah kita keluar?"
"Tapi aku mau coba makanannya. Ayo ke sana," ajaknya lagi. Tuhan, cobaan macam apa ini? Ganteng-ganteng membuatku gila dengan tingkahnya yang kekanakan. Ia menarikku ke gubuk kecil yang bertuliskan "Soto Kudus". Masih dengan santainya ia menawariku semangkok yang akhirnya kutolak.
"Tuan Raj, lihat sekitar. Pakaian kita terlalu biasa dibanding tamu lain. Nanti kalau ketahuan..."
"Sotonya enak."
APA!? Dia malah mengomentari makanan!?
"Hei, kita temui pengantinnya, ya. Ide bagus sepertinya. Sangat tidak sopan kalau kita santap soto tanpa bertemu pemiliknya," ujarnya setelah menghabiskan soto. Belum sempat kuprotes, tanganku sudah ditariknya ke panggung. Tuhan, kumohon lebih baik aku pingsan daripada membiarkan orangtua pengantin serta beberapa tamu mengamati kami.
Kulihat Tuan Raj berlama-lama di depan pengantin pria. Mereka tertawa bersama dan sepertinya tangan Tuan Raj mengangsurkan sesuatu pada pria itu.
"Ayo keluar," ajaknya lagi. Yang pemandu itu siapa, sih?
"Tadi itu..."
"Kuceritakan aku ini artis yang sedang berlibur dan tertarik ke sini. Dia tidak keberatan dan menerima uang yang kuberikan."
Pantas saja, diberi uang. Eh, uang?
"Uang?"
"Iya, sedikit. Cuma 3 juta."
AAPAAA!!??
"TIGA JUTA KAUBILANG CUMAAA!!??"
Lelaki itu menutup mulutku dengan tangan besarnya.
"Kau ini...berisik sekali. Ayo, aku mau lihat-lihat tempat lain."
Kami berjalan lagi, keluar dari area anjungan.
"Tuan," panggilku.
"Apa?"
"Apa tidak sebaiknya kita kembali?"
"Sebentar lagi, ya. Aku mau naik kereta gantung. Kau ikut, ya." Jawabnya. Aku berdiri diam. "Iya, cuma kereta gantung, terus pulang," lanjutnya lagi. Lama-lama, aku lebih mirip teman jalannya dibanding pemandu. Kami mengantri dan naik kereta gantung seperti keinginannya.
"Jihan, kenapa diam? Itu danau apa?" tanyanya. Ia menunjuk miniatur kepulauan Indonesia yang akhirnya kujelaskan layaknya pemandu. Pulau K, Sulawesi, mengingatkanku pada suamiku.
"Hei, kau tahu, sebelum serial itu, aku sempat membaca tentang Atlantis. Beberapa teori memprediksi Indonesia dulunya Atlantis. Aku ditawari main tapi kutolak."
"Serial itu?" dia bicara apa, ya?
"Iya, yang tahun kemarin tenar di Indonesia juga. Kau tak tahu?"Melihatku yang menggeleng, ia raih ponselnya, mengetikkan sesuatu dan tak lama kemudian menunjukkan padaku gambarnya. "Ini."
Mahabharata?
"Jadi, Tuan Raj ini artis?" tanyaku polos. Kini gantian dia yang terbelalak.
"Jihaaaaan, kamu ini...eh, tapi sebentar. Bagus kalau kamu tidak tahu. Aku jadi makin nyaman," katanya lagi. Aku hanya memperhatikan foto para pemain serial yang tadi ditunjukkannya. Benar-benar make up artis itu hebat. Aku sampai tak mengenali turis ini.
"Di India aku tak bisa sebebas ini, Jihan. Terima kasih, ya..."
Aku diam, lebih memilih memainkan ponselnya. Membaca data dirinya.
"Namamu aneh, ya, Saurabh Raj Jain," kataku akhirnya.
"Aneh tapii keren. Hati-hati, nanti kau suka lho. Fansku di Indonesia banyak sekali lho,"
"Oh ya? lalu kenapa aku tak tahu siapa dirimu, ya?"
"Kau saja yang tidak tahu."
Aku tertawa melihat wajah kesalnya.
"Tawamu manis," ujarnya lagi yang membuatku langsung terdiam. Aku tak biasa dipuji lelaki dan pujiannya membuatku...keki. "Jihan, aku..."
"Sudah sampai. Ayo, pulang, Tuan Raj," ajakku memotong ucapannya. Aku sudah menebak apa yang akan dikatakannya. Bukan mau Ge-eR, tapi gelagatnya kutangkap sama persis seperti suamiku sewaktu mengungkapkan rasa sukanya padaku. Dan aku? Aku juga mulai merasakan suatu ketertarikan pada lelaki di hadapanku ini. Tapi aku sadar, kami bukan orang bebas, khususnya aku yang sudah menikah. Lagipula, lelaki yang mengaku artis ini tentunya pandai mengumbar suka di setiap tempat pada tiap perempuan yang dijumpainya. Siapa tahu, kan? Jadi, kubiarkan gelisah ini mendera asal kami tidak kebablasan, khususnya aku.
Kami lebih memilih saling diam, tidak seperti tadi.
"Ah, ada bus shuttle. Ayo naik," ajaknya.
"Tuan duluan saja, nanti aku menyusul," elakku.
"Kau ini aneh. Kau kan pemanduku, kalau aku tersesat bagaimana?"
Ah, iya. Aku harus profesional. Dia tamuku. Aku mengikutinya naik bus tapi duduk agak jauh darinya. Kubuka ponselku dan mengetikkan pesan singkat untuk lelaki di Pulau K, suamiku. Tak perlu menunggu lama untuk menerima balasannya. Detik itu juga, hatiku tidak segelisah tadi, malah terasa ringan.
"Jihan, aku minta maaf. Tapi terima kasih sudah menemaniku, Teman." suara Tuan Raj begitu dekat. Ketika aku menoleh, kudapati ia duduk di sebelahku. "Kita turun di mana?"
"Sebentar lagi, Tuan," jawabku singkat sambil membalas senyumnya. Iya, dia benar. Senyumnya menawan dan membuatku suka. Mungkin nanti aku perlu mencari DVD serialnya. Jarang jarang aku suka dengan pemain serial. Jarang nonton TV.
"Kau benar, sepertinya aku akan menjadi fansmu, Tuan Raj."
"Oh, iya? Senang mendengarnya, orang yang kusuka menjadi fansku."
"Suka?"
"Tadinya aku sempat suka. Sekelebat, untungnya sekelebat. Kau tahu? Beban rasaku terangkat begitu kuucap kata 'teman' padamu tadi. Kita berteman?"
"Ah, iya. Kita berteman. Terima kasih."
"Sama-sama. Lain kali kita bertemu dengan membawa pasangan masing-masing, ya."
"Apa itu?" tanyanya, tentu dalam Bahasa Inggris. Jari lentiknya mengarahkan mataku ikut melihat apa yang ia maksud. Mobil kami melewati sebuah anjungan yang ramai.
"Oh, itu janur kuning, penanda ada pernikahan di sana, Tuan Raj," jawabku. Pernikahan, kata yang melayangkan anganku pada suami yang sedang di Pulau K.
"Apa di tempat ini sering ada yang seperti itu?"
Aku yang sedari tadi ikut menyimak penjelasan pemandu Taman Mini Indonesia Indah jadi teralihkan dan mulai menjelaskan fungsi lain anjungan yang ada di tempat wisata ini pada Tuan Raj.
"Nanti jam istirahat kau temani aku ya, kita akan buat sesuatu yang seru," lanjutnya dengan diakhiri kedipan mata. Sementara aku, hanya melongo dengan tingkah turis ajaib ini. "Ayolah, aku jarang bebas begini," rengeknya kemudian. Wait, kenapa dia jadi berubah begini?
Dan akhirnya pada waktu istirahat kami berpencar. Tuan Raj mengajakku menuju anjungan yang tadi ia tanyakan. Mau apa dia ke acara pernikahan orang?
"Apa kami boleh masuk, nona-nona cantik?" tanyanya pada penerima tamu yang duduk manis di dekat pintu masuk bangunan.
"Si..Silakan," jawab penerima tamu itu. Kulihat mata genit gadis-gadis itu menatap nakal Tuan Raj. Haduh, Tutup ketemu botol ini sih, batinku.
"Terima kasih, cantik."
Tanpa sengaja kupegangi jaketnya, berharap kami tidak hilang di tempat asing ini. Kenapa aku dapat turis yang begini, sih?
"Aku ingin tahu seperti apa pestanya. Biasa saja ternyata. Kukira ada yang unik, Jihan," ucapnya setelah masuk beberapa meter ke dalam ruangan dengan disambut beberapa among tamu khas Jawa.
"Oke, kau sudah lihat dan bisakah kita keluar?"
"Tapi aku mau coba makanannya. Ayo ke sana," ajaknya lagi. Tuhan, cobaan macam apa ini? Ganteng-ganteng membuatku gila dengan tingkahnya yang kekanakan. Ia menarikku ke gubuk kecil yang bertuliskan "Soto Kudus". Masih dengan santainya ia menawariku semangkok yang akhirnya kutolak.
"Tuan Raj, lihat sekitar. Pakaian kita terlalu biasa dibanding tamu lain. Nanti kalau ketahuan..."
"Sotonya enak."
APA!? Dia malah mengomentari makanan!?
"Hei, kita temui pengantinnya, ya. Ide bagus sepertinya. Sangat tidak sopan kalau kita santap soto tanpa bertemu pemiliknya," ujarnya setelah menghabiskan soto. Belum sempat kuprotes, tanganku sudah ditariknya ke panggung. Tuhan, kumohon lebih baik aku pingsan daripada membiarkan orangtua pengantin serta beberapa tamu mengamati kami.
Kulihat Tuan Raj berlama-lama di depan pengantin pria. Mereka tertawa bersama dan sepertinya tangan Tuan Raj mengangsurkan sesuatu pada pria itu.
"Ayo keluar," ajaknya lagi. Yang pemandu itu siapa, sih?
"Tadi itu..."
"Kuceritakan aku ini artis yang sedang berlibur dan tertarik ke sini. Dia tidak keberatan dan menerima uang yang kuberikan."
Pantas saja, diberi uang. Eh, uang?
"Uang?"
"Iya, sedikit. Cuma 3 juta."
AAPAAA!!??
"TIGA JUTA KAUBILANG CUMAAA!!??"
Lelaki itu menutup mulutku dengan tangan besarnya.
"Kau ini...berisik sekali. Ayo, aku mau lihat-lihat tempat lain."
Kami berjalan lagi, keluar dari area anjungan.
"Tuan," panggilku.
"Apa?"
"Apa tidak sebaiknya kita kembali?"
"Sebentar lagi, ya. Aku mau naik kereta gantung. Kau ikut, ya." Jawabnya. Aku berdiri diam. "Iya, cuma kereta gantung, terus pulang," lanjutnya lagi. Lama-lama, aku lebih mirip teman jalannya dibanding pemandu. Kami mengantri dan naik kereta gantung seperti keinginannya.
"Jihan, kenapa diam? Itu danau apa?" tanyanya. Ia menunjuk miniatur kepulauan Indonesia yang akhirnya kujelaskan layaknya pemandu. Pulau K, Sulawesi, mengingatkanku pada suamiku.
"Hei, kau tahu, sebelum serial itu, aku sempat membaca tentang Atlantis. Beberapa teori memprediksi Indonesia dulunya Atlantis. Aku ditawari main tapi kutolak."
"Serial itu?" dia bicara apa, ya?
"Iya, yang tahun kemarin tenar di Indonesia juga. Kau tak tahu?"Melihatku yang menggeleng, ia raih ponselnya, mengetikkan sesuatu dan tak lama kemudian menunjukkan padaku gambarnya. "Ini."
Mahabharata?
"Jadi, Tuan Raj ini artis?" tanyaku polos. Kini gantian dia yang terbelalak.
"Jihaaaaan, kamu ini...eh, tapi sebentar. Bagus kalau kamu tidak tahu. Aku jadi makin nyaman," katanya lagi. Aku hanya memperhatikan foto para pemain serial yang tadi ditunjukkannya. Benar-benar make up artis itu hebat. Aku sampai tak mengenali turis ini.
"Di India aku tak bisa sebebas ini, Jihan. Terima kasih, ya..."
Aku diam, lebih memilih memainkan ponselnya. Membaca data dirinya.
"Namamu aneh, ya, Saurabh Raj Jain," kataku akhirnya.
"Aneh tapii keren. Hati-hati, nanti kau suka lho. Fansku di Indonesia banyak sekali lho,"
"Oh ya? lalu kenapa aku tak tahu siapa dirimu, ya?"
"Kau saja yang tidak tahu."
Aku tertawa melihat wajah kesalnya.
"Tawamu manis," ujarnya lagi yang membuatku langsung terdiam. Aku tak biasa dipuji lelaki dan pujiannya membuatku...keki. "Jihan, aku..."
"Sudah sampai. Ayo, pulang, Tuan Raj," ajakku memotong ucapannya. Aku sudah menebak apa yang akan dikatakannya. Bukan mau Ge-eR, tapi gelagatnya kutangkap sama persis seperti suamiku sewaktu mengungkapkan rasa sukanya padaku. Dan aku? Aku juga mulai merasakan suatu ketertarikan pada lelaki di hadapanku ini. Tapi aku sadar, kami bukan orang bebas, khususnya aku yang sudah menikah. Lagipula, lelaki yang mengaku artis ini tentunya pandai mengumbar suka di setiap tempat pada tiap perempuan yang dijumpainya. Siapa tahu, kan? Jadi, kubiarkan gelisah ini mendera asal kami tidak kebablasan, khususnya aku.
Kami lebih memilih saling diam, tidak seperti tadi.
"Ah, ada bus shuttle. Ayo naik," ajaknya.
"Tuan duluan saja, nanti aku menyusul," elakku.
"Kau ini aneh. Kau kan pemanduku, kalau aku tersesat bagaimana?"
Ah, iya. Aku harus profesional. Dia tamuku. Aku mengikutinya naik bus tapi duduk agak jauh darinya. Kubuka ponselku dan mengetikkan pesan singkat untuk lelaki di Pulau K, suamiku. Tak perlu menunggu lama untuk menerima balasannya. Detik itu juga, hatiku tidak segelisah tadi, malah terasa ringan.
"Jihan, aku minta maaf. Tapi terima kasih sudah menemaniku, Teman." suara Tuan Raj begitu dekat. Ketika aku menoleh, kudapati ia duduk di sebelahku. "Kita turun di mana?"
"Sebentar lagi, Tuan," jawabku singkat sambil membalas senyumnya. Iya, dia benar. Senyumnya menawan dan membuatku suka. Mungkin nanti aku perlu mencari DVD serialnya. Jarang jarang aku suka dengan pemain serial. Jarang nonton TV.
"Kau benar, sepertinya aku akan menjadi fansmu, Tuan Raj."
"Oh, iya? Senang mendengarnya, orang yang kusuka menjadi fansku."
"Suka?"
"Tadinya aku sempat suka. Sekelebat, untungnya sekelebat. Kau tahu? Beban rasaku terangkat begitu kuucap kata 'teman' padamu tadi. Kita berteman?"
"Ah, iya. Kita berteman. Terima kasih."
"Sama-sama. Lain kali kita bertemu dengan membawa pasangan masing-masing, ya."
Selasa, 07 Januari 2014
Shinkenger: Suki
Sudah setahun berlalu sejak Doukoku (ketua Gedoshou) dikalahkan. Aku kembali ke desa, kembali bekerja di toko seruling. Kakak juga mulai membaik keadaannya, pagi ini ia sudah kujemput dan sekarang di rumah. Meski setahun lalu aku dan empat Shinkenger lain berjanji hadir bila Dono-sama panggil, tapi sampai saat ini tidak ada panah atau panggilan apapun. Semoga saja dunia aman dari Gedoshou. Ya, meski tak kupungkiri aku merindukan kebersamaan dengan mereka. Khususnya, dia.
"Ah, Hanaori-san. Terima kasih, aku ingin mulai belajar meniup seruling," ujar seorang perempuan. Wajahnya anggun, cantik, sikapnya lembut. Sangat bangsawan. Tapi, aku heran kenapa ia tinggal di desa kecil ini, bersama suaminya yang sedikit garang meski perhatian. Ah, mengingatkanku padanya. Dia yang terkesan angkuh, sombong, selfish tapi ternyata begitu perhatian pada kami, prajuritnya.
"Panggil aku Kotoha saja, Ahim-san,"jawabku.'Ah iya terima kasih sudah membeli seruling di toko kami," lanjutku lagi sambil sesekali mengawasi suaminya yang agak mengkhawatirkan itu. Bagaimana tidak khawatir, ke mana mana bawa pistol dan pedang.
"Iya. Tapi kau jangan panggil Ahim-san, hehehe..." ucap Ahim masih dengan anggun, hingga cara tertawanya.
"Sudah, cuma aku yang boleh memanggilmu Ahim-chan. Dasar perempuan, ribet gitu aja, mau manggil pakai tolak-tawar," celetuk suaminya. Kamisama, sosok coolnya hilang seketika.
"Marvelous-kun, itu tidak baik. Maaf, ya, Kotoha-chan," Ahim menatap suaminya lagi.
Dan melihat mereka, aku semakin rindu padanya.
'Kami pamit dulu, Kotoha-chan," ujar sepasang suami istri itu sambil melambaikan tangannya. Aku membalas mereka dan bersiap menutup toko. Hari sudah sore dan aku harus menutup toko. Laporan keuangan mingguan dilakukan tiap Sabtu dan itu besok. Oke, kukunci toko dan bergegas pulang, tak sabar menemani Kakak.
Sepanjang jalan pulang, langit sore menjadi temanku. Mentari senja yang mulai nampak menerpa wajahku sehingga aku tak merasa begitu dingin di desa kaki gunung ini. Ya, hanya sendiri melewati jalan pulang. Tapi aku tak takut. Berkat latihan di kediaman Shiba setahun lalu, aku jadi berani dan kuat bila ada orang jahat.
"Hmm..." ujar seseorang. Sebuah suara yang mengalihkanku dari pemandangan senja. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki bertubuh proporsional di depanku, hanya beberapa meter. Ia bersandar di dinding pinggir jalan, berkemeja abu-abu serta jeans biru muda. Tak lupa dengan kedua tangan yang sedekap. gaya khasnya. Kualihat wajahnya dan...dia?
"Lama tak jumpa, Kotoha," ujarnya. Aku segera bergegas menghampirinya dan mengembangkan senyum.
"Dono-sama," sahutku memanggilnya.
"Hei, aku kira kau tak akan menggunakan panggilan itu lagi. Aku benci panggilan itu," protesnya. Ah, wajah kusut karena kesal itu kulihat lagi. Aku rindu. "Panggil Ta-ke-ru."
"Hehehe, Do..."ucapanku terpotong karena jari telunjuknya sudah menyentuh bibirku.
"Ta-ke-ru."
Aku hanya bisa diam dengan perlakuannya, dengan ucapannya. Dia tiba-tiba datang dan bersikap begini.
"Ta.."
"Ya?"
"Ke.."
"Hehem"
"Ru..sama" ucapku terbata. Kulihat ia mulai berdiri tegak, tidak lagi sedikit membungkuk. Eh, tadi aku belum bilang dia membungkuk ya? Dia sedikit membungkuk agar jarinya bisa menghentikan ucapanku.
"Hhhh...lumayanlah. Ayo, pulang." Dia berjalan di depanku, sementara aku masih terdiam. Pulang? Apa ini... "Kenapa diam?"
"Apa...ini panggilan tugas? Ada Gedoshou lagi?"tanyaku. Lelaki itu menghampiriku.
'Aku bilang pulang, ya, pulang. ke rumahmu." ujarnya lagi menjawab tanyaku seraya menggamit tanganku.
"Eh? Do..Takeru-sama. Tanga.."
"kenapa? Apa dilarang menggandeng tangan orang yang kusuka?"
Mataku membelalak dengan ucapannya barusan.
"Ap...apa!?"
"Kenapa bengong? Eh, malah berhenti."
"Tapi...tadi..."
Takeru-sama diam. Ia berjongkok di depanku, tak kusangka kedua tangannya meraih kakiku.
"pegangan, kugendong juga kau. Lamban," ujarnya.
"Hiyaaaa...." teriakku. "Takeru-sama, lepas."
"Berisik. Hikoma-san sudah menunggu."
Akhirnya aku menurut. Diam saja sepanjang perjalanan. Berusaha mengatur detak jantung yang sangat-sangat cepat karena ulah atasanku ini.
"Takeru-sama." panggilku di tengah jalan. Aku masih di gendongannya. Punggungnya sangat dekat, ada di depanku. Dulu, Chiaki yang menggendongku. Tapi itu murni karena aku sakit.
"Hem?"
"Tadi itu..."
"Apa?"
"Ah, tidak..."
kami diam lagi setelah beberapa detik bicara. Mentari senja menjadi latar kami.
"Kotoha." Akhirnya ia memanggilku.
"Ya?"
"Boleh, kan, aku suka padamu?" tanyanya lagi. Aku tersenyum sambil mengangguk.
"Iya."
"Terima kasih."
"Terima kasih, Takeru-sama," ucapku.
"Ah, Hanaori-san. Terima kasih, aku ingin mulai belajar meniup seruling," ujar seorang perempuan. Wajahnya anggun, cantik, sikapnya lembut. Sangat bangsawan. Tapi, aku heran kenapa ia tinggal di desa kecil ini, bersama suaminya yang sedikit garang meski perhatian. Ah, mengingatkanku padanya. Dia yang terkesan angkuh, sombong, selfish tapi ternyata begitu perhatian pada kami, prajuritnya.
"Panggil aku Kotoha saja, Ahim-san,"jawabku.'Ah iya terima kasih sudah membeli seruling di toko kami," lanjutku lagi sambil sesekali mengawasi suaminya yang agak mengkhawatirkan itu. Bagaimana tidak khawatir, ke mana mana bawa pistol dan pedang.
"Iya. Tapi kau jangan panggil Ahim-san, hehehe..." ucap Ahim masih dengan anggun, hingga cara tertawanya.
"Sudah, cuma aku yang boleh memanggilmu Ahim-chan. Dasar perempuan, ribet gitu aja, mau manggil pakai tolak-tawar," celetuk suaminya. Kamisama, sosok coolnya hilang seketika.
"Marvelous-kun, itu tidak baik. Maaf, ya, Kotoha-chan," Ahim menatap suaminya lagi.
Dan melihat mereka, aku semakin rindu padanya.
'Kami pamit dulu, Kotoha-chan," ujar sepasang suami istri itu sambil melambaikan tangannya. Aku membalas mereka dan bersiap menutup toko. Hari sudah sore dan aku harus menutup toko. Laporan keuangan mingguan dilakukan tiap Sabtu dan itu besok. Oke, kukunci toko dan bergegas pulang, tak sabar menemani Kakak.
Sepanjang jalan pulang, langit sore menjadi temanku. Mentari senja yang mulai nampak menerpa wajahku sehingga aku tak merasa begitu dingin di desa kaki gunung ini. Ya, hanya sendiri melewati jalan pulang. Tapi aku tak takut. Berkat latihan di kediaman Shiba setahun lalu, aku jadi berani dan kuat bila ada orang jahat.
"Hmm..." ujar seseorang. Sebuah suara yang mengalihkanku dari pemandangan senja. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki bertubuh proporsional di depanku, hanya beberapa meter. Ia bersandar di dinding pinggir jalan, berkemeja abu-abu serta jeans biru muda. Tak lupa dengan kedua tangan yang sedekap. gaya khasnya. Kualihat wajahnya dan...dia?
"Lama tak jumpa, Kotoha," ujarnya. Aku segera bergegas menghampirinya dan mengembangkan senyum.
"Dono-sama," sahutku memanggilnya.
"Hei, aku kira kau tak akan menggunakan panggilan itu lagi. Aku benci panggilan itu," protesnya. Ah, wajah kusut karena kesal itu kulihat lagi. Aku rindu. "Panggil Ta-ke-ru."
"Hehehe, Do..."ucapanku terpotong karena jari telunjuknya sudah menyentuh bibirku.
"Ta-ke-ru."
Aku hanya bisa diam dengan perlakuannya, dengan ucapannya. Dia tiba-tiba datang dan bersikap begini.
"Ta.."
"Ya?"
"Ke.."
"Hehem"
"Ru..sama" ucapku terbata. Kulihat ia mulai berdiri tegak, tidak lagi sedikit membungkuk. Eh, tadi aku belum bilang dia membungkuk ya? Dia sedikit membungkuk agar jarinya bisa menghentikan ucapanku.
"Hhhh...lumayanlah. Ayo, pulang." Dia berjalan di depanku, sementara aku masih terdiam. Pulang? Apa ini... "Kenapa diam?"
"Apa...ini panggilan tugas? Ada Gedoshou lagi?"tanyaku. Lelaki itu menghampiriku.
'Aku bilang pulang, ya, pulang. ke rumahmu." ujarnya lagi menjawab tanyaku seraya menggamit tanganku.
"Eh? Do..Takeru-sama. Tanga.."
"kenapa? Apa dilarang menggandeng tangan orang yang kusuka?"
Mataku membelalak dengan ucapannya barusan.
"Ap...apa!?"
"Kenapa bengong? Eh, malah berhenti."
"Tapi...tadi..."
Takeru-sama diam. Ia berjongkok di depanku, tak kusangka kedua tangannya meraih kakiku.
"pegangan, kugendong juga kau. Lamban," ujarnya.
"Hiyaaaa...." teriakku. "Takeru-sama, lepas."
"Berisik. Hikoma-san sudah menunggu."
Akhirnya aku menurut. Diam saja sepanjang perjalanan. Berusaha mengatur detak jantung yang sangat-sangat cepat karena ulah atasanku ini.
"Takeru-sama." panggilku di tengah jalan. Aku masih di gendongannya. Punggungnya sangat dekat, ada di depanku. Dulu, Chiaki yang menggendongku. Tapi itu murni karena aku sakit.
"Hem?"
"Tadi itu..."
"Apa?"
"Ah, tidak..."
kami diam lagi setelah beberapa detik bicara. Mentari senja menjadi latar kami.
"Kotoha." Akhirnya ia memanggilku.
"Ya?"
"Boleh, kan, aku suka padamu?" tanyanya lagi. Aku tersenyum sambil mengangguk.
"Iya."
"Terima kasih."
"Terima kasih, Takeru-sama," ucapku.
-------------------------------END--------------------------
Rabu, 22 Mei 2013
Kaizoku Sentai Gokaiger: Fanfiction -- Ahim & Marvelous
Kenapa semua orang seperti tak menyadari ada pertarungan di tempat ini?
"Ahim, jangan kenai orang-orang." perintah Kaptenku yang berwujud Gokai Red. Akupun mengangguk dan mencoba cari celah agar tembakanku tak mengenai warga sipil ini. Tapi tidak semudah kubayangkan! warga sipil menjadi pagar monster itu.
"Ahim!" sebuah suara khas kudengar dan saat itu juga kurasakan tubuhku bergeser. Ya, ketika aku sedang berpikir ternyata ada serangan dari salah satu tentakel sang monster padaku. Beruntung Kaptenku sigap melindungi sekaligus menangkis serangan tentakelnya.
"Kau tak apa?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Gomen, ne. Maaf," jawabku. Kepalaku pun diusapnya.
"Syukurlah. Sekarang kita bertarung lagi, ya."
Aku mengangguk dengan pipi yang mungkin sudah sewarna tomat. Tak jauh, beberapa meter dari kami, Hakase dan Luka juga bertarung melawan tentakel monster tersebut.
"Marvelous-san, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku akhirnya. Kami tak bisa begini terus, berperang dengan warga sipil di sekitar kami.
"Menunggu Joe dan Gai." jawabnya. Ya, saat ini Joe dan Gai sedang mencari tahu alasan hilangnya orang-orang dan keanehan sikap warga sipil ini.
Terus bertarung dan bertarung. Hanya itu yang dapat kami lakukan saat ini. Dan aku tak tahu kenapa tiba-tiba di tengah pertarungan monster itu pergi membawa warga sipil bersamanya.
"Bagaimana ini?" tanya Luka dan hakase yang menghampiri kami. Belum sempat kami menjawab, Kaptenku itu mendapat panggilan telepon.
"Ya. Kami ke sana." ucap Kaptenku cepat. Ia menutup telepon dan segera memerintah kami. "Kita ke bukit yang tadi kita lewati."
Luka dan Hakase segera mengikuti Kaptenku berlari. Aku? masih berdiri dan berpikir. Ada yang beda dengannya kali ini. Sejak awal keberangkatan kami ke daerah ini, seperti ada hubungan dengannya.
"Ahim, ayo!" teriak Kapten sambil menarik tanganku. Dia tidak tahu, ya, kalau tarikan tangannya terlalu kuat?
"Marvel, Ahim kesakitan!" hardik Luka yang paling dewasa di antara kami.
"Suruh siapa bengong," jawab Kapten ketika kami sudah sampai di tempat Luka berdiri.
"Tapi jangan begitu juga sama Ahim," Luka tak mau kalah.
"Sudah..." ucap hakase berusaha menengahi. Mereka masih adu mulut sambil jalan. Dan...
"Bilang aja pengen pegang tangan Ahim."
"Nggak!"
"Terus kenapa masih pegang tangannya? Ahim, kan, nggak bengong lagi," ucap Luka telak.
Aku menoleh dan baru menyadari kalau dari tadi Kaptenku memang masih menggenggam tanganku. Segera dilepasnya genggaman itu dan kulihat wajahnya tidak segarang biasa, lucu malah. Ada semburat merah di pipinya.
"A...ayo cepat," ujar Kapten tergeragap. Tanpa kutahu, Luka dan Hakase tertawa kecil. Kami berlari hingga akhirnya sampai di tempat Gai dan Joe.
"Di sana ada rumah sehat, katanya dokter di sana pintar menangani pasien. Semua warga yang berobat langsung sembuh. Tapi, anehnya, mereka adalah orang-orang yang tadi ada bersama monster." Joe menjelaskan temuannya dengan Gai.
"Sekarang?"
"Sekarang masih banyak warga yang antri untuk berobat."
"Kurasa, ada baiknya kita menyamar. Agak aneh kalau dokter malah membuat orang-orang patuh pada Zangyack," sahutku. Semua mengangguk.
"Ya, aku dan Ahim akan menyamar jadi pasien. Kalian awasi dan..." Kapten memberi perintah akan rencananya.
"Tapi kenapa kau dan Ahim?" tanya Gai seolah protes. Luka segera mendorong Gai menjauhi kami.
"Sudah, Gai, nanti aku jelaskan," jawab Luka. Ia juga mengajak Hakase dan Joe pergi sementara kami harus berdandan ala warga desa.
Lagi-lagi kulihat raut wajah tak biasa miliknya. Ia terlalu serius. Seolah beban berat ada di pundaknya. Meski ia tetap memperhatikan kami, tapi aku merasakan pikirannya ada di tempat lain.
"Marvelous-san, tersenyumlah, onegai..." ucapku tiba-tiba. Ah, kenapa aku mengucapkan hal itu? Bagaimana kalau dia malah bertanya macam-macam?
"Maaf, ya," jawabnya yang kemudian tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku. Eh? Dia tidak bertanya?
"Ayo, kita antri," ucapnya lagi sambil menggandengku. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Kami antri sampai tibalah giliran kami di ruang dokter itu.
"Tuan dan Nyonya Akira? Silakan, apa keluhan Anda berdua," ucap dokter cantik di depan kami. Ah! aku lupa menyiapkan alasan sakit. Bagaimana ini?
"Kami, ingin memiliki anak," jawab Kapten. Sontak membuatku benar-benar merona. Kenapa dari sekian keluhan penyakit malah kalimat itu yang ia keluarkan? Ingin rasanya kujitak ia.
"Belum punya anak?" tanya sang dokter lagi.
"Ya, kami sudah bersama selama 2 tahun tapi masih belum juga punya anak," jawab Kapten lagi. Malah ia seperti benar-benar menginginkan anak. Pintar sekali aktingnya.
"Oh, begitu. Baiklah, kita periksa dulu dengan ini, ya."
Kulihat dokter itu menyiapkan suntikan dan cairan. Kapten yang pertama disuntik langsung terlihat kaku, kemudian aku juga disuntik. Aku teringat sekilas ucapan kapten yang pelan tadi,"Ikuti aku."
Semua begitu cepat, dan di sinilah kami. Sebuah ruang dengan beberapa orang yang kaku. Aku yang tadi berpura-pura kaku duduk lesehan di samping Kapten, bersandar pada dinding.
Syukurlah tadi kami sempat mengeluarkan kekuatan yang mampu menolak berbagai serum, termasuk serum dokter aneh itu sehingga kami tak terpengaruh obat dokter aneh tadi. Kubiarkan Kapten berkirim pesan singkat dengan Joe ataupun Gai.
"aku tak mau kirim pesan pada Luka, demi kita," ujarnya. Eh? apa maksudnya? "Kita harus fokus pada kasus ini, kan? Aku tak mau hatimu terganggu sedikitpun," lanjutnya seolah mengerti isi hatiku.
"Maksudmu?" tanyaku akhirnya.
"Kata Gai, perempuan itu pencemburu. Apalagi kalau lelakinya dekat dengan sahabat si perempuan," jawabnya. Alisku berkerut. Masih bingung dengan kalimatnya. Cemburu?
"Sudahlah, kau itu memang lumayan lama mikirnya," ucapnya lagi. Diraihnya tanganku. "Maaf, ya, aku sekarang butuh kekuatan. Aku kuat dengan ini," lanjutnya sambil menggenggam tanganku. Aku masih bingung. Begitu beratkah bebannya? Sampai-sampai ia butuh temannya yang paling lemah di kapal?
"Ada apa? Kau seperti terus berpikir. Gai dan Joe masih menyelidiki, Luka dan Hakase bersembunyi dan akan datang setelah penyelidikan selesai. Tenanglah," ujarnya lagi. Berubah lagi. Kapten aneh, sebentar lemah sebentar bijak. Bingung aku dibuatnya. "Bicaralah, Ahim."
"Aku...aku bingung denganmu. Apa yang kaupikirkan, apa yang kauucapkan dari tadi tak kumengerti. Bagaimana aku bisa tenang kalau Marvelous-san sendiri membuatku tak tenang?" ucapku akhirnya dengan wajah yang hampir menangis.
"Dasar Ahim. Katakanlah ada apa," ujarnya lagi. Ia tersenyum menanggapi semua ucapanku tadi.
"Aku...aku merasa Marvelous-san berbeda kali ini, seperti ada beban berat yang tak bisa dibagi. Sejak keberangkatan kita ke desa ini, sikap marvelous-san sudah beda. Ada apa?" tanyaku akhirnya. "Maaf kalau menyinggung marvelous-san, aku hanya..."
"Ssttt...yang tak bisa kubagi cuma perasaanku untukmu. Semua beban bisa dibagi kok untuk diangkat. Aku cuma ingat sesuatu di daerah ini beberapa tahun silam," jawab Kapten sambil menaruh telunjuknya di bibirku. Tadi dia bilang perasaan? Apa maksudnya?
"sesuatu?" tanyaku akhirnya.
"Sebuah janji yang ternyata tak bisa kutepati. Aku sudah di sini, ingin menemui seseorang. Tapi ternyata keadaannya lain. Sudah ada kau dan dia tidak layak untuk mendapat janji." ucapnya. Ceritapun mengalir dari mulutnya.
"Gadis itu seorang petarung terkenal di desa ini, begitu yang kudengar dari warga. Aku dan Basco merasa tertantang dan ingin mengalahkannya. Tapi saat itu Basco yang bertarung dengannya. Aku yang masih amatir hanya menonton saja. Setelah pertarungan berlangsung lama, Basco terlihat akan menang. Tapi Basco yang masih baik itu tidak tega mengalahkan si gadis. Kami makan bersama di kapal dan aku tertarik dengan masakannya yang enak. Sejak saat itu aku menyukainya dan mengucapkan padanya perasaanku serta janji kalau suatu hari aku kesini lagi akan kubawa serta ia menjadi istriku. Tapi, aku yang baru pertama kali merasakan itu malah dikhianati. Dia jadi suruhan Zangyack."
Kurasakan rahang Kapten mengeras, terlihat dari raut mukanya. Kuamati matanya, ada goresan luka di sana.
"Aku beruntung bertemu denganmu." ucapnya lagi. "Terima kasih, ya."
TRANG!
"Gokaaaai Silver!" teriakan yang pastinya milik Gai itu terdengar. Warga yang ada di ruang ini kaku, tak ada pergerakan sedikitpun. Kapten menyuruhku berubah karena kami yakin di sinilah arena pertarungan berikutnya. Selesai kami berubah, Luka dan Hakase serta Joe datang sambil menjebol dinding ruangan. Tak ada yang berjaga sepertinya sehingga mudah bagi mereka masuk.
"Ikat orang-orang," ujar Joe."bagaimanapun mereka manusia biasa yang tak bisa melawan," lanjutnya. Kami segera mengikat orang-orang dengan tali milik Luka.
"Kalian sudah tahu rupanya," ucap dokter tadi di depan kami. Kulihat Kapten berbeda menatap dokter itu. Diakah?
"Ahim, bantu aku melawan dokter ini. yang lain, lawan monster itu, kami menyusul nanti," ucap Kapten. Kami semua mengangguk. Dan kini, kami tinggal bertiga.
"Aku baru tahu kau adalah Gokaiger."
"Tak wajib kau tahu. Yang perlu kau tahu aku..." ucapan Kapten terputus karena dokter itu menyerang lebih dulu. Setengah badannya telah menjadi monster. Kami segera bertarung dengan kapten yang selalu melindungiku. Ini aneh, karena biasanya aku dibiarkan sendiri.
"Jadi begitu? Dia gadismu? Lemah," ucap dokter itu.
"Bukan urusanmu. Kau cuma perlu jelaskan kenapa berurusan dengan Zangyack."
"Apa pedulimu? Toh kau ingkar janji!"
Pertarungan terus berlanjut dengan pertengkaran mulut sebagai pengiring.
"Kau tak layak untukku!" balas Kapten.
Begitu ada kesempatan, kulancarkan serangan pada gadis itu. Kami berdua menyerangnya dengan pedang dan pistol.
"Ahim, sekarang!" perinttah Kaptenku. Dan Final Wave Gokai Pink milikku kuarahkan pada gadis itu.
"Maaf..." ucapku pada target Final Wave. Kuayunkan pedang dan tarik pelatuk pistol bersamaan, menciptakan gelombang pemusnah. Di depan mataku, seorang gadis yang setengah badannya menjadi monster, telah terbakar, musnah.
"Bagus." ucap kapten sambil menghampiriku. Kulihat ia lebih baik daripada tadi. Terdengar dari nada bicaranya yang tak getir. "Itu baru Ahimku. Ayo kita..."ucapannya terpotong oleh protesku.
"Kenapa kau tak biarkan aku bertarung maksimal tadi? Kenapa terus melindungiku!?" teriakku frustrasi. "Aku jadi membunuh manusia, dan itu menyakitkan!" lanjutku. Aku terus memukuli Kapten yang memelukku.
"Ahim, dengar. Aku ingin ia tahu bahwa kau berarti untukku. Kau layak, sangat layak untuk kulindungi. Dia lebih baik mati daripada mengabdi pada Zangyack. Kau tak perlu sakit, kau sudah melakukan hal benar."
"Aku..."
"Terima kasih," ucap salah seorang warga pada kami. Eh? mereka bebas? Kapten tiba-tiba melepas pelukannya.
"Aku minta kini fokuslah pada pertarungan, nanti kita lanjutkan," ucap Kapten lagi. Aku mengangguk dan kami menyusul 4 Gokaiger lainnya.
"Kelamaan pacaran, sih, tuh monsternya keburu gede," celetuk Gai. Aku menunduk sementara gagang pedang Kapten singgah di kepala Gai.
"Udah jadian, ya?" tanya Joe.
"Joe...punggungku jagain, ya," ucap Kapten seperti saat itu. Joe mengangguk dan tersenyum.
"Teman-teman mohon kerjasamanya," ucapku.
"Errmmm...aneh, kan monsternya udah gede. Kok masih pada ngomong seolah kita bertarung face to face? Kenapa nggak panggil Galleon?" Gai seolah protes. Joe, Hakase, dan Luka tertawa.
"Ah, iya. Lupakan ucapanku tadi," ucap Kapten sambil menekan tombol ponsel memanggil Galleon. Kami segera duduk di dalam ruang kemudi dan melawan monster tentakel sampai ia musnah.
"Marvelous-san, aku..."ucapku di atas tiang pengawas. Kami sedang berdua di atas sini. Sementara teman-teman lainnya asik mengobrol tentang harta karun.
"Ya?"
"Aku ingin bicara banyak..."
"Wajahmu sudah mengungkapkan semua, kok," jawabnya. Ia sudah kembali sebagai Kapten yang biasanya.
"Tapi..." ucapku terpotong keraguan lagi.
"Saat ini dan selamanya, kau yang paling berarti untukku. Aku telah melihat masa depanku di dirimu."
Tatapan mata itu membiusku, menghipnotisku untuk terus menatapnya.
"Gadis itu..."
"Aku sempat berjanji padanya untuk hidup bersama. Tapi rasaku hambar saat kami bertemu kembali. Aku tak bisa menjadi diri sendiri di depannya, tidak seperti di depanmu. Keberadaanmu menguatkanku, kau tahu itu, ahim? lagipula aku juga kecewa ia telah menjadi bagian Zangyack."
"..."
"Sudah sana, siapkan kare untukku," perintahnya lagi. Aku mengangguk dan turun ke dapur. Tanpa kutahu, Luka dan Joe mendengarkan semuanya.
"Mau kutemani masak?" tanya Luka. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Marvelous tepat memilih orang. Tumben dia pintar," lanjut Luka.
"Maksudnya?"
"Kau pintar masak, lembut, perhatian, baik, cantik, kuat, dan mandiri. Tipe Marvelous banget,, deh."
Aku diam. Sambil memotong daging sapi, kusahuti Luka.
"Gadis itu lebih pintar masak. Ia juga lebih jago dalam pertarungan. Ia lebih cantik." sahutku.
"Tapi dia bukan pilihan Marvelous," sahut Luka lagi yang seolah gemas.
"Itu cuma karena ia jadi suruhan Zangyack."
"Kau tahu? Sudah lama Marvelous mengamatimu, dan kemarin ia meminta pendapatku tentang kamu. Sebagai Kakak, kuberikan pertimbangan untuknya. jadi, dia sudah melamarmu?"
Eh? melamar?
"Ya ampun Ahim. Mukamu lucu. Pantas saja Marvelous suka padamu. menggemaskan, sih," ucap Luka. Wajahku yang terus merah dicubit oleh Luka.
"Tapi, apa bukan pelarian namanya kalau begini? Aku disukai setelah ia kecewa dengan orang lain..."
"Bukan. Ia suka padamu sebelum ia tahu perempuan itu mengecewakan," jawab Gai yang muncul dari balik pintu dapur. "Lagipula, dia suka padamu karena suka. Katanya sih perasaannya lebih be..ADOWH!" kalimat Gai tidak selesai karena kepalanya dilempar gelang oleh Kapten.
"Jangan ganggu Ahim, aku sudah lapar," larang Kapten galak. Kami tertawa sementara Gai masih kesakitan.
"Ahim, jangan kenai orang-orang." perintah Kaptenku yang berwujud Gokai Red. Akupun mengangguk dan mencoba cari celah agar tembakanku tak mengenai warga sipil ini. Tapi tidak semudah kubayangkan! warga sipil menjadi pagar monster itu.
"Ahim!" sebuah suara khas kudengar dan saat itu juga kurasakan tubuhku bergeser. Ya, ketika aku sedang berpikir ternyata ada serangan dari salah satu tentakel sang monster padaku. Beruntung Kaptenku sigap melindungi sekaligus menangkis serangan tentakelnya.
"Kau tak apa?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Gomen, ne. Maaf," jawabku. Kepalaku pun diusapnya.
"Syukurlah. Sekarang kita bertarung lagi, ya."
Aku mengangguk dengan pipi yang mungkin sudah sewarna tomat. Tak jauh, beberapa meter dari kami, Hakase dan Luka juga bertarung melawan tentakel monster tersebut.
"Marvelous-san, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku akhirnya. Kami tak bisa begini terus, berperang dengan warga sipil di sekitar kami.
"Menunggu Joe dan Gai." jawabnya. Ya, saat ini Joe dan Gai sedang mencari tahu alasan hilangnya orang-orang dan keanehan sikap warga sipil ini.
Terus bertarung dan bertarung. Hanya itu yang dapat kami lakukan saat ini. Dan aku tak tahu kenapa tiba-tiba di tengah pertarungan monster itu pergi membawa warga sipil bersamanya.
"Bagaimana ini?" tanya Luka dan hakase yang menghampiri kami. Belum sempat kami menjawab, Kaptenku itu mendapat panggilan telepon.
"Ya. Kami ke sana." ucap Kaptenku cepat. Ia menutup telepon dan segera memerintah kami. "Kita ke bukit yang tadi kita lewati."
Luka dan Hakase segera mengikuti Kaptenku berlari. Aku? masih berdiri dan berpikir. Ada yang beda dengannya kali ini. Sejak awal keberangkatan kami ke daerah ini, seperti ada hubungan dengannya.
"Ahim, ayo!" teriak Kapten sambil menarik tanganku. Dia tidak tahu, ya, kalau tarikan tangannya terlalu kuat?
"Marvel, Ahim kesakitan!" hardik Luka yang paling dewasa di antara kami.
"Suruh siapa bengong," jawab Kapten ketika kami sudah sampai di tempat Luka berdiri.
"Tapi jangan begitu juga sama Ahim," Luka tak mau kalah.
"Sudah..." ucap hakase berusaha menengahi. Mereka masih adu mulut sambil jalan. Dan...
"Bilang aja pengen pegang tangan Ahim."
"Nggak!"
"Terus kenapa masih pegang tangannya? Ahim, kan, nggak bengong lagi," ucap Luka telak.
Aku menoleh dan baru menyadari kalau dari tadi Kaptenku memang masih menggenggam tanganku. Segera dilepasnya genggaman itu dan kulihat wajahnya tidak segarang biasa, lucu malah. Ada semburat merah di pipinya.
"A...ayo cepat," ujar Kapten tergeragap. Tanpa kutahu, Luka dan Hakase tertawa kecil. Kami berlari hingga akhirnya sampai di tempat Gai dan Joe.
"Di sana ada rumah sehat, katanya dokter di sana pintar menangani pasien. Semua warga yang berobat langsung sembuh. Tapi, anehnya, mereka adalah orang-orang yang tadi ada bersama monster." Joe menjelaskan temuannya dengan Gai.
"Sekarang?"
"Sekarang masih banyak warga yang antri untuk berobat."
"Kurasa, ada baiknya kita menyamar. Agak aneh kalau dokter malah membuat orang-orang patuh pada Zangyack," sahutku. Semua mengangguk.
"Ya, aku dan Ahim akan menyamar jadi pasien. Kalian awasi dan..." Kapten memberi perintah akan rencananya.
"Tapi kenapa kau dan Ahim?" tanya Gai seolah protes. Luka segera mendorong Gai menjauhi kami.
"Sudah, Gai, nanti aku jelaskan," jawab Luka. Ia juga mengajak Hakase dan Joe pergi sementara kami harus berdandan ala warga desa.
Lagi-lagi kulihat raut wajah tak biasa miliknya. Ia terlalu serius. Seolah beban berat ada di pundaknya. Meski ia tetap memperhatikan kami, tapi aku merasakan pikirannya ada di tempat lain.
"Marvelous-san, tersenyumlah, onegai..." ucapku tiba-tiba. Ah, kenapa aku mengucapkan hal itu? Bagaimana kalau dia malah bertanya macam-macam?
"Maaf, ya," jawabnya yang kemudian tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku. Eh? Dia tidak bertanya?
"Ayo, kita antri," ucapnya lagi sambil menggandengku. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Kami antri sampai tibalah giliran kami di ruang dokter itu.
"Tuan dan Nyonya Akira? Silakan, apa keluhan Anda berdua," ucap dokter cantik di depan kami. Ah! aku lupa menyiapkan alasan sakit. Bagaimana ini?
"Kami, ingin memiliki anak," jawab Kapten. Sontak membuatku benar-benar merona. Kenapa dari sekian keluhan penyakit malah kalimat itu yang ia keluarkan? Ingin rasanya kujitak ia.
"Belum punya anak?" tanya sang dokter lagi.
"Ya, kami sudah bersama selama 2 tahun tapi masih belum juga punya anak," jawab Kapten lagi. Malah ia seperti benar-benar menginginkan anak. Pintar sekali aktingnya.
"Oh, begitu. Baiklah, kita periksa dulu dengan ini, ya."
Kulihat dokter itu menyiapkan suntikan dan cairan. Kapten yang pertama disuntik langsung terlihat kaku, kemudian aku juga disuntik. Aku teringat sekilas ucapan kapten yang pelan tadi,"Ikuti aku."
Semua begitu cepat, dan di sinilah kami. Sebuah ruang dengan beberapa orang yang kaku. Aku yang tadi berpura-pura kaku duduk lesehan di samping Kapten, bersandar pada dinding.
Syukurlah tadi kami sempat mengeluarkan kekuatan yang mampu menolak berbagai serum, termasuk serum dokter aneh itu sehingga kami tak terpengaruh obat dokter aneh tadi. Kubiarkan Kapten berkirim pesan singkat dengan Joe ataupun Gai.
"aku tak mau kirim pesan pada Luka, demi kita," ujarnya. Eh? apa maksudnya? "Kita harus fokus pada kasus ini, kan? Aku tak mau hatimu terganggu sedikitpun," lanjutnya seolah mengerti isi hatiku.
"Maksudmu?" tanyaku akhirnya.
"Kata Gai, perempuan itu pencemburu. Apalagi kalau lelakinya dekat dengan sahabat si perempuan," jawabnya. Alisku berkerut. Masih bingung dengan kalimatnya. Cemburu?
"Sudahlah, kau itu memang lumayan lama mikirnya," ucapnya lagi. Diraihnya tanganku. "Maaf, ya, aku sekarang butuh kekuatan. Aku kuat dengan ini," lanjutnya sambil menggenggam tanganku. Aku masih bingung. Begitu beratkah bebannya? Sampai-sampai ia butuh temannya yang paling lemah di kapal?
"Ada apa? Kau seperti terus berpikir. Gai dan Joe masih menyelidiki, Luka dan Hakase bersembunyi dan akan datang setelah penyelidikan selesai. Tenanglah," ujarnya lagi. Berubah lagi. Kapten aneh, sebentar lemah sebentar bijak. Bingung aku dibuatnya. "Bicaralah, Ahim."
"Aku...aku bingung denganmu. Apa yang kaupikirkan, apa yang kauucapkan dari tadi tak kumengerti. Bagaimana aku bisa tenang kalau Marvelous-san sendiri membuatku tak tenang?" ucapku akhirnya dengan wajah yang hampir menangis.
"Dasar Ahim. Katakanlah ada apa," ujarnya lagi. Ia tersenyum menanggapi semua ucapanku tadi.
"Aku...aku merasa Marvelous-san berbeda kali ini, seperti ada beban berat yang tak bisa dibagi. Sejak keberangkatan kita ke desa ini, sikap marvelous-san sudah beda. Ada apa?" tanyaku akhirnya. "Maaf kalau menyinggung marvelous-san, aku hanya..."
"Ssttt...yang tak bisa kubagi cuma perasaanku untukmu. Semua beban bisa dibagi kok untuk diangkat. Aku cuma ingat sesuatu di daerah ini beberapa tahun silam," jawab Kapten sambil menaruh telunjuknya di bibirku. Tadi dia bilang perasaan? Apa maksudnya?
"sesuatu?" tanyaku akhirnya.
"Sebuah janji yang ternyata tak bisa kutepati. Aku sudah di sini, ingin menemui seseorang. Tapi ternyata keadaannya lain. Sudah ada kau dan dia tidak layak untuk mendapat janji." ucapnya. Ceritapun mengalir dari mulutnya.
"Gadis itu seorang petarung terkenal di desa ini, begitu yang kudengar dari warga. Aku dan Basco merasa tertantang dan ingin mengalahkannya. Tapi saat itu Basco yang bertarung dengannya. Aku yang masih amatir hanya menonton saja. Setelah pertarungan berlangsung lama, Basco terlihat akan menang. Tapi Basco yang masih baik itu tidak tega mengalahkan si gadis. Kami makan bersama di kapal dan aku tertarik dengan masakannya yang enak. Sejak saat itu aku menyukainya dan mengucapkan padanya perasaanku serta janji kalau suatu hari aku kesini lagi akan kubawa serta ia menjadi istriku. Tapi, aku yang baru pertama kali merasakan itu malah dikhianati. Dia jadi suruhan Zangyack."
Kurasakan rahang Kapten mengeras, terlihat dari raut mukanya. Kuamati matanya, ada goresan luka di sana.
"Aku beruntung bertemu denganmu." ucapnya lagi. "Terima kasih, ya."
TRANG!
"Gokaaaai Silver!" teriakan yang pastinya milik Gai itu terdengar. Warga yang ada di ruang ini kaku, tak ada pergerakan sedikitpun. Kapten menyuruhku berubah karena kami yakin di sinilah arena pertarungan berikutnya. Selesai kami berubah, Luka dan Hakase serta Joe datang sambil menjebol dinding ruangan. Tak ada yang berjaga sepertinya sehingga mudah bagi mereka masuk.
"Ikat orang-orang," ujar Joe."bagaimanapun mereka manusia biasa yang tak bisa melawan," lanjutnya. Kami segera mengikat orang-orang dengan tali milik Luka.
"Kalian sudah tahu rupanya," ucap dokter tadi di depan kami. Kulihat Kapten berbeda menatap dokter itu. Diakah?
"Ahim, bantu aku melawan dokter ini. yang lain, lawan monster itu, kami menyusul nanti," ucap Kapten. Kami semua mengangguk. Dan kini, kami tinggal bertiga.
"Aku baru tahu kau adalah Gokaiger."
"Tak wajib kau tahu. Yang perlu kau tahu aku..." ucapan Kapten terputus karena dokter itu menyerang lebih dulu. Setengah badannya telah menjadi monster. Kami segera bertarung dengan kapten yang selalu melindungiku. Ini aneh, karena biasanya aku dibiarkan sendiri.
"Jadi begitu? Dia gadismu? Lemah," ucap dokter itu.
"Bukan urusanmu. Kau cuma perlu jelaskan kenapa berurusan dengan Zangyack."
"Apa pedulimu? Toh kau ingkar janji!"
Pertarungan terus berlanjut dengan pertengkaran mulut sebagai pengiring.
"Kau tak layak untukku!" balas Kapten.
Begitu ada kesempatan, kulancarkan serangan pada gadis itu. Kami berdua menyerangnya dengan pedang dan pistol.
"Ahim, sekarang!" perinttah Kaptenku. Dan Final Wave Gokai Pink milikku kuarahkan pada gadis itu.
"Maaf..." ucapku pada target Final Wave. Kuayunkan pedang dan tarik pelatuk pistol bersamaan, menciptakan gelombang pemusnah. Di depan mataku, seorang gadis yang setengah badannya menjadi monster, telah terbakar, musnah.
"Bagus." ucap kapten sambil menghampiriku. Kulihat ia lebih baik daripada tadi. Terdengar dari nada bicaranya yang tak getir. "Itu baru Ahimku. Ayo kita..."ucapannya terpotong oleh protesku.
"Kenapa kau tak biarkan aku bertarung maksimal tadi? Kenapa terus melindungiku!?" teriakku frustrasi. "Aku jadi membunuh manusia, dan itu menyakitkan!" lanjutku. Aku terus memukuli Kapten yang memelukku.
"Ahim, dengar. Aku ingin ia tahu bahwa kau berarti untukku. Kau layak, sangat layak untuk kulindungi. Dia lebih baik mati daripada mengabdi pada Zangyack. Kau tak perlu sakit, kau sudah melakukan hal benar."
"Aku..."
"Terima kasih," ucap salah seorang warga pada kami. Eh? mereka bebas? Kapten tiba-tiba melepas pelukannya.
"Aku minta kini fokuslah pada pertarungan, nanti kita lanjutkan," ucap Kapten lagi. Aku mengangguk dan kami menyusul 4 Gokaiger lainnya.
"Kelamaan pacaran, sih, tuh monsternya keburu gede," celetuk Gai. Aku menunduk sementara gagang pedang Kapten singgah di kepala Gai.
"Udah jadian, ya?" tanya Joe.
"Joe...punggungku jagain, ya," ucap Kapten seperti saat itu. Joe mengangguk dan tersenyum.
"Teman-teman mohon kerjasamanya," ucapku.
"Errmmm...aneh, kan monsternya udah gede. Kok masih pada ngomong seolah kita bertarung face to face? Kenapa nggak panggil Galleon?" Gai seolah protes. Joe, Hakase, dan Luka tertawa.
"Ah, iya. Lupakan ucapanku tadi," ucap Kapten sambil menekan tombol ponsel memanggil Galleon. Kami segera duduk di dalam ruang kemudi dan melawan monster tentakel sampai ia musnah.
"Marvelous-san, aku..."ucapku di atas tiang pengawas. Kami sedang berdua di atas sini. Sementara teman-teman lainnya asik mengobrol tentang harta karun.
"Ya?"
"Aku ingin bicara banyak..."
"Wajahmu sudah mengungkapkan semua, kok," jawabnya. Ia sudah kembali sebagai Kapten yang biasanya.
"Tapi..." ucapku terpotong keraguan lagi.
"Saat ini dan selamanya, kau yang paling berarti untukku. Aku telah melihat masa depanku di dirimu."
Tatapan mata itu membiusku, menghipnotisku untuk terus menatapnya.
"Gadis itu..."
"Aku sempat berjanji padanya untuk hidup bersama. Tapi rasaku hambar saat kami bertemu kembali. Aku tak bisa menjadi diri sendiri di depannya, tidak seperti di depanmu. Keberadaanmu menguatkanku, kau tahu itu, ahim? lagipula aku juga kecewa ia telah menjadi bagian Zangyack."
"..."
"Sudah sana, siapkan kare untukku," perintahnya lagi. Aku mengangguk dan turun ke dapur. Tanpa kutahu, Luka dan Joe mendengarkan semuanya.
"Mau kutemani masak?" tanya Luka. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Marvelous tepat memilih orang. Tumben dia pintar," lanjut Luka.
"Maksudnya?"
"Kau pintar masak, lembut, perhatian, baik, cantik, kuat, dan mandiri. Tipe Marvelous banget,, deh."
Aku diam. Sambil memotong daging sapi, kusahuti Luka.
"Gadis itu lebih pintar masak. Ia juga lebih jago dalam pertarungan. Ia lebih cantik." sahutku.
"Tapi dia bukan pilihan Marvelous," sahut Luka lagi yang seolah gemas.
"Itu cuma karena ia jadi suruhan Zangyack."
"Kau tahu? Sudah lama Marvelous mengamatimu, dan kemarin ia meminta pendapatku tentang kamu. Sebagai Kakak, kuberikan pertimbangan untuknya. jadi, dia sudah melamarmu?"
Eh? melamar?
"Ya ampun Ahim. Mukamu lucu. Pantas saja Marvelous suka padamu. menggemaskan, sih," ucap Luka. Wajahku yang terus merah dicubit oleh Luka.
"Tapi, apa bukan pelarian namanya kalau begini? Aku disukai setelah ia kecewa dengan orang lain..."
"Bukan. Ia suka padamu sebelum ia tahu perempuan itu mengecewakan," jawab Gai yang muncul dari balik pintu dapur. "Lagipula, dia suka padamu karena suka. Katanya sih perasaannya lebih be..ADOWH!" kalimat Gai tidak selesai karena kepalanya dilempar gelang oleh Kapten.
"Jangan ganggu Ahim, aku sudah lapar," larang Kapten galak. Kami tertawa sementara Gai masih kesakitan.
Langganan:
Postingan (Atom)